Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Bagaikan Candu.


__ADS_3

Rossa binggung dengan dirinya, sebab setelah dokter Jane mengganti pakaian dalamnya dengan menambahkan pembalut tadi malam. Ia tidak lagi mendapatkan darah datang bulannya, pagi ini pembalutnya sangat bersih. Hanya ada beberapa flek yang tidak terlalu terlihat di pembalutnya, ia pun heran. Karena sudah panik tidak memiliki pembalut cadangan, untuknya pakai pagi ini.


"Sepertinya tidak apa- apa kalau aku tidak memakai pembalut pagi ini, nanti saja aku beli sendiri." Ucap Rossa pada dirinya sendiri, tapi.. Ia juga heran, sebab rasanya sudah sangat lama dirinya tidak mendapatkan datang bulan sejak terakhir yang ia juga lupa!.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Rossa meraih jubah mandi untuk menutupi tubuh polosnya.


Kini ia merasa sudah sangat lapar, entah kenapa dari beberapa minggu yang lalu dirinya sangat menginginkan sesuatu. Yang sangat terlarang untuknya makan, bahkan rasa inginnya itu sampai terbawa kedalam mimpi!. Tapi Rossa tahu batasannya, apa yang tidak boleh ia makan. Maka dirinya harus menahannya, dan berakhirlah dengan memakan salad buah. Karena seleranya makan sungguh tidak ada sama sekali, Rossa merasa mulutnya sangat masam saat makan sesuatu selain salad buah.


Rossa pun keluar dari bathroom, ia lupa. Kalau suaminya itu memintanya untuk memanggilnya, kalau sudah selesai mandi.


Sedangkan ia kini sudah berada di walk in closet untuk berpakaian, yang pintunya juga terhubung pada ruangan bathroom.


Rossa memandang tubun polosya dicermin, betapa ia sangat terkejut melihat tubuhnya yang dipenuhi tanda bekas percintaannya dengan sang suami sebelum ia sakit perut. Karena tadi malam, dokter Jane lah yang mengganti pakaiannya sampai pakaian dalamnya.


"Beruang kutub itu benar- benar memangsaku sampai seperti ini, pasti dokter wanita tadi malam mengejekku karena melihat ini." Gumam Rossa di depan cermin, ia pun memakai pakaiannya dan memoles wajahnya agar terlihat cantik di depan sang suami.


Kini Rossa keluar dari walk in closet, terlihat suaminya itu sudah duduk disofa dengan beberapa tutup saji dihadapanya.


Rossa pun langsung menghampirinya, dan Morgan juga terkejut melihat istrinya itu sudah terlihat sangat cantik pagi ini.


"Sayang, kenapa tidak memanggilku kalau kau sudah selesai." Tanya Morgan yang masih mengagumi kecantikan wajah istrinya, dan setelah dekat. Ia pun menarik tangan Rossa untuk duduk dipangkuannya, aroma tubuh istrinya itu langsung memenuhi indra penciumannya yang sudah sangat lama ia rindukan.


Sungguh Morgan merasa aroma tubuh istrinya itu bagaikan candu baginya, ia sangat menyukai aroma ini. Bahkan kalau ada aroma lain yang mendekat pada hidungnya, aroma itu langsung membuatnya mual dan merasa pusing.


"Aku sudah tidak apa- apa suamiku, aku bisa berjalan sendiri." Jawab Rossa, yang masih berada dipangkuan suaminya.


"Hum.., malam ini kita akan kerumah orang tuaku. Mungkin aku akan sedikit terlambat, karena urusan kantor sangat banyak yang harus aku urus. Jadi Jo yang akan menjemputmu untuk langsung pergi kesana, apa kau tidak keberatan?." Tanya Morgan pada istrinya, sedangkan dagunya masih sangat nyaman berada diatas pundak istrinya itu. Dan sesekali mencium pipi istrinya gemas, serta mengendus ceruk leher Rossa yang menjadi candunya.

__ADS_1


Kruyuuk...


Suara perut Rossa kembali seperti alaram, yang mengingatkan pemiliknya untuk segera memakan sesuatu.


"Pffs.., Sepertinya istriku ini sudah sangat lapar. Ayo kita cepat makan, agar baby kecil disini cepat hadir!." Ucap Morgan terkekeh, dan tangannya mengelus lembut perut rata Rossa deri belakang dengan kedua tangannya.


Deg.


Jantung Rossa kembali berdetak, sudah beberapa kali Morgan membicarakan tentang anak padanya. Tapi itu hanya membuat Rossa tertawa jahat, sebab itu sangat tidak mungkin terjadi baginya saat ini yang sedang memakai kontrasepsi untuk mencegahnya.


Rossa pun turun dari pangkuan Morgan dengan perlahan, aroma masakan yang ada dihadapan mereka itu keluar!. Membuat perut Rossa semakin meronta ingin cepat di isi, dan bersemangat ingin cepat memakannya.


Rossa membuka tudung saji itu satu persatu dihadapan mereka, mata Rossa membelalak melihat udang dan kepiting yang terlihat sangat lezat itu. Betapa ia sangat mendambakan menu ini dari beberapa minggu lalu, tapi karena elerginya. Rossa menahanya agar tidak menyentuh udang dan kepiting saat ia ingin memakannya, tapi sekarang!. Rossa sudah tidak tahan lagi!, menu dihadapannya ini sangat ia dambakan bahkan sampai terbawa kedalam mimpinya.


"Bagaimana?, apa kau suka dengan menu ini?. Apa kau terharu kalau aku tahu makanan favoritmu!?, kau melihatnya sampai- sampai ingin menagis!." Ucap Morgan pada Rossa, karena dimata Morgan. Istrinya itu sangat bahagia sekaligus terharu, melihat hidangan yang ia suruh koki untuk menyajikannya dengan spesial.


"Suamiku sebenarnya ak-"


"Ssstt.., sekarang makanlah. Aku tahu kau ingin berterima kasih karena aku tahu makanan favoritmu, ayo capat makan. Nanti makanan ini keburu dingin, aku akan mengupaskan kulitnya untukmu." Ucap Morgan mengelus lembut kepala istrinya, sambil tersenyum bangga pada dirinya sediri. Karena melihat istrinya itu sangat bersemangat dengan hidangan, dihadapan mereka.


Rossa tak dapat berkata- kata lagi, memang benar dirinya sangat ingin memakan hidangan dihadapan nya saat ini. Tapi.., ia juga tidak mau kalau sampai Morgan melihat alerginya yang sangat mengerikan, kalau ia sampai memakan udang dan kepiting itu.


"Ayo buka mulutmu, aa.." Ucap Morgan menyodorkan udang yang sudah ia kupas kulitnya kemulut Rossa, dan mau tidak mau Rossa hanya memakannya!.


Wajah Rossa bersemu merah, karena perhatian Morgan padanya. Jantungnya berdebar tak karuan karena suaminya itu menyuapinya dengan tangannya sendiri, sambil mengupaskan udang dan kepiting untuknya makan.


"Mimpi apa aku semalam?, kenapa beruang kutub ini sangat perhatian padaku!?. Apa mungkin ini adalah perhatian terakhirnya untukku, karena tidak lama lagi dia akan menikah dengan Vania Bella kekasih yang sangat ia cintai itu?.. Dan aku?.., apa yang harus aku lakukan kalau dia benar- benar telah menikah. Apa aku harus jadi orang ketiga diantara mereka?, aku hanyalah istri kontraknya. Tidak ada hak bagiku untuk mencegahnya menikah lagi, apalagi orang yang dia cintai adalah kekasih masa kecilnya itu. Bagaimana pun, aku harus berterima kasih padanya. Karena dialah penyelamatku saat aku sedang kesusahan, dialah penolong keuanganku saat aku membutuhkannya. Dan sebagai ucapan terima kasihku, aku akan membalas budinya dengan tubuhku. Dan membatunya agar segera bersatu dengan kekasinya itu, aku akan meminta dia menceraikanku diwaktu yang tepat beberapa hari lagi!." Batin Rossa, sambil memandang wajah suaminya itu dengan senyuman pilu.

__ADS_1


Tak dapat ia pungkiri, perasaannya kepada Morgan semakin hari semakin dalam. Apalagi pada saat ini, melihat perhatian suaminya itu membuatnya tidak ingin jauh dari Morgan. Tapi.., apakah ia harus serakah!?. Menjadi orang ketiga dalam hubungan penyelamat kehidupan keluarganya, jawabannya tidak!.


"Kenapa kau menatapku seperti itu!, apa ada sesuatu diwajahku?." Tanya Morgan pada istrinya, dan langsung dijawab dengan gelengan oleh Rossa.


Tok.. tok.. tok.. tok..


Suara pintu ruangan diketuk dari luar, dan pintu itupun terbuka sedikit. Terdengar suara Asisten Jo yang menyampaikan sesuatu pada Morgan dari luar.


"Tuan muda, sekarang sudah pukul 09:17. Anda ada janji dengan beberapa orang sebelum makan siang, dan tidak bisa dibatalkan." Ucap Jo mengingatkan tuan mudanya, dari balik pintu kamar.


Morgan menatap wajah istrinya, seakan meminta persetujuan untuk pergi.


Dan Rossa hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis, karena dirinya sudah merasa ada reaksi dari makanan yang ia makan saat ini.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan turun." Jawab Morgan masih mengupas beberapa makanan dihadapannya, dan sesekali menyuapi dirinya setelah menyuapi Rossa.


"Dan dibawah sudah ada dokter Gerdian dan istrinya ingin menjemput nyonya muda, untuk pemeriksaan lebih lanjut tuan muda!." Sambung Jo lagi dengan ucapannya.


"Ah sial, aku lupa kalau kau akan ada pemeriksaan hari ini. Tapi aku tidak dapat menemanimu karena pekerjaan kantor, bahkan diakhir pekan pun masih harus bekerja!." Kesal Morgan, karena ia lupa akan ucapan dokter Jane tadi malam.


Betapa ia sangat sibuk hari ini, karena sudah 2 bulan ia pergi untuk berobat keluar negeri. Tapi tidak juga membuahkan hasil, karena ia langsung pulang karena sangat merindukan istrinya. Padahal hanya tinggal 2 minggu lagi, terapinya sudah ada titik terangnya untuk sembuh.


"Pergilah.., aku akan kerumah sakit dengan paman." Ucap Rossa tersenyum lembut pada suaminya, karena rasa panas disekujur tubuhnya sudah membuatnya resah. Keringat dingin mulai bercucuran dipelipisnya, bahkan pendingin rungan dikamar mewah itu tidak dapat menahan rasa panas yang ingin segera ia garuk pada kulinya.


"Baiklah, siap- siaplah nanti malam. Jo akan menjemputmu, tapi aku usahakan akan pulang sebelum kita berangkat." Ucap Morgan lagi, lalu diangguki Rossa bersamaan dengan senyumnya.


........

__ADS_1


.......


__ADS_2