
☘Disisi lain.☘
Kini asisten Jo sedang berada dirumah sakit A, dimana tempat ibu Rossa dirawat saat ini.
Tapi ia tidak melihat orang yang ia cari, yaitu nyonya mudanya.
"Aku sudah menyuruh seseorang melihat kamera cctv kampus nyonya Rossa, tapi belum mendapatkan kabar. Kalau saja sudah ada kabar, akan mudah bagiku untuk melacak nya sekarang. Apa lebih baik aku kerumah nya atau kerumah temannya waktu itu?, sudah lah mungkin firasatku ini benar nyonya muda sekarang ada di rumah sahabatnya tadi siang!." batin asisten Jo.
Asisten Jo pun kembali kemobil, dan melajukan mobilnya rumah sahabat nyonya muda nya itu.
Yang ia yakini pasti nyonya mudanya berada di sana saat ini, ia pun menambah laju mobilnya karena malam mulai larut.
"Aku merasa bingung dengan tuan muda!, kenapa dia begitu marah tadi siang melihat nyonya muda bersama pria lain? Apa dia cemburu?, ah mana mungkin!. Tapi.. selama ada nyonya muda Rossa, tuan muda Morgan selalu terseyum dan bersikap hangat pada orang lain. Tidak seperti sebelum nya yang sangat dingin, walau pun dia berkencan atau pun bersama wanita lain dia tetap saja datar. Aku akan berdoa, semoga saja mereka berdua memiliki perasaan selama kontrak ini berjalan. Maaf kan saya tuan muda Morgan, sepertinya saya harus merahasiakan masa lalu nyonya muda Rossa yang pernah menjalin kasih dengan tuan muda Alvan. Tapi kalau anda yang lebih dahulu bertanya! saya akan mengatakan semuanya, termasuk siapa wanita dihotel malam itu adalah nyonya muda Rossa. Istri anda saat ini, mungkin anda dan nyonya Rossa adalah jodoh!. Hanya saja, pertemuan nya yang sedikit rumit." batin asisten Jo.
Kini ia sudah sampai di kediaman sahabat nyonya mudanya, dan memikirkan alasan apa yang akan ia gunakan untuk mencari tau kalau nyonya mudanya ada dilam atau tidak.
"Apa yang harus aku katakan kalau mereka bertanya padaku, apa hubungan ku dan nyonya muda?" batin Jo sambil berpikir, didepan pagar besi yang lumayan tinggi itu.
...☘Sementara di Villa Golden.☘...
Kini Morgan sudah sampai di Villa miliknya bersama Pa Lim, ia pun meminta Pa Lim untuk membuatkan kopi hitam untuknya karena kepalanya mulai nyut- nyutan.
Dan setelah membuatkan kopi hitam yang tuan muda nya inginkan, Pa Lim pun menceritakan semua yang ia lakukan untuk mencari nyonya mudanya di kampus.
Morgan hanya diam mendengarkan cerita Pa Lim kepadanya, sambil memijit pelipisnya dengan jari tangan nya dan bersandar di sofa.
"Tuan muda, saya rasa nyonya hanya lupa kalau saya sedang menunggu nya hari ini. Karena teman- teman nya bilang nyonya muda bersama sahabat nya yang bernama..? Maaf tuan muda, saya lupa nama sahabat nyonya muda siapa!. Nanti akan saya tanyakan lagi tuan muda, anda tenang saja sa-." Ucapan Pa Lim terjeda, karena tangan Morgan terangkat sebelah menandakan berhenti.
Pa Lim pun reflek menutup mulutnya ketika tangan sang tuan muda terangkat, ia pun langsung menundukan kepalanya karena sadar sudah terlalu banyak bicara pada tuan mudanya saat ini.
__ADS_1
"Apa tuan muda akan mengamuk? astaga.. matilah aku." batin Pa Lim yang kini memejamkan matanya, karena kebiasaan tuan mudanya akan menghancurkan apa saja kalau sedang marah pada sesuatu.
"Kau tunggu mereka disini, aku akan naik untuk membersikan diriku dulu." ucap Morgan yang beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju anak tangga naik kelantai dua.
Pa Lim tersentak mendengar ucapan tuan mudanya, walau pun terdengar datar. Tapi tak ada kemarahan yang keluar dari mulut tuan mudanya itu.
"Eeh, apa ini benar tuan muda Morgan.? Apa aku tidak salah dengar tadi? di- dia tidak marah padaku?" batin Pa Lim bertanya- tanya akan tuan mudanya itu.
Morgan membuka pintu kamar utama lantai dua itu, baru satu langkah kakinya masuk kedalam ruangan. Yang pertama menyambutnya adalah Aroma Lavender yang memenuhi isi ruangan itu, aroma yang baru ia sukai beberapa hari ini. Aroma yang selalu ia cium dari tubuh Istrinya, entah kenapa ia merasa sepi diruangan itu. Pandangan nya menyapu isi ruangan itu, bayangan istrinya selalu ada disetiap tempat yang ia lihat.
"Kau pasti bercanda!" gumam Morgan menertawakan dirinya sambil menggelengkan kepala.
Ia pun menutup pintu kamar utama itu dan menuju kamar mandi untuk membersikan dirinya.
Morgan pun memulai ritual mandinya, tapi entah kenapa!. Bayang- bayang Rossa selalu ada di kepalanya saat ini.
"Ini pasti karena aku hanya sakit kepala saja." gumam nya lagi.
Ia pun segera menyelesaikan mandinya, karena pikiran nya merasa kacau saat ini.
Kini ia sudah memakai piyama tidunya, dan menuju meja rias. Tak sengaja ia melihat kalau ponsel yang ia berikan pada Rossa ada di meja rias, Morgan pun meraih ponsel itu dan melihatnya.
"Pantas saja tidak di angkat, kalau ponsel nya dia tinggalkan disini." ucap Morgan bicara sendiri.
Morgan melihat jam yang ada di ponsel itu, kini sudah jam 11:04.
"Sebanarnya kau pergi kemana?, kenapa tidak bilang kalau ingin pergi." gumam nya lagi.
Morgan pun berpikir beberapa saat, ia bahkan tidak tahu tentang keluarga Rossa dan semua tentang nya.
__ADS_1
"Ah benar.. kenapa aku tidak melihat informasi tentang nya saja?. Tapi.. di mana Jo meletakan map itu?" gumam Morgan. Ia pun keluar dari kamar utama itu dan menuju ruang bacanya, untuk mencari sesuatu yang ia ingin kan.
...☘Disisi lain.☘...
Rossa saat ini hanya pasrah, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Karena dirinya benar- benar tidak ingat tempat tinggalnya sekarang bersama Morgan.
Kini ia dan sahabatnya sedang makan malam dikamar, sambil menonton film.
"Ross, gimana rasanya punya suami?." tanya Silla sambil makan dengan mulutnya yang penuh.
Rossa menghentikan makan nya, dan minum untuk meneruskan makanan yang ia kunyah agar segera masuk keperutnya.
"Kamu kebiasaan deh Sill, kalau makan sambil ngomong." jawap Rossa yang merasa agak aneh melihat sahabatnya itu.
Silla tau maksud Rossa, karena dirinya selalu di tegur kalau makan sambil bicara. Ia pun segera menelan makanan nya, dan meminum air disamping nya.
"Kamu itu sengaja ya Ross, mengalihkan pembicaraan?" ucap Silla lagi.
Rossa baru saja ingin menjawap ucapan sahabatnya itu, tapi ada yang mengetuk pintu kamar.
Tok.. tok.. tok..
"Biar aku yang buka." ucap Silla lagi. Karena ia tidak mau kalau samuel melihat mata Rossa yang sembab dan terlihat bengkak, saat ini.
Silla pun membuka pintu kamarnya, dan mengeluarkan kepalanya dari balik pintu itu.
"Ada apa?" tanya Silla melihat maid dihadapan pintu kamarnya.
"Maaf nona muda, diluar ada seorang pria yang menanyakan nona Rossa. Katanya, namanya adalah asisten Jo. Dia juga berpesan kalau dia kemari ingin menjemput nona Rossa." ucap maid itu sambil menundukan kepalanya.
__ADS_1
...👍👍👍...