
Setelah beberapa lama kepergian Asisten Jo, Morgan meresa sedikit lebih tenang. Kemarahan nya yang memuncak tadi perlahan- lahan dapat ia kuasai, Karena sebentar lagi cincin yang ingin ia berikan kepada Rossa akan segera tiba!
Morgan duduk di kursi kebesaran nya diruang baca, tempat kedua baginya berkerja setelah dikantor.
Bibir Morgan terangkat menyeringai, ditatap nya lagi sebuah cincin berlian polos yang bergantung disebuah kalung itu.
"Kau tidak akan mungkin bisa menandingiku, karena sekarang gadis kecil ini miliku! Pasti kau sangat miskin sehingga wanita mu memilih meninggalkan mu demi uang untuk menikah dengan ku! Jelas sekali terlihat kau sangat memaksakan diri memberikan sebuah cincin berlian yang polos seperti ini." gumam morgan, berbicara sendiri menghadap jendela ruang kerja nya itu.
Tak berapa lama asisten Jo, pun datang membawa sebuah tas perhiasan ditangan nya.
Tok.. tok.. tok.. tok.. "Tuan muda.." panggil asisten Jo dari balik pintu luar ruang kerja Morgan.
"Masuk lah Jo."
Asisten Jo pun masuk menyerah kan tas Perhiasan dihadapan tuan mudanya.
"Tuan muda, ini ada lah beberapa perhiasan yang paling mahal di dunia. Apakan anda mau melihatnya?" ucap asisten Jo.
"Tunjukan semua."
"Baik tuan."
Asisten Jo membuka satu persatu kotak perhiasan yang ia bawa, menunjukan perhiasan yang baru saja ia borong dari beberapa toko terkenal dikota A.
"Berapa rata- rata harga perhiasan ini?" tanya Morgan pada Asisten Jo.
"Harga perhiasan ini rata- rata sekitar US$ 55 juta, atau sekitar Rp 718, 3 miliar tuan muda." jawap Asisten Jo sambil membungkukan tubuh nya.
"Tidak buruk juga," ucap Morgan yang masih memperhatikan satu persatu perhiasan itu. "Sekarang kau boleh pergi ke kantor! Besok aku masih libur, urusan kantor ku serahkan pada mu." ucapnya lagi.
"Baik tuan muda." ucap Asisten Jo menundukan kepala berlalu pergi dari ruangan tuan nya.
Asisten Jo merasa lega, karena tuan nya sudah tidak marah- marah lagi padanya.
__ADS_1
"Haah.. rasa nya aku mau mati, karena berlari kesana kemari mencari perhisan yang tuan muda ingin kan." gumam Asisten Jo yang baru saja menutup pintu ruang kerja tuan muda nya.
Pa Lim yang menunggu Asisten Jo keluar dari ruangan tuan mudanya pun langsung menghampiri nya.
"Bagaimana Asisten Jo! apa tuan muda menyukai perhiasan nya?" tanya Pa Lim yang sangat khawatir.
"Aah.. kau mengagetkan ku saja Pa Lim! " ucap Asisten Jo yang masih berdiri di depan pintu ruang kerja tuan mudanya.
Belum sempat Asisten Jo menjawap pertanyaan Pa Lim, Morgan sudah membuka pintu dibelakang Asisten Jo.
"Kenapa kau masih disini! Bukan kah aku menyuruh mu agar segera ke kantor?" seru Morgan pada Asisten Jo.
"Saya akan segera ke kantor tuan muda." jawap Asisten Jo menunduk dan berlalu pergi.
Melihat kepergian Asisten Jo, Pa Lim pun menyerukan suara nya.
"Tuan muda, anda dan nyonya muda melewatkan makan siang. Apa kah mau saya antar ke kamar utama tuan muda?" tanya Pa Lim.
Morgan mengingat ia dan Rossa hanya sarapan tadi pagi di restoran, dan sekarang sudah hampir sore. Tapi ia dan Rossa melewatkan makan siangnya.
Cklek..
Morgan membuka pintu dua kamar utama.
Terlihat Rossa masih sangat nyenyak tertidur di atas kasur empuk king size itu.
"Nyenyak sekali tidur mu, apa kau tidak tidur semalaman tadi malam?" gumam Morgan pada Rossa yang terlihat memeluk guling.
Morgan membawa tas yang Asisten Jo berikan tadi padanya, dan meletakan nya di atas meja rias. Ia lalu melangkah kan kaki nya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak berapa lama kemudian Morgan keluar dari kamar mandi, mata nya langsung melirik ke arah tempat tidur. Tapi lagi- lagi orang yang ia lihat masih setia dalam mimpi indah nya.
Morgan hanya tersenyum dan meng-gelengkan kepala nya, baru kali ini ia menunggu seseorang. Bahkan orang yang ia tunggu sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Ia kembali melanjutkan langkah nya menuju walk-in closet untuk mencari pakayan yang akan ia kenakan, setelah selesai. Morgan menghampiri kasur king size dimana Istri kecil nya sekarang.
Morgan merebahkan tubuh nya di samping Istri nya saat ini, ia kembali membalikan diri menghadap kedepan Istri nya yang tidur menyamping memeluk guling.
Di pandang nya lagi wajah manis Istrinya, "Kenapa aku tak pernah bosan melihat wajahmu?" ucap nya berbisik sambil menumpu kepalanya dengan tangan.
Mata Morgan tertuju pada bibir mungil sang Istri yang terlihat terbuka sedikit, tanpa sadar ia mendekat. Dan semakin mendekatkan wajah nya pada bibir sang istri!
Cup
Bibir itu di kecup perlahan tapi pasti, Morgan menutup matanya merasakan sesuatu yang baru dalam hati nya. Ada rasa desiran menjalar di setiap sel darah nya! "Rasa ini! kenapa sangat nyaman? rasa nya aku tidak ingin pergi dari bibir ini." batin Morgan.
Ia pun akhir nya menghentikan kegiatan nya, yang mencuri cium pada sang Istri yang masih tertidur pulas. Dipandang nya lagi wajah itu dengan jarak wajah yang sangat dekat, hembusan nafas Rossa yang keluar menempuh permukaan wajah Morgan. Membuat morgan merasa kan sesuatu yang lain pada tubuh nya.
"Damn." batin Morgan, yang merasa ada sesuatu di bawah sana, hembusan nafas hangat yang menerpa wajah Morgan menghidupkan naluri lelaki nya.
Tapi ia tak mau melakukan itu saat ini, terlebih lagi Istri nya saat ini sedang tidur.
"Ayo lah Morgan kenapa kau jadi seperti ini?!" batin Morgan yang mengerutuki diri nya sendiri.
Akhir nya Morgan memutuskan untuk memeluk Istri nya saja, di angkat nya kepala Rossa dengan perlahan untuk meletakan tangan nya dibawah kepala Rossa.
Karena ini masih terlalu sore, ia juga ingin istirahat sejenak. Morgan kembali mencium kening Istri nya dan memeluk nya, ia berharap dengan memeluk Istrinya seperti ini bisa menenangkan gejolak hasrat jiwa nya yang membuncah.
Morgan kembali teringat kala ia dan Rossa pertama kali bertemu saat itu, ia sedang menerima telepon dari seseorang suruhan nya yang memberinya kabar tentang kekasih di Negara L.
Flashback on.
Morgan yang sedang kesal, marah dan bingung dengan masalah nya. Tak sengaja menabrak seorang gadis dan mencium kening gadis itu, Morgan tertegun di tempatnya. Karena ia tidak merasa mual atau pun panik pada gadis di hadapan nya itu.
Dengan segera Morgan memutuskan sambungan telepon nya, dan bertanya pada Gadis itu. "Apa anda baik- baik saja Nona?" tanya Morgan yang melihat Gadis itu terjatuh kesakitan kejalanan, Gadis itu menjawap baik- baik saja! tapi tidak dengan ponsel nya.
Mataku pun tertuju pada ponsel di tangan nya, yang terlihat retak.
__ADS_1
Bersambung.
Kalau suka dengan cerita ini, yuk lemparkan bunga atau segelas kopi agar author semangat.. 😍 Dan terima kasih sudah dukung karya ku, yang hanya pemula ini. Dengan cara Vote, Like dan Komen yang kalian berikan adalah hal terbaik bagiku, Terima kasih..💚🤗