Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Hampir Saja.


__ADS_3

"Ini lah yang aku tunggu darimu Morgan, aku mau kau menjelaskan semuanya agar tidak ada lagi ketertutupan diantara kita. Aku hanya ingin kau terbuka padaku, bukannya memendam sendiri apa yang kau rasakan. Dan mulai saat ini aku juga akan terbuka padamu, agar tidak ada lagi salah paham antara kita." Batin Rossa, masih menundukkan kepalanya dengan senyuman yang ia sembunyikan dari suaminya itu.


"Sayang,.. apa kau masih tidak percaya padaku kalau mereka adalah anak-anak kita?." Tanya Morgan, kedua tangannya menangkup pipi chubby Rossa dan mengangkatnya untuknya melihat wajah wanitanya.


Namun yang Morgan lihat adalah senyuman diwajah istrinya itu, dan ada bekas sisa air matanya dipipi.


"Kenapa kau malah tersenyum? bukankah tadi kau masih saja menangis karena tidak tahu siapa pria malam itu!?." Tanya Morgan lagi pada istrinya itu, dengan penuh selidik menatap wajah Rossa.


Rossa menarik kembali air yang hampir keluar dari indera penciumannya, dan memegang kedua tangan Morgan yang kini menangkup pipinya.


"Aku! aku hanya ingin kau mengakuinya!. Karena aku sudah tahu semuanya dari kak Gerry, bahwa pria malam itu memang benar adalah kamu!." Ucap Rossa dengan air mata harunya, senyuman diwajahnya kembali terlihat oleh Morgan diiringi air matanya.


"Sayang, aku mencintaimu!. Apa pun yang terjadi dimasa lalu, itu sudah menjadi masa lalu kita! Dan sekarang adalah masa depan yang harus kita pikirkan, aku tahu kau sedang mengujiku. Tapi walau bagaimana pun aku tetap mencintaimu, apa lagi sekarang ada mereka disini. Kau harus menjaga dirimu dan mereka agar selalu kuat, terima kasih selalu ada disisiku." Ucap Morgan mengelus perut besar Rossa, lalu memeluk istrinya itu kembali.


Dan sesekali mengecup kening Rossa beberapa kali, dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibir Morgan.


"Dasar kelinci kecil! kau ingin mengujiku dengan hal seperti ini? Kalau kau tidak tahu lebih dahulu dariku, mungkin kau sudah meninggalkan aku dari dulu! Dan mungkin kau sudah menjadi milik orang lain, kalau kau tidak mencintaiku!." Batin Morgan tersenyum puas, karena ia sudah tahu kini hati Rossa hanyalah miliknya seorang.


Rasa bahagia dan nyaman yang Rossa rasakan kini menjadi semakin lengkap, karena suaminya sudah kembali seperti semula. Apa lagi saat ini mereka akan segera menjadi orang tua, karena kandungannya tidak lama lagi akan memasuki 8 bulan.


"Ah, suamiku!." Ucap Rossa serentak, dan melepaskan pelukannya dari Morgan


"Kau berdiri dari tadi, apa kakimu tidak apa-apa?." Tanya Rossa lagi, menatap wajah Morgan mendongakkan kepalanya sedikit keatas.


"Aku tidak tahu, tapi rasanya sedikit kebas. Bagaikan ada semut yang merayap dari ujung kakiku, sampai lutut!." Ucap Morgan, yang kini juga menatap wajah wanitanya.


Kini mata keduanya bertemu, debar- debar dalam dada kembali Morgan rasakan. Saat melihat bibir ranum yang sedikit terbuka dihadapannya, detakan jantungnya kembali tak menentu.

__ADS_1


Apa lagi saat ini rindu yang ia rasakan sangat menumpuk, kepada sang istri yang selalu ia dambakan.


Dengan perlahan tapi pasti, Morgan mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri yang kini ada dihadapannya. Dan Rossa pun menutup matanya, seakan tahu apa yang akan terjadi kalau wajah prianya sudah sangat dekat dengannya.


Dan...


Belum sampai menuju tempat dimana pandangan Morgan melekat tadi, suara seseorang memanggil nama Morgan dengan sangat keras menghentikan aktivitasnya.


Mata Rossa yang tadi tertutup kini kembali terbuka, dan tangannya refleks mendorong tubuh Morgan tanpa berpikir bahayanya akan kandungannya.


"Morgaaaaan!." Seru mama Mardiana berteriak nyaring, karena melihat putra satu-satunya sudah bisa berdiri tegak seperti semula..


Dengan cepat tangan Morgan memeluk tubuh Rossa yang hampir terjatuh kebelakang, karena mendengar teriakan mama Mardiana memanggil namanya.


"Sayang hati-hati! itu tadi sangat bahaya!." Ucap Morgan pada istrinya, dan mengabaikan teriakan mamanya.


"Morgan! sayang kau sudah bisa berdiri!? Sejak kapan? dan.. Kenapa kalian berdua ada disini, bukannya diruanganmu!?." Tanya mama Mardiana, yang kini sudah berlari kecil menghampiri sepasang suami istri itu.


"Ma, bisakah mama tidak selalu berteriak?. Rossa hampir saja terjatuh, dan mama masih berlari seperti itu!. Bagaimana kalau nanti cucu mama tidur? dan terbangun karena mama tidak bisa berbicara pelan!." Ucap Morgan, yang semakin erat memeluk istrinya.


"Aah iya! mama lupa sayang. Kalau sebentar lagi, mama akan memiliki cucu." Ucap mama Mardiana, yang kini berhenti berlari karena baru sadar akan ulahnya.


"Sayang kau tidak apa-apa? bagaimana dengan anak kita?. Apa ada yang sakit, coba aku lihat!." Tanya Morgan pada istrinya lagi, lalu melepaskan pelukannya melihat tubuh Rossa.


"A-aku ti-tidak apa-apa, hanya refleks saja.." Ucap Rossa terbata-bata cangung, karena saat ini mama mertuanya melihat mereka.


"Tidak apa-apa bagaimana? kau hampir saja jatuh! Lain kali jangan mendorongku seperti itu, sedikit lagi sudah hampir sampai aku menciummu!." Ucap Morgan

__ADS_1


"Eh apaan sih, malu tau sama mama!." Bisik Rossa menutup mulutnya pada Morgan, sambil memukul dada bidang sang suami.


Morgan tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang terlihat lucu, saat malu-malu seperti ini.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Balas Morgan membisikan kata-kata yang membuat pipi Rossa berubah menjadi merah.


"Uhuk uhuk, sepertinya mama tidak terlihat disini. Dan juga tidak ada yang perduli, pada orang tua ini." Ucap mama Mardiana, berpura-pura batuk.


"Apa lagi aku bi! kalau bibi saja tidak terlihat. Apa lagi aku, bagaikan debu yang tidak terlihat dan selalu terinjak- injak karena kemesraan seseorang." Sindir dokter Gerry, yang dari tadi melihat tingkah 2 pasangan yang baru saja ingin memadu kasih itu. Dan dirinya hanya bisa memandangnya sambil menguap, sebelum mamanya Morgan datang menggagalkan semuanya.


"Maa, mama apa kabar.." Tanya Rossa mengalihkan pembicaraan, yang menurutnya sangat cangung.


Rossa berjalan menuju mama mertuanya, memberikan ciuman di keduanya pipi kiri dan kanan.


"Baik sayang, kamu sendiri bagaimana dan juga cucuku ini." Jawab mama Mardiana pada Rossa, lalu menyentuh perut besar menantunya dengan perlahan.


"Sayang, aku sudah lapar. Kita lanjutkan diruangan ku saja ma ngobrolnya, kalau disini tidak akan selesai sampai besok!." Ucap Morgan, yang risih melihat mamanya menempel pada istrinya. Ia pun menggandeng pinggang istrinya berjalan keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan mamanya dan dokter Gerry yang masih melongo melihat tingkahnya.


"Dasar anak tidak tahu di-." Ucapan mama Mardiana terhenti, saat mendengar lagi suara Morgan.


"Sayang kakiku masih sakit! Gerry bawakan kursi rodaku kemari." Ucap Morgan! agar mamanya tidak lagi mengomelinya.


"Putraku sayang! apa kakimu masih sakit? Maafkan mama sayang, mama tidak tahu kamu masih sakit.." Ucap mama Mardiana penuh dengan penyesalan, karena baru saja ingin memaki putra satu-satunya itu.


........


.......

__ADS_1


...See you all 😴...


__ADS_2