Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Hadiah Pernikahan.


__ADS_3

Setelah kepergian para pria itu, Dokter Jane melanjutkan kegiatannya sebagai dokter. Karena setelah ia memeriksa denyut nadi Rossa tadi, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Tapi ia tetap tenang, karena ia tau apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu sebelum bertindak gegabah.


Dokter Jane memasang sebuah jarum ditangan Rossa, yang tidak lain adalah jarum infus. Kini Rossa sudah sedikit lebih baik dari pada yang tadi, dan sudah lebih leluasa bergerak.


"Apa kau mengenalku?." tanya dokter Jane pada Rossa. Dokter Jane duduk di samping Rossa dipinggiran ranjang, dan menaikan baju Rossa keatas untuk memeriksa perutnya yang sakit.


Rossa yang berbaring terlentang hanya menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban pada dokter wanita dihadapan nya itu.


"Kau sungguh tidak mengingat ku?." tanya dokter Jane lagi.


Rossa mengerutkan keningnya, sungguh dirinya tidak kenal dengan dokter wanita dihadapan nya saat ini. Tapi kenapa bertanya padanya berulang kali, bahkan dokter itu menatap Rossa seperti telah mengenal Rossa sejak lama.


" Kenapa dia bertanya seperti memaksa?, bukan kah aku memang tidak kenal dengan nya." batin Rossa.


Lagi- lagi Rossa menggelengkan kepalanya pada dokter paruh baya itu, yang masih terlihat cantik dan elegant.


Dokter Jane menarik napas dalam, lalu membuang nya kembali setelah melihat jawaban Rossa. Yang hanya menggelengkan kepala nya, sebagai jawaban.


"Baik lah, nanti kita bahas lagi!. Sekarang ada yang lebih penting!, aku harus memeriksa nya terlebih dahulu. Agar tidak salah bertindak, atau malah menyakitinya." ucap dokter Jane terlihat serius.


"Menyakitinya!, apa maksud dokter ini?. Dari tadi dia selalu membuatku binggung dengan ucapan nya, memang nya ada apa? dan siapa sebenar nya dokter ini!?." batin Rossa.


Karena tadi Rossa memang tidak terlalu mendengar, ucapan orang- orang disekitarnya. Bahkan ucapan Morgan saja ia tidak mendengar dengan jelas!, karena rasa sakit diperutnya sangat menyiksanya sampai meneteskan air mata.


Rossa memejamkan matanya dengan tenang, karena rasa sakit diperutnya kini mulai menghilang dengan perlahan. Sedangkan dokter Jane masih meletakan stetoskop nya kesana kemari diatas perut rata Rossa, dan sambil meraba- raba dengan perlahan.


"Ini...? tidak mungkin!." batin dokter Jane.


...☘☘☘...


Ruang belajar.

__ADS_1


Morgan masih terlihat diam, ia sedang berdiri didekat jendela memandang gelapnya malam di ruang belajar itu.


Sedangkan dokter Gerry merebahkan kepalanya kesofa, karena baru saja mereka datang siang tadi dari luar negeri. Dirinya sudah melakukan berbagai tugas, untuk pengecek kan berkas sahabatnya itu dirumah sakit. Hingga tidak ada waktunya untuknya ber- istirahat, dan sekarang dirinya malah berada divilla sahabatnya itu karena dipanggil.


Dokter Martin juga hanya diam, tapi matanya menatap isi ruang belajar itu dengan tajam. Tanpa melewati satu jengkal pun, apa yang terpajang diruangan itu.


Kini Asisten Jo mendekati Morgan, dan menundukan kepalanya sedikit.


"Tuan muda, ada seseorang mencari anda dan ingin berbicara pada anda di telepon." ucap Jo.


"Aku sedang tidak ingin berbicara pada siapa pun sekarang, katakan aku sudah tidur!." jawab Morgan dingin tanpa menoleh pada Asistenya itu.


"Tapi.., ini dari nona Bella tuan!." ucap Jo lagi. Karena sedari tadi, ponsel Jo selalu berdering tanpa henti. Dan yang menghubunginya adalah Vania Bella, kekasih masa kecil tuan mudanya dulu!.


Morgan pun baru ingat, kalau tadi dia menitip pesan pada Asisten Vania Bella. Dan menurut kebiasaan Vania Bella, dia sangat tidak suka sampai menyampai padanya. Maka dia akan menghubungi Morgan kembali untuk berbicara secara langsung!, dengan segera Morgan menoleh kearah Asisten nya itu. Lalu mengadahkan tangan nya meminta ponsel milik Asisten nya, untuk menghubungi Vania Bella saat itu juga.


Morgan pun berjalan kearah pintu balkon, ia keluar dari ruang bacanya lalu menutup pintu balkon kembali.


"Ternyata diberita- berita setiap hari itu benar adanya, mereka benar- benar sepasang kekasih yang tidak terpisahkan. Untung saja Rossa orang yang tangguh, semoga saja semua kejadian hari ini yang Morgan katakan hanyalah penyemangat Rossa disaat sakit saja." Batin dokter Martin, karena yang ia dengar sebelum mereka masuk kedalam kamar utama itu tadi.


Morgan tidak akan meninggalkan Rossa, apapun yang terjadi. Morgan akan selalu ada disisi istrinya itu, dan selamanya bersama.


"Sungguh konyol!, bahkan kalau Rossa setuju untuk mempunyai madu seperti Vania Bella itu. Ia akan segera mati sakit hati, karena dunia mereka sangat jauh berbeda. Bagaikan langit dan bumi, semoga saja Rossa tidak tertarik dengan pria yang tidak bisa konsisten dengan hatinya seperti tuan muda ini." batin dokter martin.


Triing..


Suara pesan masuk di ponsel dokter Martin, ia pun segera merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel nya.


"Rossa sudah tertidur, dan sepertinya. Sakit nya juga perlahan menghilang, hanya saja!. Ada seseatu yang harus aku pastikan lagi besok, dan Rossa harus dibawa kerumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut." Isi pesan dari dokter Jane, seorang dokter kandungan yang tidak lain adalah istri dokter Martin.


Dokter martin mengerutkan kening nya, setelah membaca pesan dari istrinya saat ini. Dan dengan cepat, ia membalas pesan itu.

__ADS_1


"Apa sakit yang ia derita sangat parah?." Tanya dokter Martin mengirim pesan, pada istrinya.


Triing..


"Tidak, akan aku jelaskan nanti." isi balasan dari dokter Jane.


Dokter Martin menutup ponsel nya, lalu menyimpan nya kembali kesaku celana nya.


Bersamaan dengan itu, Morgan juga membuka pintu dari arah balkon. Yang terhubung keruang bacanya, lalu berbicara pada Asisten nya sambil menyerahkan ponsel yang ia pakai tadi.


"Jo, besok kau carikan apartemen yang tidak kalah mewah dari villa ini. Dan juga, pastikan tidak terlalu ada tetangga yang bisa mengenaliku." ucap Morgan langsung mendudukan tubuh nya di sofa ruang belajar itu.


Asisten Jo hanya mengangguk kan kepala nya, tanpa bertanya apapun.


"Untuk apa lagi kau mencari sebuah apartemen?, bukan kah!. Kau sudah memiliki beberapa apartemen mewah diperkotaan?, lalu untuk siapa lagi kau mencai rumah sedangkan rumah- rumahmu tidak pernah kau tempati." Tanya dokter Gerry, masih dengan sandaran nya di sofa ruang belajar itu.


"Bukan untuk ku, tapi untuk Rossa!." jawab Morgan.


Semua mata mengarah pada Morgan, karena selain ingin mencari rumah baru untuk istrinya itu. Morgan juga menyebut nama 'Rossa', yang tidak pernah mereka dengar selama ini.


Dokter Gerry langsung mendudukan tubuhnya disofa, dan kembali bertanya pada sahabatnya itu.


"Kenapa sangat mendadak?, apa kau ingin menjual villa ini!?." tanya dokter Gerry lagi.


"Tidak.., Vania mempercepat kedatangan nya ke kota ini 3 hari lagi. Dan villa ini aku hadiahkan untuk nya, sebagai hadiah pernikahan." ucap Morgan dengan senyum nya.


Dokter Martin mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat, dan menggertakkan gigi nya mendengar ucapan Morgan barusan pada mereka.


.......


.......

__ADS_1


...Perjalanan cinta, baru dimulai..❤😢...


__ADS_2