Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Emosi.


__ADS_3

"Aku kebelakang sebentar, kau tinggal disini saja mengobrol sama mama.." Ucap Morgan pada Rossa, lalu beranjak dari sofa yang ia duduki.


Rossa hanya tersenyum pada suaminya itu, menampilkan suasana harmonis dimata semua orang yang melihatnya saat ini.


Setelah kepergian Morgan, Alvan pun ikut beranjak dari tempat duduknya menyusul kebelakang.


Sementara Ferino Lois dan dua menantunya, masih asyik membicarakan masalah perurasahaan.


Melihat keadaan yang seperti itu, mama Mardiana membawa Rossa dan kedua anaknya ke halaman samping mansion utama itu. Yang sangat luas, dan ada kolam renang yang sangat besar serta beberapa tempat bersantai lainnya.


"Rossa sayang, duduklah dulu. Mama mau memanggil Pa Lim sebentar." Ucap mama Mardiana.


"Iya ma.." Jawab Rossa dengan senyumnya.


Sedangkan Miranda (Mamanya Alvan) sedang menerima telepon, dan segera menjauh dari mereka.


Tinggallah Rossa dan kakak keduanya Morgan saat ini, yang bernama Marissa.


Marissa sangat jarang bicara pada semua orang dimansion, kecuali ada hal yang mendesak saja. Tapi,.. saat melihat Rossa.


Marissa sepertinya sangat senang, ia sangat ingin sekali mengajak Rossa berbicara. Tapi ia juga tidak ingin orang lain mendengar pembicaraannya dengan Rossa, sebab. Yang ingin ia tanyakan adalah keluarga Rossa, yang kini tidak pernah lagi ia tahu setelah beberapa bulan yang lalu.


"Hai Rossa, kenalkan.. Namaku Marissa, aku kakak kedua Morgan." Ucapnya menyodorkan tangan kearah Rossa, dan langsung disambut Rossa dengan berjabat tangan serta senyumnya.


"Hai juga kakak ipar, maafkan aku kalau tadi tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu." Ucap Rossa, yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa- apa, aku mengerti.. Oh iya, bisakah aku meminta nomor kontakmu?." Tanya Marissa yang sangat lancar berbicara pada Rossa, saat ini.


"Aah iya, bisa kak." Jawab Rossa segera, ia pun menyebutkan nomor kontaknya pada Marissa. Dan marissa langsung menghubungi nomor kontak Rossa saat itu juga, agar Rossa menyimpan namanya.


Dan kegiatan mereka berduapun selesai, saling menyimpan nama kontak diponsel.


"Oh iya Rossa, bagaimana kau mengenal Morgan?. Dan,.. kenapa kalian malah memutuskan menikah diam- diam seperti ini?." Tanya Marissa, menatap Rossa sambil tersenyum hangat.


Rossa pun tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena pernikahannya dan Morgan hanyalah sebatas kontrak, dan bagaimana ia mengenal Morgan pun saat ia akan menikah dihari yang sama.


"Aku dan Morgan han-" Ucapan Rossa terhenti, saat pelayan membawa beberapa cemilan dihadapan mereka berdua. Dan mertuanya, mama Mardiana juga datang menghampiri.

__ADS_1


"Permisi nyonya.." Ucap pelayan itu dengan sopannya.


"Mama melihat kalian berdua dari kejauhan sedang mengobrol, apa yang kalian obrolkan?. Sepertinya sangat seru, sampai mama penasaran." Ucap mama Mardiana dengan senyumnya.


"Aku hanya penasaran ma,.. bagaimana bisa menantu mama ini menaklukan Morgan.." Jawab Marissa.


"Ah iya,.. mama sampai lupa bertanya pada menantu mama ini. Ayo ceritakan, bagaimana kalian pertama kali bertemu!." Tanya mama Mardiana pada Rossa, yang membuat Rossa malah terkekeh melihat tingkah mertuanya itu.


Hati Rossa tiba- tiba terasa hangat,.. ia tidak menyangka. Kalau kakak ipar kedua dan ibu mertuanya sangat baik, sangat jauh berbeda dari mamanya Alvan yang sangat membecinya.


Rossa kembali teringat ucapan Morgan padanya, ketika mereka masih berada di dalam mobil menuju mansion utama keluarga Lois.


"Semua orang dimansion utama sangat ramah dan baik, kecuali satu orang!. Yang harus kau jauhi, dan tidak usah terlalu banyak bicara padanya!." Pesan Morgan saat masih dalam perjalanan tadi.


.


...☘☘☘...


.


Disisi lain.


Morgan memandang seluruh isi kamarnya saat ini, yang masih tidak berubah sedikitpun dari terakhir ia tinggalkan beberapa tahun lalu.


Disaat itu pula, Alvan masuk menerobos tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Morgan.." Seru Alvan!. Memanggil orang yang kini masih menikmati pemandangan kamarnya, yang dipenuhi foto Vania Bella dan dirinya ketika masih remaja.


"Ada apa?,.. kenapa kau terlihat sangat buru- buru sekali mencariku?." Jawab Morgan pada keponakannya itu, dan langsung menjatukan tubuhnya diatas tempat tidur miliknya.


Alvan sedari dulu selalu memanggil Morgan dengan namanya, karena Alvan merasa Morgan sudah seperti temannya sendiri. Saat mereka masih kecil, sampai dewasa.


Dan usia mereka yang hanya bersesilih 4 tahun saja, karena tubuh Alvan juga sama besarnya seperti tubuh Morgan saat itu.


Wajah Alvan terlihat merah, seperti orang yang sedang menahan amarahnya. Melihat isi kamar Morgan masih seperti dulu, tanpa ada perubahan sama sekali.


"Aku akan langsung ke intinya saja, apa kau mencintai Rossa?." Tanya Alvan, terlihat sangat emosi.

__ADS_1


"Apa urusanmu?,.. dia istriku." Jawab Morgan. Terlihat seperti orang yang tengah bercanda, pada Alvan.


"Aku tanya sekali lagi!, apa kau menikahi Rossa karena cinta?. Atau hanya ingin membuatnya menderita?, kalau orang- orang tahu dia istrimu. Semua orang akan menganggapnya jal*ng, yang hanya menggodamu untuk menjadi kaya.." Bentak Alvan dengan kerasnya, sampai- sampai Morgan terkejut mendengar bentakan itu dengan kerasnya.


"Kalau benar dia yang menggodaku, bagaimana?" Tanya Morgan, yang kini sudah duduk ditepi ranjangnya.


"Tidak mungkin!, Rossa bukan orang yang seperti itu. Aku sangat mengenalnya, dia bukanlah wanita pecinta uang seperti yang kau pikirkan." Jawab Alvan dengan tajamnya.


"Heh, memangnya kau siapanya dia!?. Kekasihnya?.." Balas Morgan masih dengan tawa mengejek, dan kini berdiri ingin menghampiri Alvan.


"Ya,.. aku kekasihnya. Bahkan aku berjanji pada diriku sendiri, sampai kapanpun akan tetap mencintainya!." Jawab Alvan dengan mantapnya.


Deg.


Hati Morgan seakan terusik!, mendengar pernyataan Alvan padanya yang penuh emosi.


"Aku tidak tahu, apa alasanmu menikahi Rossa.. Tapi, begitu banyak wanita didunia ini yang bersedia tidur denganmu dengan suka rala. Kenapa harus Rossa?, kau bahkan tidak tahu siapa nama lengkapnya. Siapa keluarganya, dan apa kesusahan yang Rossa rasa saat ini!. Kau pikir aku tidak tahu!, selama 2 bulan ini kau keluar negeri bersama kekasih masa kecilmu itu?. Kau bisa menipu semua orang dimansion ini!, tapi tidak denganku!. Kau bilang pada kakek dan nenek sudah menikah dengan Rossa selama 2 bulan, tapi kau berada diluar negeri hampir 2 bulan!?. Omong kosong!, apa kedokmu menikahi Rossa!?. Huh?.. katakan bajing*n!..." Teriak Alvan menarik kerah pakaian Morgan, kehadapannya.


Morgan mengerutkan keningnya, ia pikir tadi Alvan hanya bercanda padanya. Tapi melihat Alvan yang begitu marah saat ini, semuanya bukanlan candaan!. Yang berarti semuanya benar!, kalau Alvan adalah kekasih Rossa istrinya!.


Morgan kembali mengingat cincin yang Rossa pakai menjadi kalungnya, saat mereka baru bersama sebagai suami istri. Yang berinisial, A♡R.


"Sial!,.. ternyata A itu adalah Alvan!?. Berarti memang benar?, mereka berdua pernah manjalin kasih?. Dan,.. yang membuat Rossa tidak lagi perawan bajingan ini..? BANGS**T.." Batin Morgan.


Morgan langsung memberi bogem mentah diwajah Alvan, ia terus memukulnya dengan sangat emosi sampai tubuh Alvan terpental.


Merasa dirinya sudah disakiti, Alvan pun membalasnya. Ia juga memberikan Morgan bogem mentahnya sampai bibir Morgan berdarah, bahkan hidungnya juga mengeluarkan darah segar yang bercucuran.


"Kau bahkan tidak tahu nama lengkapnya Rossa Ferdias, tapi dengan bangganya kau menyebutnya Nyonya Rossa Morgan Lois!?. Sungguh konyol!, aku sarankan kau harus cepat menceraikannya. Karena kau tidak cocok menjadi suami seorang Rossa Ferdias yang sangat polos, kau hanya bisa membuatnya sakit hati bedeb*h." Ucap Alvan yang lagi-lagi memberi kepalan tangannya diwajah Morgan, sampai tubuhnya terpental kelantai.


Bahkan suara gaduh di kamar itu terdengar sampai ruang tamu, dilantai bawah.


Pa Lim yang mendengar suara itu berasal dari lantai 2, langsung menebaknya. Kalau itu dari kamar Morgan!, karena tadi ia tidak sengaja melihat Alvan mengikuti Morgan dengan penuh emosi naik kelantai 2.


"Ada apa diatas?, kenapa seperti suara barang berjatuhan?." Tanya Ferino Lois, memandang kedua wajah menantu dan Asistennya Pa Lim.


"Anak itu, akhirnya dia tidak dapat menahan emosinya." Batin papanya Alvan menekan pangkal hidungnya, karena sedari tadi ia selalu mengingatkan anaknya itu untuk tenang.

__ADS_1


...☘☘☘...


...See you😘...


__ADS_2