Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Bercerita 2


__ADS_3

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Jack pada Rossa yang masih melongo melihatnya didepan pintu.


"Aku, aku bukannya melihatmu. Tapi,.." Ucapan Rossa tertahan, karena para teman wanita dikantornya menatapnya tajam saat ini.


Apa lagi seseorang yang selalu menganggap Rossa saingannya itu, tidak habis- habisnya memberi masalah dan gosip- gosip panas tentang Rossa dikantor. Yang tidak lain adalah Linda, teman kampus dan juga teman kerja satu kantor dengan Rossa.


Linda yang tadinya sangat kegirangan melihat Jack berada di kantor mereka tak henti- hentinya menggandeng lengan Jack masuk kedalam ruangan, sampai- sampai ia lupa kalau orang yang Jack tanyakan padanya adalah nama Rossa. Dengan merasa bangganya karena Jack bertanya padanya, Linda menunjukan ruangan kerja Rossa.


Setelah sadar akan orang yang Jack tanyakan itu adalah saingannya, Linda langsung menatap Rossa dengan tajamnya. Saat tahu kedatangan Jack Moan hanya untuk mencari Rossa kekantor mereka, apa lagi melihat Rossa dan Jack sudah saling akrab satu sama lain.


Jack melepaskan tangan Linda dilengannya, lalu berjalan kearah Rossa.


"Aku kesini menuntut janjimu untuk mentraktirku makan, bukankah kau bilang begitu saat dimobil tadi pagi?." Ucap Jack, dan ucapan Jack itu berhasil membuat bisik- bisik dikantor itu kembali lagi seperti tadi pagi saat Rossa baru datang.


"Jadi dia, yang kau sebut mantan suami!?." Bisik Vivi pada Rossa.


Rossa masih diam, tidak merespon bisikan Vivi padanya.


"Kalau dia mantan suamimu, apakah dia yang sudah membuat tanda merah dibelakang lehermu ini?." Bisik Vivi lagi.


"Apa?.." Pekik Rossa reflek menyentuh belakang lehernya yang Vivi tunjuk tadi, dan semua mata tertuju padanya.


Vivi hanya menganggukan kepalanya, saat Rossa membelalakan matanya tak percaya pada ucapan Vivi padanya.


Karena Rossa baru ingat, saat ia mengaplikasikan fondation tadi pagi kelehernya. Saat itu juga fondationnya habis, dan tidak sampai mengaplikasikannya keleher bagian belakang.


Dengan buru- buru Rossa mengurai rambut panjangnya kembali, karena ingin menutupi tanda merah yang entah digigit oleh apa dilehernya itu.


Aroma rabut Rossa yang terurai panjang bergelombang itu memenuhi indera penciuman Jack, pada saat itu juga jantungnya mulai berdebar tidak menentu. Bahkan dirinya sampai termenung, melihat wajah Rossa yang masih saling berbisik pada teman disampingnya itu.

__ADS_1


Deg.. deg.. deg.. deg..


Jack menyentuh dadanya yang mulai tidak karuan, seakan ada sengatan listrik yang menyengat jantungnya saat ini. Melihat seorang wanita yang tidak terlalu peduli padanya, bahkan tidak seperti wanita lain yang ingin menggodanya.


"Ehemp.." Jack berdehem, menetralkan suasana hatinya.


"Kau jadi mentraktir ku makan atau tidak? bahkan ini sudah lewat 28 menit dari waktu istirahat." Ucap Jack yang melihat pergelangan tangannya.


"Ah iya, baiklah.. Ayo Vi kita makan bersama, bukankah kau bilang tadi sangat lapar?." Ucap Rossa pada teman kantornya itu.


"Eh,.. tidak- tidak. Aku tiba- tiba ingat ada seseuatu yang ingin aku kerjakan, kau pergilah bersamanya aku titip saja makanan pada mu Rossa." Balas Vivi tersenyum paksa, karena melihat raut wajah Jack yang berubah saat Rossa mengajaknya untuk ikut pergi makan bersama.


Sedangkan Linda hanya melipat tangannya kedada, sambil berdecih melihat tingkah Rossa saat ini. Yang menurutnya sok jual mahal, padahal hanya ingin menggoda laki- laki kaya untuk merubah kemiskinannya.


"Aah iya,.. tuan muda Jack.. Bagaiman kalau aku yang mentraktirmu? kau mau makan dimana saja tidak masalah. Aku yang akan membayarnya, bagaimana!?" Ucap Linda dengan bangganya, sambil tersenyum meremehkan Rossa dihadapan semua orang.


"Kau pikir aku pengemis, yang tidak punya uang untuk membayar makananku?. Ayo Rossa cepatlah!, aku sangat muak berada disini." Sahut Jack, langsung menarik tangan Rossa keluar dari kantor itu menuju mobilnya.


Sedang Linda menggertakan giginya, ia sangat tidak terima melihat keberuntungan Rossa yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Kau lihat saja nanti Rossa!, aku akan membuatmu lebih malu pada diriku saat ini. Dasar wanita penggoda jal**g, tunggu saja saatnya nanti." Batin Linda mengepalkan kedua tangannya, karena Jack Moan sama sekali tidak perduli padanya.


"Haah,.. baiklah... Semuanya bubar! yang belum makan siang ayo kita makan bersama. Dan mendoakan teman kita Rossa, semoga hubungannya langgeng bersama tuan muda Jack Moan." Ucap Vivi sengaja mengeraskan volume suaranya sambil berjalan keluar ruangan, karena ia tahu saat ini seseorang sangat marah karena diacuhkan.


Teman- teman kerjanya pun langsung mengikuti Vivi, dan menggali informasi tentang hubungan Rossa bersama Jack Moan. Yang Vivi sendiri pun juga tidak tahu bagaimana hubungan kedua orang itu saat ini, apakah menjalin kasih atau itu yang dimaksud Rossa mantan suaminya.


.


...☘☘☘...

__ADS_1


.


Rumah sakit FL Kota A.


Seorang pria muda masih setia menemani wanita paruh baya itu bercerita, disebuah ruangan yang dipenuhi alat- alat ditubuh sang wanita paruh baya itu.


Pria muda itu menceritakan semua kehidupannya, kisahnya bersama sang istri yang kini berusaha ia lindungi dari musuh- musuhnya. Yang ingin mecelakai istrinya dengan cara memfitnahnya agar dibully oleh para netizen didunia maya, dan mempermalukan dirinya agar digeser dari kedudukannya saat ini yang memimpin perusahaan terbesar didunia. Pria itu juga menceritakan asal usulnya menikahi istrinya, sampai akhirnya ia jatuh cinta dan jatuh sejatuh- jatuhnya cintanya pada sang istri.


Sampai- sampai ia terkekeh kalau mengingat awalnya bertemu pada sang istri, dan kejadian- kedain yang membuat istrinya takut sampai seperti orang yang Trauma psikologis.


Tiba- tiba!, jari tangan pasien bergerak beberapakali. Merespon cerita dari seorang pria disampingnya, yang sangat mendalami ceritanya saat ini.


Saat Morgan menceritakan tentang Rossa yang pernah ketakutan sampai menangis histeris memanggil Ayahnya untuk meminta tolong, dan menyebut namanya sediri Sasa.(Rossa)


Disitulah pasien mengeluarkan suaranya sedikit, dan itu langsung membuat Morgan tersentak. Dan dengan terburu- baru Morgan memecet bel memanggil dokter saat itu juga, agar segera masuk kekamar pasien.


Morgan melihat tangan Ibu mertuanya bergerak, ia langsung meraih dan menggenggam tangan itu dan menggosoknya dengan perlahan.


"Ibu, apa Ibu mendengarku?. Tanya Morgan yang sudah sangat gugup saat ini.


Mata pasien pun mulai terbuka dengan perlahan, dan mengerjap- ngerjapnya beberapakali.


"Ibu, Ibu sudah sadar? Coba katakan sesuatu Bu, agar aku tahu apa yang Ibu rasakan saat ini!?." Ucap Morgan yang sudah ingin menangis kerena bahagia, melihat Ibu dari istrinya itu telah sadar dari perjalanan komanya selama ini.


"A.. a.." Suara yang keluar dari pasien, yang terdengar sangat kecil sekali suaranya.


........


.......

__ADS_1


...See you all😘 Jangan lupa vote dikolom bawah hari ini ya😉...


__ADS_2