
***Like dulu sebelum baca👍
☘☘☘***
Mata Morgan membelalak, melihat seorang wanita meringkuk dibawah selimut yang ia buka. "Apakah ini jebakan yang sudah direncanakan dengan sangat matang..? Aku tak bisa melihat dengan jelas wajah wanita ini,
Sungguh licik sekali permainan ini." bibir pria itu menyeringai.
"Tapi.. saat ini aku benar-benar membutuhkan pertolongan wanita ini, siapa wanita ini.? Apakah seorang jal*ng? harus kah aku bermain dengan nya..?" rancau Morgan yang masih setengah sadar.
Morgan masih terengah-engah dengan nafasnya, yang sudah tak dapat lagi ia bendung. "Lalu bagaimana dengan phobia ku,? apakah aku bisa melakukan nya? tidak saat ini tidak ada yang lebih penting dari pada keselamatan ku.!" ucap nya lagi dengan sangat yakin.
"*A**ku akan membayarmu dengan mahal, terima kasih telah ada untuku*." kata- kata yang Rossa dengar sangat jelas dekat di telinganya.
Mata perempuan itu terbuka, tapi tubuh nya seperti mati tak bisa digerakan sama sekali.
Rossa mengutuk dan memaki seorang pria didepan nya, yang tak dapat ia lihat dengan jelas wajahnya. Hanya samar-samar yang ia lihat, dan suara bariton yang cukup jelas ditelinganya.
Mata Rossa sudah sangat sembab karena menangis, ia mendengar semua yang pria itu katakan tadi. Tapi.. ia tak mampu bicara maupun bergerak, karena obat bius yang telah menjalar keseluruh tubuh nya.
Obat bius yang mampu membuat saraf nya rusak, karena tak dapat berbuat apapun selain menerima takdir.
"Apakah ini akhir dari hidupku? Ibu, Rommi, aku menyayangi kalian.."
Rossa menutup mata nya pasrah, karena tak ada yang mampu ia lakukan selain menangis dan berdoa semoga sesuatu yang buruk tidak akan terjadi padanya.
Di malam yang gelap gulita dan gemuruh petir yang mampu membelah bumi disertai hujan nan lebat itu, adalah malam yang sangat buruk dari malam -malam yang pernah 2 insan itu lewati.
__ADS_1
Malam itu adalah malam terburuk bagi rossa, hancur lah sudah mahkota yang ia jaga selama 19tahun ini.
Karena malam ini adalah akhir dari masa gadis nya direnggut dengan paksa oleh seorang pria yang ia tak tau siapa.?
Setelah sekian jam menangis tanpa suara, Rossa terus berusaha agar semua anggota tubuh nya bisa bergerak.
Ia mencoba menggerakan tubuh nya yang terasa mati, air mata nya tak ada henti-hentinya keluar dari kedua benda indah itu.
Ia menggerakan jari- jari tangan nya dan juga tubuh nya yang terasa remuk, sedikit demi sedikit. Setelah pria biadab itu selesai melakukan hal menjijikan baginya, ia merasa sangat kotor bahkan lebih kotor dari sorang jal*ng.
Rossa mencoba mendudukan tubuh nya dengan susah payah, entah kenapa ia merasa tak ada tenaga sedikit pun untuk bertahan.
"Apakah ini karena bius yang telah dilakukan pria berseragam itu..?" batin nya mencoba bepikir.
Ia pun mencoba mencerna, semua teka teki yang ia dengar dari pria yang telah merenggut mahkota nya itu. Namun belum juga mendapatkan titik terang nya, karena pikiran nya sekarang sangat kacau.
Rossa pun memadang tubuh polos pria itu, ia sangat ingin melihat wajah nya. Tapi sayang sekali.. pria itu memunggunginya tengkurap, hanya rambut hitam legam nya yang terlihat dari belakang.
Derai air mata rossa tak henti-hentinya berjatuhan. "Kuat rossa, kuat. Kau harus kuat!" batin nya menyemangati diri nya sendiri.
Rossa pun tak mau menunggu lama, ia takut lelaki itu akan memangsanya lagi. "Aku harus cepat pergi dari sini." batin nya.
Ia memaksa semua anggota tubuhnya untuk bangun, walaupun disisi bawah nya terasa sangat menyiksa nya. Ia tak mampu menahan itu, air matanya kembali membasahi pipinya. Rasa putus asa memenuhi hati dan pikiran nya sekarang, sungguh sangat sakit baginya di **** ********** nya itu.
Bagaimana ia harus menjelaskan pada ibu dan adik nya,? kalau orang yang mereka bangga kan adalah sesuatu yang menjijikan dan seorang wanita kotor yang telah ternoda secara paksa. Garis besar nya adalah,? ia telah di perkosa.
Rossa memejamkan matanya, kala kata itu terlintas di benaknya.
Bagaimana masa depan nya kelak,? masih adakah laki-laki yang mau menerima wanita yang sudah tidak suci lagi..? bahkan diperkosa oleh orang yang tak ia kenali.? Sungguh miris nasip nya.
__ADS_1
Rossa menjambak rambut nya dengan keras, merasa sangat frustasi. Sampai- sampai beberapa helai tercabut dari kepala nya, ia tak perduli.
Tak ada rasa yang lebih sakit, dari pada kepercayaan ibu dan adik nya yang ia perjuangkan sekarang.
"Aku harus cepat pergi dari sini, aku harus cepat pulang.." batin rossa, yang mencoba kembali untuk berdiri.
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya, padahal ia ingin memberikan ibunya kejutan kalau ia sudah di terima berkerja sambil kuliah. Tapi sepertinya, hal itu hanyalah hayalan nya saja. Sebab saat ini, dirinya hanyalah seorang sampah.
Airmata nya tak henti-henti menetes keluar membasahi pipinya, menahan sakit di setiap langkah.
Ia berdiri memungut gaun malam yang tadi ia pakai di pesta kampusnya, mencoba memakainya kembali. Tapi, tali kedua gaun itu telah putus.
Rossa pun meraih sebuah kemeja tangan panjang yang tergeletak di lantai, untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka. Ia berjalan tertatih-tatih, mencoba keluar dari kamar itu dan membuka kuncinya.
Ia memandang kesemua arah diluar kamar itu, matanya terhenti di depan pintu kamar bertulisan Suite Room 117. Tempat nya keluar tadi, matanya lagi-lagi perih tak henti-hentinya air bening itu keluar dari matanya. Hatinya terasa sesak, ia tak tahan lagi.
Rossa hanya ingin cepat-cepat pulang, untuk berkeluh kesah dengan ibu dan adiknya. " Pasti mereka semua menunggu ku pulang." batinya.
Rossa pun keluar dari hotel itu mencari taksi, sedangkan ia tak memiliki uang atau pun ponselnya. Ia ingat, bahwa ponsel nya masih berada dimeja perjamuan tadi malam. "Semoga saja Silla mengingat ponsel ku." batin nya. Yang masih menundukan kepala sambil berjalan, tanpa sadar ia telah di ikuti dari belakang.
Setelah mendapatkan taksi, Rossa menuju tempat sahabatnya Silla. Ia tak mau ibu dan adiknya melihat keadaan nya saat ini, yang sangat kacau.
Rossa memencet bel rumah itu beberapa kali, terkesan terburu- buru karena ia belum membayar uang taksi yang tadi ia tumpangi.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pintu itu terbuka dan berdiri lah sahabat nya itu di hadapan Rossa.
Betapa terkejutnya Siilla, melihat keadaan Rossa saat ini yang begitu kacau.
Jangan lupa beri jempol dan komen nya yaa kak..
__ADS_1
maaf typo nya bertebaran..🤧