
"Malam ini sudah cukup berlatihnya Morgan, ini sudah hampir pagi!. Kalau Rossa terbangun bagaimana? dan melihat kau tidak ada ditempat tidurmu dia akan curiga!." Ucap dokter Gerry, yang kini hanya duduk menyilangkan tangan kedadanya.
"Yeah, aku akan selesai beberapa menit lagi." Jawab Morgan, masih berusaha berjalan tanpa bantuan apapun saat ini.
Keringatnya yang bercucuran tidak menjadi penghalang semangatnya untuk cepat stabil seperti semula, karena dalam hatinya saat ini hanya ada keluarga kecilnya yang akan segera datang.
Dan bisa membawa istrinya jalan- jalan atau honeymoon, yang pernah ia dambakan bersama Rossa sebelum melahirkan.
"Ck! dari tadi kau bilang seperti itu terus!.. Ini sudah pukul 03:56, Rossa itu setiap jam bangun untuk kekamar kecil. Kita lanjutkan lagi besok malam, kau sudah banyak kemajuan sekarang!." Ucap dokter Gerry, yang sudah menguap beberapa kali sampai matanya berair karena menahan kantuk.
"Dia tidak akan tahu, aku sudah menyuruh pengawal menggantikanku berbaring ditempat tidurku tadi." Jawab Morgan.
Morgan merasa sangat puas!, karena malam ini dirinya mampu berjalan sepuluh langkah tanpa terjatuh atau pun menggunakan bantuan tongkatnya.
Sehingga ia lupa waktu karena semangatnya untuk cepat sembuh sangat besar, senyum diwajahnya terus mengembang. Karena tidak lama lagi ia akan menemani istrinya, kemana pun istrinya itu inginkan.
"Kau lihat Gerry! aku sudah tidak jatuh lagi. Aku akan cepat bisa berjalan kalau terus berlatih seperti ini, dan aku akan menemani istri dan anak-anakku pergi kemana pun mereka mau kalau dalam 50 langkah aku berjalan tanpa ada terjatuh!." Ucap Morgan dengan wajah yang berbinar, dan tanpa henti- hentinya wajah itu terus tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Karena tidak lama lagi dirinya akan benar-benar bisa berjalan seperti semula, dan akan memenuhi apapun keinginan istri dan anak-anaknya nanti.
Sementara dokter Gerry sudah memejamkan matanya, karena terlalu mengantuk menemani Morgan berlatih untuk berjalan.
.
.
Waktu pun terus berlalu, dan tanpa Morgan sadari dirinya sudah berjalan ratusan kali mengelilingi ruangan besar yang sengaja dokter Gerry siapkan untuknya berlatih setiap malam dirumah sakit itu.
Dengan perasaan bahagia dan senyum bangganya, Morgan duduk dilantai mengadahkan wajahnya keatas melihat kelangit- langit ruangan itu.
Sehingga tanpa sadar ada seseorang yang menyodorkan minuman kearahnya, dan dengan senang hati Morgan langsung menyambutnya tanpa melihat kearah orang yang memberinya minuman itu.
__ADS_1
"Terima kasih kau sudah mau menemaniku, oh ya! Sudah pukul berapa sekarang? mungkin malam ini sudah cukup berlatihnya!." Ucap Morgan sambil membuka botol minuman yang ia terima tadi, tanpa melihat siapa orang yang memberinya itu.
Morgan meminum, minuman itu sampai kandas. Dan menutup kembali, botol minuman itu agar membuangnya ketempat sampah.
Tapi ia tertegun saat mendengar suara seseorang berbicara didekatnya, yang bukan suara dokter Gerry sahabatnya yang menemaninya sedari tadi berlatih.
"Sekarang sudah pukul 08: 03 pagi tuan! apa tuan muda masih ingin berlatih!?." Tanya seorang wanita disampingnya, yang masih berdiri dengan body yang sudah rusak parah akibat hamil.
Seketika suasana ruangan itu menjadi hening, napas Morgan seakan terhenti begitu saja mendengar suara itu disampingnya saat ini.
Tangannya yang tadi memegang sebuah botol minuman seketika terlepas, seketika tubuhnya bergetar hebat karena suara itu adalah suara istrinya Rossa.
Rossa yang melihat itu mengerutkan keningnya, karena biasanya Morgan akan selalu menjawab perkataannya!. Tapi tidak kali ini, Morgan hanya diam menundukkan kepalanya kebawah tanpa berkata apa-apa.
"Tuan! apa kau baik-baik saja?" Tanya Rossa khawatir, karena tidak biasanya Morgan seperti itu padanya.
Lagi-lagi Morgan hanya diam, mendengar ucapan istrinya yang sangat ia rindukan itu.
Karena saat ini dirinya tidak tahu harus bagaimana menghadapi istrinya! hatinya bergejolak ingin memeluk dan mencium seluruh wajah istrinya.
Rossa merasa heran akan sikap Morgan saat ini, hingga membuat nya khawatir.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?." Tanya Rossa pada Morgan lagi, yang kini mencoba untuk ikut duduk dilantai. Tapi dengan perutnya yang besar, Rossa harus mencari posisinya yang nyaman agar perutnya tidak terasa terjepit saat berjongkok.
Morgan yang mendengar ucapan istrinya langsung mengangkat kepalanya keatas, agar bisa melihat wajah yang sudah sangat lama ia rindukan itu.
"Aduh!" Ringis Rossa, yang merasa ada tendangan si kecil dalam perutnya.
"Sayang ada apa!?" Tanya Morgan panik, karena mendengar ringisan istrinya dengan tangan yang Rossa gosok diperut besarnya.
Mata mereka berdua pun bertemu, terlihat tumpukan rindu yang sangat dalam dari mata keduanya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Rossa meneteskan air matanya, karena terharu mendengar suara seseorang berbicara dengan memanggilnya dengan kata-kata sayang.
"Ada apa sayang! katakan padaku kenapa kau menangis!?." Tanya Morgan panik, ia tidak tahu harus bagaimana saat ini.
Morgan mencoba berdiri untuk memapah istrinya agar duduk dikursi rodanya, yang tidak jauh dari mereka. Dengan kaki yang bergetar menahan tubuhnya dan juga tubuh istrinya, Morgan tetap bertahan agar tidak terjatuh dengan sekuat tenaga.
"Tuan! kau?.. Kau sudah bisa berjalan? apa ini benar dirimu tuan!?" Tanya Rossa menggegam tangan Morgan, dengan penuh tanya dimatanya menatap mata Morgan dalam.
"Sayang aku!, aku sudah bisa berjalan. Dan,.. maaf! Bukannya aku sengaja menyembunyikannya, tapi aku hanya malu kalau kau tahu aku lumpuh!." Ucap Morgan dengan nada pelan, tapi masih sangat jelas ditelinga Rossa
"Dasar Beruang Kutub bodoh!." Ucap Rossa dengan air mata haru yang tidak bisa ia tahan lagi, dan langsung memeluk Morgan dengan eratnya.
"Kau bilang apa? Beruang apa!." Tanya Morgan heran, karena saat ini Rossa malah menangis memeluknya.
"Apa kau mau Beruan sayang?" Tanya Morgan, karena dirinya pernah membaca buku tentang Ibu hamil. Yang selalu menginginkan sesuatu, walaupun itu aneh tapi sang suami harus memberikannya pada sang istri.
Tapi Rossa hanya menggelengkan kepalanya, karena saat ini dirinya masih menghirup aroma maskulin sang suami yang sudah lama ia rindukan itu.
"Kau mau apa sayang?" Tanya Morgan dengan lembutnya, yang juga membalas pelukkan sang istri dan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
"Aku hanya mau Beruang Kutubku!." Ucap Rossa, dengan isak tangis harunya karena perasaannya saat ini sangat bahagia bagaikan mimpi.
"Beruang Kutub!?." Tanya Morgan heran, lalu melepaskan pelukkan mereka berdua. Karena mendengar istrinya itu terisak menangis, yang ia sendiri tidak tahu kenapa.
"Hmm, aku mau Beruang Kutubku kembali. Itu sudah cukup, aku tidak mau yang lain!" Ucap Rossa, yang kini menghapus air matanya.
"Aku tidak tahu Beruang Kutubmu yang mana sayang! tapi aku akan meminta Jo mencarikannya untukmu!." Ucap Morgan dengan lembutnya, dan juga menghapus sisa air bening dipipi istrinya dengan jari tangannya.
"Berani- beraninya Beruang Kutub bodoh itu membuat istriku menangis! akan aku remukkan kaki dan tangannya agar tidak bisa berjalan lagi karena sudah membuat cintaku menangis seperti ini!." Batin Morgan dengan geramnya, lalu memeluk kembali istrinya dengan rasa rindu yang membuncah dalam dadanya.
........
__ADS_1
.......
...See you all....