
Dokter Martin mulai berjalan dengan berkacak pinggang kesana kemari, ia memikirkan sesuatu yang menurutnya sangat tidak mungkin terjadi saat ini!.
"Pa.., obati dulu tanganmu." Ucap dokter Jane pada suaminya, yang terlihat sangat khawatir pada sesuatu.
Dokter Martin pun duduk disofa mendekati istrinya, tapi pikirannya masih melayang jauh.
"Apa papa masih memikirkan tentang Rossa?." Tanya dokter Jane dengan hati- hati, ia pun mengoleskan obat luka bakar ditangan suaminya.
"Hemm.." Jawab dokter Martin menatap tangannya yang diolesi obat.
"Pa, mama tau papa pasti berpikir sama dengan mama. Bahwa Rossa tidak mungkin melakukan hal yang akan merusak diirinya dikemudian hari.., apa waktu itu?.. Rossa mempunyai kekasih, sebelum Rossa menerima kontrak pernikahannya dengan Morgan?." Tanya dokter Jane pada suaminya, dan dokter Martin pun menatap wajah sang istri tercengang saat itu juga. Ia baru ingat, kalau Rossa pernah menjalin kasih dengan Alvan. Yang tidak lain adalah keponakan Morgan sendiri, dan kini sudah berstatus bertunangan dengan wanita lain.
"Pa.., kenapa papa diam?. Kalau papa tahu sesuatu, katakan saja.." Ucap dokter Jane lagi pada suaminya, yang masih menatap wajahnya dengan diam.
"Aku pernah mendengar, kalau Rossa menceritakan tentang Alvan pada Ibunya yang sedang koma. Tapi.. ck kenapa semua ini jadi rumit?. Waktu itu aku juga lupa menanyakan hal ini padanya, apa dia sudah punya kekasih atau tidak!." Jawab dokter Martin menyentuh kepalanya, yang sedikit berdenyut.
"Yang mama lihat dimalam papa menemui Rossa beberapa bulan lalu, untuk menjodohkan Morgan dan Rossa ditaman dekat rumahnya. Dia memang kelihatan kacau, tapi mama anggap itu hanya karena Ibunya masuk rumah sakit." Ucap dokter Jane pada suaminya. Malam itu dokter Jane mengikuti suaminya, dan bersembunyi dibalik pohon besar untuk mendengarkan semua percakapan suaminya pada Rossa.
"Tapi kalau kata papa Rossa pernah menjalin kasih dengan Alvan, bukankah itu sangat kebetulan?. Bahwa malam Alvan bertunangan dan Ibu Rossa masuk rumah sakit, di malam yang sama?. Dan dimalam itu.., bukan kah Rossa tidak dapat dihubungi sama sekali?." Sambung dokter Jane, secara terperinci.
Dokter Martin yang mendengar penjelasan istrinya hanya diam!, sambil memijit pelipisnya dengan ujung jarinya sendiri karena kepalanya semakin terasa berdenyut.
Keheningan terjadi beberapa saat, sampai akhirnya dokter Martin tersadar saat memikirkan ucapan istrinya tadi.
"Apa maksud mama.., anak dikandungan Rossa milik Alvan?!." Tanya dokter Martin menebak dengan asal, karena menyadari tingkah Rossa waktu itu seperti orang frustasi. Saat menerima pernikahan kontraknya dengan Morgan, bahkan ingin menjual kehormatannya demi merawat Ibunya yang sedang koma.
"Mama tidak bermaksud seperti itu pa.., tapi ada kemungkinan Rossa pernah melakukan hubungan sebelum memakai kontrasepsi yang papa berikan padanya waktu itu!." Jawab dokter Jane mempertegas ucapannya.
"Aku jadi merasa sangat bersalah pada kedua orang tuanya, karena ideku. Rossa mengalami kesulitan bersama Morgan, tapi semoga saja dia tidak jatuh cinta pada pria itu. Karena kalau tidak!, ini akan menjadi sangat sulit saat Rossa mengandung anak orang lain disaat pernikahannya dengan Morgan!." Ucap dokter Martin, dirinya merasa menyesal atas tindakannya yang terlalu terburu- buru saat itu.
__ADS_1
.
...☘☘☘...
.
Kedua mata Morgan tidak pernah lepas menatap wajah tirus istrinya, yang masih terlelap dengan damai dihadapannya saat ini.
Suara napas yang teratur, mengisi kesunyian ruang kamar yang megah itu. Membuat Morgan enggan meninggalkan istrinya keluar dari kamar, untuk mengisi perutnya yang sudah sangat lapar sedari tadi.
"Kau saja kuat tidak makan seharian, maka aku juga akan puasa malam ini. Aku berjanji, tidak akan makan atau minum sebelum kau sadar nanti." Ucap Morgan dengan suara pelan pada istrinya.
Kini Morgan merebahkan diri disamping Rossa, berbaring sambil memeluk sang istri yang masih terlentang karena adanya jarum infus ditangan satunya.
Tanpa sadar, tangan Morgan mengelus perut rata istrinya yang masih terlindung oleh piyama tidur.
"Kau tau?, tadi aku sangat takut!. Aku takut darah itu adalah baby kecil yang bersembunyi didalam sini, aku takut kalau rasa sakitmu itu adalah pernyataan baby kecil untuk pergi sebelum melihat aku dan kau. Tapi syukurlah.., itu bukan dia. Karena aku yakin!, baby kecil pasti orang yang kuat sepertimu." Ucap Morgan dengan senyumnya, dan sesekali mencium pipi istrinya untuk menghirup aroma tubuh yang sudah lama ia rindukan itu.
...☘☘☘...
Rossa membuka matanya dengan perlahan, dan mengedipkannya beberapa kali agar penglihatannya berpungsi dengan normal.
Dan yang pertama kali ia lihat adalah, senyum merekah dengan lesung pipi dihadapannya.
"Kau sudah bangun?." Tanya laki- laki itu, yang terlihat sangat tampan dimata Rossa.
Rossa hanya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban. Karena terpesona melihat ketampanan yang laki- laki itu miliki, serta kelembutan saat berbicara padanya.
"Apa masih ada yang sakit?, kenapa kau melihatku seperti itu sayang hum!?.." Tanya Morgan kebingungan, sebab mata istrinya tidak pernah lepas dari wajahnya saat ini.
__ADS_1
Lagi- lagi Rossa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dan membuat Morgan malah semakin gemas melihatnya yang hanya menggelengkan kepala padanya.
"Baiklah, kalau kau tidak mau bicara. Sepertinya pagi ini kita harus melakukan sesuatu, agar kau hanya mengeluarkan suara desahan dari bibir ini." Ucap Morgan menyeringai mendekatkan dirinya sambil membuka kancing kemejanya, yang sudah terlihat sangat rapi seperti ingin pergi.
"Ti- tidak tuan, aku sudah tidak ada yang sakit." jawab Rossa dengan segera. Karena melihat suaminya itu langsung ingin memangsanya, sedangkan Rossa marasa masih lemas dan belum bertenaga sedikitpun.
"Oh baiklah, tapi.. Mulai sekarang, panggil aku suamiku. Atau.., kau bisa memanggilku sayang. Kalau tidak, maka kita berdua akan bercinta seharian ini.. Untuk mengajarimu memanggilku, sampai terbiasa." Ucap Morgan sengaja pada istrinya, karena ia tau. Istrinya itu pasti tidak punya tenaga pagi ini, untuk melakukan kegiatan olahraga ranjang bersamanya.
"Baiklah- baiklah tuan.., eh!. Su- suamiku.." Ucap Rossa canggung, lidahnya terasa tidak nyaman mengucapkan kata suamiku. Apalagi memanggilnya dengan ucapan sayang, seperti yang suaminya itu inginkan.
"Kau harus terbiasa memanggilku seperti itu, karena malam ini. Aku ingin mengajakmu menemui orang tuaku, apa kau bersedia..?" Tanya Morgan pada istrinya dengan seulas senyum yang merekah, sehingga lesung pipinya kembali terlihat menawan.
Deg.. deg.. deg.. deg..
Jantung Rossa berdetak tak berirama.., ia tidak tahu. Kenapa suaminya itu terlihat sangat tampan pagi ini.. sehingga membuatnya selalu seperti diserang penyakit jantung kalau berdekatan seperti saat ini.
"I- iya.., aku- aku bersedia su- suamiku.." Jawab Rossa masih dengan kecanggungannya, karena ia takut. Kalau suaminya itu menyadari detakan jatungnya saat ini, yang mengalun- alun bagaikan anak remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Kenapa dia sangat tampan pagi ini, apa.. Ini perasaanku saja, karena sudah lama tidak bertemu." batin Rossa.
Kruyuuk...
Suara perut Rossa berbunyi meminta di isi, saat itu juga.
"Sayang.., kau pasti sudah sangat lapar.. Aku akan segera menyuruh koki menyediakan makanan untuk kita, kau diam lah dulu. Tunggu aku datang baru turun dari ranjang, oke!." Ucap Morgan yang langsung mencium kening istrinya, dan berlalu pergi keluar kamar mereka.
.......
.......
__ADS_1
...Budak cinta..😍❤❤❤...