
Rossa dan Vivi memasuki sebuah restoran didepan kantor mereka, tepatnya diseberang jalan kantor mereka!.
Terlihat Limo yang duduk sendirian melambaikan tangan nya, pada Rossa dan Vivi agar mereka berdua satu meja dengan nya.
Karena melihat manajernya itu melambaikan tangan nya, Vivi langsung menarik tangan Rossa agar mengikutinya berjalan kearah meja atasan mereka itu untuk segera duduk.
"Maaf pak, kami sedikit terlambat!" ucap Vivi dengan senyumnya pada Limo.
"Tidak masalah, ayo pesan makanan." jawab Limo membalas senyum Vivi dan Rossa.
Rossa dan Vivi hanya mengangguk, lalu membuka buku menu dihadapan mereka. Setelah memilih- milih makanan, Rossa merasa tidak selera untuk makan. Ia pun hanya memesan salad buah saja, karena dari kemaren ia merasa tidak selera makan.
Vivi pun memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka, dan beberapa camilan lain untuk Rossa yang hanya memesan salad buah saja.
"Kenapa hanya pesan salad buah?, apa kamu mau diet?." tanya Vivi pada Rossa.
"Eh, tidak!. Aku hanya merasa tidak selera makan saja, dari kemaren selera makanku hilang. Jadi hanya makan salad buah untuk meningkatkan selera makanku, kan buah- buahan bagus dan buat kenyang juga." jawap Rossa mengedipkan matanya pada Vivi.
Vivi pun mendekatkan wajahnya pada telinga Rossa, dan berkata sangat pelan agar tidak terdengar orang lain.
"Iih, curang dong!. Kan aku pesan nasi goreng sama ayam goreng, dan minumannya Milk tea." bisik Vivi mendekatkan dirinya pada Rossa.
Rossa hanya terkekeh mendengar bisikan teman kerjanya itu, ia pun membalas bisikan Vivi. "Semua yang kamu pesan bisa bikin lemak dibagian perut, kalau makan itu dibawa duduk akan jadi mengantuk dan tidak fokus buat kerja." Ucap Rossa tersenyum puas yang hampir tak bisa menahan tawanya, melihat wajah panik Vivi.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Limo bergantian menatap dua orang dihadapanya itu.
"Eh tidak pak, sepertinya waktu kita tidak akan cukup untuk makan disini!. Bagaimana kalau makan siang saya dan Rossa dibawa kekantor saja, soalnya Rossa masih belum menyelesaikan gambaran nya yang tadi." ucap Vivi tersenyum manis.
"Eh, ko ak- Aw." Ucap Rossa menjerit, karena kakinya di injak oleh Vivi. Rossa memelototkan matanya kearah Vivi, dan hanya dibalas senyuman manis serta kedipan kedua mata Vivi.
"Kenapa tidak se-" ucapan Limo terhenti ketika pesanan nya datang.
__ADS_1
"Maaf tuan ini pesananya, permisi..." ucap pelayan restoran itu, meletakan pesanan Limo yang masih panas dihadapan nya.
"Mbak!, pesanan saya dan teman saya yang ini (Rossa) dibungkus saja ya." ucap Vivi menunjuk Rossa pada seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Limo.
"Baik nona, apa ada lagi?." tanya pelayan itu ramah.
"Eh.., sepertinya itu saja." jawab Vivi melirik Rossa.
Rossa hanya mengangkat bahunya, sebagai balasan lirikan Vivi padanya.
Limo yang melihat kedua bawahannya itu menatap bingung, ia merasa aneh dengan kelakuan keduanya.
Setelah makanan Vivi dan Rossa dibungkus, mereka berdua pun pamit untuk segera kembali kekantor.
"Maaf ya Rossa!, tadi aku tidak sengaja melakukannya." ujar Vivi yang meresa bersalah karena sudah menginjak kaki teman kerjanya tadi.
"Kamu bilang tidak sengaja!? hemp.. Jelas- jelas kamu menginjak kakiku dengan tenaga yang besar, kau bilang tidak sengaja?." jawab Rossa tidak terima.
Kini mereka berdua sudah berada di meja dapur kantor mereka, yang letaknya hanya dibatasi kaca setinggi 2 meter dan sangat dekat dengan meja mereka bekerja.
"Sebagai gantinya kamu bisa minta apa saja deh, nanti aku turutin.. Sekarang maafin aku yah, yah.." ucap Vivi lagi memelas.
Melihat teman kerjanya seperti itu, Rossa hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan Vivi yang meminta maaf padanya, inilah yang membuat Rossa betah bekerja di perusahaan cabang SS milik mamanya Silla sahabatnya itu. Karena mendapatkan teman yang baik dan tulus, mau berteman dengannya.
"Iya, iya.. Aku maafin, tapi sebagai gantinya milk tea ini buat aku ya." jawab Rossa.
"Tidak masalah, aku bisa membeli minuman lagi nanti. Tapi, teman mana bisa dibeli." Ucap Vivi tersenyum lega, sebab ia tidak mau Rossa berlamaan marah padanya.
Mereka berdua pun makan bersama, seperti biasa. Rossa selalu diam saat makan menikmati salad buahnya, dan Vivi selalu saja berbicara tentang apa saja bahkan menggosip. Dan Rossa hanya jadi pendengar saja, sesekali menganggukan kepalanya sebagai tanggapannya pada cerita temannya itu.
Dan kini mata Vivi tertuju pada berita di Tv, yang menayangkan tentang seorang pengusaha muda ternama yaitu Morgan Lois.
__ADS_1
"Ya ampun, itu suami ku dimasa depan." ucap Vivi pada Rossa.
"Rossa, coba kamu lihat suamiku. Cepat cepat, nanti kamu tidak bisa melihatnya lagi." ucap Vivi mendesak Rossa agar cepat melihat kearah Tv yang digantung di dapur kantor mereka itu.
" Iya sebentar, aku baru saja menghabiskan salad buahku." ucap Rossa yang kini mengambil minuman milk tea yang ia minta pada Vivi tadi.
Kini mata Rossa juga tertuju pada Tv, dan...
Pfyuuur...
Rossa menyemburkan minuman yang baru saja ia minum, dan tersedak karena melihat orang yang ia rindukan itu terlihat sangat gagah dan begitu tampan.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Rossa yang batuk karena tersedak minumannya.
"Kamu ini, lihat orang tampan saja langsung tersedak." ledek Vivi mengosok punggung Rossa karena batuk.
"Ehemp, itu karena aku terkejut saja melihat suamiku, uh dia sangat lama meninggalkanku bahkan sudah hampir dua bulan!." ucap Rossa menyapu mulutnya dengan tisu.
Vivi tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan Rossa, dari sekian banyaknya pria. Baru kali ini Rossa mengaku kalau orang di Tv itu suaminya.
"Kamu itu lucu sekali, baru kali ini aku mendengarmu membicarakan seorang pria. Biasanya kamu hanya diam saja, apa lagi kalau pak Limo sengaja ingin mendekatimu. Kamu selalu menghindar, tapi kali ini kamu mengakuinya sungguh keajaiban.!" Ucap Vivi menyapu ujung matanya, karena berair olehnya tertawa tadi.
"Eh, lihat Rossa. Bukan kah itu kekasih masa kecilnya, aku dengar mereka menjalin kasih dari kecil. Seorang artis kelas dunia yang bernama Vania Bella itu memang sangat sepadan dengan pria tampan ini, pantas saja aku tidak pernah melihat pria ini lagi setelah sekian lama. Ternyata dia menemani kekasihnya diluar negeri, ih so sweet nya.." Ucap Vivi menangkup kedua tangannya ke pipi, melihat keromantisan Morgan dan kekasihnya Vania Bella yang ditayangkan di Tv.
Deg.
Jantung Rossa berdegub kencang, tiba- tiba ia merasa hatinya sangat sakit melihat suaminya itu bersama kekasih masa kecilnya.
"Kenapa hati ini terasa sangat sakit?, bahkan lebih sakit dari pada aku putus dari Alvan dulu!." batin Rossa.
.......
__ADS_1
.......
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😢 karena dari sini kita akan menuju part selanjutnya.😅Like, komen dan favorit agar tau up selanjutnya. Vote juga yang merasa suka akan cerita ini, atau lemparkan bunga agar author semangat up.Terima kasih..😘😘