Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Wanita itu.


__ADS_3

Rumah sakit Kota A.


Ruangan VVIP.



Tok... tok... tok... tok...


"Tuan muda, saya akan masuk." ucap asisten Jo.


Lama Asisten Jo menunggu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia pun memberanikan diri masuk kedalam ruangan yang mewah itu layaknya hotel berbintang.


Asisten Jo melihat kesana kemari mencari tuan muda nya, yang ia tau hari ini masih dirumah sakit.


"Kemana tuan muda..? bukan kah seharus nya masih disini.." gumam asisten Jo pada dirinya sendiri.


Asisten Jo pun duduk di sofa, dan meletakan sesuatu di atas meja yang ia bawa ditangan nya.


Tak berapa lama, terdengar suara decitan pintu dari kamar mandi di buka. Dan keluar lah tuan muda Morgan, yang masih mamakai jubah mandi dan 1 handuk kecil ditangan nya.


"Tuan muda, apakah ada tugas pagi ini..?" tanya asisten Jo yang langsung berdiri sambil membungkuk kan badan nya.


"Ya.., kau urus surat nikah ku sekarang. Dan harus selesai siang ini agar langsung aku tanda tangani, semua berkasnya ada di map itu." Ucap Morgan yang menunjuk salah satu berkas di atas meja, Sambil mendudukan bokong nya di Sofa.


"Apa ini berkas calon istri anda tuan..?" tanya Asisten Jo dengan hati- hati.


"Hemh.. benar."


"Apakah anda sudah membaca isi data- data ini tuan muda..?" tanya Asisten Jo lagi. Ia mengambil berkas map di atas meja, sambil melihat raut wajah tuan mudanya.

__ADS_1


"Aku tidak perlu membaca semua data- data wanita itu, tadi malam paman Gerdian sudah menjelaskan tentang wanita itu padaku. Dan kau tau, semua wanita itu suka uang..? Jadi mereka itu semua sama saja.." ucap Morgan dengan senyum meremehkan.


"Tuan muda terlalu meremehkan calon istri nya,, bagaimana nanti kalua ia jatuh cinta pada calon istri nya itu. Apa dia masih bisa tertawa seperti sekarang.?" batin asisten Jo mengerutkan kening nya, melihat keangkuhan tuan muda nya itu.


"Baiklah tuan muda, saya akan pergi sekarang." ucap asisten Jo ingin membungkukan badan nya. Namun suara tuan muda nya membuat ia terhenti seketika.


"Sebentar Jo, Kau sediakan pakaian wanita itu. Dan semua alat dapur di Villa Golden, aku akan tinggal dengan nya disana." ucap Morgan.


"Dan satu lagi, sedia kan 1 mobil lagi untuk nya. Aku tidak mau kalau suatu saat seseorang menyebut ku pelit, karena Villa Golden itu sangat jauh dari perkotaan." sambung Morgan.


"Bukankah tuan muda mempunyai banyak Apartemen di perkotaan, kenapa harus ke Villa Golden yang jauh..? Bukankah, itu Villa yang dia bangun secara pribadi untuk kekasihnya..?" Jiwa kepo asisten Jo meronta- ronta, kerena penasaran akan pemikiran bos nya itu.


"Maaf tuan muda, kalau saya menyela. Bukankah tuan muda mempunyai banyak Apartemen di perkotaan, kenapa anda harus tinggal di Villa Golden yang lumayan jauh..?" tanya asisten Jo memandang wajah tuan muda nya heran.


"Apa kepala mu terbentur sesuatu Jo, sehingga otak mu menjadi bodoh..? Tentu saja aku tidak mau ada orang lain yang melihatku bersama nya sepenjang waktu." bentak Morgan.


"Tapi,.. bukan kah Villa golden itu anda siapkan untuk nona.." ucapan asisten Jo terhenti saat melihat tangan tuan muda terangkat menunjukan arti kata STOP!.


"Ah benar, Baiklah tuan muda saya mengerti." ucap asisten Jo sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Bagaimana dengan penyelidikanmu malam itu Jo." tanya Morgan sambil mengenakan pakayan nya.


"Tuan, sepertinya wanita malam itu memang sudah ditargetkan untuk anda. Karena rekaman cctv sengaja dihapus di bagian wanita itu masuk kedalam kamar, dan semua rekaman dirinya masuk kedalam hotel sekalipun tidak ada. Sepertinya ini memang perbuatan orang dalam, yang sengaja ingin menjatuhkan pamor anda yang sangat melejit ahir- ahir ini.." ucap asisten Jo menjelaskan.


"Tapi kau dan Gerry yang sudah mengantarnya malam itukan, kemana ia pergi dan kembali?. Aku ingin bertanggung jawab, karena dia sudah menyelamatkanku malam itu." ucap Morgan yang sangat serius.


"Anda tenang saja tuan muda, saya sudah mengingat wajah nya dengan jelas malam itu. Bahkan rekaman cctv ketika ia keluar kamar hotel sudah saya salin, dan sudah saya hapus direkaman hotel. Kelihatan nya wanita itu juga di jebak oleh seseorang, dan orang yang menjebak wanita itu pasti ada kaitan nya dengan orang yang menjebak anda tuan." ucap asisten Jo menjelaskan lagi.


"Hemp, baiklah. Kau suruh orang awasi wanita itu, sampai beberapa bulan kedepan. Aku takut terjadi yang tidak memungkinkan. Dan terpaksa aku akan bertanggung jawab, selanyak nya seorang lelaki. Walau pun itu terjadi hanya satu malam, tapi aku telah memperkos* nya. Dan merenggut masa depan nya, dia pasti sangat hancur sekarang." Ucap Morgan merasa kasian pada wanita itu, yang telah ia renggut mahkota nya.

__ADS_1


Morgan sangat ingin sekali bertemu wanita itu, dan segera bertanggung jawab. Tapi ia juga ragu dalam hati nya, karena wanita itu juga tidak mencari nya setelah malam itu.


"Baik tuan mu-" Ucapan asisten Jo terjeda, ketika pintu di ketuk dari luar beberapakali.


"Saya akan membukakan pintu sebentar tuan muda, dan langsung mengurus semuanya."ucap asisten Jo membungkukan tubuhnya.


"Baiklah, kau segera urus semuanya agar cepat selesai sebelum jam 10 siang ini." Ucap Morgan yang sudah terlihat sempurna pagi ini, Berbalutkan stelan jas yang sangat senada dengan warna kulit nya yang bersih. Serta gaya rambut nya yang membuat nya terlihat dewasa, dan berkarisma.



Asisten Jo berjalan kearah pintu dan membukanya.


Terlihat dokter Martin/Gerdian bersama seorang wanita cantik di samping nya, yang tersenyum saat mata nya bertemu dengan mata asisten Jo.


Mata asisten Jo membelalak, jiwa nya hampir keluar dari raga nya. Saat melihat wanita disamping dokter Martin itu, tersenyum pada nya sangat manis.


Sampai- sampai ia tak merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidung nya, yang mengagetkan dokter Martin dan wanita itu.


"Kau baik- baik saja asisten Jo.?" tanya dokter Martin yang reflek tangan nya menutup hidung asisten Jo, dengan sapu tangan yang selalu ada di sakunya.


"Siapa diluar Jo..?" tanya Morgan dari dalam.


"Kau baik- baik saja asisten Jo, apa kau kurang minum air putih ahir- ahir ini..?" tanya dokter Martin yang masih memperhatikan arah mata asisten Jo tertuju saat ini.


"Bu- bukan, bukan kah dia wanita malam itu..?" batin asisten Jo yang merasa sedikit pusing, karena terlalu kaget bertemu dengan orang yang baru saja mereka bicarakan.


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 Like, komen dan favorit agar tau up selanjutnya. Terima kasih sudah mampir😘


__ADS_2