
Setelah pulang dari rumah sakit, Rossa memutuskan untuk pulang kerumah kontrakan yang mereka tinggali bersama ibu dan adiknya.
Padahal Silla sudah memaksanya untuk tinggal dirumah nya untuk beberapa hari, tapi Rossa menolak dengan alasan besok pagi harus berkerja.
Rossa berjalan gontai, kakinya yang melangkah seakan berat. Pikiran nya sangat kacau, memikirkan bagaimana cara nya mencari uang untuk pengobatan ibunya yang koma.
Sedang kan ia baru akan berkerja, mana mungkin bisa cukup untuk biayaya rumah sakit.
Rossa masuk kekamar nya yang sempit dan merebahkan tubuh nya di kasur busa berukuran satu orang itu.
Kamar Rossa Sangat sederhana sekali, tidak ada ranjang tidak ada meja belajar. Tapi sangat rapi dan bersih, meskipun terlihat sudah mulai usang.
Ia kembali mengingat belum menghubungi adik nya Rommi, untuk memberi kabar bahwa ibunya akan baik-baik saja.
Rossa pun kembali duduk meraih tas selempangnya yang ia gantung di belakang pintu kamar nya, ia menekan sesuatu di ponsel dengan segera menghubungi sodara nya.. namun nomor yang ia tuju tidak aktiv, "Apakah Rommi sudah tidur" guman Rossa yang sudah 2kali menghubungi nomor adik nya itu.
"biar ku kirimi dia pesan saja, mungkin ia sudah tidur" ucap Rossa bicara sendiri.
Padahal jam baru menunjukan pukul 21:02 malam, mana mungkin adiknya itu sudah tidur dengan kebiasaan nya yang setiap malam main game itu.
Rossa kembali membaringkan tubuh nya dikasur busa tipis nya, seakan ingin mengistirahatkan pikiran dan juga tubuh nya yang seakan-akan remuk semua tulangnya..
"Biarkan malam ini aku tidak mandi, toh tidak ada orang yang akan protes juga" gumam nya.
Baru saja ia akan memejam kan mata, ponselnya kembali berbunyi.
Rossa meraih kembali ponsel nya, yang ia letakan dilantai dekat kasurnya itu. Ia pun melihat ponselnya, untuk memeriksa dana pesan tadi. "Apakah Rommi sudah membaca pesan ku..?" gumam nya lagi.
"Rossa, ini paman Martin. Bisakah kau menemuiku di taman dekat rumah mu sekarang?" isi pesan singkat dari nomor baru itu.
Rossa merasa binggung. "bukankah paman Martin bisa membicarakan nya di rumah sakit tadi, kalau ada sesuatu yang perlu di sampaikan mengenai ibu..?" gumam Rossa pada dirinya sendiri, karena merasa aneh dan ragu untuk keluar pada jam yang sekarang menunjukan pukul 21: 12.
__ADS_1
Tiba- tiba ponselnya kembali berdering, terlihat nomor yang sama tadi mengirimi nya pesan. Dengan ragu Rossa menggeser tanda hijau itu, tanpa mengeluarkan suara.
"Rossa.. ini paman Martin. Aku tau kau takut ini nomor orang asing, tapi paman ada yng ingin paman bicarakan dengan mu sekarang. Bisakah kau keluar..? karena paman tidak enak hati kalau bertamu malam-malam begini kerumah mu."
Rossa pun tertegun, pikiran nya kembali pada ibu nya. "Apakah paman Martin ingin mengeluarkan ibu dari rumah sakit, karena takut tidak bisa membayar biayaya rumah sakit tiap bulan nya..? ya tuhan apa yang harus aku lakukan..? hanya rumah sakit A yang terbaik di kota ini." batin Rossa, yang kini sudah menetes kan air mata nya.
"Rossa... apa kau mendengar paman..?" ucap orang diseberang telepon itu.
"Ya paman, aku akan segera keluar." Ucap Rossa dengan suara seraknya, yang menandakan ia tengah menagis.
"Baiklah, aku akan menunggumu datang."
"Baik paman." bib.
Sambungan telepon pun terputus.
"Kenapa suara anak itu tengah menangis, aku jadi tidak tega membicarakan ini padanya. Tapi, aku juga tidak bisa membantunya lebih." Ucap dokter Martin yang tengah duduk di kursi panjang, ditaman dekat rumah kontrakan Rossa tinggal.
Rossa pun segera mendekat pada pria sahabat ibunya itu, entah apa yang membuat hati Rossa seakan- akan ingin bersedih kala ia harus menemui dokter itu malam- malam begini.
"Apakah aku memohon saja, kalau- kalau ibu benar- benar ingin di keluarkan.?" batin Rossa yang kembali menitikan air matanya.
Setelah ia sudah mulai dekat dengan dokter Martin, Rossa pun menghapus sisa air matanya.
"Apa paman sudah lama menunggu..?" Tanya Rossa dengan suara paraunya, yang habis menangis.
Dokter Martin pun segera menoleh ke arah suara yang ia dengar, melihat kearah wanita muda yang sangat sederhana.. Memakai celana pendek, baju kaos besar, sendal jepit dan rambut terurai yang sangat berantakan. Meskipun begitu, tak mengurangi kecantikan wanita muda dihadapan nya ini.
Dokter Martin langsung tersenyum kearah Rossa. "Sini duduk lah" ucap dokter Martin yang menepuk kursi panjang disamping nya.
__ADS_1
Rossa pun hanya menurut medudukan bokong nya dikursi panjang itu.
"Rossa.., kau tau aku juga sangat terkejut mendengar ibu mu yang masuk rumah sakit malam itu. Dan aku segera kembali kenegara ini begitu mendengar kabar nya, karena ibu mu adalah pasien ku. Aku tau kau sangat bersedih, dan aku sangat memahami mu, karena sifat mu sangat mirip dengan ibumu waktu muda. Kau tau, ibumu ada lah wanita terkuat dimasanya muda..? Ia sangat jarang memperlihatkan kesedihan nya didepan orang lain, ia hanya menanggung nya sendiri tanpa ada perubahan didirinya. Jadi kau harus kuat, tidak boleh putus asa atau pun bersedih." Ucap dokter Martin mencoba menenangkan Rossa, karena mata nya terlihat sangat sembab karena terlalu banyak menangis.
"Apa yang ingin paman bicarakan padaku?" tanya Rossa yang sedikit ragu akan pertanyaan yang ia lontarkan.
"Aah iya, hampir saja paman lupa. Begini Rossa, kau jangan tersinggung atau apapun yang mambuat mu marah atas perkataan paman ini. Tapi, paman benar- benar minta tolong padamu." ucap dokter Martin.
"Eeh" Rossa terkejut, karena hal yang ia bayangkan akan segera terjadi.
"Baiklah, aku akan memohon pada paman Martin. Bagaimana pun caranya, agar ibu tetap dirawat disana.." batin Rossa yang mengepalkan kedua tangan nya, sambil menunduk karena tak mampu menahan air mata.
"Rossa.. maukah kau menikah dengan anak sahabat paman..?"
"Eeh, A-ap-apa maksud paman..?" tanya Rossa yang terbata- bata karena di luar dugaan nya.
"Paman akan menceritakan dulu semua nya pada mu, tapi kau harus janji tidak akan tersinggung terlebih dahulu. Bagaimana?" jawap dokter Martin tersenyum.
"Aah baiklah paman, aku akan mendengarkan mu. Tapi aku sedikit binggung, kenapa paman membicarakan ini sekarang bukan kah masih ada waktu besok." tanya Rossa yang memang sangat binggung, kenapa paman Martin melamarnya untuk anak sahabat nya.
"Cerita nya seperti ini.."
Dokter Martin pun menceritakan semuanya tentang orang yang ia akan jodoh kan kepada Rossa dengan rinci, hingga Rossa sangat paham dan mengerti yang dokter Martin katakan padanya.
"Hanya dua tahun, setelah itu kalian akan bercerai. Dan pernikahan kalian juga akan di rahasiakan, sehingga kau tak perlu menunjukan wajah mu di media." Ucap dokter Martin menjelaskan.
.
...Kalau suka dengan cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak yaa agar Author semangat. 🤗...
...Terima kasih.. 😍...
__ADS_1