
"Kemana anak itu pergi, kenapa lama sekali.?"
batin silla yang merasa kesal dengan kelakuan rossa yang menghilang bagaikan ditelan bumi.
"Awas saja kalau kau kudapatkan nanti, kupatahkan kakimu sampai tak bisa berjalan. Jangan bilang kau sekarang sedang menangis dipojokan, karena melihat bajingan yang sedang wara-wiri itu di atas panggung bersama tunanganya.?" gumam silla yang meneruskan langkah kakinya ketoilet, memeriksa satu persatu bilik kamar mandi itu.
☘Disisi lain.☘
"Bagaimana, apakau sudah melakukan tugasmu dengan baik.?" ucap seorang wanita diseberang telepon.
"Semuanya sudah selesai nyonya, tinggal menunggu pemeran utama tiba..!" jawap seorang pria di telpon itu sambil menyeringai.
"Bagus.. kuharap kau menyelesaikan nya dengan sempurna, bayaranmu akan ku transfer malam ini juga saat aku melihat buktinya."
"Jangan khawatir nyonya, anda akan menunggu hasilnya malam ini.!" jawap pria itu lagi, dan panggilan itu pun terputus dari sisi lain.
"Salahkan saja dirimu gadis kecil, karena sudah menyinggung keluarga kaya raya. Kami hanya menjalankan tugas mencari uang untuk bertahan hidup.." ucap pria itu yang tengah melihat seorang perempuan meletakan Rossa, keatas tempat tidur king size di kamar hotel mewah bintang lima keluarga Lois.
☘☘☘
Restoran Hotel keluarga Lois.
Dimeja makan bundar yang besar dan mewah itu berkumpulah keluarga Lois.
Ferino Lois adalah pengusaha terbasar di kota A, semua bidang bisnis selalu tercantum namanya. FL, itu lah singkatan yang menunjukan bahwa ia juga berperan di dalam bisnis itu.
Ferino Lois memiliki tiga orang anak, dari dua istrinya.
Anak yang pertama bersama istrinya Mardiana adalah Miranda Ferino Lois, usianya 39 tahun menikah muda. Ibu dari Alvan Alexander.
Anak yang kedua bersama istrinya Alicia(sudah meninggal) adalah Marissa Ferino Lois, usia nya 34 tahun.
Anak yang ketiga bersama istrinya Mardiana adalah Morgan Ferino Lois, usia 25 tahun.
__ADS_1
"Alvan sudah bertunangan dengan putri keluarga Moy, bagaimana dengan mu Morgan..? Kapan kau akan mencari seorang istri? jangan hanya sibuk main saja. Skandal mu sangat banyak, bahkan dimedia kau berganti pasangan setiap minggu dari putri-putri pengusaha ternama di setiap kota!" tanya Ferino Lois, ayahnya Morgan panjang lebar.
"Ayah tidak perlu banyak berpikir, itu hanya sebatas bisnis saja tidak lebih.." jawap Morgan dengan sangat santainya.
"Benarkah begitu adiku? lalu bagaimana dengan Vania Bella kekasih masa kecilmu itu sekarang? apa kau tidak ingin melamarnya.? kalian sudah cukup dewasa untuk memulai rumah tangga." tanya Miranda, mama nya Alvan.
Semua orang diruangan itu hening..
"Itu adalah urusan pribadiku kakak, kakak hanya harus mengurus putramu saja agar pertunangan nya tidak menjadi permusuhan antar keluarga nantinya..!" jawab Morgan dengan santai sambil meminum, minuman nya.
"Hump.. kau bisa sombong sekarang Morgan..! tapi tunggulah sebentar lagi kejutan dariku, sampai kau sendiri tak mampu membayanginya dalam mimpimu sekalipun.." batin Miranda tersenyum menyeringai.
Sedangkan mama Mardiana dan kakak keduanya Marissa hanya duduk diam sambil tersenyum mendengar pembicaraan mereka, tak ada komentar atau pun pertanyaan dari kedua wanita itu.
"Baiklah aku sudah selesai makan malam, aku akan kembali kekamarku.." ucap morgan sambil berdiri dari kursinya. "Selamat malam semuanya.." Sambung nya berlalu pergi.
Morgan tidak kembali kekamarnya, melaikan pergi kesebuah bar di hotel itu berada.
Setiap kali ada yang menyinggung kekasih masa kecil nya itu, Morgan tak mau membahasnya. Ia hanya ingin melupakan semuanya dengan minuman. Morgan duduk di bangku tinggi, di depan bartender muda yang sedang berkerja itu.
" Ya.. kau paling tau kalau aku sudah kesini.." jawap Morgan tanpa memperhatikan orang yang sedang dengan nya berbicara.
"Dimana asisten jo tuan?" tanya bartender itu lagi.
"Dia sudah kusuruh pulang lebih awal hari ini." jawap Morgan seadanya, sambil meminum sesuatu di dalam gelas nya itu sampai habis. Yang disungguhkan oleh bartender muda dihadapan nya..
"Kenapa rasa minuman ini sangat aneh.?" batin Morgan setelah menghabiskan satu gelas minuman yang biasa ia pesan di bar itu.
Tiba- tiba Morgan merasa kepalanya sudah sangat pusing, padahal hanya baru minum satu gelas. Ia pun mengeluarkan uang dari dalam jas nya beberapa lembar, dan meletakanya di atas meja panjang dan berlalu pergi dari tempat itu.
Di perjalananya menuju kamar Hotel milik keluarganya itu, Morgan merasa sangat panas. Bahkah nafasnya terputus-putus, karena menahan sesuatu pada dirinya.
"Ada apa dengan ku? bukan kah ini seperti gejala..?" matanya melotot kala tahu apa yang terjadi pada dirinya , Morgan mempercepat langkah kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah sampai di depan pintu kamar yang bernomor 117, ia pun masuk kedalamnya lalu mengunci pintunya dari dalam.
Pandangan nya pun mulai mengabur, ia mencoba bertumpu pada dinding- dinding dalam kamar itu mencari arah kamar mandi. Setelah sampai didepan pintu kamar mandi, ia pun masuk kedalam dan segera menyiram dirinya dengan air dingin. Sungguh ia merasa sangat tersiksa dan kepanasan, ada rasa tidak nyaman pada bagian tubuhnya yang lain.
"Sial.. sial.. siapa yang berani menjebak ku, akan ku pastikan ia dan keluarga nya menderita seumur hidupnya. Aku tak boleh keluar dari kamar ini, pasti semuanya sudah di atur agar aku mencari wanita diluar sana!" gerutu Morgan mencoba menenangkan dirinya yang merasa sangat menderita.
1 jam sudah ia beredam air dingin, tapi masih saja dibagian tubuh nya yang lain menyiksanya
"huh... huh... huh... aku harus menghubungi jo agar membawakan dokter sekarang juga.." ucapnya terengah-engah.
Morgan pun beranjak dari bak mandi, mengambil jas yang ia lempar sembarang tadi. Tangan nya mencari sesuatu didalam jasnya dan berjalan keluar kamar mandi.
Tuut... tuuut... "Iya tuan muda..?" tanya seseorang diseberang telepon.
"Kau cepat kemari, bawakan aku dokter Gerry ke kamar hotel secepatnya." jawap Morgan dengan cepat
"Apa tuan muda sakit..?" tanya orang iru lagi.
bib.. Morgan memutuskan sambungan telepon.
Asisten jo pun tampak bingung dengan tuan muda nya itu, karena baru beberapa jam yang lalu tuan muda nya tampak sangat sehat-sehat saja.
"Apa yang terjadi padanya..?" gumam Jo, ia pun bergegas membawa kunci mobil dan jaket nya lalu menghubungi dokter Gerry sahabat tuan mudanya itu.
Morgan yang masih bertelanjang bulat begitu merasa kesakitan dan tersiksa, padahal ia orang yang sangat berhati- hati. Tapi masih bisa terkena jebakan mematikan itu.
"Baiklah, siapa dalang dari semua ini? akan aku korek sampai ke akar akarnya. bertahan lah Morgan." gumam nya menguatkan dirinya sendiri.
Morgan merasa begitu sangat tersiksa, bahkan nafas nya sudah hampir terputus putus. Ia pun menuju ke arah tempat tidurnya dengan pandangan yang sedikit tidak jelas, ia merasa dirinya seperti ingin memangsa seseorang saat ini. Bagaikan serigala yang haus akan darah segar.
Ia pun duduk bersandar menyelonjorkan kakinya di kasur king size itu, tiba tiba ia merasa ada sesuatu dikakinya yang terasa dingin mengenai nya.
Dengan rasa penasaran, Morgan membuka selimut yang menutupi sesuatu itu ternyata...?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 See you😘