Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Dilema..


__ADS_3

"Kau! kenapa kau ada disini!?." Ucap Morgan sedikit dingin dengan orang yang baru saja menuruni anak tangga, setelah memanggil nama Rossa istrinya.


"Aku memang tinggal disini beberapa bulan ini, memangnya kenapa? Lalu kenapa kau memakai kursi roda? apa kau sakit atau tidak bisa berjalan!?." Tanya seseorang yang saat ini menatap Rossa dengan penuh rasa rindu!, rindu yang tak akan pernah padam dengan hanya menatap wajah wanitanya ini.


Karena ia tidak bisa lagi memeluk atau pun melihat wanita yang sangat ia cintai itu setiap saat, apa lagi menyampaikan perasaannya yang semakin hari semakin membesar.


Bagaikan punguk merindukan bulan, yang tak mampu ia gapai lagi. Apa lagi melihat perut Rossa yang sudah membesar, perasaan hancur dan remuknya hati tak dapat ia tahan lagi.


Sampai- sampai air matanya tak mampu ia tahan lagi, dan mengalir begitu saja melihat wanita yang ia kagumi itu telah sepenuhnya milik pamannya sendiri. Yaitu Morgan Lois, yang tidak sengaja menikahi kekasihnya.


Setelah 3 tahun menjalin kasih, dengan wanita yang kini berstatus istri pamannya itu. Alvan merasa hancur, sampai- sampai studinya pun tidak berjalan dengan baik.


Karena siang dan malam dirinya hanya memikirkan wanita yang kini menjadi istri pamannya sendiri, wanita yang dulu ia kejar!.


Wanita yang sangat susah payah ia dapatkan hatinya, tapi setelah dapat!. Dirinya sendiri dengan teganya meninggalkan wanita itu, demi memenuhi permintaan orang tuanya.


Yang hanya mementingkan derajat dan asal usul pasangan hidupnya, tapi tidak tahu apapun keinginan hatinya yang memilih dan mencintai orang lain yaitu Rossa Ferdias.


Yang harus ia panggil dengan sebutan bibi saat ini, dan sekarang dirinya akan menjadi seorang kakak untuk anak mantan kekasihnya itu!.


"Alvan sayang, dimana Jessica?." Tanya mama Mardiana pada Alvan cucunya, yang kini masih menatap Rossa dengan penuh arti dan air mata yang mengalir begitu saja.


"Uhuk, uhuk.. Aku mau istirahat dulu Ma, Pa.. Ayo sayang, kita lewat sini. Agar kau tidak lelah menaiki tangga kita pakai lift saja." Ucap Morgan dengan lembutnya pada istrinya, yang hanya dijawab dengan anggukkan kepala oleh Rossa.


Mereka bertiga pun menuju lift, agar Morgan masih bisa duduk dikursi rodanya saat naik kelantai atas.



Karena tidak ada seorang pun yang tahu, kalau Morgan mengalami kecelakaan malam itu dan koma!. Meskipun Alvan dan mamanya sudah tahu yang sebenarnya, kalau Morgan selama ini koma dirumah sakit negara J itu.

__ADS_1


Miranda tetap diam, karena Alvan mengancam mamanya itu akan membatalkan pernikahannya dengan Jessica. Kalau mamanya masih mengganggu kehidupan paman dan mantan kekasihnya itu.


Tapi diam-diam Miranda tetap menjalankan aksinya, agar keinginannya menjadikan Alvan sebagai Ceo akan cepat terlaksana.


Dan sekaranng Alvan tengah mengalami dilema, karena mamanya memintanya agar segera menikahi Jessica tunangan nya sendiri.


Alvan hanya terdiam, saat Rossa pergi dari hadapannya begitu saja. Tanpa ada lagi saling berpamit- pamitan, apa lagi saling melambai kan tangan seperti dulu saat mereka masih sepasang kekasih.


Perasaan sakit dalam hatinya membuat Alvan membatu dan membisu!, kakinya ingin melangkah dan mulutnya ingat melarang Rossa untuk pergi. Tapi pikirannya berkata lain, karena saat ini Rossa bukan lagi miliknya.


Selama ini sebenarnya Alvan tahu, kalau Rossa berada dirumah sakit dinegara J yang sama dengannya. Tapi dirinya hanya pura-pura tidak tahu, karena kakek dan neneknya sengaja merahasiakan tentang pamannya Morgan yang saat itu mengalami kecelakaan hingga membuat nya koma.


Alvan hanya melihat Rossa dari kejauhan, karena ia tahu mamanya pasti punya mata-mata yang setiap saat mengikutinya kemana pun ia pergi.


.


"Sayang kau kenapa?." Tanya mama Mardiana, kepada Alvan cucunya. Yang kini masih mematung ditempatnya berdiri, sedari tadi menatap lift yang kini sudah tidak ada lagi ditempatnya.


Tapi mereka tidak mau ikut campur, dan berpura-pura tidak tahu saja. Karena bagi Ferino Lois, informasi apapun bisa ia ketahui termasuk masa lalu Rossa dan semua masa lalunya yang kini sudah mereka ketahui termasuk adik laki- laki Rossa yang tidak lain adalah Rommi.


Alvan sama sekali tidak bergeming, karena pikirannya masih tertuju pada Rossa istri pamannya itu.


Mama Mardiana menyentuh bahu Alvan, dan dengan seketika Alvan terkejut lalu menyapu air yang tadi mengalir dipipinya.


"Ah iya, Nenek ada apa!?." Tanya Alvan dengan senyum yang sedikit dipaksakan, karena saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Apalagi melihat kemesraan pamannya kepada Rossa, membuat Alvan semakin cemburu. Tapi tak bisa ia ungkapkan, karena sudah tidak pantas lagi dirinya cemburu kepada pamannya. Yang sudah resmi menyandang status suami, dari wanita yang sangat ia cintai itu.


"Kau kenapa sayang? sepertinya matamu ber'air! Apa kau sakit mata atau kelilipan?." Tanya mama Mardiana sengaja, agar suasana diruangan itu tidak cangung.

__ADS_1


"Ah iya Nek, mataku tiba-tiba sedikit sakit dan ber'air. Mungkin karena terlalu siang bangun hari ini, karena tadi malam aku lembur." Jawab Alvan sedikit terkekeh, agar dirinya tidak terbawa suasana hatinya yang sedang sakit itu.


Dokter Gerry yang baru turun menggunakan lift dari lantai atas setelah mengantar Morgan tadi, mengangkat bahunya tidak perduli mendengar ucapan Alvan.


"Sakit mata, sakit hati, sakit perasaan dan juga sakit mental mu!." Batin dokter Gerry melihat kearah Alvan yang berpura-pura tegar itu.


Karena ia sangat tahu, bahwa setiap hari Alvan mengikuti Rossa. Seperti kata pengawal yang Asisten Jo katakan, bukan hanya 1 atau 2 penguntit saja yang selalu mengikuti Rossa!. Tapi ada 4 atau 5 pengutit, yang diam-diam selalu mengikuti Rossa dari kejauhan kemana pun Rossa pergi setiap harinya.


Karena selang 1 atau 2 hari sekali, Rossa akan pergi kebutiknya. Untuk melihat perkembangan butiknya tersebut, yang kini ia serahkan pada orang kepercayaannya.


"Tidurnya jangan terlalu malam sayang, tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap mama Mardiana lagi, kepada Alvan cucunya.


"Iya Nek, aku hanya tidak bisa tidur saja kalau pekerjaanku belum selesai." Jawab Alvan lagi, yang kini berjalan mengikuti neneknya duduk disofa bersama kakeknya.


"Maaf tuan muda, makanan yang anda inginkan sudah siap." Ucap salah satu pelayan dimansion itu, kepada Alvan.


"Oh iya, terima kasih banyak bi." Ucap Alvan pada pelayan itu, yang kini menundukan kepalanya.


"Kakek, Nenek! Bagaimana kalau kita makan bersama? aku meminta koki memasakkan makanan Barat hari ini." Ucap Alvan pada kedua orang tua dihadapannya, bergantian.


"Kami sudah makan sayang, kau makan sendiri saja yaa.. Tidak apa-apa kan?." Tanya mama Mardiana pada Alvan.


"Baiklah ak-." Belum sempat Alvan menyampaikan kata-katanya, suara lain sudah memotong ucapannya.


"Alvan! ayo makan bersama.. Aku sudah memasak makanan favoritmu, lho.." Suara perempuan dari ruang dapur, yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu mansion keluarga Lois.


Alvan hanya menganggukan kepalanya, dan beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ruangan makan yang sudah tersedia itu dengan diam dan tanpa berbicara lagi.


...☘☘☘...

__ADS_1


...See you all 😘...


__ADS_2