Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Bercerai?.


__ADS_3

"Ya, dulu aku sering kesini karena merasa frustasi dengan penyakitku. Aku pikir tidak akan bisa menikah seumur hidup kalau penyakit itu masih ada, dan walau pun aku menikah. Mungkin pasanganku akan pergi meninggalkanku, karena tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna padanya." Jawab Morgan yang juga memandang lurus kedepan, melihat indahnya malam yang bertabur bintang.


Hening,... mereka berdua hanyut dalam pikirannya masing- masing setelah pernyataan Morgan tadi.


"Kasian sekali, ternyata orang kaya seperti dia juga memiliki masalah dalam hidupnya. Aku pikir hanya diriku yang memiliki masalah seperti kekurangan uang untuk merawat Ibu dan melajutkan sekolah Rommi, dan juga kejadian malam itu yang membuatku sangat frustasi. Tapi, karena malam itu terjadi mereka hadir didalam sini. Semoga kalian baik- baik saja ya sayang, mommy akan selalu menjaga kalian agar selalu sehat." Batin Rossa yang reflek mengelus lembut perut ratanya sambil tersenyum, yang kini sudah tidak lagi melihat kearah Morgan melainkan menatap kosong kesembarang tempat.


Kegiatan Rossa itu pun berhasil menarik rasa penasaran Morgan, karena wajah Rossa tak henti- hentinya terseyum mengelus perut ratanya itu.


Morgan teringat saat dirinya dan Rossa pulang dari restoran Aquarium, Istrinya itu juga memainkan cincin yang dia pakai menjadi sebuah kalung didadanya seperti itu.


"Kenapa dia mengelus perutnya seperti itu dan tersenyum? apa jangan- jangan dia!?... Tidak, itu tidak mungkin. Bukankan dia baru saja datang bulan malam kemaren?, iya.. Dia pasti hanya sedang melamun saja atau perutnya merasa lapar lagi karena makan terlalu sedikit tadi." Batin Morgan. Ia tidak mau berpikir terlalu jauh saat ini karena ia sadar, selama ini Rossa tidak pernah membalas kata cinta yang ia nyatakan. Bahkan Rossa hanya diam saja disaat dirinya berjanji, selalu ada untuk Rossa sampai kapanpun.


"Apa karena dia berpikir pernikahan kami ini hanya kontrak? sehingga dia tidak percaya pada semua yang aku curahkan terhadapnya?. Baiklah kalau dia tidak percaya pada perasaanku saat ini, aku bisa memulainya dari awal. Aku akan mengakhiri pernikahan kontrak ini, dan mengejarnya dari awal lagi." Batin Morgan bertekat kuat untuk mengejar Rossa, layaknya tantangan Alvan padanya agar Rossa bisa memilih orang yang dia inginkan untuk kebahagiannya sediri.


"Rossa.."


Ucap Morgan untuk yang pertama kali dihadapan orangnya, dengan menyebut nama saja tidak ada kata 'Sayang' atau pun 'Kau' pada orang disampinya duduk itu.


Deg!!!.


Jantung Rossa berdegup sangat kencang, napasnya tercekat seakan tidak ada oksigen lagi diarea itu. Baru pertama kalinya Morgan memanggil namanya setelah 2 bulan menikah, dan itu adalah malam ini..


Malam yang sangat indah dipenuhi bintang dan ditemani bulan disampinya, Rossa merasa dirinya dan Morgan bagaikan sepasang kekasih yang baru saja berpacaran karena saling menyebut nama.


Senyum malu- malu dari bibir Rossa pun lolos begitu saja, karena debaran jantungnya seakan tidak berirama. Bagaikan mendengar music dj yang selalu membuat jantungnya bersemangat, untuk mendengarkan suara Morgan lagi menyebut namanya.


"Kita bercerai saja.." Ucap Morgan dengan suara yang bergetar, menyambung kalimatnya tadi yang menyebut nama istrinya itu.


Duuaaarrrr.....!💔


Hati yang berbunga- bunga itu tadi meletus bagaikan kembang api tahun baru diudara, tapi kembang api cinta Rossa meletus dihatinya.


Hancur! hancur sudah senyuman yang malu- malu itu tidak ada lagi dibibir mungilnya, tidak ada lagi music dj yang membuat jantungnya bersemangat untuk mendengarkan namanya disebut lagi.


Hanya ada gemuruh napas yang mencoba sekuat tenaga menahan air mata, agar tidak jatuh dihadapan suaminya itu.


"A- ap- apa kau bilang? ber-ce-rai!?" Tanya Rossa terbata- bata dengan Suara yang juga tidak kalahnya bergetar dari Morgan tadi.

__ADS_1


"Hmm.." Jawab Morgan masih memandang lurus kedepan, dengan kepala yang mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rossa padanya.


Rossa mendongakan wajahnya keatas menahan air mata yang hampir jatuh kepipinya, ia tertawa atas kebodohan pikirannya yang mengira Morgan memangil namanya karena wujud pernyataan cinta yang selalu Morgan ucapkan setiap kali mereka bersama.


"Semakin cepat kita bercerai semakin baik, karena aku ingin mengejar seseorang yang tidak percaya atas perasaan cintaku padanya. Dan aku ingin membuktikan padanya, kalau aku sangat mencintainya segenap jiwa ragaku." Sambung Morgan tanpa rasa ragu atau pun menoleh kepada Rossa.


Deg..!


Jantung Rossa lagi- lagi berdetak kuat, mendengar pernyataan Morgan padanya.


Tanpa sadar air mata Rossa telah lolos dari tempatnya dengan teratur karena sedari tadi sudah ia tahan agar tidak keluar, dan sekarang baru ia sadari kalau hatinya kembali terluka karena mencintai ditempat yang salah!.


"Ah, mataku kelilipan." Ucap Rossa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, karena sadar telah mengeluarkan air mata yang tak henti- hentinya mengalir dan berpura- pura agar Morgan tidak curiga kalau ia sedang menagis.


Morgan pun tersentak mendengar ucapan istrinya itu, dengan segera ia mengalihkan tubuhnya dihadapan Rossa dengan bejongkok melipat satu kaki kedepan ingin melihat wajah istrinya yang tertutup oleh kedua tangannya.


"Jangan digosok! nanti matamu merah." Ucap Morgan yang khawatir pada istrinya.


Mendengar ucapan suaminya itu Rossa semakin ingin menangis, ia tidak kuat kalau terus bersama suaminya sekarang.


"Ahhahaha tidak ko, nanti juga berheti sendiri." Ucap Rossa menetralkan kata- katanya agar tidak terlalu terdengar sedang menangis, dan sesekali menarik dalam ingusnya yang juga ingin keluar dari kedua indra penciumannya itu.


"Sesenang itukah kau ingin berpisah denganku? apa aku memang tidak ada dalam hatimu saat ini!?." Batin Morgan.


Morgan kini mendongakkan wajahnya keatas sambil menutup kedua matanya dihadapan Rossa, yang ia kira sangat senang akan perceraian mereka.


Sedangkan Rossa juga tengah menagis menutup wajahnya, mendengar pernyataan Morgan yang ingin cepat bercerai dengannya.


Ditengah keheningan itu ponsel Morgan pun berdering, memecah kesunyian yang hanya ditemani angin malam yang sudah larut.


Morgan beranjak berdiri meraih ponsel disaku celananya, lalu menerima sambungan telepon itu.


"Ya?.."


"........."


"Tidak masalah.."

__ADS_1


".........."


"Ku pastikan besok kau sudah bisa menempatinya."


"...................."


"Baiklah Vania kau juga hati- hati, aku akan menjemputmu besok."


"Vania?, besok?. Apa kakasihnya itu akan tiba besok? pantas saja dia ingin cepat bercerai karena kekasihnya akan datang besok. Ternyata seperti itu, bakankah itu bagus!?. Kalau aku bercerai dengannya anakku akan selamat, dan kami tidak akan mendapatkan masalah lagi kedepannya. Baiklah Rossa! hilangkan perasaan bodoh ini. Karena kau mempunyai anak- anak yang harus kau lindungi kedepannya, ayo semangat demi anak- anak." Batin Rossa. Ia pun menghapus air matanya dan menetralkan perasaannya kembali, agar terlihat biasa- biasa saja.


.


"Rossa, besok kita akan kerumah barumu. Apa kau tidak keberatan? anggap saja ini hadiah atas perceraian kita. Karena villa yang kita tempati sekarang pemiliknya akan segera tiba besok, jadi kau pindah kerumah baru didaerah perkotaan dekat dengan kampusmu." Ucap Morgan yang sedikit tersentak, melihat mata Rossa yang sangat sembab seperti sedang menangis.


Rossa pun tersenyum, mendengar ucapan Morgan padanya.


"Tidak masalah, terima kasih tuan." Balas Rossa.


Deg...


Jantung Morgan berdetak! karena dengan sangat cepatnya Rossa memanggilnya kembali seperti semula saat mereka pertama kali bertemu.


"Kalau kau tidak keberatan bisakah kita berkenalan sebelum bercerai?, Karena aku tidak tahu sama sekali siapa nama lengkapmu." Ucap Morgan menatap wajah istrinya, yang terlihat sembab dan mata yang sedikit merah.


"Tidak masalah tuan." Jawab Rossa lalu beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Morgan.


"Kenalkan namaku Rossa Ferdias, usiaku hampir 20 tahun." Ucap Rossa mengulurkan tangannya dengan tersenyum manis.


"Morgan Lois 25 tahun, senang berkenalan denganmu nona Rossa." Balas Morgan yang menjabat tangan istrinya, lalu menarik Rossa dalam pelukannya dengan sayang.


Dada keduanya sama- sama bergemuruh seperti langit yang akan hujan besar, yang siap menumpahkan air diruang hati mereka berdua malam ini.


Sunyi senyap menemani malam itu yang di iringi angin malam, karena keduanya hanya tenggelam dalam pikirannya masing- masing menikmati pelukan yang mungkin untuk yang terakhir kalinya.


"Jo akan mengantarmu kevilla untuk pulang, karena malam ini aku harus menyelesaikan sesuatu mengenai perusahaan." Ucap Morgan mencium kening istrinya, dan diangguki Rossa sambil tersenyum.


.......

__ADS_1


.......


...Maaf geng's RosGan Harus berpisah🤧...


__ADS_2