Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Perasaan.


__ADS_3

"Maaf kan aku Ross, maaf. Kau tau? aku begini karena aku sangat meng-khawatirkan mu." sambung Silla. Ia merasa sangat menyesal, karena telah memaksa Rossa untuk menceritakan tentang malam yang telah merenggut kesucian sahabatnya itu.


"Tidak apa Sill, malam itu terjadi begitu saja." ucap Rossa yang melepaskan pelukan sahabatnya itu.


"Aku juga tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, hanya suara nya saja yang bergetar tapi masih jelas setiap kata yang ia ucapkan dihadapan ku." sambung Rossa lagi.


"Lalu, apa kau masih ingat nomor hotel malam itu?" tanya Silla sambil mencabut sebuah tisu dan memberikan nya pada Rossa.


Rossa pun menerima tisu yang Silla sodorkan padanya, dan melepaskan semua yang ada dihidung nya sejak tadi.


"Hm, aku masih sangat ingat. itu di hotel FL, lantai 27 dikamar 117." jawap Rossa yang mulai tenang.


"Aku akan akan menyuruh orang untuk menyelidiki kamar hotel itu untukmu, dan mencari bajingan yang berbuat biadap itu." ucap Silla geram mendengar cerita dari Rossa.


"Tapi Ross, kalau pria itu diberi obat pembangkit gairah!. Dan kau juga diberi obat bius pelumpuh, itu berarti kalian berdua sama- sama dijebak!. Dan orang yang menjebak kalian berdua itu, pasti orang yang sama memusuhi kalian berdua." ucap Silla lagi.


Pemikiran Rossa juga sama seperti Silla, hanya saja ia tidak tau siapa pria malam itu yang sudah merenggut kesucian nya.


"Aku tidak tau Sill, siapa orang yang sudah membenciku sampai seperti itu kejam nya. Tapi rasanya, semenjak aku menjalin kasih dengan Alvan. Semua wanita dikampus kita memamg tidak menyukaiku, bahkan aku selalu diteror dengan pesan- pesan kotor dan juga cacian setiap harinya." kisah Rossa pada sahabatnya itu.


"Kenapa kau baru menceritakan nya sekarang? kalau saja aku tau dari dulu, sudah aku pastikan mereka membayar semuanya pada mu." sahut Silla.


"Aku berpikir itu hanya keisengan mereka saja? dan tidak mempermasalahkan nya, karena memang aku anggap tidak penting. Tapi ternyata, setelah berakhir nya hubunganku dan Alvan. Semua kehancuran telah datang padaku, aku sempat berpikir ingin mengahiri hidupku. Tapi lagi- lagi aku tidak tega meninggalkan ibu dan Rommi." keluh Rossa pada sahabatnya. Ia lagi- lagi tak dapat membendung air matanya, karena mengingat sang ibu yang sedang berbaring di rumah sakit.


"Dan.. untung saja aku tidak jadi untuk bunuh diri.!" ucap Rossa lagi sambil menghapus air matanya.


"Kalau tidak, siapa yang akan membiayayai perawatan ibuku dan juga uang sekolah Rommi.?" sambung Rossa yang kembali terisak. Matanya sudah sangat merah dan sembab, karena sudah sangat lama menangisi nasipnya yang begitu buruk beberapa hari lalu.


Silla kembali memeluk sahabatnya itu, agar memberinya kekuatan dan energi baru.

__ADS_1


"Untung saja kau cepat pulang malam itu kesini, kalau tidak! kau pasti sudah melakukan hal bodoh itu!" sahut Silla sambil mengelus punggung Rossa.


Silla tidak menyangka, kalau sahabatnya akan berakhir seperti itu pada pesta perayaan kampus mereka malam itu.


"Siapa orangnya,? yang sudah kejam membuat Rossa sampai seperti ini?. Aku akan menyelidiki ini untukmu Ross, kau harus kuat sampai aku menemukan orang itu." batin Silla.


Tapi tiba- tiba Silla memikirkan sesuatu, yang membuatnya mendorong tubuh Rossa kuat dari pelukan nya. Rossa sangat kaget dan menatap wajah sahabatnya itu dengan penuh tanya?.


"Ada apa Sill? kenapa kau tiba- tiba seperti itu?." tanya Rossa sambil menghapus air matanya.


Silla memegang kedua bahu Rossa dan menatap wajah sahabatnya itu dengan tajam!


"Apa kau sudah melakukan itu dengan Morgan? tanya Silla tiba- tiba.


"Hah?" tanya Rossa yang binggung akan pertanyaan sahabatnya itu, karena sangat tiba- tiba baginya.


"Maksud ku!, ah Rossa.. maksudku hubungan suami istri!. Apa kalian sudah melakukan nya?." tanya Silla lagi.


"I- itu.. aku dan- dan Morgan sudah melakukan nya beberapa kali setelah menikah." lirih Rossa tergagap menahan malu, karena wajah suaminya disaat mereka bercinta terlintas di ingatan nya.


Silla melepaskan tangan nya yang mencengkram bahu Rossa barusan, dan ia merasa lega karena Rossa sudah melakukan hubungan suami istri dengan suaminya. Ya itu tuan muda, Morgan.


"Syukurlah kalau kalian berdua sudah melakukan nya bebera-" ucapan Silla terhenti, saat iya menyadari kata- katanya yang terdengar aneh menurutnya.


"Astaga, bukan itu maksudku Ross. Itu, aduh. Aku jelasinnya gimana sih, maksudku.. bukan nya ingin tau kalian berdua yang.. Sudah melakukan itu, hanya saja.." ucapan Silla kembali terhenti kala Rossa berbicara padanya.


"Tidak apa- apa Silla, aku tau kamu pasti punya alasan yang baik menanyakan itu. Iyakan?" tanya Rossa yang sudah memerah tersipu malu akan ucapan sahabat nya itu.


"Iya, maksudku.. Karena malam itu kau di perkosa, bisa saja kau hamil Ross. Tapi kalau kau dan suamimu sudah melakukan itu, aku rasa itu tidak jadi masalah kedepan nya. Walau pun kau hamil, mungkin saja kecebong tuan muda Morgan dan orang itu sudah tercampur jadi satu." jawap Silla dengan mantapnya, meyakini sahabatnya itu.

__ADS_1


Deg.


Jantung Rossa berdetak hebat, dirinya tak pernah memikirkan akan hal itu bisa terjadi padanya.


"Ya tuhan, Silla benar! bagaimana kalau aku hamil? " batin Rossa. Ia tertegun setelah mendengar ucapan sahabatnya itu, jantung nya seakan ditembak oleh anak panah yang panas.


Rossa terdiam dan murung, pikiran nya melayang kemana- mana. Memikirkan pernikahan nya dengan Morgan, yang hanya sebatas kontrak saja.


"Kau kenapa Ross?" tanya Silla yang merasa aneh pada sahabatnya itu.


"Sill, aku harus bagaimana kalau aku benar- benar hamil nantinya?." lirih Rossa yang hampir tak terdengar oleh Silla.


"Ross, kau jangan khawatir, aku akan-" ucapan Silla terhenti, oleh suara bel yang berbunyi dilantai bawah. Karena mereka berdua saat ini, sedang berada di kamar Silla lantai dua.


"Mungkin itu Samuel, biarkan maid yang membukanya. Kau mandilah dulu, aku akan menyuruh maid untuk membawakan makan malam kekamar." ucap Silla lagi.


Rossa yang mendengar makan malam merasa terkejut, ia baru sadar bahwa tadi sudah meninggalkan Pa Lim di gerbang kampusnya dan tidak memberi kabar apapun.


"Astaga, sekarang jam berapa Sill?." tanya Rossa yang langsung beranjak dari atas kasur sahabatnya.


"Pukul 22: 15 Ross, memang nya kenapa.? Kau mau pulang selarut ini?" tanya Silla yang ingin membuka pintu kamarnya untuk keluar.


"Tentu saja pulang, aku sekarang kan punya suami!. Ya ampun bagaimana ini.., Beruang Kutub itu akan marah besar padaku." ucap Rossa yang meraih tasnya diatas sofa kamar sahabatnya itu.


"Ciee.. yang sekarang punya suami bisa khawatir juga rupanya!" goda Silla.


"Kenapa kau tidak telepon saja Beruang Kutupmu itu, untuk menjemputmu kesini?" tanya Silla lagi.


"Itu dia masalah nya, aku tidak punya nomor kontaknya diponsel ku.!" jawap Rossa yang mulai panik, karena dirinya lupa membawa ponsel pemberian Morgan padanya dan ia juga tidak tau alamat Villa yang mereka tinggali saat ini.

__ADS_1


...👍👍👍...


__ADS_2