Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Bercerita


__ADS_3

Setelah kepergian asisten suaminya itu, Rossa pun memakai pakaian yang asisten Jo berikan pada.


Rossa pun memoles wajahnya seperti biasa ia lakukan setelah selesai berpakaian, karena ia memang selalu membawa alat makeupnya didalam tas.


"Dia selalu saja meninggalkan ku seperti ini, aku bahkan tidak pernah membuatkan nya minuman ataupun sarapan ketika ingin berangkat berkerja." gumam Rossa dalam hatinya.


"Aku juga ingin merasakan menjadi seorang istri yang selalu melayani suaminya dengan tawa dan candaan, seperti Ayah dan Ibu dulu." batin Rossa lagi.


Ia kembali mengingat kenangan Ayah dan Ibunya dulu ketika masih bersama, keluarganya begitu hangat. Walaupun kehidupan mereka berkekurangan, tapi mereka menjalaninya penuh dengan kebahagiaan.


Rossa menyapu air matanya yang tak sengaja menetes, semua kenangan tentang Ayah nya kembali teringat.


Ayahnya dulu pernah berkata, kalau dirinya nanti sudah bersuami. Harus seperti Ibunya yang baik, menjadi penyemangat suaminya ketika ingin berkerja dan juga merawatnya anak- anak mereka.


"Maafkan aku Ayah, sepertinya aku tidak bisa jadi istri yang baik untuk suamiku." batin Rossa. Ia kembali menyapu air matanya, karena mengingat tentang pernikahan yang ia jalani hanyalah pernikahan kontrak.


"Aku sangat merindukan Ayah, Ibu dan juga Rommi. Aku akan mengunjungi mereka secara bergantian, dan sekarang aku akan mengunjungi Ibu terlebih dahulu." ucap Rossa pada dirinya sendiri.


Ia pun mengemasi tasnya dan keluar dari ruangan itu menuju ruangan ibunya dirawat, dan tak disangka dokter Martin juga ada disana bersama 2 orang rekan nya sedang memeriksa alat- alat yang ibunya gunakan.


"Paman Martin!" seru Rossa.


"Rossa, kau belum pulang?." tanya dokter Martin menoleh kearah anak sahabatnya itu.


"Belum paman, aku ingin menemui Ibu terlebih dahulu." jawap Rossa sambil menarik sebuah kursi kesamping tempat tidur ibunya dirawat.


"Eeh..." Ucap Rossa yang baru sadar akan ucapan dokter Martin, yang menanyainya belum pulang.


"Kenapa paman bertanya seperti itu?" pikirnya dalam hati karena terasa aneh.


"Rossa, ada yang ingin paman sampaikan padamu. Datang lah nanti keruangan paman, setelah kau mengobrol dengan ibumu." ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum.


"Baik paman." jawap Rossa yang juga tersenyum kepada 3 orang dihadapan nya saat ini.


Dokter Martin dan 2 rekan nya pun sudah selesai memberikan beberapa suntikan di kantung infus ibunya Rossa, mereka pun undur diri karena tidak ingin mengganggu antara ibu dan anak itu dalam ruangan yang dipenuhi dengan bau obat- obatan itu.


Kini hanya Rossa dan Ibunya yang tinggal diruangan itu, Rossa meraih tangan ibunya yang terlihat pucat itu. Lalu meletakan nya, dipipinya sendiri.


"Apa kabar Ibu hari ini.., pasti baik- baik saja kan?" ucap Rossa dengan suara yang mulai bergetar.


"Maafkan Sasa yang beberapa hari ini tidak mengunjungi Ibu, Ibu tau kenapa?." tanya Rossa yang biasa Ibunya panggil Sasa itu sengaja, agar ibunya mendengar semua yang ia ceritakan untuk mendorong keinginan ibunya agar segera sadar.


"Itu semua karena menantu ibu." ucap Rossa seperti orang berbisik ditelinga ibunya.


"Astaga, aku lupa belum memberi tahu Ibu kalau aku sudah menikah. hihihi.." tawa Rossa bercerita sambil menghapus air matanya yang jatuh dipipi.


"Coba Ibu lihat, ini cincin pernikahan ku dengan Alvan." ucap Rossa yang salah menyebut nama seseorang.

__ADS_1


"Eeh.., bukan Alvan bu. Aku salah ucap, nama suamiku Morgan." Ujar Rossa mengoreksi ucapan nya, karena setiap kali yang ia dan Ibunya bahas adalah Alvan.


Alvan sudah sering berkunjung kerumah Rossa, dan sangat akrab pada Ibu dan Adiknya Rommi. Itulah sebabnya, Rossa teringat akan nama mantan kekasihnya itu begitu saja.


Rossa pun tertegun, kala menyebut nama Alvan. Ia mengingat cincin yang Alvan berikan padanya waktu itu, yang ia jadikan sebuah kalung. Rossa pun menyentuh lehernya, tapi tidak menemukan apapun.


"Ya ampun, kemana hilangnya cincin itu.? Bukankah sudah aku jadikan kalung beberapa hari lalu, tapi.. rasanya aku memang tidak pernah melihatnya lagi beberapa hari ini.!" batin Rossa.


Ia mencoba mengingat kembali, kapan terakhir kali melihat cincin itu yang masih menjadi kalung dilehernya.


Dan Rossa mengingatnya waktu masih dimobil, ketika ia dan Morgan selesai berkencan.


"Aah.. iya, hari pertama aku dan Beruang Kutub berkencan!. Dan hari pertama pernikahan kami, hari itu Morgan juga memberikan aku cincin ini.." batin Rossa. Ia menatap jari tengahnya, yang dihiasi sebuah cincin berlian sangat indah.


"Itu sangat aneh, kenapa cincin pemberian Alvan juga hilang di hari pernikahan ku. Bukankah sangat kebetulan, atau...?"


Rossa menggelengkan kepalanya kuat, saat ingin mengira kalau Morgan lah yang mengambilnya.


"Sangat mustahil!, untuk apa juga Morgan mengambil cincin itu. Kalau dia mau, dia bisa membeli toko berlian sekalian." pikir Rossa sambil tertawa kecil.


"Ah iya Ibu, aku dan Alvan sudah putus. Dan sekarang dia melanjutkan sekolahnya keluar negeri, dan aku juga sudah menikah dengan pria lain. Ibu tau, menantu ibu sangat baik. Dia bahkan membelikanku semua pakaian dan beberapa perhiasan, dan hari ini menantu ibu menyuruhku membeli sebuah mobil keluaran terbaru. Tidak sia- sia Silla dan kak Samuel yang dulu selalu mengajariku mengendarai mobil, dan sekarang aku akan mengendarai mobil yang menantu ibu belikan. Kalau Ibu nanti sudah sembuh, aku akan mengajak ibu dan Rommi jalan- jalan kepantai. Oke!" ucap Rossa yang terus bercerita dengan ibunya.


Sedangkan didepan pintu yang terbuka sedikit, dokter Martin dan Silla saling menatap satu sama lain mendengar kisah Rossa pada Ibunya.


"Masuk lah kedalam, paman juga akan kembali keruangan paman." ucap dokter Martin pada Silla, dan hanya diangguki oleh Silla.


.


.


Apartemen FL Aston.


"Dimana tuan muda..?" tanya Jo pada dokter Gerry yang sedang menyeruput kopinya.


"Dia ada dikamar, aku sedang memberinya cairan infus dan beberapa vitamin agar tubuhnya lebih vit." jawap dokter Gerry.


Asisten Jo pun langsung masuk kedalam kamar tuan mudanya.


"Tuan muda.." panggil Jo pada seorang pria yang sedang berbaring ditempat tidur.


Morgan pun membuka matanya perlahan, untuk melihat siapa yang datang mengganggunya.


"Kenapa kau kembali begitu cepat?." tanya Morgan duduk bersandar dikepala ranjang.


"Maat tuan muda, tapi nyonya Rossa menolak! Kalau saya ikut bersamanya memilih mobil." jawap Jo.


"Lalu..?" tanya Morgan lagi.

__ADS_1


"Nyonya berkata kalau ia akan pergi bersama sahabatnya saja, tuan." jawap Jo sambil menundukan kepalanya., mata Jo menangkap tangan tuan mudanya yang dibalut dengan perban.


"Ada apa dengan tuan muda? kenapa tangan nya diperban?" batin asisten Jo bertanya- tanya.


Morgan hanya diam, padahal dirinya ingin sekali bertanya pada asisten nya itu tentang istrinya saat ini.


"Apa dia kecewa padaku, karena aku sudah berbuat kasar padanya?" batin Morgan bertanya- tanya.


Morgan kembali mengingat kelakuan istrinya yang memeluknya erat tadi malam, ia hanya memejamkan matanya karena saat ini hatinya merasa sangat ingin berada dekat dengan istrinya itu.


.


.


Rumah sakit A.


"Kenapa kamu menyuruhku membawa pakaian, sedangkan kau sudah memilikinya." tanya Silla pada Rossa.


"Ini asisten Jo yang baru membawanya, kupikir tadi tidak punya cara lain selain menghubungimu." jawap Rossa.


"Oh ya Sill, kamu disini dulu yaa. Aku mau keruangan paman Martin, katanya dia ada yang ingin dibicarakan padaku." ucap Rossa beranjak dari kursi sebelah Ibunya.


"Oke." jawap Silla singkat.


Rossa pun keluar dari ruangan Ibunya, menuju ruangan dokter Martin yang tidak terlalu jauh dari tempat Ibunya dirawat.


"Tok.. tok... tok..."


"Masuk."


"Apa aku mengganggu paman.?" tanya Rossa didepan pintu.


"Tidak, masuklah dan tutup pintunya." jawap dokter martin


"Duduklah Rossa." ucap dokter Martin lagi.


"Terima kasih paman."


"Jangan sungkan." sahut dokter Martin.


"Rossa, paman akan langsung keintinya saja. Sebenarnya paman punya 2 kabar untuk mu, Satu kabar baik dan satu nya lagi kabar buruk. Kau mau dengar yang mana dulu?." tanya dokter Martin.


Deg.


Jantung Rossa berdegup kencang, tiba- tiba perasaan nya menjadi terasa tidak nyaman.


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 Like, komen dan favorit agar tau up nya.. Terima kasih sudah mampir..😘


__ADS_2