
Morgan tertegun melihat wanita yang berada diatasnya, sungguh dirinya merasa sangat beruntung memiliki istri secantik Rossa saat ini.
Deg.. deg.. deg.. deg..
Suara jantung Morgan berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan hatinya merasa hangat setelah pulang kerumah. Sebab, ada sang istri yang akan ia dekap menemani malam panjangnya.
Karena biasanya, ia akan merasa sangat kesepian dan selalu memikirkan cara untuk mengobati trauma psikologis yang ia derita. Dan akan terus mecoba, mendekati wanita- wanita berbeda setiap harinya.
Tapi sekarang, Morgan tidak ingin lagi mengulangi hal itu. Karena sakarang ia sudah cukup tergila- gila pada istrinya.
"Sayang,.. kau cantik sekali malam ini.. Rasanya aku tidak ingin pergi saja,.. aku tidak mau orang lain melihatmu yang seperti ini." Ucap Morgan, sambil mengelus pipi Rossa dengan tangan kanannya.
Rossa hanya menutup matanya, ia sangat menikmati sentuhan suaminya itu.
"Aku ingin membawa kenangan ini untukku simpan dalam hatiku, aku akan mengenangnya baik- baik. Terima kasih pernah ada dalam kehidupanku, namamu akan selalu ku ingat sampai maut menjemputku nanti. Kau pria yang sangat baik, aku yakin kau akan menemukan wanita baik pula dalam kehidupanmu. Tidak seperti diriku yang kotor dan menjijikan ini, aku bukan orang yang baik untukmu. Terima kasih, terima kasih kau telah mengobati luka yang perih waktu itu." Batin Rossa tersenyum.
Rossa membuka matanya perlahan, digenggamnya tangan besar itu. Yang mengelus pipinya saat ini, Rossa mencium telapak tangan itu dengan lembutnya.
"Terima kasih Sayang,.. wanita cantik dan pria tampan bukankah sangat serasi?.." Jawap Rossa lalu tertawa renyah memandang wajah suaminya itu, yang kini membelalak menatapnya.
"Kau bilang apa tadi?.." Tanya Morgan sedikit meninggikan suaranya, lalu duduk dengan segera. Dan Rossa pun langsung berada dalam pangkuan suaminya itu, karena badannya ikut tarangkat.
Rossa terkejut atas tindakan Morgan yang mendadak, ia pikir Morgan akan marah padanya karena ucapannya tadi.
"Eeh,.. wa- wanita cantik dan pria tampan." Jawab Rossa, terbata- bata pada suaminya.
"Bilang diri sendiri cantik juga tidak boleh kah?, mungkin hanya wanita itu yang memenuhi kriteria cantik dimatanya." Batin Rossa merasa kecewa, lalu menundukan kepalanya.
"Bukan,.. yang sebelum itu!.." Ucap Morgan lagi, mengangkat dagu Rossa dengan kedua tangannya.
"Terima kasih!.." Jawab Rossa menatap kedua bola mata Morgan dihadapannya, yang hanya berjarak satu jengkal tangan saja.
"Setelah terima kasih?.." Tanya Morgan lagi!.
"Sayang.." Jawab Rossa.
Cup...
__ADS_1
Kecupan itu mendarat dibibir ranum istrinya, yang terlihat seperti buah matang yang sangat manis.
"Coba katakan sekali lagi!." Ucap Morgan mengulanginya.
Rossa sudah hampir menangis, entah kenapa hatinya merasa telah dibentak Morgan saat ini.
"Kau!, kau membentakku?.." Tanya Rossa disertai tangisannya, seperi anak kecil!.
"Sayang,.. kenapa kau menangis?." Tanya Morgan yang terlihat panik, karena baru pertama kalinya melihat Rossa menangis.
"Kau tidak suka!, kalau aku menyebut diriku sendiri cantik?." Jawab Rossa disela tangisannya.
"Siapa bilang?.. kau itu sangat cantik sayang.. Tapi bukan itu maksudku,.. kau salah paham.." Ucap Morgan menjelaskan, karena dirinya baru sadar.. Bahwa tadi sudah meninggikan suaranya, saat Istrinya itu mengucapkan kata 'Sayang'..
"Jadi, kau tadi tidak membentakku?." Tanya Rossa dengan polosnya, memandang kembali wajah tampan itu dihadapannya.
Morgan menggelengkan kepalanya, serta menutup matanya menyatakan kata tidak! pada istrinya..
"Aku bahkan sangat senang, kau memanggilku sayang. Coba katakan sekali lagi, dan seterusnya hanya panggil aku sayang!." Ucap Morgan, yang masih menangkup pipi istrinya dengan kedua tangannya.
"Benarkah, sa- sayang?.." Ucap Rossa.
Rossa pun langsung memeluk Morgan, dan dibalas Morgan sambil mengelus rambut panjang istrinya yang sedikit nergelombang itu.
Rossa tidak tahu!, apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Karena ia merasa, sedikit berlebihan pada hal sepele seperti itu bahkan sampai menangis.
"Mungkin aku sudah gila!, kerena sebentar lagi akan berpisah dengannya. Tapi,.. kenapa setelah dibujuk olehnya aku malah senang?." batin Rossa merasa bingung.
Morgan melepaskan pelukan istrinya dengan perlahan, dan menatap wajah yang masih terlihat sembab itu dengan senyumnya.
Mata keduanya saling menatap, dan semakin mendekat bagaikan magnet yang saling tertarik untuk bersatu. Dan terjadi lah ciuman yang saling ********, bahkan semakin menuntut.
Tanpa sadar, tangan Morgan kini membuka resleting gaun istrinya yang berada dibelakang. Dan melepaskan gaun itu dari tubuh Rossa, yang hanya menyisakan pakaian dalam saja.
Morgan mendorong tubuh istrinya dengan perlahan untuk berbaring, dan di iringi tubuhnya sedikit menindih istrinya itu.
Kini ciuman Morgan turun leher istrinya, dan...
__ADS_1
Suara ponsel Morgan pun berdering disaku celananya, tapi tidak dihiraukan oleh Morgan.
Tapi ponsel itu pun tidak mau kalah, ia terus berdering hingga akhirnya Rossa sadar sudah tidak berpakaian lagi ditubuhnya.
"Sayang,.. ponselmu berdering. angkat lah dulu, siapa tahu itu sangat penting." Ucap Rossa disela kegiatan suaminya itu, mencium tubuhnya.
"Ck, mengganggu sekali!." Ucap Morgan, yang kini duduk meraih ponsel disaku celana panjangnya.
"Ya?..." Ucap Morgan tanpa melihat, nama si pemanggil di ponselnya.
"Kau ingin kami kelaparan menunggumu datang!, hah?.." Bentak seseorang diseberang telepon padanya, Morgan pun langsung melihat ponsel yang ia pegang itu saat ini.
"Papa.." Bisik Morgan, saat nama itu yang berada dilayar ponselnya.
"Apa kau tidak lihat, ini pukul berapa?.. Ini sudah pukul 19: 36 malam, apa kau juga lupa apa yang aku katakan padamu kemarin malam?." Ucap Papanya masih dengan suara yang tinggi, dan berhasil membuat sesuatu yang berdiri tadi kembali terkulai lemah takberdaya.
"Iya pa, aku ingat.. Ini juga sedang siap- siap, aku juga baru pulang kantor tadi." Ucap Morgan, yang kini meraih gaun istrinya. Yang ia buang tadi kelantai, dan menyodorkannya pada Rossa yang hanya memakai pakaian dalam saja saat ini.
...☘☘☘...
Setelah melewati beberapa drama tadi, kini suami istri itu sudah berada di depan mansion utama keluarga Lois.
Rossa begitu sangat gugup, karena tadi ia mendengar suara papanya Morgan begitu sangat pemarah.
Melihat istrinya seperti itu, Morgan meraih tangan Rossa untuk menggandeng lengannya. Dan berjalan masuk kedalam ruangan mewah itu, yang dituntun Pa Lim langsung menuju meja makan.
Setelah sampai diruang makan, Pa Lim pun mengumumkan kadatangan Morgan dan istrinya pada semua orang.
"Tuan muda Morgan dan istrinya sudah tiba,.. silakan tuan muda dan nyonya muda." Ucap Pa Lim, menundukkan kepalanya mempersilakan keduanya.
Dan semua mata pun tertuju pada mereka,..yang kini memasuki ruang makan itu bergandengan tangan.
"Selamat malam semuanya,.. kenalkan dia istriku. Namanya adalah nyonya 'Rossa Morgan Lois', kalian bisa memanggilnya Rossa." Ucap Morgan dengan santainya.
Sedangkan saat ini, seseorang yang duduk dimeja makan itu mengepalkan tangannya kuat. Melihat orang yang ia cintai bergandengan tangan begitu mesranya, dihadapan semua orang.
........
__ADS_1
.......