Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Jangan Pernah!


__ADS_3

Jack menarik kursi untuknya duduk disamping Rossa, yang kini terlelap akibat obat tidur yang dicampur dalam jarum infus ditangannya.


Dokter Jane sengaja memberinya obat tidur, karena tubuhnya sangat lemah. Bahkan kantung matanya terlihat jelas, kalau Rossa tidak tidur dengan nyenyak akhir- akhir ini.


Jack meraih tangan Rossa, lalu menggenggamnya perlahan dan sesekali mengecupnya. Jack bingung dengan perasaannya saat ini, karena dirinya sudah terlanjur jatuh hati pada Rossa. Istri sahabatnya sendiri yang sengaja disembunyikan dari publik, atau dengan kata lain yang lebih jelasnya lagi. Rossa hanyalah istri kontrak, yang siap melayani sahabatnya itu dengan cara dibayar!.


Memang ucapan seperti itu sungguh sangat hina untuk Rossa, tapi!. Dibalik dirinya yang rela menjadi Istri bayaran sahabatnya itu, Rossa menanggung tanggung jawab yang besar. Yang sangat berat untuk anak gadis seperti Rossa, yang baru menginjak usia hampir 20 tahun.


Jack sudah mengetahui itu semua dari dokter Martin, dan menjelaskan tentang kehamilan Rossa yang tidak tahu siapa Ayah dari anak- anaknya.


Bahkan Jack juga sedikit terkejut, mendengar anak yang dikandung Rossa saat ini kembar tiga (triplets). Yang tentunya sangat menguras tenaga Rossa untuk selalu merawat pola makannya, dan juga pola tidurnya.


Tapi karena Rossa saat ini sedang stress, kandungannya ada sedikit masalah. Ditambah lagi Rossa juga kelelahan, sehingga tidak bisa menjaga kekebalan daya tahan tubuhnya.


"Aku akan mencari tahu, siapa ayah dari anak- anakmu. Atau kalau perlu, aku akan menjadi Ayah mereka. Karena aku sangat mencintaimu Rossa, aku harap kau akan menerimaku. Karena ini adalah takdir tuhan yang mempertemukan kita, andai saja aku yang lebih dahulu bertemu dengan mu. Akan aku jadikan engkau Ratu diistana hatiku, dan menjadi ibu dari anak- anakku." Batin Jack, yang kembali mengecup punggung tangan Rossa dengan lembutnya.


.


Setelah beberapa menit berlalu, pintu ruangan Rossa terbuka lebar. Dan nampaklah adiknya Rommi, yang kini matanya sudah memerah dan sembab karena menangis.


Jack sedikit terkejut, karena adik Rossa itu tiba- tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Karena disaat Rommi masuk, Jack sudah sangat dekat ingin mencuri cium di bibir Rossa yang masih terlelap.


"Hei kau! apa yang kau lakukan pada kakakku?." Tanya Rommi dengan pandangan mata yang sangat tajam. Bahkan rahangnya mengeras, karena melihat kelakuan Jack yang ingin mencium kakaknya saat terbaring ditempat tidur.


"Eh? a- aku. Aku hanya melihat napasnya, karena dari tadi Rossa tidak sadarkan diri." Ucap Jack mengelak, karena saat ini dirinya merasa canggung. Hanya pada anak kecil seperti Adiknya Rossa, Jack merasa sedikit malu untuk jujur akan perasaannya yang begitu menginginkan Rossa.


"Apa kau bodoh? apa napas bisa dilihat!." Ucap Rommi lagi dengan datarnya, melirik Jack dengan ujung matanya seperti tidak suka akan kehadiran Jack diruangan itu.


Jack mengerutkan keningnya, seakan bertanya- tanya dalam hati melihat Adik Rossa yang begitu angkuh padanya. Dan terlihat sangat tidak menyukainya, untuk lebih dekat lagi dengan Rossa.


"Kenapa aku seperti melihat seseorang pada Adik Rossa ini? rasanya begitu familiar. Atau hanya perasaanku saja? karena terlalu memikirkan masalah Rossa!." Batin Jack.

__ADS_1


"Kau begitu tidak sopannya berbicara padaku anak muda, kalau Rossa mendengar ucapanmu seperti ini. Apa yang akan ia katakan padamu? kau sudah pasti tahu kan." Ucap Jack, yang kini juga menatap Rommi dengan tajamnya.


Karena Jack sudah tahu kelemahan Adik Rossa ini, berada pada Rossa. Kakak yang sangat Rommi sayangi dan hormati.


"Aku hanya ingin berdua dengan kakakku, kau keluarlah. Dan jangan pernah mendekat pada kakakku lagi, karena aku tidak menyukaimu." Ucap Rommi tanpa melihat kearah Jack.


"Hm, kau tidak menyukaiku tidak apa. Asalkan Rossa yang menyukaiku sudah cukup, lagi pula aku tidak penyuka sesama pedang." Jawab Jack, lalu beranjak dari tempat duduknya menuju kearah pintu.


"Kau!!" Hardik Rommi yang sedikit merasa tersinggung oleh Jack.


Karena keributan itu, Rossa pun mulai membuka matanya yang masih agak berat baginya.


"Rommi?." Lirih Rossa pada adiknya.


Rommi pun melihat kearah Rossa, karena sedari tadi dirinya hanya menatap Jack dengan tajamnya.


"Kak? apa kakak baik- baik saja." Tanya Rommi yang kini beralih tempat duduk disamping Rossa, yang tidak lain adalah bekas Jack tadi


Dan kedua adik kakak itu saling bercerita, satu sama lain. Meratapi nasip mereka dikemudian hari..


.


.


Kini acara pemakaman Ibunya Rossa sudah selesai, ia dan Rommi pulang keapartemen cicilannya. Setelah menemui para tamu yang turut berduka.


"Kak, mulai sekarang aku akan bekerja untuk kita. Dan jangan halangi aku, untuk kali ini saja." Ucap Rommi pada Rossa.


"Tidak usah, aku masih ada uang untuk kita makan. Lebih baik kau selesaikan saja sekolahmu, dan belajar dengan rajin." Jawab Rossa.


Tidak lama kemudian, bel apartemen mereka pun berbunyi. Pertanda ada seseorang tamu yang datang didepan pintu, dan Rommi pun langsung berdiri dari duduknya untuk melihat.


"Biar aku yang membukanya kak." Ucap Rommi, yang berjalan menuju pintu apartemen.

__ADS_1


Disaat yang sama, saat ini Alvan sangat gugup berada didepan pintu apartemen Rossa. Karena ia baru tahu kalau, Ibunya Rossa sudah meninggal.


Setelah tidak lama menunggu, pintu rumah Rossa pun terbuka. Menunjukan pria tampan dan berbadan tegap itu didepan pintu dengan gagahnya.


"Kak Alvan? masuk kak." Ucap Rommi tersenyum bahagia, karena saat ini Rommi melihat Rossa seperti seorang yang hidup tetapi mati. Pandangan kakak perempuannya itu seperti kosong, bahkan berbicara pun jarang saat ini.


"Terima kasih Rom, oh iya ini oleh- oleh untukmu. Dimana Rossa? apa dia ada dirumah!." Tanya Alvan, yang kini sudah duduk disofa.


"Kakak mungkin kekamar, tapi nanti dia juga akan sesini." Jawab Rommi pada Alvan.


"Maaf ya Rom, kalau aku tidak tahu berita Ibu yang sudah meninggal." Ucap Alvan merasa bersalah.


"Iya kak, tidak apa- apa. Kakak juga pasti sangat sibuk, karena bekerja sambil kuliah." Jawab Rommi.


Tiba- tiba Rossa datang dari arah dapur membawa segelas air putih ditangannya, dan setelah sudah dekat dengan Alvan.


Rossa mengulurkan tangannya kehadapan Alvan, seperti ingin memberikan gelas itu untuk tamunya.


"Rossa, terima kasih." Ucap Alvan, juga mengulurkan tangannya.


Alvan tersenyum melihat perhatian mantan kekasihnya itu padanya, ia pun ingin meraih gelas air putih itu tapi..


Tanpa basa- basi Rossa langsung menumpahkan air putih itu diwajah Alvan, dengan wajah datar tanpa ekpresi Rossa berkata!.


"Jangan pernah kau menginjakan kakimu lagi dirumahku, atau sekedar menyapa saat diluaran sana!. Karena mulai hari ini kita sudah tidak saling mengenal satu sama lain, angkat kaki sekarang juga dari rumahku!." Ucap Rossa dingin, lalu membalikan tubuhnya pergi kearah dapur.


Sedangkan Alvan dan Rommi masih mematung, karena ini adalah pertama kalinya mereka berdua melihat Rossa yang seperti itu.


........


.......


...See you all🤧...

__ADS_1


__ADS_2