
"Ta- tapi, aa- aku.." Ucap Rossa yang merasa lidahnya seperti mati rasa, ia sangat gugup dan tidak dapat melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil. Rossa hanya mematung ditempat duduknya, betapa ia sangat membenci tempat ini.
Karena ditempat inilah ia kehilangan mahkotanya, yang sudah ia jaga untuk suaminya kelak.
Tapi kerena kesuciannya sudah direnggut, ia rela menikahi pria dihadapannya ini. Dan menjadi orang ketiga dalam percintaan pria ini, yang sekarang akan melakukan pernikahan dengan kekasihnya itu.
Tapi karena peristiwa kehancurannya itu pula, kini Rossa mengandung bayi kembar yang selalu ia jaga dalam rahimnya. Walau pun ia tidak tahu, siapa ayah dari anak- anaknya saat ini.
Rossa menyentuh perutnya, yang sudah terasa ada benda keras didalamnya.
"Apa kalian ingin bertemu dengan Papi kalian disini?." Batin Rossa bertanya pada anak- anaknya.
"Tapi Mommy sangat membenci tempat ini, Mommy merasa tempat ini penuh dengan kenangan buruk tentang Mommy." Batin Rossa, yang tidak sadar masih mengelus perut ratanya menatap gedung pencakar langit itu dengan tubuh sedikit bergetar.
Morgan yang masih menyambut tangan istrinya pun mematung, karena melihat tatapan kosong Rossa kearah gedung dibelakannya.
Dan tangan Rossa yang mengelus perutnya dengan lembut, Morgan merasa ada sesuatu yang Istrinya itu sembunyikan saat ini darinya.
Tapi ia juga tidak bisa bertanya terlalu banyak, karena mereka berdua belum benar- benar akrab satu sama lain saat ini.
"Ada apa dengannya? kenapa dia seperti orang ketakutan. Dan, tatapan itu?." Batin Morgan bertanya.
"Sayang,.. kenapa kau bengong? Apa ada sesuatu yang pernah terjadi disini, atau kau sudah sangat lapar?." Tanya Morgan.
Mendengar suara Morgan memanggilnya sayang lagi, Rossa merasa benar- benar terbang kekayangan. Rossa sedikit melupakan hal buruk itu, karena saat ini. Orang yang ia rindukan ada dihadapannya, dan dengan perlahan ia menggenggam tangan Morgan yang sedari tadi menunggunya untuk turun dari mobil.
Morgan tersenyum puas, karena istrinya menyambut tangannya. Dan tangan itu pun ia genggam, sampai masuk kedalam restoran yang sudah ia pesan tanpa ada satu pun orang lain didalamnya.
"Ini?.. kenapa tidak ada orang?." Tanya Rossa. Karena setahu Rossa, tempat itu buka 24 jam. Dan Rossa sangat tahu, kalau tempat itu adalah milik mantan suaminya ini.
"Aku sengaja mengosongkan tempat ini, karena aku tidak rela ada mata lain menatap tubuhmu. Walau hanya kakimu saja, aku tidak rela." Ucap Morgan, yang kini menarik kursi untuk Rossa duduk.
__ADS_1
Dan benar saja, saat ini Rossa hanya memakai mini drees tidur seatas lututnya yang berbahan kain lembut dan mahal. Yang baru saja ia beli setelah pindah rumah, karena ia tidak mau lagi memakai pakaian yang ada divilla Vania Bella itu.
"Puffs.. Ternyata tuan sangat pandai menggombal ya, sekarang." Ucap Rossa, yang kini sedikit santai dan tidak lagi merasa trauma akan masa lalunya dihotel itu.
"Biarkan Mommy menikmati malam yang indah ini, bersama Paman penolong kita. Karena sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain, dan anggap saja ini adalah ucapan manisnya yang terakhir sebelum ia menikahi kekasihnya." Ucap Rossa membawa anak- anaknya terus berkomonikasi secara batin, agar merangsang pertumbuhan mereka didalam rahimnya.
"Aku hanya menggombal padamu sayang, jangan berpikir berlebih. Oh ya, kau mau makan apa? mau makanan favoritmu?." Tanya Morgan.
"Eh, tuan tahu makanan favoritku?." Ucap Rossa balik bertanya.
"Aku tahu, udang dan kepitingkan. Waktu itu kau sangat lahap memakannya, apa sekarang kau juga ingin makan itu.?" Tanya Morgan lagi.
"Ti- tidak tuan, a- aku tidak bisa makan itu." Jawab Rossa, yang tidak ingin lagi mengalami hal buruk yang menimpanya beberapa minggu lalu.
"Kenapa, kau tidak suka?." Tanya Morgan lagi.
"Ah tidak, aku hanya ingin makan yang lain saja tuan." Jawab Rossa.
Karena itu pula, Morgan merasa sangat menyesal selalu menghina Rossa yang hanya ingin uangnya saja.
Morgan sadar, bahwa wanita dihadapannya ini bukanlah wanita seperti diluaran sana. Yang hanya menginginkan uangnya saja, karena selama mereka menikah. Rossa hanya memakai kartu kreditnya 4 kali saja, dan itu juga hanya untuk kepentingan yang sangat mendesak. Bukan untuknya berpoya- poya, seperti wanita lainnya.
"Aku ingin ayam bakar 1 ekor, dan air jeruk nipis dengan madu." Ucap Rossa senang. Karena itu adalah makanan favoritnya akhir- akhir ini bersama Jack, Jack yang selalu mengajaknya berburu makanan baru yang tidak pernah ia makan sebelumnya.
Morgan mengerutkan kening serta menelan salivanya mendengar jeruk nipis, karena yang ia tahu buah itu sangatlah asam.
"Apa kau yakin, ingin minum jeruk nipis itu?" Tanya Morgan memastikan ucapan Rossa.
"Hm, aku dan tuan Jack sering memesannya. Bahkan dia selalu mengajakku makan siang ditempat yang berbeda setiap hari, eh maaf. Mungkin tuan tidak mengenalnya, dia orangnya sangat asyik dan ramah. Tapi sayang sekali, terkadang dia juga pemaksa sama seper-" Ucapan Rossa terhenti, saat ingin menyebut Jack sama seperti orang dihadapannya saat ini. Dan melihat wajah Morgan yang sudah memerah seperti menahan amarahnya, dengan rahang yang mengeras.
"Tuan, kenapa wajahmu merah?. Apa kau sakit, kalau kau sedang sakit kita pulang saja." Ucap Rossa sedikit khawatir.
__ADS_1
"Ehemp, tidak! Aku tidak apa- apa, aku akan memesan makanan yang kau inginkan. Apa ada yang lain lagi?." Tanya Morgan menormalkan amarahnya, karena Rossa selalu menyebut nama sahabatnya itu di saat mareka bersama saat ini.
"Oh iya, salad buah juga." Ucap Rossa tersenyum, karena salad buah adalah hal baru kesukaannya semenjak hamil.
"Ternyata seperti ini kelakuannya, dia hanya suka makan. Tapi tidak suka berbelanja barang- barang mewah, tidak seperti wanita lain." Batin Morgan. Ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang hanya suka makan, karena ini baru yang ke 3 kalinya mereka berdua makan bersama.
Tidak lama setelah memesan, makanannya pun sampai dihadapan mereka berdua. Tapi hanya ada pesanan Rossa saja, ayam panggang 1 ekor dan salad buah berserta minumannya.
"Eh, kenapa hanya ada punyaku? Dimana makanan tuan, bukankah kata tuan belum makan seharian ini?." Tanya Rossa.
Lagi- lagi Morgan mengerutkan keningnya, karena makanan yang ada dihadapan mereka berdua saat ini sangatlah banyak.
"Apa kau bisa menghabiskan 1 ekor ayam dan salad buah ini?." Tanya Morgan meremehkan istrinya.
"Aku dan tuan Jack biasanya memesan 2 ekor 1 orang tanpa nasi, karena ini sudah larut malam aku menguranginya jadi 1 ekor." Ucap Rossa cemberut.
"Haah?.." Suara mulut Morgan yang terkejut dengan mulut yang terbuka, betapa ia tidak percaya!. Hanya satu minggu Istrinya itu mengenal Jack, sudah mengikuti kekonyolan Jack yang sudah dari dulu tidak berubah.
Morgan menepuk keningnya sambil memejamkan mata tidak percaya, kenapa istrinya itu bisa mengikuti kelakuan sahabatnya itu yang memang konyol.
"Baiklah, aku akan memesan yang baru untukku." Sahut Morgan lagi.
"Pantas saja dia terlihat sedikit berisi dan chubby, ternyata bajak laut itu yang selalu membawanya makan siang seperti ini." Batin Morgan. Ia mengepalkan tangannya kuat, saat Rossa selalu menyebut nama pria itu dihadapannya.
"Bajingan itu sudah mencuci otak istriku, kau lihat saja nanti kalau urusanku sudah beres. Akan aku remukan tulangmu, sampai kau tidak bisa lagi mengajaknya makan siang." Batin Morgan.
........
.......
...See you allπ...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya all, yang tidak dapat aku sebut satu persatu dan membalas komen kalian. Tapi itu sangat berarti untukku.πππ...