
"Sedari tadi aku melihatmu dari kejauhan, aku kira aku hanya berhalusinasi saja. Karena selalu mencarimu kemana- mana selama ini, tapi setelah melihatmu melambaikan tangan. Aku yakin itu adalah kau Rossa!, wanita yang aku cari selama ini." Ucap pria itu dengan senyum yang sangat bahagia, sampai- sampai matanya sedikit berair karena terlalu bahagianya. Melihat wanita pujaan hatinya itu, sudah ia temukan.
"Alvan?..." Lirih Rossa dari mulutnya yang masih bergetar, karena menangis.
"Hei, kenapa kau menangis?" Tanya Alvan sedikit terkejut.
Rossa langsung memeluk Alvan, karena saat ini dirinya benar- benar butuh sandaran untuk menghempaskan perasaannya yang terluka.
Terluka untuk yang kedua kalinya, ditempat yang salah untuk menumbuhkan cintanya.
Alvan mematung menerima pelukan Rossa, pelukan yang sudah sangat lama ia rindukan itu.
Aroma wanita yang selalu membuatnya rindu saat masih berstatus kekasihnya dulu, betapa perasaan Alvan saat ini sungguh bahagia. Karena orang yang ia rindukan itu berinisiatif memeluknya sangat erat saat ini.
Akhirnya Alvan membalas pelukan Rossa, yang ia pikir wanita ini juga sangat merindukannya.
Karena mereka berdua memang saling mencintai, selama 3 tahun menjalin kasih saat kuliah. Dan Alvan sangat tahu, bahwa dirinyalah pria pertama yang Rossa cintai.
Walaupun saat ini, status wanita yang ia peluk itu adalah istri pamannya sendiri. Alvan akan merebutnya, apapun yang terjadi!. Ia tidak mau lagi diatur oleh mamanya yang hanya memandang harta, dan status keturunan.
"Kau kenapa? apa yang terjadi padamu sampai berjalan selarut ini!?" Tanya Alvan memeluk erat wanita itu, tanpa memberikan ruang sedikitpun melepaskannya.
Rossa hanya menggelengkan kepalanya, tidak mau Alvan tahu apa yang saat ini ia rasakan. Karena dirinya sangat malu, bahkan tidak punya muka untuk menjelaskan pernikahannya dengan Morgan kepada Alvan.
Karena yang mamanya Alvan katakan tentangnya semua benar, bahwa dirinya hanyalah wanita jala*g yang menjual diri untuk menikahi pria kaya agar bisa bertahan hidup.
Rossa sangat ingat ucapan mamanya Alvan padanya, saat mereka pertama kali bertemu disebuah cafe waktu itu.
Rossa melepaskan pelukannya dari Alvan, dan menghapus air matanya yang tidak tertahan sedari tadi. Saat ia keluar dari hotel yang selalu membawa petaka baginya, bahkah tidak ada kenangan indah dihotel itu bagi Rossa. Karena sudah kedua kalinya ia menangis dari hotel yang sama, dan berujung luka yang selalu membekas dalam hatinya.
"Aku tadi mau berbelanja, tapi ternyata aku lupa membawa uang. Dan ponselku juga ketinggalan, jadi aku tidak punya uang untuk membayar taksi dan.." Ucap Rossa berbohong dengan suara yang bergetar, tapi ia lupa. Kalau orang dihadapannya itu adalah Alvan, cinta pertamanya. Yang sangat mengenalinya, dan tahu kalau dirinya sedang berbohong.
"Jangan berbohong, aku tahu kau sedang ada masalah saat ini. Ayo aku antar kau pulang, ini sudah dini hari kau masih saja berkeliaran diluar." Ucap Alvan, karena tadi ia tidak sengaja melihat mobil Morgan ada disekitar hotel. Saat dirinya keluar dari hotel yang sama diparkiran, dan melihat Vania Bella juga ada disana.
"A- aku tidak ber-bohong, aku hanya.." Ucapan Rossa lagi- lagi menggantung, karena bibirnya yang masih bergetar.
__ADS_1
"Sudah, ayo masuk mobil." Balas Alvan, dan membawa Rossa kearah pintu mobilnya agar segera masuk.
"Sekarang kau tinggal dimana? aku sudah bertanya pada Silla dan teman- teman dikampus. Tapi mereka tidak tahu alamatmu, dan Silla ternyata melanjutkan kuliahnya diluar negeri." Ucap Alvan. Yang kini sudah masuk kedalam mobil, dan membawa Rossa untuk mengobrol.
"Eh, aku menyicil sebuah apartemen dikawasan pinggiran kota." Jawab Rossa, yang kini menyebutkan apartemen cicilannya atas nama Adiknya Rommi.
Karena Rossa tidak mau, kalau sampai Alvan tahu apartemen yang Morgan berikan padanya saat ini sangatlah mewah. Apalagi sampai tahu, kalau dirinya kini sudah bercerai dari Morgan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Ucap Alvan tersenyum.
.
.
Setelah kurang lebih menempuh waktu 30 menit, kini Rossa dan Alvan sudah berada didepan apartemen Rossa.
Alvan pun turun dari mobilnya, untuk mengantar Rossa sampai kedepan pintu apartemennya. Agar dikemudian hari, ia bisa berkunjung ketempat Rossa tinggal saat ini.
"Maaf Alvan, aku tidak bisa membawamu masuk kedalam. Karena tidak ada orang dirumah, tapi lain kali aku akan mempersilahkanmu masuk kalau siang hari." Ucap Rossa, sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih banyak untuk malam ini." Ucap Rossa.
"Tidak masalah, masuklah kedalam aku akan menunggumu disini sampai kau masuk." Ucap Alvan lagi.
Rossa hanya mengangguk, lalu membuka kode kunci apartemennya.
Dan dalam sesaat, pintu apartemennya langsung terbuka. Rossa langsung menutup pintunya setelah melambaikan tangannya kepada Alvan.
Alvan hanya mematung ditempatnya berdiri saat ini, ia tahu kenapa Rossa sampai menangis tadi. Ia yakin, kalau Morgan masih belum memutuskan pilihannya. Dan membuat hati lain menderita, karena skandalnya.
"Aku akan terus mengejarmu, apapun yang terjadi. Karena aku sudah memutuskan kehidupanku sendiri, tanpa harus dikendalikan orang lain." Batin Alvan mengepalkan tangannya.
Ia pun turun dari apartemen Rossa, yang berada dilantai 17 itu menuju mobilnya.
Ucapan Rossa saat dimobilnya tadi terus terngiang ngiang dikepalanya, karena wanita itu memutuskan tidak mau lagi menjalin hubungan dengannya. Apalagi masalah perasaan, dan Rossa hanya meminta bahwa dirinya dan Alvan hanya berteman.
__ADS_1
"Hanya sebatas teman, tidak lebih!" Ucap Rossa pada Alvan, sebelum Rossa keluar dari mobil Alvan tadi.
Saat Alvan memintanya untuk kembali menjadi kekasihnya, dan ingin membawanya pergi jauh dari Morgan.
Alvan menarik rambutnya frustasi, ia tidak percaya kalau cinta Rossa padanya sudah berakhir. Tapi ia juga tidak rela, melihat Rossa selalu menderita kalau melihat skandal pamannya itu setiap hari berita.
.
.
Hotel FL Bintang Lima.
Morgan mencari Rossa disetiap ruangan toilet di restoran itu, tapi tidak menemukan apapun.
Lalu ia meminta orang untuk memeriksa rekaman cctv, untuk mencari tahu dimana istrinya saat ini. Dan baru ia lihat kalau istrinya itu sudah berjalan kepintu luar, dan terus berjalan sampai tidak terlihat lagi dari jangkauan kamera cctv hotel itu.
Betapa Morgan sangat kesal, pada dirinya sendiri saat ini.
Kenapa ia lagi- lagi lupa akan janjinya pada sang istri, yang akan menjaganya selalu. Bahkan sampai kehilangan jejak seperti ini, dan membuatnya sangat khawatir pada istrinya itu.
Ia pun meminta Asisten Jo untuk mencari Rossa di FLM Chace apartemennya, tapi tidak juga ada disana.
Morgan lansung menuju rumah sakit, dimana dirinya dan Rossa tadi bertemu. Dengan perasaan gugup dan kekhawatiran yang membuncah, Morgan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Betapa dirinya sudah ingin gila sekarang, karena merasa bersalah pada sang istri. Karena ia melihat Rossa yang bersembunyi dibalik dinding, saat dirinya dan Vania Bella sedang asyik mengobrol.
Morgan melihat kalau istrinya itu seperti sedang menyapu air matanya, dikamera cctv yang tidak terlalu jelas saat di zoom.
Dan di saat itu pula, ada sebuah truk yang sangat laju berselisih ditikungan jalan dengan mobil Morgan yang juga sangat laju. Morgan terkejut, dan membanting setir mobilnya keluar jalan sampai akhirnya tidak tahu lagi apa yang terjadi.
........
.......
...See you all 🤧...
__ADS_1