
Kini sudah pukul 5 sore, dan karyawan pun mulai pulang satu persatu dari kantor cabang SS gruop.
Vivi menatap sayu pada Rossa, ia masih merasa bersalah karena siang tadi terlalu kaget mendengar pengakuan temannya itu. Sehingga menyebabkan gosip- gosip baru di kantor mereka, dan penilaian buruk pada Rossa.
"Rossa!, mau makan malam bersamaku?. Biar aku yang bayar, sebagai permintaan maafku padamu. Hum?" ucap Vivi menghampiri Rossa.
"Aku masih tidak selera makan, bagaimana kalau kita jalan- jalan saja?." jawab Rossa pada rekan kerjanya itu.
"Tidak masalah, ayo!" seru Vivi semangat. Karena Rossa sama sekali tidak mempermasalahkan kejadian siang tadi, yang menimpanya.
.
.
Kini mereka berdua sudah berada ditaman kota, banyak lampu jalan yang mulai menyala dan bangku jalan yang mulai ramai ditempati anak- anak muda.
"Kenapa sore ini ramai sekali?, biasanya aku disini tidak seramai ini!" ucap Rossa pada temanya.
"Kamu sering kesini!?" tanya Vivi.
"Hmm.., hanya menghilangkan lelah saja setelah bekerja." jawab Rossa dengan senyumnya.
"Kamu pergi dengan suamimu?" tanya Vivi hati- hati. Karena setelah kejadian siang tadi, Rossa seperti tidak bersemangat seperti biasa.
"Aku pergi sendiri.., kadang- kadang bersama adikku kalau dia libur di akhir pekan." jawab Rossa.
"Lalu, dimana suamimu. Bukankah.., kamu bilang sudah bersuami?" tanya Vivi menatap wajah Rossa.
Rossa pun duduk disalah satu bangku panjang ditaman itu, lalu Vivi juga duduk disampingnya. Rossa menarik napas panjang dari hidungnya, dan membuangnya kembali dari mulut.
"Dia sedang pergi untuk perjalanan bisnis, karena itu dia tidak pernah menemaniku." jawab Rossa dengan senyum.
"Dan tidak akan pernah sampai kapan pun." bisik Rossa dalam hatinya.
Tidak jauh dari tempat Rossa dan Vivi duduk, ada sebuah mobil mewah dengan kaca jendela terbuka sedikit. Kaca jendela mobil itu sengaja diturunkan sedikit, untuk mendengar pembicaraan Rossa dan rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Tiba- tiba ponsel Rossa berdering didalam tas selempangnya, iapun membuka tasnya dan meraih ponselnya itu tanpa melihat nama pemanggil terlebih dahulu.
"Nah.., ini pasti adikku. Dia juga suka jalan- jalan kesini, kalau akhir pekan." Ucap Rossa ceria, karena setiap akhir pekan. Rommi akan menghubunginya, untuk jalan- jalan dan menginap bersama di rumah sakit menengok Ibu mereka.
"Rommi!, kau langsung kesini saja. Aku sudah disini menunggumu, aku juga punya teman untuk mengobrol kau tidak keberatan kan?." Tanya Rossa sambil menyandarkan punggungnya kebangku, yang ia duduki saat ini.
"AKU KEBERATAN!!!, CEPAT PULANG SEKARANG JUGA!." jawab seseorang yang terhubung diponsel Rossa.
Sontak saja Rossa kaget dan berdiri dari tempatnya duduk sekarang, suara berat nan tegas itu sepertinya ia kenal. Rossa melihat kembali kearah ponselnya, yang ia letakan ditelinganya tadi.
"Astaga!." Seru Rossa terkejut!, ia melihat nama pemanggil itu adalah.. "BE-RU-ANG KU-TUB!" ucapnya terbata- bata. Karena tadi siang, ia merubah nama kontak Suamiku menjadi BERUANG KUTUB.
"Ada apa!, apa adikmu keberatan?." tanya Vivi pada Rossa yang masih berdiri disampingnya.
"Eh, ti- tidak." jawab Rossa masih terbata ditempatnya.
"Aku harus pulang dulu Vi, nanti kita lanjutkan lagi ya.." ucap Rossa meraih tasnya berlalu pergi.
Vivi menatap Rossa heran, karena terlihat sangat buru- buru untuk pulang.
.
.
Rossa sudah menuju jalan pulang kevilla, ia menyetir mobil sendiri. Setelah membelinya beberapa bulan lalu, tepatnya dihari kepergian Morgan keluar negeri.
Hari sudah semakin gelap, kilatan petir dari langit menghiasi malam yang menandakan akan turun hujan saat itu.
Kini Rossa sudah sampai dihalaman villa yang ia tinggali, tapi tidak ada satu mobilpun disana selain mobilnya sendiri. Sedikit kecewa dihatinya, ia pikir Morgan sudah ada divilla sekarang dan menunggunya datang.
Rossa menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya kembali. Ia melihat keluar mobilnya yang sedang hujan deras, sedangkan dirinya tidak punya payung didalam mobil.
"Huh.., sepertinya aku harus basah kali ini." gumam Rossa. Ia pun keluar dari mobinya, dan berlari kecil karena hujan.
Kini Rossa sudah berada didepan pintu villa, iapun mencari kunci didalam tasnya lalu ingin memasukan anak kunci itu. Tapi.., pintu villa itu sudah terbuka sedikit.
__ADS_1
Deg.
Jantung Rossa berdetak kuat, karena tidak ada orang lain divilla itu selain dirinya seorang. Semua pelayan di villa itu sudah ia suruh datang sekali seminggu dihari libur untuk membersikan villa, karena hanya dirinya saja yang tinggal.
"Apa villa ini sedang dirampok?" batinya.
Rossa pun melepaskan sepatu hak tinggi yang ia pakai, lalu masuk kedalam dengan perlahan. Semua lampu diruangan itu tidak ada yang menyala, hanya kilatan petir yang sesekali menyinari ruangan itu masuk dari jendela.
Setelah Rossa sudah berada di ruang tamu, untuk mencari saklar lampu. Tiba- tiba pintu utama tertutup dan seperti suara terkunci, membuat Rossa kaget dan berteriak dengan keras.
"Aaaaarrg" Rossa berjongkok menutup matanya, tiba- tiba ia teringat pernah diculik waktu ia berumur 11 tahun lalu bersama seorang pria remaja yang juga diculik oleh beberapa perempuan didalam sebuah gudang tua.
"Ayah.., tolong Ayah.. Ayah.., Sasa takut.." rintih Rossa memanggil Ayahnya. Karena waktu itu, ayanya lah yang menolong dirinya dan pria remaja itu. Untuk lari dari para perempuan yang ingin melecehkan pria remaja itu, didepan Rossa. Sedangkan Rossa disiksa dengan cara dipukul disekujur tubuhnya, kalau tidak mau menuruti keinginan para perempuan itu.
Lampu pun tiba- tiba menyala, suara langkah sepatu seseorang mendekat kearahnya. Tapi Rossa masih enggan membuka mata!, ia takut itu adalah para penculik yang ingin menyiksanya seperti dulu.
"Jangan!!!.., saya mohon jangan siksa saya.. Saya masih punya Ibu yang harus saya biayai untuk bertahan hidup, dan juga adik saya yang masih sekolah." ucap Rossa dengan isak tangisnya memeluk diri duduk dilantai.
Orang itu menyetuh kepala Rossa dengan perlahan, Rossa pun terkejut bukan main!. Ia semakin memeluk diri dan membenamkan kepalanya kelutut melindungi diri karena takut dipukuli, dengan tangis yang membuat siapa saja iba mendengarnya.
"Saya mohon.., jangan siksa saya.. Saya akan melakukan apapun untuk anda, tapi jangan sakiti saya.." lirih Rossa dalam tangisnya. Seperti kondisi orang yang trauma, yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa buruk yang menimpa dirinya.
Morgan sudah tidak tahan melihat istrinya ketakutan seperti itu dihadapannya, ia pikir tadi ingin memberikan kejutan untuk Rossa. Dan memberikan sedikit pelajaran untuk istrinya itu, karena menyebut nama pria lain didepannya.
"Sudah.., jangan takut!. Ada aku disini yang akan melindungimu, siapa pun tidak akan bisa menyentuhmu atau pun menyakitimu dalam dekapanku." Ucap Morgan memeluk Rossa, dan mengangkatnya kedalam pelukannya.
Deg.
Jantung Rossa kembali berdetak kuat, suara itu adalah suara suaminya. Suara yang sudah sangat lama ia rindukan selama ini, dan selalu menjadi penganggu pikirannya siang dan malam.
.......
.......
...Perjalanan cinta, baru dimulai.❤😢...
__ADS_1