
Jack Moan meraih ponselnya yang berdering sedari tadi, ia sengaja tidak mengangkatnya terlebih dahulu sebelum melihat wanita yang baru ia kenal itu masuk kedalam kantor Cabang SS Gruop.
Dan setelah wanita itu masuk dengan berjalan sedikit tergesa- gesa, barulah Jack menggeser layar warna hijau dibenda persegi pipih itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Ya?..." Ucap Jack, pada orang diseberang telepon.
"Kau bilang ingin sarapan dulu sebelum kita bertemu membahas bisnis, tapi sampai sekarang kau masih sempat- sempatnya mengantar orang pergi kekantor!? Brengsek!." Bentak orang diseberang telepon Jack saat ini.
Jack mengerutkan keningnya, dari mana rekan bisnisnya sekaligus sahabatnya itu tahu kalau dirinya mengantar seseorang pergi kekantor?. Ia memutar kepalanya kebelakang mencari sesuatu diluar mobilnya, yang mungkin akan jadi jawaban atas rasa penasarannya saat ini.
Dan benar saja, mobil sahabat satu apartemennya sekaligus pemilik apartemen itu tidak jauh ada dibelakang mobilnya.
"Kau membuntutiku?" Tanya Jack pada sahabatnya itu, yang tinggal dilantai paling atas apartemen mereka.
"Apa aku kurang kerjaan sampai membuntutimu, Brengsek!?" Jawab orang itu lagi- lagi memaki Jack.
"Sebaiknya kita sarapan dikantorku saja pagi ini, dan cepatlah sedikit karena kita sudah tidak punya banyak waktu lagi menyusun rencana untuk Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) nanti." Ucap orang itu lagi pada Jack.
Jack menarik napasnya dalam, lalu membuangnya kembali mendengar ucapan sahabanya itu. Yang semakin hari, semakin aneh menurutnya.
.
...☘☘☘...
.
FL Morgan Chase.
Jack memutar matanya lelah, saat Asisten Jo menyodorkan masker dan kaca mata hitam padanya.
Karena itu lah peraturan baru kalau ingin masuk kekantor mereka, apa lagi kalau ingin bertemu pada CEO mereka yang tidak lain adalah tuan muda Morgan Lois.
Pemegang utama FL Morgan Chase, yang merupakan perusahaan perbankan terbesar di New York City. Amerika Serikat.
"Maaf tuan Jack, anda harus memakainya." Ucap Jo dengan sopannya menundukan kepala menyodorkan kembali aksesoris gratis saat ada orang yang ingin masuk kedalam ruangan tuan mudanya.
Karena saat dilobby bawah, Jack sama sekali tidak mau memakai masker yang resepsionis berikan padanya.
Kini dengan kesalnya Jack mengambil dan memakai masker yang Asisten Jo berikan padanya, karena mau tidak mau harus dipakai kalau ingin bertemu dengan Morgan.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu pria itu langsung masuk keruangan Morgan, karena perutnya sudah sangat lapar belum sarapan apa pun dari apartemennya.
Braakk...
Suara pintu terbuka, dan Morgan pun mengangkat kepalanya melihat kearah pintu yang terbuka lebar saat ini.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk kedalam ruangan orang?." Tanya Morgan pada Jack, yang kini langsung duduk disofa ruangannya.
"Aku sudah sangat lapar belum sarapan, dan lagi. Peraturan apa lagi ini!, kalau masuk kekantormu harus memakai masker!?. Bikin sesak napas saja, apakah ada peraturan yang lebih menantang dari pada ini?." Tanya Jack dengan nada mengejek pada sabahatnya itu.
"Cih!, kau bilang sangat lapar? Tapi masih sempat- sempatnya mengantar perempuan yang sudah bersuami kekantor lain, memalukan. Apa pesonamu sudah luntur!, sampai istri orang saja kau juga ingin mengejarnya?." Cerocos Morgan dengan rasa emosi yang memuncak pada sahabatnya itu, sebab ia melihat dengan sangat nyata. Kalau tadi sahabatnya dan Rossa berjabat tangan saling tersenyum satu sama lain, didepan kantor Cabang SS Gruop.
"Kau kenal wanita itu!?" Tanya Jack bersemangat.
"Tentu sa-" Belum sempat Morgan meneruskan kata- katanya, ia baru sadar. Kalau hubungannya dan Rossa tidak boleh tersebar terlebih dahulu, sebelum semua masalahnya teratasi.
Karena diberita dan media sosial saat ini sangat ramai tentang skandalnya, yang telah beristri. Dan ditayangkan disemua berita kalau istrinya itu adalah orang yang sangat miskin, bahkan rela menjadi simpanan pria yang sudah memiliki kekasih yang akan segera menikah.
Dan skandalnya itu keluar pas pada malam dirinya membawa Rossa kemansion keluarganya malam itu, malam dimana ia mengucapkan kata cerai pada sang istri.
Bahkan fotonya dan Rossa yang memakai pakaian malam itu juga terlihat sangat jelas disemua berita terpanas, hanya wajah Rossa yang dibuat sedikit samar. Oleh orang yang ingin menjatuhkannya dari kedudukannya saat ini, sebagai Chief Executive Officer (CEO) di FL Morgan Chase.
"Kau bilang 'tentu' apa,.. apa kau mengenali wanita itu?. Aku melihat mobilmu dibelakang ku tadi, apa kau membututiku?." Tanya Jack lagi pada sahabatnya itu, yang sedikit termenung saat ini.
"Ya? kau bilang apa barusan!?." Ucap Morgan malah bertanya pada Jack.
"Ah sudahlah,.. lebih baik kita cepat sarapan. Karena aku sudah sangat lapar saat ini, jangan lupa pesankan beberapa cemilan juga untukku." Ucap Jack.
.
...☘☘☘...
.
**Disisi lain.
Kantor Cabang SS Gruop**.
Bisik- bisik para karyawan dikantor tidak habis-habisnya sedari Rossa datang tadi pagi, tapi seorang Rossa sudah biasa melewati semua itu.
__ADS_1
Dan ia tidak perduli sama sekali akan gosip atau apalah yang orang katakan dibelakangnya, karena ia sudah terbiasa saat masih dikampus waktu menjalin kasih bersama Alvan mantan kekasihnya dulu.
"Rossa, kamu jadi ikut lomba perhiasan itu enggak?. Yang diadakan minggu depan, tapi sketsanya harus dikumpulkan besok." Ucap Vivi, teman kerja Rossa yang sangat dekat padanya dikantor itu.
"Eh, besok? Kenapa dipercepat ya, ko aku enggak tahu sih!." Tanya Rossa pada Vivi.
Vivi hanya mengangkat bahunya sambil mencibir bibir bawahnya pada Rossa.
"Tapi aku lupa dimana terakhir aku menyipan sketsaku waktu itu, rasanya dimana ya?.." Ucap Rossa sambil berpikir keras.
"Bukankah waktu itu kamu masukan dalam tas ya Rossa, pas kita mau pulang dan jalan- jalan ketaman ingat enggak?." Ucap Vivi lagi.
"Ah iya, aku lupa. Berarti, itu ada di.." Sahut Rossa yang baru ingat kalau gambarannya waktu itu masih berada di villa, dan tidak tahu tempatnya dimana setelah hujan deras waktu itu.
"Ah lupakan saja, lebih baik aku gambar lagi yang baru." Ucap Rossa pada temannya itu.
"Etss, sebentar nona. Kita makan siang dulu, karena perutku sudah sangat lapar!." Balas Vivi.
"Baiklah, aku ikat rambutku dulu." Ucap Rossa, lalu menundukan kepalanya kebawah mencari ikan tambutnya dilaci meja kerjanya.
Mata Vivi pun mengikuti gerakan tangan Rossa, dan tidak sengaja melihat tanda merah dibelakang leher sahabatnya itu sangat nampak jelas dikulit putihnya.
"Eh!, Rossa.. Kau sudah punya pacar? kenapa tidak pernah cerita padaku?." Tanya Vivi sambil mengangkat alisnya beberapakali ingin mengejek Rossa, setelah melihat tanda merah itu tadi.
"Aku tidak punya pacar, tapi punya mantan suami." Balas Rossa dengan wajah biasa saja setelah mengikat rambutnya..
"Lalu tan-" Ucapan Vivi pun terhenti saat mendengar suara gaduh dari luar ruangan mereka.
"Ada apa diluar kenapa sangat ramai? seperti ada seorang artis saja." Ucap Vivi yang ingin keluar dari ruangan kerja mereka, dan Rossa juga mengikutinya dari belakang.
"Ya ampun, itu..." Ucap Vivi tercekat, melihat seorang pria ingin masuk keruangan mereka.
"Ada apa?.." Tanya Rossa pada Vivi, dan matanya juga mengikuti arah mata Vivi saat ini.
"Astaga, kau.." Ucap Rossa pada orang dihadapanya saat ini, dengan mata yang sedikit membelalak melihat pria itu.
"Hei Rossa..." Ucap pria itu padanya.
........
__ADS_1
.......
...See you all😘...