
"Kenapa dia tidak bicara?, atau jangan- jangan.." Ucapan Morgan terhenti, saat mendengar napas istrinya keluar dengan teratur dari speaker ponselnya.
Morgan menarik napas panjang, dan membuangnya kembali. Saat ia tau, istrinya itu telah tertidur. Ia mematikan sambungan teleponya, karena tidak mau mengganggu istrinya lagi.
Ditatapnya lagi layar laptop yang menunjukan istrinya itu sedang tidur, tapi hanya terlihat punggungnya saja.
"Aku merasa nyaman bersamamu, tapi aku ingin memastikan satu hal padamu sebelum kita berpisah nanti." ucap Morgan membelai layar yang ia tatap itu.
.
.
Tidak terasa, kini sudah lebih satu bulan Morgan diluar negeri. Dan Rossa juga sudah berkerja disebuah perusahaan cabang, yang tidak terlalu besar milik mamanya Silla sahabatnya.
Rossa sengaja menyibukan dirinya dengan bekerja, agar dirinya tidak terlalu memikirkan Morgan. Yang hampir tidak pernah menghubunginya setelah malam itu, saat malam dirinya tertidur dan meninggalkan Morgan yang sedang bicara padanya.
Sedangkan Rossa juga tidak berani menghubungi Morgan, karena ia selalu mengingat surat kontrak mereka. Yang tidak boleh mencampuri urusan suaminya itu, sebab itulah Rossa memilih diam tanpa tahu keadaanya.
...☘☘☘...
Perusahaan cabang SS.
Jam makan siang sudah tiba, tapi Rossa masih mengerjakan sesuatu dimeja kerjanya dengan sangat serius.
"Hei Rossa, apa yang kau kerjakan?. Ini sudah jam makan siang, ayo kita makan bersama." tanya salah satu teman kerjanya yang bernama Vivi itu.
"Hei vi, aku sedang membuat beberapa desain perhiasan. Untuk mengikuti lomba, yang diselenggarakan beberapa minggu lagi." jawab Rossa pada teman kerjanya itu.
"Kau jadi ikut?" tanya Vivi lagi.
"Hm, aku hanya iseng saja. Karena tidak dapat membuatnya untuk diriku sendiri, siapa tahu dengan mengikuti lomba aku dapat melihat bentuk nyatanya kalau menang lomba." jawab Rossa dengan senyumnya.
"Halah!, palingan melihat bentuk nya jadi sampah." Sahut Linda, yang juga ingin beranjak dari kursinya untuk makan siang. Linda adalah teman satu kampus Rossa, yang dulu sering meneror Rossa saat masih berpacaran dengan Alvan. Rossa tidak menyangka, akan bertemu dan berkerja satu kantor dengan teman kampusnya itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan rekan kerjanya, sekaligus teman kampusnya itu. Rossa hanya memutar matanya lelah, karena dari awal Rossa bekerja sampai sekarang. Linda selalu mengganggunya tanpa sebab, selalu ada saja kesalahan Rossa yang dibuat oleh Linda dan trik- trik kecil yang membuat Rossa disalahkan dalam berkerja.
"Hei Medusa!, kalau kau tidak bisa berbicara lembut. Lebih baik tidak usah bicara!, mengotori telingaku saja!" jawab vivi pada Linda.
Beberapa orang memang tidak menyukai Linda karena sifatnya, hanya saja Linda adalah adik dari manajer dikantor cabang itu. Dan manajer itu kebalikan sifat Linda, sangat baik pada semua timnya tanpa terkecuali.
"Apa kau bilang?" bentak Linda tidak terima dikatai Medusa!.
"Apa..?" tantang Vivi yang juga sangat nyaring.
"Kau..!" Bentak Linda ingin menampar Vivi, tapi tanganya ditahan oleh seseorang dari belakang.
"Linda, sudah berapa kali aku bilang!. Jangan membuat gaduh dikantor, atau kau ingin aku pecat sekarang juga?." ucap Limo. Limo adalah manajer dikantor cabang, sekaligus kakak dari Linda yang begitu sabar menghadapi adiknya itu.
"Hemph!, kau selamat sekarang! Tapi tidak lain waktu." hardik Linda menunjuk Vivi dan berlalu pergi.
"Anak itu, selalu saja membuat onar." ucap Limo menggelengkan kepalanya. "Apakau tidak apa-apa?" tanyanya pada Vivi yang berdiri di depan meja Rossa, tapi matanya menuju Rossa yang sedang duduk dikursinya.
Dan Rossa segera berdiri menundukan kepalanya pada atasannya itu, memberi salam.
Mendengar jawaban Vivi, Limo langsung mengalihkan padanganya dari Rossa ke Vivi. "Oh ya, apa kalian ingin makan?. Bagaimana kalau aku mentraktir kalian, sebagai permintaan maafku. Atas perbuatan Linda tadi, yang sudah kelewatan." ucap Limo pada kedua orang dihadapanya.
Vivi langsung menganggukan kepalanya tanda setuju, sedangkan Rossa masih diam. Karena ia masih ingin mengerjakan desainya membuat gambar perhiasan.
Melihat Rossa yang masih diam dan hanya melihat kertas diatas mejanya, Limo pun mengikuti arah mata Rossa yang tertuju pada sebuah kertas yang sedikit berantakan diatas meja kerjanya.
"Apa kau masih berkerja, di jam makan siang?." tanya Limo pada Rossa. Ia meraih beberapa kertas diatas meja Rossa, dan melihatnya secara detail.
"Tidak pak, saya hanya asal menggambar saja." jawab Rossa malu. Karena desain perhiasan yang ia gambar dilihat oleh manajernya, dan manajernya itu sangat meneliti setiap lembar kertas yang ia gambar.
"Kau bilang ini asal menggambar?." Tanya Limo pada Rossa dengan nada suara yang sedikit tinggi, sambil memperhatikan Rossa yang menundukan kepalanya. "Apa semua ini, kamu yang menggambarnya?." sambung Limo lagi.
"Be- benar pak, tapi saya mengerjakanya tidak di jam kerja. Saya menggambarnya ketika sudah di jam makan siang tadi, dan baru saja ingin menyelesaikanya." lirih Rossa. Karena ia sedikit takut, mendengar pertanyaan manajernya itu yang sedikit nyaring.
__ADS_1
"Kau bilang baru saja?, kau menggambar begitu bagus seperti ini. Dan kau bilang, baru saja menggambarnya?." tanya Limo lagi.
Rossa hanya menganggukan kepalanya, karena tidak berani menatap Limo. Ia pikir manajernya itu sangat marah padanya, karena menggambar sesuatu untuk pribadi dikantor.
"Rossa, kau sangat genius!. Desainmu ini sangat indah dan langka, kau bisa dipromosikan kalau ini sampai dikantor pusat!." ucap Limo dengan bangganya memiliki tim yang sangat genius seperti Rossa.
Sontak Rossa menatap wajah manajernya itu terkejut, karena ia pikir akan dimarahi atau lebih parahnya dipecat karena membawa hal pribadi dikantor.
"Eh, benarkah?" tanya Rossa tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya, ini sangat langka. Sudah lama perusahaan kita tidak pernah dilirik, karena desain perhiasan yang itu- itu saja. Tapi hari ini kau membuat ini, apa tujuanmu ingin mengikuti lomba?." tanya Limo.
"Sebenar-"
Ucapan Rossa terhenti, karena Vivi menarik tangan Rossa dengan cepat.
"Benar pak, Rossa ingin mengikuti lomba. Tapi bisakan kita mengobrolnya sambil makan siang?, karena waktunya terus berjalan dan ini tidak akan selesai dengan cepat." ucap Vivi menggandeng tangan Rossa sambil tersenyum.
"Ah, benar. Ayo kita kerestoran depan, karena waktunya hanya sisa sedikit lagi." sahut Limo melihat jam tanganya dan meletakan kertas milik Rossa keatas meja.
"Aku tunggu kalian direstoran depan ya." ucap Limo berlalu pergi dari ruangan itu.
Rossa kembali menyusun kertasnya, dan meletakanya kedalam sebuat tas laptopnya untuk dibawa pulang karena desainya belum selesai ia kerjakan.
"Ayo Rossa cepat sedikit, ini hanya tinggal 36 menit. Kapan lagi kita ditraktir manajer Limo, yang baik dan juga super tampan itu." ucap Vivi yang sudah tidak sabar.
Rossa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, karena ia tau. Rekan kerjanya itu sangat mengagumi manajer mereka yang masih muda dan lumayan tampan itu, tapi bagi Rossa. Masih ada seseorang yang lebih tampan, dihatinya.
.......
........
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 Like, komen dan favorit agar tau up selanjutnya. Terima kasih sudah mampir..😘
__ADS_1