Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Rasa Nyaman.


__ADS_3

Dengan perasaan terpaksa Alvan mau tidak mau harus membawa Jessica kerumah sakit, karena dirinya juga sangat khawatir pada calon istrinya itu.


Alvan menggendong Jessica dalam pelukannya, ia merasa menyesal karena terlalu kasar pada wanita itu tadi siang.


Tapi entahlah, saat ini pikirannya sedikit kacau!. Apa lagi saat ini ada Rossa dan Morgan tinggal dirumah yang sama dengannya, perasaan cemburu kepada pamannya itu menjadi musuh terbesar dalam jiwanya.


Karena wanita yang ia cintai malah bersanding dengan pamannya sendiri.


Alvan kembali menarik napasnya dalam, lalu membuangnya kembali dari mulutnya.


Entah sudah keberapa kali dalam satu hari ini dirinya memikirkan Rossa, sedang apa dilantai atas bersama pamannya itu.


Sehingga saat dirinya ingin mengetuk kamar Jessica, yang ada dalam benaknya kembali kepada Rossa. Lalu membuatnya lupa pada Jessica, yang masih merajuk padanya.


Ditatapnya lagi wajah wanita yang kini ada dalam pelukannya, yang terlihat pucat!. Apa lagi wanita ini sangat rajin merias wajahnya, sehingga tanpa make-up seperti ini semakin membuat wanita itu terlihat pucat dan sangat kasihan.


Alvan menyadarkan kepalanya ditempat duduk didalam mobil, yang kini sedang menuju rumah sakit.


Ia pejamkan matanya, untuk menghapus bayang- bayang Rossa yang masih bergentayangan dalam benaknya.


Alvan tahu ini tidak adil untuk Jessica, kalau dirinya terus menerus memikirkan wanita lain. Sedangkan Jessica tengah mengandung anaknya, Alvan ingin melupakan masa lalunya bersama Rossa!.


Tapi hatinya selalu berdebar, saat nama wanita itu hadir dalam benaknya.


Mungkin benar kata pepatah, mencintai tidak selalu memiliki dan bersama.


Itulah yang Alvan katakan dalam hatinya, mungkin sudah saatnya ia melupakan masa lalunya bersama Rossa.


Dan memulai kehidupan barunya bersama Jessica, walaupun kenyataannya. Perasaan Alvan sedikitpun sudah tidak ada lagi pada calon istrinya itu.


"Tuan muda!, kita sudah sampai. Silahkan bawa nona muda keluar, dokter yang menangani nona muda sudah ada diluar." Ucap sopir yang kini membuka pintu mobil untuk Alvan, sedangkan dokter Gerry sudah berdiri disamping brankar yang dokter lainnya bawakan untuk Jessica.


Alvan pun menoleh kearah sopir yang berbicara padanya, ia merasa perjalanan mereka begitu singkat.


Padahal hari sudah berganti malam, Alvan merasa baru saja pergi dari mansion. Tapi sudah sampai dirumah sakit, yang jaraknya menempuh perjalanan 45 menit lamanya.

__ADS_1


Dokter Gerry yang sedari tadi menunggu Alvan keluar dari mobil sudah sangat gelisah, karena dirinya tau kalau keadaan Jessica saat ini sedang mengandung pasti tidak akan baik-baik saja.


Apa lagi Alvan yang begitu lamban, membuat dokter Gerry semakin geregetan ingin segera membawa Jessica masuk kedalam rumah sakit untuk memeriksanya.


"Kau tunggu apa lagi? cepat bawa dia keluar dari mobil. Agar segera diperiksa, atau kau mau membunuhnya!?." Ucap dokter Gerry menegok dari jendela mobil depan, yang sedari tadi menahan kesalnya pada Alvan.


Alvan seperti orang linglung, karena pikirannya terbagi kemana-mana. Begitu banyak yang ia pikirkan, dari masalah perusahaan, orang tuanya, cinta masa lalunya, dan sekarang ia harus menghabiskan waktu hidupnya hanya bersama dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai!.


"Astaga, ya ampun!... Kau bengong apa sih? cepat bawa Jessica keluar dari mobilnya!.." Suara dokter Gerry kembali sedikit meninggi, karena Alvan hanya menatap wajah dokter Gerry tanpa berkedip.


"Sini! biar aku saja yang membawanya keluar!." Ucap dokter Gerry yang sudah tidak tahan melihat wajah Alvan yang menurutnya seperti orang aneh, apa lagi sekarang ada beberapa dokter yang menunggu mereka sedari tadi diluar mobil.


Dokter Gerry pun masuk kedalam mobil, untuk membawa tubuh Jessica dari Alvan yang kini hanya melihatnya membawa wanitanya.


Dengan segera mereka pun membawa Jessica masuk kedalam rumah sakit, setelah dokter Gerry membaringkannya di brankar.


"Tuan muda? tuan muda!. Apa anda tidak masuk kedalam?, untuk menemani nona Jessica?." Tanya pak sopir, yang kini sudah duduk didepan Alvan tempat mengemudi.


"Hah! Jessica?. Eeh, mana Jessica.." Ucap Alvan, malah sebaliknya bertanya pada pak sopir didepannya.


"Haah.." Suara Alvan yang terkejut, dan ia pun langsung keluar dari dalam mobil itu untuk mencari dokter Gerry dan Jessica.


.


...☘☘☘...


.


Sementara disisi lain, dua insan yang telah lama terpisah oleh waktu yang berlalu itu sedang asyik tertidur dengan berpelukan.


Pria berwajah tampan itu mulai mengerjapkan matanya beberapa kali, dibelakang istrinya yang saat ini telah ia peluk dari belakang.


Aroma bunga lavender yang selalu memicu perasaannya kini menusuk indra penciumannya, membuat dirinya semakin tidak ingin pergi dari aroma itu berasal.


...~~~...

__ADS_1


Beberapa waktu yang lalu setelah Morgan selesai membersihkan dirinya, ia melihat Rossa sudah tertidur pulas diatas tempat tidur mereka.


Dengan senyuman yang mampu membuat wanita manapun meleleh, pria itupun segera memakai pakaiannya dan ikut berbaring didepan istrinya.


Agar bisa melihat sekaligus memeluk istrinya itu seperti mereka baru menikah dulu, namun.. Kenyataannya tidak semudah itu, karena perut Rossa yang besar menghalangi mereka berdua untuk berpelukan.


Dan akhirnya Morgan memeluk istrinya dari belakang, dan membelai perut istrinya dengan lembut agar anak-anaknya dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.


...~~~...


Morgan membenamkan kepalanya diceruk leher sang istri, ia ingin sepuasnya menghirup aroma bunga lavender yang selalu jadi candunya itu.


Sampai pada akhirnya, Rossa merasa sedikit geli. Dan dengan perlahan mengumpulkan nyawanya, yang masih tertinggal dialam mimpi.


Karena Morgan selalu menggerakkan kepalanya, untuk menghirup aroma istrinya yang semakin membuatnya tergila-gila.


"Emmh.." Suara yang keluar dari mulut Rossa, karena tanpa sengaja ia keluarkan begitu saja.


Pergerakan Morgan pun terhenti, karena suara itu mengingatkan dirinya akan sesuatu.


Morgan mengangkat kepalanya, melihat wajah wanitanya yang mengeluarkan suara manja itu.


Tapi yang ia lihat hanya lentik bulu mata yang hitam, dengan mata yang masih setia terpejam sampai menuju malam.


Morgan baru sadar, kalau wajah wanitanya itu terlihat biasa saja saat tertidur seperti ini. Tapi baginya wajah wanitanya lebih dari dewi sekali pun, tetap yang paling tercantik sejagat raya!.


"Sayang, ayo bangun!. Ini sudah malam hari, kita harus segera makan malam. Karena kita sudah terlalu lama tertidur, hei.." Ucap Morgan, yang kini memainkan hidung istrinya dengan gemasnya.


"Emm.. Sebentar lagi Rommi, kakak masih sangat mengantuk." Jawab Rossa pada suaminya, yang ia pikir itu adalah Rommi adiknya.


"Sayang, ayo bangun! Kalau tidak, jangan salahkan aku melakukan hal lain yang membuatmu tidak bisa tidur malam ini." Bisik Morgan ditelinga istrinya.


Namun Rossa masih tidak juga terbangun, dirinya malah semakin merasa aman ketika berada disamping suaminya itu.


...☘☘☘...

__ADS_1


...See you geng's😘...


__ADS_2