Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Jangan panggil Aku Tuan.


__ADS_3

"Ada apa, kenapa kau menangis?" Tanya Jack yang bingung melihat Rossa meneteskan air mata melihatnya.


"Aku mau kerumah sakit, Ibuku. Dia! dia sudah sadar." Ucap Rossa yang masih terisak karena sangat bahagia, mendengar berita Ibunya yang sudah sadar.


Jack masih bingung dengan apa yang Rossa katakan padanya, tapi ia mencoba untuk mengerti akan hal besarnya saja agar tidak bertanya diwaktu yang salah saat ini.


"Biar kuantar kau kerumah sakit." Sahut Jack, karena ia tidak tega melihat wanita yang ia rasa telah mecolek sedikit hatinya itu.


"Iya, maaf kalau aku merepotkanmu. Sebentar, aku bayar makanan dulu." Ucap Rossa lagi, ia menghapus sisa air matanya yang jatuh kepipi.


"Sudah, sudah aku bayar. Ayo kita berangkat sekarang, soalnya aku juga ada rapat siang ini." Ucap Jack. Ia mengirim pesan diponselnya menuju manajer restoran itu, yang tidak lain adalah milik keluarganya.


.


.


Rumah Sakit A.


"Aku tidak bisa mengantarmu kedalam, lain kali aku akan datang mengunjungi Ibumu." Ucap Jack pada Rossa, yang kini sudah berada didepan rumah sakit A.


"Hm,.. terima kasih banyak tuan Jack. Aku akan masuk kedalam, hati- hati dijalan." Balas Rossa didepan jendela Jack sambil tersenyum, yang kini sudah keluar dari mobil.


"Jangan panggil aku tuan, itu terlalu formal. Panggil aku Jack saja, itu lebih nyaman." Ucap Jack lagi, ia merasa tidak ingin jauh dari wanita yang berbicara padanya saat ini. Tapi apa mau dikata, hari ini adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sahabatnya. Dan mau tidak mau ia harus hadir disana memberi vote suara saham milik mereka, agar sahabatnya itu tetap terpilih menjadi Chief Executive Officer (CEO) di FL Morgan Chase.


"Baiklah Jack." Jawab Rossa tersenyum, lalu melambaikan tangannya pada Jack.


"Sampai jumpa Rossa, lain kali kau harus mentraktirku makan lagi. Karena hari ini aku yang bayar, dan ya. Kita satu apartemen, lain kali aku akan mampir ketempatmu." Ucap Jack berlalu pergi meninggalkan Rossa, yang masih mematung mencerna ucapan Jack padanya tadi.


"Apa maksudnya kami satu apartemen? bukankah tadi kami bertemu diparkiran!?." Gumam Rossa, ia pun masuk menuju ruangan tempat Ibunya dirawat saat ini.

__ADS_1


Karena merasa sangat senang, Rossa dengan tergesa- gesanya ingin cepat sampai keruangan Ibunya. Dan melewati ruangan Dokter Jane yang terlihat sangat sepi, tidak ada ibu hamil mengantri seperti saat ia datang kesana waktu itu.


Karena penasaran melihat pintu ruangannya masih terbuka separuh, Rossa juga ingin meminta vitamin tambahan pada dokter Jane.


"Mumpung aku masih ingat saat ini, sekalian saja meminta vitamin pada bibi." Ucap Rossa pada dirinya sendiri, sambil berjalan menuju ruangan dokter Jane yang terbuka separuh.


Samar- samar Rossa mendengar suara orang didalam ruangan itu, dan sepertinya ia sangat mengenalinya. Semakin dekat Rossa pada pintu ruangan yang terbuka itu, semakin berdebar pula jantungnya.


Dan..


Setelah sampai didepan pintu, Rossa langsung menyenderkan punggungnya didinding dekat pintu ruangan dokter Jane.


Rossa menutup mulutnya dengan tangan dan mata yang membelalak syok, akan hal yang baru saja ia dengar dari dalam ruangan itu.


Dengan perasaan terpukul dan air mata yang tak dapat ia kendalikan, Rossa membawa kakinya berjalan menuju ruangan Ibunya dengan gontai.


Setelah sampai didepan ruangan Ibunya, Rossa menghapus air matanya yang tak henti- hentinya keluar dari kedua netranya. Matanya sadah sembab karena terisak, air bening dari indra penciumannya pun terasa mencair begitu saja tanpa dikehendakinya.


Sungguh Rossa merasa dirinya sangat bodoh saat ini, karena menangisi sesuatu yang tidak penting. Bahkan tidak ada sangkut pautnya pada dirinya saat ini, tentang apa yang ia dengar tadi diruangan dokter Jane.


Dengan penuh keyakinan Rossa membuang perasaan yang membuatnya sangat drop saat ini, ia yakin pasti bisa. Karena ia tidak mau sampai Ibunya tahu kalau dirinya saat ini sedang bersedih.


"Ayo Rossa, semangat!. Kau adalah wanita kuat, demi anak- anakmu kau pasti bisa melalui semua ini dengan mudah." Batin Rossa menyemangati dirinya sendiri, karena ia tahu tidak ada orang lain lagi yang bisa memberinya semangat selain dirinya sendiri saat ini.


Saat dirinya merasa sudah siap, Rossa pun mendorong pintu kamar Ibunya. Yang kini sudah ada dokter Martin dan anaknya dokter Gerry, sedang mengobrol dengan Ibu Rossa yang masih kurang lancar untuk berbicara.


"Ibu... Ibu Sasa kangen Ibu.." Seru Rossa sedikit berlari kecil, untuk memeluk Ibunya yang masih berbaring ditempat tidur pasien itu.


Rossa mencium seluruh wajah Ibunya yang kini sudah bisa membuka mata, betapa ia sangat rindu. Rindu akan kasih sayang sang Ibu, yang sudah lama terbaring tidak berdaya diatas tempat tidur.

__ADS_1


"A.. a... a.." Suara sang Ibu terputus- putus, mencoba untuk bicara pada putrinya. Tapi sayang, hanya suara itu yang keluar saat ini dari mulutnya yang lama bungkam.


Rossa menoleh kearah dokter Martin, mencari sebuah jawaban yang ada dalam benaknya saat ini. Dan dokter Martin menganggukkan kepalanya pada Rossa, akan pertanyaan yang terlihat dikedua bola mata indah itu.


Lagi- lagi air mata Rossa keluar tanpa ia kehendaki, ternyata Ibunya mengalami Stroke.


Stroke yang terjadi ketika pasokan darah ke otaknya terganggu atau berkurang, akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.


Tanpa darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian area otak akan mati.


Kondisi ini menyebabkan bagian tubuh Ibunya yang dikendalikan oleh area otak yang rusak tidak dapat berfungsi dengan baik, karena sel otak dapat mati hanya dalam hitungan menit saja.


Rossa menghapus air matanya, ia tidak mau Ibunya malah semakin drop kalau melihatnya terus menangis.


"Ibu bagaimana kabarnya? pasti baik- baik saja kan. Rossa yakin, Ibu bakalan cepat sembuh. Karena disini ada paman Martin dan anaknya kak Gerry yang menangani Ibu, dan aku juga bakalan menemani Ibu disini." Ucap Rossa dengan senyumnya mencium tangan sang Ibu.


Ibunya hanya menitikan air matanya, tanpa ada suara yang ia keluarkan dari mulutnya mendengar ucapan Rossa.


Melihat keadaan yang membuat hati siapa saja iba melihat Ibu dan anak itu, mereka satu persatu keluar dari ruangan. Memberikan waktu untuk Rossa dan Ibunya saling melepas rindu, yang sangat membuncah dalam dada mereka.


Dan tidak lama setelah dokter Martin dan Gerry keluar dari ruangan Ibunya Rossa, dengan berlari terengah- engah adik Rossa membuka pintu ruangan Ibunya. Yang baru saja ingin beristirahat, setelah Rossa bercerita banyak hal pada Ibunya tentang kehidupannya dan sang adik saat ini.


........


...Maaf ya all, belum bisa crazy up. Tapi diusahakan update pagi dan sore..🤧...


...**Untuk Morgan kapan tahu kalau Rossa sedang mengandung, dan tentang malam itu?. Nanti akan ada masanya geng's💔🤧...


...Terima kasih jempol dan hadiahnya, vote kalian sangat berharga untukku..😘**...

__ADS_1


__ADS_2