Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Ada Hati, Yang Tersakiti.


__ADS_3


Mata pemuda itu menatap tajam, pada tangan Rossa yang memeluk erat lengan suaminya.


Sungguh hatinya bagaikan disambar petir,.. karena baru saja dirinya pergi 2 bulan keluar negeri.. Wanita yang ia cintai itu sudah menjadi istri pamannya!.


Sakit?.. sangat sakit!. Hatinya bagaikan dihiris dengan pisau yang sangat tajam, jantungnya seakan tidak lagi membawa darah mengalir keseluruh tubuhnya. Ia mematung, melihat orang yang ia dambakan selama ini harus ia panggil BIBI! mulai dari sekarang!.


.


Sedangkan dilain sisi, mamanya Alvan (Miranda) menatap Rossa sinis. Ia tersenyum menyeringai, seakan mengejek Rossa yang berpenampilan sangat luar biasa malam ini. Sangat berbeda jauh saat dirinya bertemu pertama kalinya, beberapa bulan lalu!.


"Tidak disangka, mereka berdua malah menikah diwaktu yang salah!. Dan Morgan?,.. apa- apaan dia.. Kenapa dia sama sekali tidak jijik oleh sentuhan wanita ini?, atau wanita ini sudah menggodanya?. Tidak!, itu tidak mungkin terjadi. Walau pun jal**g ini menggodanya, Morgan tidak akan tertarik sedikit pun. Karena Morgan masih mengalami penyakit yang sangat aneh itu, dan selama nya tidak akan pernah sembuh. Kecuali penyakit barunya itu menyerangnya dimalam hari, dia akan memperk*sa wanita apa saja yang ada dihadapannya. Hahaha.. Dan saat itu lah kehancuranmu akan tiba, dimana kau sudah tidak punya lagi nama baik didunia ini!." Batin Miranda tertawa puas dalam hatinya, melihat 2 orang yang baru datang itu dihadapannya.


.


Mardiana (mamanya Morgan) berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Morgan dan juga Rossa yang masih berdiri tidak jauh dari meja makan.


Ia memeluk Rossa dengan sayangnya, karena sangat senang melihat menantunya itu terlihat sangat cantik malam ini.


Tapi,.. mamanya Morgan juga seperti sangat familiar dengan wajah menantunya itu!. Seakan- akan ia pernah berbicara dengan wajah yang sama seperti Rossa, tapi dirinya tidak ingat sama sekali saat ini. Karena perasaan senangnya begitu besar!, melihat anak laki- lakinya itu menghangat pada mereka.


"Rossa,.. kau sangat cantik sayang.. Selamat datang dikeluarga Lois, ayo duduk. Dan makanlah yang banyak, karena kau terlihat sedikit kurus sayang.." Ucap mamanya Morgan dengan senyumnya, berbicara pada Rossa.


"Eem,.. iya bibi.." Jawab Rossa merasa sangat gugup.


"Kenapa kau memanggilku bibi?, panggil aku mama.. Karena kau sekarang juga anakku, kau mengerti?." Ucap mamanya Morgan lagi terkekeh, melihat wajah Rossa yang sangat gugup saat ini.


.


Beberapa mata masih menatap Rossa dengan tajamnya, dan itu adalah mata mamanya Alvan.

__ADS_1


Tubuh Rossa bergetar, melihat senyum mamanya Alvan padanya. Bukan karena Rossa takut atau merasa benci!. Melaikan tidak menyangka!, bahwa ia akan memanggilnya kakak ipar mulai sekarang!.


Bahkan Rossa lebih tidak menyangka lagi, kalau Alvan dan Morgan adalah keponakan dan paman!. Karena yang Rossa tahu, marga Alvan adalah Alexander!. Bukannya Lois, seperti marga Morgan suaminya saat ini.


Morgan merasakan tubuh istrinya yang bergetar, ia tahu Rossa saat ini sangat gugup. Bahkan Morgan melihat semua mata yang sedang menatap mereka sedari tadi mereka datang, dan mata itu adalah milik keponakan dan kakak pertamanya.


"Sayang,.. ayo kita duduk." Ucap Morgan menarik tubuh istrinya, lalu berbisik pada telinga Rossa!.


"Jangan gugup, anggap saja kau sedang dilihat anjing yang sangat kelaparan!." Bisik Morgan pada istrinya, dan itu berhasil membuat Rossa hampir tertawa lepas. Karena mendengar bisikan suaminya itu, padanya.


"Kau ini ada- ada saja." Balas Rossa terkekeh menutup mulutnya, karena menurut Rossa.. Mamanya Alvan itu sangat mirip dengan anjing galak, bahkan rossa saja pernah digonggong olehnya.


Kini sepasang suami istri itu duduk dikursi, dan Morgan dengan manjanya meminta Rossa untuk mengambilkannya makanan kedalam piring. Dan Rossa hanya menurut saja, apa yang Morgan katakan padanya.


Sedangkan disisi lain, ada hati yang tersakiti melihat kemesraan Morgan dan istrinya itu. Kata- kata andai mulai tertanam dipikirannya, melihat tawa renyah dari wanita tambatan hatinya itu.


"Andai saja itu aku,.. betapa bahagianya kita berdua. Andai saja aku sudah sukses, mungkin yang berada diposisi itu adalah aku. Andai saja-.." Batin Alvan tak mampu lagi meneruskan kata andainya, sebab!. Bahunya disentuh oleh seorang pria paruh baya, yang tidak lain adalah Papanya.


.


Setelah makan malam itu selesai, semua anggota keluarga berkumpul diruang tamu.


Para pria hanya membahas bisnis, dan para wanita pun membahas beberapa perhiasan keluaran terbaru. Serta beberapa barang branded lainnya, yang membuat Rossa sekidikit merasa pusing akan hal itu.


Rossa menekan sedikit pelipisnya, dan gerakan itu terekam oleh penglihatan mama mertuanya. Mamanya langsung menerka- nerka, akan sesuatu hal yang membuatnya sangat bahagia.


"Morgan,.. mama mau bertanya padamu satu hal." Ucap mamanya Morgan.


Morgan pun langsung menoleh pada mamanya, dengan tersenyum.


"Apa yang ingin mama tanyakan?." Ucap Morgan.

__ADS_1


"Apa kalian tidak menunda, untuk memiliki anak?." Tanya mamanya Morgan penuh harap, akan pertanyaannya itu.


Deg.


Jantung Rossa seakan berdegup kencang, mendengar ucapan mentuanya itu.


"Kami tidak menundanya, hanya saja kami belum berkerja keras untuk membuatnya." Jawab Morgan menggenggam tangan istrinya saat ini, dan tersenyum melihat wajah Rossa yang kini merona duduk disebelahnya.


"Begitu rupanya,.. lalu!. Bagaimana dengan resepsi pernikahan kalian, apa kau akan terus menundanya?. Sebelum kalian mempunyai anak,.. ada baiknya kalian mengadakan resepsi pernikahan terlebih dahulu." Ucap mamanya Morgan lagi, dan diangguki suaminya papanya Morgan.


Morgan terdiam sejenak, keningnya berkerut seakan memikirkan sesuatu saat ini. Dan tangannya yang tadi menggegam erat tangan Rossa, kini terlepas begitu saja.


"Kami belum memikirkan hal itu." Jawab Morgan yang kini meraih gelas kopinya, di atas meja.


Hati Rossa yang tadinya berbunga- bunga, akan sikap suaminya itu. Kini seakan pecah berkeping- keping tanpa sisa, mendengar penunturan Morgan pada semua orang diruangan itu.


"Aduh- aduh adikku sayang,.. sudah 2 bulan menikah. Tapi kau belum juga mengadakan resepsi pernikahan?, apa kau sengaja menutupi pernikahanmu ini?." Tanya Miranda sambil menyeringai, merasa puas akan pertanyaannya.


"Itu bukan urusanmu kakak, itu masalah pribadiku. Lagi pula,.. aku juga tidak membedakan pernikahan kami ini ada resepsi pernikahan atau tidak." Jawab Morgan.


"Bodoh,.. setiap wanita itu ingin dilamar ditempat yang romantis. Dan memiliki pernikahan yang mewah serta meriah, bukannya malah disembunyikan seperti ini!." Ucap mamanya Morgan lagi, menyambung ucapan Miranda.


Kening Morgan semakin berkerut memikirkan ucapan mamanya, dan dalam diam nya Morgan. Hati kecewa Rossa membuat wajahnya tersenyum, lalu membalas ucapan mertuanya itu.


"Kami sengaja mengrahasiakan pernikahan kami ini ma,.. karena aku masih kuliah!. Aku tidak mau teman- temanku tahu terlebih dahulu sebelum aku lulus, karena kami ingin memberikan kejutan pada semua orang." Ucap Rossa menjelaskan, dengan senyum merekahnya.


"Mana mungkin ada resepsi pernikahan untukku, karena tidak lama lagi dia akan menikahi wanita lain." Batin Rossa, ia berusaha untuk terlihat tenang. Dan berkata seperti yang sesungguhnya, pada semua orang saat ini.


........


.......

__ADS_1


...Ayo tekan vote dibawah ini👇❤...


__ADS_2