
Setelah kepergian Morgan, Rossa merasa sedikit lega. Sebab rasa gatal yang ia derita terasa sampai ketulangnya, bahkan Rossa sampai menitikan air mata karena tidak dapat menahanya lebih lama lagi.
"Kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memakannya, sudah jelas- jelas tidak bisa makan udang dan kepiting!. Tapi tetap saja memakannya, aah gatal sekali!." Pekik Rossa yang sedikit berlari mencari sebuah kain, di walk in closet miliknya. Dan yang ia dapatkan adalah lingerie, begitu banyak barang yang ada di dalam walk in closet itu. Tapi yang Rossa pilih adalah lingerie, karena dalam pikirannya bahan kain lingerie itu sangat cocok untuk menggaruk kulitnya yang gatal.
"Aah.., tidak boleh. Aku seharusnya tidak boleh menggaruknya, ini akan sangat mengerikan kalau aku terus menggaruknya. Bagaimana kalau sampai lecet?, aku harus cepat kedokter. Ah iya, dibawah ada paman Martin!." Ucap Rossa yang terus bicara pada dirinya sendiri diruangan kamar yang megah itu, karena melihat kulit tangan dan kakinya yang sudah agak bengkak dan merah oleh ia gosok menggunakan lingerie tadi.
Rossa mencari pakaian panjangnya, untuk menutupi tangan dan kakinya yang merah dan bengkak. Setelah itu ia juga memakai sebuah masker serta kaca mata hitam, untuk menutupi seluruh tubuhnya yang sudah bengkak bahkan matanya juga menjadi sipit akibat alerginya itu.
Menyesal!, itulah kata terakhir yang akan ia ucapkan. Tapi perasaannya saat ini sangat puas, karena sudah memakan sesuatu yang ia inginkan.
"Ada apa denganku?, kenapa aku merasa sedikit aneh akhir- akhir ini." Gumam Rossa yang sudah seperti seorang stalker, karena pakaian yang ia pakai saat ini.
Tok.. tok.. tok.. tok..
"Maaf nyonya muda, dokter Gerdian masih menunggu anda dibawah." Ucap seorang pelayan baru, yang mendorong pintu kamar utama itu sedikit terbuka.
Rossa pun segera bergegas menuju pintu kamarnya, dan terlihatlah seorang pelayan yang sedang menundukan kepala dihadapannya saat ini.
"Baik bibi, aku akan segera turun." Jawab Rossa berbicara ramah, sambil membawa tasnya melewati pelayan paruh baya itu.
Sesampainya dilantai bawah, Rossa langsung menyapa dokter Martin dan pa Lim. Karena ia tahu, semua orang pasti terkejut melihat penampilannya saat ini.
"Paman.., kita bisa langsung berangkat sekarang. Ayo pa Lim, antar aku kerumah sakit." Ucap Rossa berlalu keluar dari villanya, dan di ikuti beberapa orang yang masih melongo melihat penampilan Rossa saat ini.
.
__ADS_1
.
"Kenapa paman membawaku keruangan ini?, bukankah ini ruangan dokter kandungan?." Tanya Rossa yang sedikit aneh pada dokter Martin saat ini, tapi ia tetap mengikutinya dari belakang.
"Benar!, ini adalah ruangan dokter kandungan." Jawab dokter Martin, yang masih berjalan didepan Rossa bersama seorang dokter wanita yang membantu Rossa mengganti pakaiannya tadi malam.
Dokter wanita itu seperti berbicara pada seorang suster, mungkin saja itu adalah asistennya. Yang mengurus antrian ketika dokter itu belum datang, karena saat ini sudah begitu banyak perempuan yang mengantri di depan ruangannya.
"Jadi dokter wanita tadi malam itu seorang dokter kandungan, tapi.. Kenapa aku juga ada disini?, seperti aku yang hamil saja." Batin Rossa, yang kini sudah duduk dihadapan dokter wanita itu.
"Rossa.., apa kau masih ingat dengan bibi Jane?." Tanya dokter Martin, yang duduk disamping Rossa.
Rossa masih diam, ia mencari nama Jane dalam ingatannya.
"Apa bibi Jane istri paman waktu itu?, bibi Jane Irene?." Ucap Rossa mengerutkan keningnya, bertanya.
"Eeh, benarkah?.. Ini bibi Jane?, kenapa aku tidak mengenalnya!." Ucap Rossa menatap kedua wajah, orang di hadapannya itu bergantian.
"Wajar saja kau lupa padaku, terakhir kita bertemu pada hari pemakaman Ayahmu. Waktu itu, kau masih sangat terpukul kehilangannya. Bahkan ibumu sampai membawamu ke psikiater (spesialis kedokteran jiwa), karena kau selalu berteriak histeris kalau teringat pada ayahmu yang sudah meninggal." Ucap dokter Jane, menatap wajah Rossa tanpa berkedip!.
Rossa menundukkan kepalanya kebawah, memang benar waktu itu dirinya sangat terpukul kehilangan Ayahnya. Bahkan bayang- bayang penculik yang memukulinya, selalu ia ingat sampai dirinya dewasa. Karena yang ia pikir waktu itu, kalau saja Ayahnya tidak menyelamatkan dirinya dan pemuda itu. Mungkin Ayahnya akan baik- baik saja sampai sekarang, tapi.. Karena ingin mengembalikan pemuda yang juga diculik itu pada keluarganya, Ayahnya menjadi korban!.
Bahkan sampai sekarang mereka tidak tahu pemuda itu siapa?, karena identitasnya disembunyikan. Para polisi juga mengatakan, bahwa Ayahnya murni tabrakan tunggal dan sendirian didalam mobil.
Melihat Rossa seperti itu, dokter Jane menatap suaminya seakan bertanya. Dan dokter Martin langsung menganggukan kepala, pada sang istri tanda untuk memulai rencana mereka.
__ADS_1
"Rossa.., sekarang berbaringlah disana." Tuntuk dokter Jane, pada sebuah ranjang pemeriksaan pasien.
"Eh, memangnya ada apa bi. Kenapa aku harus berbaring disana!, apa ini berkaitan dengan datang bulanku tadi malam?." Tanya Rossa, meminta penjelasan.
"Benar, ada sesuatu yang ingin kami pastikan padamu saat ini. Sekarang lepaskanlah kaca mata dan maskermu, karena hanya ada kita bertiga di ruangan ini." Ucap dokter Martin pada Rossa, yang masih menutupi dirinya menggunakan hoodie dan marker beserta kaca mata hitamnya.
Dokter Martin pikir Rossa sengaja melakukan itu semua, untuk menutupi identitasnya agar tidak dikenali orang ketika Rossa masuk keruang kandungan. Karena biasanya banyak wanita muda seperti Rossa, sudah hamil tapi belum memiliki suami. Yang selalu menutupi dirinya agar tidak dilihat banyak orang, padahal itu semua malah mengundang orang- orang semakin penasaran padanya.
Kini Rossa melepaskan kaca mata dan maskernya, Serta melepaskan hoodie yang ia pakai untuk menutupi kepala dan lengannya yang sudah sangat merah dan bengkak.
Dokter Jane dan dokter Martin terkejut bukan main!, melihat kodisi Rossa saat ini dihadapan mereka.
"Ada apa denganmu Rossa, kenapa kau terlihat seperti alergi?. Tanya dokter Martin yang terlihat masih syok, menatap wajah Rossa yang sangat merah dan bengkak. Bahkan matanya saja, sudah hampir tenggelam oleh kelopak matanya.
"Ini memang alergi paman, tadi aku tidak sengaja memakan udang dan kepiting." Jawab Rossa, membenarkan ucapan dokter Martin padanya.
"Kau ini ada- ada saja, mana ada tidak sengaja?. Yang ada pasti kau tidak dapat menolak ucapan tuan muda Morgan kan, sehingga kau sengaja memakannya." Balas dokter Martin menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli, memikirkan tingkah anak muda jaman sekarang.
"Sudah- sudah pa, sekarang berbaringlah dulu Rossa. Aku akan memberikan obat untukmu melalui infus, sekarang ada hal yang lebih darurat dari ini." Ucap dokter Jane, lalu berjalan membawa Rossa keatas ranjang pemeriksaan pasien ibu hamil.
Setelah berbaring dengan terlentang, pakaian Rossa pun dinaikan keatas dan celananya diturukan sedikit kebawah.
Ada rasa berdebar- debar dihati Rossa saat ini, tapi ia mencoba tenang. Dan menutup matanya dengan perlahan, karena ia tahu!. Apa yang sedang dokter Jane itu lakukan saat ini padanya, dengan perlahan dokter Jane mulai menumpahkan jel bening diatas perut ratanya. Dan sebuah alat yang mengelilingi perutnya beberapa kali, untuk memastikan seauatu.
Dan benar saja, ketika Rossa membuka matanya. Terlihat dilayar tv 32 in itu sangat nyata!, titik titik itu membuat mata Rossa membelalak sempurna.
__ADS_1
........
.......