Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Hanya Luka Kecil.


__ADS_3

Rossa merasa nyaman mendengar mertuanya bercerita tentang Morgan waktu masih kecil, dari hal yang Morgan suka sampai yang tidak Morgan sukai.


Itu semua membuat Rossa tertawa mendengarnya, apa lagi saat mertuanya menceritakan kalau Morgan sangat alergi terhadap cabai. Padahal cabai itu membuat napsu makan semakin meningkat, karena kepedasannya dan terasa nikmat bagi menyuka pedas.


Rossa ingat, saat Morgan menceritakan padanya kalau tidak bisa memakan cabai.


Bahkan dirinya belum pernah sama sekali memasakan sesuatu untuk Morgan selama mereka berdua menikah, karena mereka belum punya banyak waktu untuk bersama.


Setelah 2 bulan lamanya menikah, Rossa masih tidak terlalu mengenal suaminya itu. Tapi kelembutan Morgan padanya saat ini memang Rossa akui, ia sangat menyukainya. Walaupun akhirnya hanya akan sakit hati, karena menyukai pria yang memiliki kekasih lain dihatinya.


"Rossa, malam ini ajaklah Morgan menginap. Dia sangat jarang pulang kemansion ini, walaupun pulang itu hanya beberapa saat saja setelah itu dia kembali keapartemennya." Ucap mertuanya pada Rossa.


"Emh, aku terserah Morgan saja ma. Kalau katanya menginap aku ikut saja, tapi kalau katanya pulang juga harus pulang." Jawab Rossa pada mertuanya.


"Istri yang penurut, Morgan tidak salah memilihmu menjadi istri. Dan aku juga merasa, Morgan kini semakin hangat kepada kami karena kehadiranmu." Ucap mertuanya sambil mengelus rambut panjang Rossa dengan senyumnya.


Rossa pun membalas senyuman mentuanya, yang sangat hangat baginya. Ia merasa seperti pulang kerumah karena sentuhan mentuanya itu, sama seperti Ibunya yang selalu mengelus kepalanya saat berbicara padanya dengan lembut.


"Naiklah kelantai 2 kanan, karena itu kamarnya Morgan. Tapi saat kau masuk kedalam kamarnya, mungkin akan ada pemandangan yang kurang mengenakkan mata. Kalau kau tidak suka, suruh Pa Lim melepaskan semuanya dan membuangnya ketempat sampah. Karena mulai sekarang, kau lah nyonya Morgan menantu keluarga Lois ini.." Sambung mertuanya lagi.


Rossa hanya mengangguk kepalanya, mendengar ucapan mertuanya itu.


"Memangnya ada pemandangan apa? sampai mama memberi saran padaku untuk membuangnya ketempat sampah!." Batin Rossa merasa penasaran.


"Ayo kita masuk kedalam, dan cepat beristirahat." Ucap mamanya lagi, lalu beranjak dari tempat duduknya masuk kedalam mansion yang di ikuti Rossa dan kakak Iparnya bersamaan.


Kini Rossa sudah berada dipuncak tangga lantai 2, tapi ia bingung. Kearah mana kamar Morgan, karena tadi ia sangat asyik melihat mansion mewah itu sambil menaiki anak tangga menuju lantai 2. Sehingga lupa akan perkataan mertuanya tadi, dan sekarang membuatnya bingung harus menuju kanan atau kekiri.


Saat Rossa memutuskan untuk ke arah kanan, tiba- tiba suara seseorang dari belakang memanggilnya.


"Rossa, kau mau kemana?."

__ADS_1


Dan suara itu membuatnya sangat terkejut, sampai- sampai ingin terpeleset. Dan orang itu dengan cepatnya menahan tubuh Rossa kepelukannya, agar tidak jatuh kelantai.


"Hati- hati, kau bisa jatuh kelantai." Ucap suara itu dengan lembutnya, sambil memandang wajah wanita yang sangat ia rindukan selama ini.


"Alvan, kenapa dengan wajahmu?." Tanya Rossa melihat wajah Alvan yang membiru dibeberapa tempat.


"Biasa, urusan pria." Ucap Alvan yang masih memperhatikan wajah wanita itu dalam pelukannya.


Sementara Morgan yang ingin keluar dari kamarnya langsung tercekat, melihat adegan romantis yang ada didepan matanya saat ini. Morgan pun memilih kembali kedalam kamarnya, dan membiarkan pintu kamarnya terbuka sedikit untuk mencuri dengar pembicaraan dua insan yang seperti sepasang kekasih itu bertatapan mata.


Morgan mengepalkan kedua tangannya melihat adegan itu didepan matanya, sungguh saat ini dirinya sangat ingin kembali menghajar Alvan keponakannya itu. Yang telah berani menyentuh istrinya, bahkan terang- terangan memeluknya dimansion utama.


Setelah sekian lama Rossa melihat luka Alvan pada wajahnya, ia baru sadar kalau dirinya kini masih berada dalam pelukan Alvan mantan kekasihnya itu. Dengan segera Rossa kembali berdiri normal dan mendorong tubuh Alvan, agar sedikit menjauh darinya.


"Ah maaf, tadi aku tidak sengaja ingin terjatuh." Ucap Rossa terlihat canggung.


"Tidak apa- apa, aku tau kau selalu seperti itu." Jawab Alvan sambil terkekeh melihat Rossa yang canggung, dihadapannya.


"Eh, i- it-itu.. Aku mau keka-mar Mor-" Belum selesai Rossa menyebut nama Morgan, Alvan langsung menjawabnya.


"Oh, itu kamarnya." Ucap Alvan menunjuk kamar sebelah kiri, yang tidak lain adalah kamarnya sendiri.


"Eh, terima kasih. Aku- aku kesana dulu." Ucap Rossa yang masih merasa canggung, dihadapan Alvan.


Rossa pun menuju kamar sebelah kiri tangga yang Alvan katakan padanya, dan masuk kedalamnya tanpa mengetuk pintu atau memanggil orang yang ia cari.


Sementara Alvan masih melihat kearah Rossa yang menuju kamarnya dengan tergesa- gesa karena canggung, dan disaat itupula Morgan langsung keluar dari kamarnya dengan amarah yang sudah ia tahan diubun- ubun.


"Apa maksutmu, menunjukan kamar yang salah kepadanya?." Tanya Morgan tajam dari belakang, dengan rahang yang sudah mengeras karena menahan marah.


Alvan pun membalikan tubuhnya dan berjalan kehadapan Morgan dengan santainya, sambil tersenyum menyeringai seakan mengejek Pamannya itu.

__ADS_1


"Kau pikir istri mana yang akan kuat melihat kamar suaminya penuh dengan foto kenangan bersama sang kekasih? kalau kau penasaran. Kau bisa melihat semua fotoku bersama Rossa dalam lemari kamarku, kuncinya ada didalam laci nakas." Ucap Alvan memegang bahu Morgan sambil menyeringai, lalu pergi menjauh menuruni anak tangga kelantai bawah.


Lagi- lagi tangan Morgan mengepal kuat dan tanpa sengaja tangannya memukul dinding sampai mengeluarkan darah, sekali lagi dirinya kalah dari Alvan mengenai istrinya. Dan dengan tergesa- gesa Morgan membuka pintu kamar, yang Rossa masuki tadi tanpa permisi.


Braaakk...


Pintu kamar Alvan seperti didobrak dari luar, karana Morgan sangat terburu- buru melihat Rossa yang berada didalam kamar itu sedang melakukan apa!.


"Eh, sayang.. Kau baru kembali? aku sengaja menunggumu di.. Astaga!, ada apa dengan wajahmu?" Pekik Rossa yang terkejut melihat wajah suaminya, bahkan lebih parah dari wajah Alvan yang ia lihat tadi.


Melihat kepanikan Rossa padanya, hati Morgan kembali merasa dingin. Bahkan dirinya sangat jelas, melihat wajah panik Rossa yang mengkhawatirkannya saat ini.


"Tidak apa- apa, hanya luka kecil." Jawab Morgan.


"Tidak apa- apa bagaimana? ayo cepat duduk. Aku akan mengambil kotak obat dulu, agar tidak infeksi." perintah Rossa pada suaminya, memaksa duduk diranjang milik Alvan itu.


"Tidak, kita obati diluar saja." Balas Morgan lalu menarik tangan Rossa membawanya keluar dari kamar Alvan, sampai menuju mobilnya tanpa pamit kepada semua orang dimansion itu.


.


.


Kini mereka berdua sudah duduk dikursi disebuah taman kota dekat dengan sungai kota A, yang begitu sangat indah saat malam hari.


Rossa baru saja selesai mengoleskan obat di wajah Morgan, dan memasang babarapa plester luka diwajah tampan suaminya itu. Karena tadi Morgan langsung menyuruh Jo, mengatarkan ketaman tempat dirinya dan Rossa saat ini bersantai menikmati malam.


"Tempat ini sangat indah, aku baru tahu kalau ada tempat sebagus ini saat malam hari." Ucap Rossa memandang lurus kedepannya, dengan senyum.


"Kau baru tahu?" Tanya Morgan mengerutkan keningnya, seolah tidak percaya.


"Ya, karena selama ini aku hanya belajar kalau malam hari. Dan tidak pernah keluar kalau tidak ada kepentingan, yang mendesak." Jawab Rossa.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana denganmu?. Kau pasti sering ketempat ini bukan!?" Tanya Rossa mengalihkan pandangannya kearah Morgan.


__ADS_2