
"Uuh, sebentar!." ucap Rossa menahan tubuh suaminya itu.
"Ada apa!?." tanya Morgan mengangkat kepalanya menatap Rossa.
"Kau dengar suara bel dibawah?." jawab Rossa lalu bertanya!.
"Biarkan saja, lagi pula.. Siapa yang bertamu dalam keadaan hujan besar begini, mengganggu saja.!" jawab Morgan dan meneruskan aksinya mencium leher istrinya itu.
Rossa berpikir yang dikatakan suaminya itu benar, hujan sangat besar diluar. Bahkan petir pun tak henti- hentinya menyambar permukaan bumi, saat ini.
Tak lama kemudian, ponsel Morgan berdering diatas meja didepan mereka berdua.
Perhatian Rossa pun mulai tidak fokus, karena ponsel suaminya itu terus berdering.
"Ponselmu berdering, angkatlah dulu. Siapa tahu itu penting, dan kita lanjutkan setelah kau mengangkatnya." ucap Rossa pada suaminya itu.
Morgan kembali mengangkat kepalanya, dan mencium bibir istrinya lembut beberapa saat.
"Kenapa kau sangat tidak fokus?, kegiatan kita sekarang adalah hal yang lebih penting!." balas Morgan. Ia mengangkat tubuh istrinya itu dari sofa, lalu menggendongnya ala bridal style ke atas tempat tidur. Morgan kembali mencium bibir istrinya dengan sangat lembut, lalu meletakan istrinya dengan perlahan.
Dengan perlahan tapi pasti, Morgan menarik tali jubah mandi istrinya agar terlepas. Dan dalam sesaat, tubuh istrinya mulai terlihat polos.
Rossa yang menerima ciuman lembut Morgan langsung membalasnya, ia mengalungkan kedua tangannya keleher Morgan dengan sangat erat.
Morgan yang merasa istrinya membalas ciumannya, iapun memperdalam lagi ciuman itu dan melepaskan pakaiannya satu persatu.
Dan kegiatan malam panjang mereka pun dimulai, sampai Rossa sendiripun tidak dapat menahan diri. Dari kelembutan suaminya yang begitu menggodanya. Ia menikmati setiap sentuhan Morgan padanya, bahkan dirinya tersenyum puas. Saat Morgan memanggilnya sayang, disetiap desahan mereka berdua mencapai puncaknya.
.
.
Sudah 2 jam berlalu, setelah kegiatan panas suami istri itu melepaskan rindu diatas ranjang. Kini Rossa tertidur sangat lelap, karena kelelahan mengimbangi suaminya itu menggagahinya.
__ADS_1
Morgan masih memeluk istrinya dengan sayang, dan sesekali mencium pucuk kepala Rossa dengan lembutnya.
"Kau nampak sangat kurus!, apa kau makan dengan benar selama kepergianku?" gumam Morgan pada istrinya itu yang tengah terlelap.
"Kau tau?, betapa tersiksanya aku tanpamu disana!. Bahkan aku tidak ingin lagi berobat, karena..!" Ucapan Morgan terjeda, karena ia masih belum tahu harus bagaimana mengatakan perasaannya pada Rossa!.
"Aku rasa, aku menyukaimu!. Aku tidak ingin jauh darimu lagi, walau hanya sejengkal." batin Morgan. Ia mencium lagi kening istrinya dengan sangat lama, dan ciumannya itu tepat diarea jerawat Rossa yang besar dan sangat merah itu.
Morgan kembali teringat peristiwa tadi, disaat istrinya itu tengah ketakutan yang sangat dahsyat!. Ia melepaskan ciumannya, dipandangnya lagi jawah istrinya yang tengah terlelap itu.
"Apa kau pernah menghadapi hal yang sangat buruk dalam hidup mu?, sehingga sampai ketakutan seperti tadi?." gumam Morgan menanyai istrinya. Tapi yang ia tanyai hanyalah suara hembusan napas, yang masih terlelap nyaman dipelukannya.
Morgan pun beranjak dari tempat tidur, dan melepaskan pelukannya pada istrinya. Ia menuju kearah laci nakas mencari sesuatu disana, tak menunggu lama. Sesuatu yang ia cari pun sudah didapatkan, ia kembali kearah istrinya lalu mengoleskan sebuah Salep benzoil peroksida. Salep jerawat yang mengandung benzoil peroksida, dapat mengempeskan jerawat dengan cepat tanpa resep dokter.
Setelah melakukan hal itu, Morgan menyelimuti tubuh istrinya yang polos itu dan kembali mengecup singkat bibir istrinya. Sungguh ia sangat tergila- gila pada bibir istrinya itu, apalagi disaat ini melihat bibir itu terbuka sedikit disaat Rossa tertidur.
Morgan pun mengenakan piyama tidurnya, dan berjalan kearah meja sofa meraih ponselnya yang tadi berdering. Morgan melihat layar ponselnya, dan ada beberapa panggilan takterjawab disana. Ia pun menekan salah satu kontak itu, dan berjalan kearah balkon untuk berbicara disana pada sambungan teleponnya itu.
"Kau baru menghubungiku!, setelah lama tidak pernah memberi kabar hump!?." bentak pria dewasa itu pada Morgan. Yang tidak lain adalah, papanya sendiri.
"Apa itu Morgan? biarkan aku yang bicara!" terdengar suara perempuan disambungan telepon itu.
"Morgan, nak.. Ini Mama, aku dengar kau sakit!. Dan menjalani pengobatan keluar negeri selama beberapa bulan ini, kenapa tidak memberitahu kami akan hal besar itu." Tanya seorang perempuan diseberang telepon, yang sangat terdengar lembut dan itu adalah mamanya Morgan.
"Aku tidak apa- apa ma, sekarang sudah lebih baik." jawab Morgan.
"Aku sudah lebih baik setelah bertemu dengannya, dan menghabiskan malam yang indah bersamanya." batin Morgan. Ia menatap kearah istrinya, yang masih terlelap tidur itu di atas ranjang dengan senyumnya.
"Syukurlah kalau begitu, apa kau tidak ada hal lain. Yang ingin kau sampaikan pada kami, mengenai skandalmu bersama Vania Bella di taman rumah sakit luar negeri?." ucap mamanya sengaja.
"Ma.., Mama tau itu hanya skandal!. Bahkan itu sudah biasa terjadi, bagi para pengejar berita." jawab Morgan dengan santainya.
"Tapi Morgan, apa kau memang belum memkirkan tentang pernikahanmu?. Sudah saatnya kau mencari seorang istri, yang bisa mengurusmu dirumah." tanya Mamanya lagi.
__ADS_1
"Ma.., aku sudah menikah 2 bulan yang lalu." Ucap Morgan tersenyum, lalu memandang lagi kedalam ruang kamarnya.
"Apaaa..???" pekik Mamanya Morgan memegang dadanya.
"Ada apa?, kenapa kau berteriak ditengah malam begini?." Tanya Papanya Morgan, pada istrinya diseberang telepon.
"Mo- Morgan, su- sudah menikah pa!." jawap mamanya pada papanya.
"Apaaa?, ànak brèngsèk ini. Kenapa hal sebesar ini tidak dia katakan pada kita, orang tuanya!." bentak papanya. Dan merebut ponsel ditangan istrinya, untuk bicara pada Morgan.
"Kau pulang besok malam, aku tidak mau tau apapun alasannya!. Kau harus pulang, kemansion utama!." bentak papanya dengan keras.
"Eeh.., Morgan!. Jangan lupa bawa menantu mama untuk pulang, aku ingin mengenalnya!." Teriak mamanya Morgan, dan ponsel itupun terputus hubungannya dengan Morgan.
Ferino Lois menggenggam erat ponsel ditangannya, setelah mendengar berita pernikahan putra satu- satunya itu.
Mamanya Morgan melihat itu, ia langsung meraih tangan suaminya dan membawanya duduk kesofa. Karena ia tau, suaminya itu pasti sangat gelisah sekarang memikirkan tentang putra mereka satu- satunya itu.
"Kita serahkan saja semuanya pada Morgan, aku yakin!. Dia sudah memikirkan ini dengan segala pertimbangannya sendiri, kita sekarang sudah tua dan tidak bisa mengekang perasaan mereka." Ucap mamanya Morgan pada suaminya itu, lalu menyandarkan kepalanya dan sesekali mengendus pada dada bidang suaminya yang pernah gagah dimasa mudanya dulu.
"Kau menggodaku, hump?" tanya Ferino pada istrinya. Yang kini sedikit lebih santai, dari yang tadi sangat marah.
"Tentu saja!, aku bahkan sangat penasaran pada putra kita itu. Wanita mana yang mampu meluluhkan hatinya sampai ia menikahinya, dan bahkan tidak memberitahu kita akan hal besar ini." jawab istrinya. Karena ia tahu sifat anaknya itu tidak jauh berbeda dengan suaminya, yang sangat dingin kepada orang lain apalagi terhadap wanita!.
.......
.......
...Perjalanan cinta, baru dimulai..❤🔥...
...Tinggalkan Vote untuk hari ini yaa😍...
...Terima kasih....
__ADS_1