Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Mengandung.


__ADS_3

"Sepertinya keadaan Rossa sudah membaik, kita bisa melihatnya sekarang." Ucap dokter Martin, ia pun berdiri dari duduknya menuju pintu keluar ruang baca Morgan.


Morgan pun segera berdiri dari duduknya, menyusul dokter Martin. Betapa ia sangat khawatir saat ini pada istrinya itu, perutnya yang sudah sangat lapar pun ia abaikan. Karena baginya, istrinya jauh lebih penting dari apapun sekarang ini.


Setelah sampai didepan pintu kamar utama, dokter Martin ingin mengangkat tangan nya untuk mengetuk pintu. Tapi belum sempat ia lakukan, pintu itu sudah terbuka dari dalam.


Ckelek...


"Eeh..?" Kagetnya dokter Jane, karena ia juga tidak sengaja ingin keluar dari kamar itu.


"Bagaimana ma, apa dia sudah tidur!?." tanya dokter Martin pada istrinya.


"Sudah pa.." Jawab dokter Jane yang keluar dari dalam kamar itu, lalu menutup pintunya kembali.


"Bagaimana keadaan istriku bi, apa dia baik- baik saja!?." Tanya Morgan dengan terburu- buru, yang datang dari belakang dokter Martin.


Begitu pula dengan Asisten Jo dan dokter Gerry, yang menyusul Morgan dari belakang.


"Rossa baik- baik saja tuan muda, hanya saja dia kurang energi!. Dan juga sepertinya dia tidak makan dengan benar seharian ini, sebab itu lah dia tidak punya banyak tenaga menahan rasa sakitnya.. Tapi tuan muda tenang saja, saya sudah memasang suplemen makanan lewat cairan infus dan juga obat pereda nyeri yang mengandung obat tidur. Dan kemungkinan kalau dia bangun nanti, dia akan merasa sangat lapar karena pengaruh suplemen tadi." jawab dokter Jane menjelaskan dengan senyumnya.


"Apa yang keluar itu.., darah datang bulan bi?." tanya Morgan menatap serius wajah dokter Jane.


Deg!.


Jantung dokter Jane berdegup kencang, mendengar pertanyaan Morgan padanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa?, karena dirinya juga dalam kebingungan sekarang ini. Dokter Jane menatap suami yang berada disamping Morgan, yang kini tepat dihadapannya.


"Benar!, itu darah datang bulan tuan muda." Jawab dokter Martin mewakili istrinya untuk bicara, sedangkan mata dokter Martin dan istrinya dokter Jane masih saling menatap satu sama lain.


"Baguslah." jawab Morgan terlihat kecewa. Ia pun membuka pintu kamarnya, dan ingin masuk kedalam menemui istrinya. Setelah beberapa langkah masuk kedalam kamar, tiba- tiba Morgan menghentikan langkahnya dan menoleh kesamping. Sehingga membuat dokter Jane semakin gugup, tapi ia tutupi dengan pura- pura melihat ponselnya saat itu juga.


"Paman dan bibi sudah bisa pulang, aku akan merawat istriku kalau dia sadar nanti." Ucap Morgan, yang masih membelakangi semua orang didepan pintu kamarnya.


"Baik tuan muda, kalau begitu kami akan langsung pulang saja. Permisi.." jawab dokter Martin.


"Sebentar tuan muda!." Seru dokter Jane.

__ADS_1


Morgan pun memutar tubuhnya kearah pintu kamarnya, yang masih terbuka lebar .


"Ya..?" tanya Morgan.


"Agar lebih jelasnya, besok saya akan membawa Rossa kerumah sakit. Bukan apa- apa.., hanya saja dia membutuhkan perawatan untuk sehari saja sudah cukup!." ucap dokter Jene. Ia berusaha untuk terlihat biasa- biasa saja, agar tuan muda datar itu tidak curiga padanya saat ini.


Morgan terdiam untuk beberapa saat, ia melihat lagi wajah seorang wanita paruh baya itu dihadapannya. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Morgan bergantian melihat kearah dokter Martin untuk mencari kebenaran. Karena Morgan merasa ada seauatu yang mereka sembunyikan darinya, dan itu menjadi beban baginya.


"Hemm.., aku akan ikut mengantar istriku untuk kerumah sakit besok." Jawab Morgan. Ia pun memalingkan badannya menuju tempat tidur, dan melihat sang istri sudah terlelap tidur dengan damainya.


Dokter Martin dan istrinya berlalu turun dari lantai dua itu, yang di ikuti dokter Gerry dari belakang.


Setelah kepergian orang tuanya, dokter Gerry juga menyalakan mesin mobilnya untuk segera pulang. Namun.., belum sempat dirinya memalingkan mobil dari halaman villa tuan muda datar itu!. Morgan sudah menghubunginya!, dan menyuruhnya untuk tetap tinggal divillanya lewat telepon.


"Haiss.., kenapa dulu aku tidak jadi pilot saja?. Kehidupanku selalu saja dibayangi tuan muda dingin ini!, dulu ingin jadi pengusaha. Harus mengikuti bisnisnya, dan sekarang jadi dokter pun juga harus melayaninya!." Gerutu dokter Gerry disepanjang jalan menuju pintu villa, namun kata- katanya itu malah dijawab oleh seseorang yang mengagetkannya.


"Jadi pilot pun, akan membawa jet pribadinya!." Jawab Asisten Jo, dari belakang.


"Kau ini!..., bisakah tidak seperti hantu?. Datang tak diundang!, tiba- tiba ada dibelakangku!?." Bentak dokter Gerry yang sudah ingin berlari, karena sangat terkejut.


"Mana ada aku mengutuk seseorang, aku bukan lah orang yang munafik seperti seseorang yang pura- pura miskin tapi sebenarnya tuan muda ternama dikota C.." Sahut dokter Gerry balik menyindir Asisten Jo.


Asisten Jo yang bernama asli Jordi Aliando sebenarnya adalah seorang tuan muda!, hanya saja ia ingin menguji dirinya dari bawahan. Agar saat ia nanti sudah siap untuk melanjutkan bisnis orang tuanya, dirinya sudah merasakan pahitnya hidup menjadi seorang bawahan. Dan tidak bersikap semena- mena pada bawahannya, seperti yang ia rasakan saat ini menghadapi sahabatnya itu. Yang tidak lain adalah, Morgan Lois!. Yang dikenali orang- orang, sebagai Putra satu- satunya keluarga Lois! saat ini.


"Terserah lah." balas Jo pada dokter Gerry. Ia pun menuju anak tangga sambil membawa berkas ditangannya, yang membuat dokter Gerry penasaran!.


"Apa itu Jo?." Tanya dokter Gerry, yang kini sudah menduduki sofa ruang tamu.


"Berkas nyonya muda.." jawab Jo masih menaiki anak tangga menuju lantai dua.


"Ada apa?, apakah Morgan mulai tertarik pada istrinya itu!?." Tanya dokter Gerry lagi, pada asisten Jo.


"Entahlah.., aku juga tidak bisa meramal hati seseorang." Jawab Jo dengan ekspresi datar, dan sangat singgkat.


"Haiss!, kau ini. Tabiatmu itu sama saja seperti tuan mudamu itu, bermuka datar." Sahut dokter Gerry, yang sudah tidak terlalu jelas terdengar oleh Jo yang mencapai puncak tangga villa itu.

__ADS_1


.


...☘☘☘...


.


Kini dokter Martin dan istrinya dokter Jane sudah berada dirumahnya, mereka berdua masih menikmati teh. Untuk menghangatkan badan mereka, dari dinginnya angin malam setelah pulang dari villa Morgan tadi.


"Ma.., sebenarnya apa yang terjadi pada Rossa?." Tanya dokter Martin sambil menyeruput teh panasnya dengan perlahan.


"Entahlah pa.., tapi aku benar- benar bingung saat ini." jawab dokter Jane pada suaminya.


"Hemm..?" suara dokter Martin mengisyaratkan pertanyaan.


"Aku rasa.., saat ini Rossa sedang mengandung!." jawab dokter Jane dengan perlahan.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. uhuk.. ahempp"


Dokter Martin tersedak tehnya yang masih panas, dan sebagian tumpah ketangan dan celananya.


"Apa?.." Teriak dokter Martin dengan sangat terkejut, ia langsung berdiri dari duduknya. Dan tidak perduli pada tangannya yang masih kepanasan. Bahkan sudah mulai melepuh, akibat teh yang tumpah tadi.


"Apa mama tidak salah diagnosis?, bukan kah waktu itu. Mama sendiri yang memberikan kontrasepsi suntik pada papa, untuk mencegah hal ini pada Rossa!?." tanya dokter Martin masih merasa syok.


Dokter Jane masih terdiam, dirinya masih sangat kacau untuk menjelaskan pada suaminya. Tentang cara kerja kontrasepsi suntik, pada tubuh manusia secara umumnya.


"Lalu.., kalau Rossa tengah mengandung?. Kenapa dia bisa berdarah seperti datang bulan?, bahkan dia sampai kesakitan tidak berdaya!." lanjut dokter Martin pada istrinya.


"Rossa hampir keguguran, dan keguguran dapat dikenali dengan gejala berupa perdarahan, kram atau nyeri perut, demam, lemas, dan nyeri punggung. Aku juga tidak tahu pasti!, tapi dalam perutnya. Masih ada benda- benda menggumpal yang sangat nyata, ketika aku menyentuhnya!." Jawab dokter Jane pada suaminya.


.......


.......


...Hayo tebak! kalau rossa hamil kira-kira ayah bayinya siapa? 😱1. Perenggut mahkota Rossa. 2. Suaminya.. Akhirnya Vote gratis ada lagi, cuss tinggalkan buat Rossa dibawah ini.🤧...

__ADS_1


__ADS_2