Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Sayang.


__ADS_3

Morgan duduk disamping Rossa, dikursi panjang 1 meter taman rumah sakit itu. Ia sangat ingin melihat wajah yang sedang berbicara formal itu padanya, karena Morgan merasa sangat asing dipanggil seperti itu oleh Istrinya sendiri. Yang belum benar- benar ia ceraikan, bahkan tidak terpikir olehnya untuk berpisah satu menitpun dengan istrinya ini.


Tiba-tiba Morgan merasa seperti anak muda yang baru mengenal cinta, dan cintanya itu saat ini sedang merajuk atau seperti sedang cemburu pada sesuatu.


"Apa dia sedang cemburu, tentang skandalku yang beredar di media masa?. Bukankah kalau cemburu itu tandanya dia juga mencintaiku?, atau hanya pemikiranku saja!. Baiklah, biarkan aku saja yang mencintaimu, kalau kau memang belum bisa menerimaku. Dengan segala kekuranganku, izinkan aku memulai kisah cinta kita dari awal." Batin Morgan.


"Biarkan saja orang melihat, toh kita juga pernah menikah. Apa yang kau takutkan, hump?" Tanya Morgan, sambil melihat wajah istrinya yang masih menundukkan kepala kebawah.


Hati Rossa malah semakin sesak mendengar ucapan Morgan padanya, matanya semakin memanas. Ia tidak tahu harus berbicara apalagi, karena dirinya juga sangat merindukan orang ini.


"Ternyata memang benar, aku bukan siapa- siapa bagimu. Kau tidak mengerti, bagaimana kalau ada paparazi atau sejenisnya mengambil foto kita saat ini?. Apa kau tidak memikirkan, bagaimana nasipku yang menjadi orang ketiga dalam hubunganmu bersama kekasih masa kecilmu itu!?" Batin Rossa.


Rossa menyapu air matanya yang jatuh kepipi, ia sudah terisak karena merasa memang tidak dianggap oleh Morgan.


"Sayang, hei.. Kenapa kau malah menangis? apa ucapanku ada yang salah. Baiklah bagaimana kalau kita cari tempat lain saja, kau mau kalau kuajak ketaman waktu itu?. Disana pasti sangat indah, karena malam ini adalah malam bulan purnama." Ucap Morgan merasa sangat panik, karena istrinya itu semakin menangis saat ini.


Mongan berjongkok dihadapan Rossa dengan melipatkan satu kakinya kedepan, ia sangat ingin sekali menghapus air mata istrinya saat ini. Tapi istrinya itu malah menutupi wajahnya, dengan kedua tangannya menghalangi Morgan.


"Sayang,.. aku minta maaf kalau aku salah. Aku mohon berhentilah menangis, aku akui. Aku sangat salah karena membiarkan skandalku terus beredar dimedia, bahkan menjadi berita paling utama setiap hari. Tapi mulai besok, aku berjanji. Tidak akan ada lagi skandalku bersama siapa pun, atau hal lainnya yang akan membuatmu bersedih." Ucap Morgan.


Selama ini Morgan memang membiarkan skandalnya beredar dimedia, karena menutupi penyakitnya yang selalu mual pada wanita saat berhubungan fisik.


Tapi sekarang, sudah ada hati yang harus ia jaga. Ia tidak mau hati itu sakit melihatnya yang selalu berganti- ganti pasangan, walau pun ia tidak tahu. Apakah hati yang ia jaga itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya, atau tidak sama sekali.

__ADS_1


Karena awal mereka bertemu hanyalah dari nikah kontrak, yang berujung nyaman dan berubah menjadi cinta bagi Morgan.


"Rossa, aku ingin memulai semuanya dari awal padamu. Izinkan aku untuk membuatmu bahagia, aku tidak mau hubungan kita hanya sebatas kontrak. Aku ingin hubungan kita murni dari perasaan, aku berjaji. Aku akan selalu ada untukmu, mulai dari sekarang. Dan mengenai pernikahan Vania, aku dan di-" Ucapan Morgan terhenti, saat Rossa mengeluarkan suaranya.


"Cukup! aku sudah mengerti." Teriak Rossa membuka kedua tangan dari wajahnya menatap Morgan, dengan mata sembab dan hidungnya yang terlihat memerah karena terisak saat menangis. Betapa Rossa sangat muak mendengar nama wanita yang Morgan sebut tadi, apalagi nama itu keluar dari mulut orang yang ia cintai.


Morgan tersentak mendengar ucapan Rossa, baru kali ini ia mendengar istrinya itu berteriak dihadapannya. Tapi, itu malah membuat Morgan tersenyum. Karena ia baru melihat watak istrinya yang sesungguhnya, dan itu berarti sang istri tidak lagi menganggapnya orang asing.


Dengan perasaan yang sangat bahagia, Morgan langsung memeluk Rossa saat wanita itu selesai meneriakinya. Betapa ia merasa seperti orang bodoh sekarang, karena mencintai istrinya lebih dari apapun. Tapi untuk saat ini, cintanya hanya dapat ia pendam. Karena masih ada masalah lain yang belum ia selesaikan, dan saat masalah itu sudah selesai. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengejar cintanya, dan memulai hidup bahagia bersama Rossa.


"Ternyata begini, sipat aslimu? Ternyata nona Rossa Ferdias ini sangat pemarah!, tapi untung saja aku mengetahui ini." Ucap Morgan masih memeluk erat istrinya itu.


"Bodoh!." Ucap Rossa, lalu menyapu ingusnya dibahu Morgan.


Morgan memegang kedua bahu Rossa dan mengguncangnya sesekali, karena istrinya itu berani mengatainya terang- terangan dihadapannya.


"Aku sangat lapar, tidakah kau mendengar perutku sudah bersuara beberapa kali sedari tadi?." Ucap Rossa sedikit manja, dan mencibir bibir bawahnya kedepan.


Morgan langsung mencubit kedua pipi Rossa dengan perasaan gemas, karena ini baru pertama kalinya ia melihat istrinya itu bertingkah manja padanya.


"Aaw.." Pekik Rossa, ia langsung menyingkirkan tangan Morgan dari pipinya yang telah dicubit.


"Maaf sayang, kau sangat menggemaskan." Ucap Morgan sambil terkekeh, melihat Rossa yang sedikit kesal padanya.

__ADS_1


"Ayo kita makan malam, aku akan mengajakmu ketempat yang sangat istimewa. Karena aku juga sangat lapar, hari ini tidak makan seharian." Ucap Morgan langsung menarik tangan Rossa, menuju tempat parkiran mobilnya.


Rossa tercengang mendengar ucapan Morgan padanya barusan, yang tidak makan seharian ini. Dan ia hanya mengikuti Morgan yang kini menarik tangannya, lalu masuk kedalam mobil yang entah kemana Morgan membawanya.


Suasana didalam mobil itu begitu hening, mereka berdua sama- sama hanyut dalam pikirannya masing- masing.


Rossa yang merasa perutnya semakin lapar dan sampai bersuara, melirik kearah Morgan. Karena ia merasa sedikit malu, pada pria tampan disebelahnya itu. Kalau sampai harus didengar sangat kelaparan, padahal ia sudah makan malam begitu bayak bersama Adiknya tadi dirumah sakit.


Sedangkan Morgan hanya tersenyum mendengar suara perut istrinya itu, sambil fokus melihat kearah depan untuk melihat jalan. Ia merasa istrinya itu semakin lucu, bahkan ia sangat gemas ingin menciumnya. Tapi masih ia tahan, agar istrinya itu tidak takut atau malah semakin ingin menjauh darinya.


Setelah sampai kesebuah hotel sekaligus restoran, Morgan langsung turun dari mobilnya.


Dan membukakan pintu mobil untuk Rossa, yang masih terlihat syok melihat bangunan dihadapannya saat ini.


"Ke- kenapa ki- kita kesini?" Tanya Rossa terbata- bata dengan ucapannya, melihat tempat dimana ia telah direnggut kesuciannya ditempat itu. Yang tidak lain adalah, hotel FL bintang lima keluarga Lois sekaligus restoran dan juga ada bar didalamnya.


"Kita makan disini sayang.." Ucap Morgan, yang menyambut tangan istrinya dengan sangat lembut.


........


.......


...See you all❤...

__ADS_1


__ADS_2