Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Panik!


__ADS_3

Dengan perasaan panik Jack membawa Rossa kerumah sakit, yang tidak terlalu jauh dari apartemennya.


Rommi yang mengikuti Jack tidak mampu berkata- kata, karena dirinya juga sangat panik melihat ekspresi kakaknya yang begitu kesakitan menahan sesuatu dengan memegang perutnya.


Kini Jack dan Rommi hanya menunggu diluar ruangan IGD, dengan berjalan kesana kemari Jack memikirkan keadaan kandungan Rossa. Ia takut kalau terjadi apa-apa, karena bagaimana pun itu adalah anak Rossa.


Rossa pasti akan sedih kalau sampai ada apa-apa pada kandungannya, walaupun kenyataannya Rossa tidak tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung saat ini.


Suara pintu ruangan yang terbuka langsung mengalihkan perhatian Jack dan juga Rommi dari pikiran mereka, dan dengan tidak sabarnya Jack langsung melontarkan pertanyaan kepada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaannya dokter? apa dia baik-baik saja!?" Ucap Jack yang sudah berada didepan dokter itu, dengan bahasa asing yang dikira Jack Rommi tidak mengerti.


"Maaf tuan, siapa suami pasien? Karena ini sangat penting untuk diketahui oleh orang terdekat pasien, dan harus menjaganya dengan baik." Ucap dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu, memperhatikan kedua wajah pria dihadapannya.


"Saya!.." Ucap Rommi dan Jack serempak mengucapkannya, dan saling menatap satu sama lain setelahnya.


Dokter itu menatap keduanya bergantian, karena merasa bingung mendengar jawaban kedua orang dihadapannya.


"Saya hanya ingin berbicara pada suami pasien, karena ini menyangkut keadaan bayi mereka yang hampir saja mengalami keguguran. Mari ikuti saya keruangan saya, karena pasien akan segera dipindahkan." Ucap dokter itu berjalan lebih dulu didepan, lalu diikuti Jack dan juga Rommi dibelakang.


Rommi merasa sedikit syok mendengar ucapan dokter yang mengatakan kalau kakaknya saat ini tengah mengandung, tapi dilain sisi Rommi juga sangat mengkhawatirkan kakaknya yang selalu berjuang sendiri untuk keluarga mereka. Dan saat ini Rommi merasa sangat bersalah pada kakaknya, sampai terjadi hal seperti ini.


Setelah sampai diruangan dokter, Rommi dan juga Jack duduk dihadapan dokter itu dengan wajah yang sama khawatirnya. Lagi-lagi dokter laki-laki yang sudah berusia lumayan berumur itu menatap keduanya dengan penuh pertanyaan, karena melihat kedua pria dihadapannya mengaku sebagai suami pasiennya.


"Baiklah, saya akan mengatakannya langsung pada kalian berdua. Pasien mengalami stres berat, yang mungkin memacu pada kandungannya. Dan yang lebih parahnya lagi pasien hampir saja mengalami keguguran, kalau saja lambat sedikit membawanya maka anak- anaknya akan tiada!" Ucap dokter itu menjelaskan pada kedua pria dihadapannya saat ini, yang menunjukkan wajah khawatir pada sang wanita yang kini terbaring diruangan vvip rumah sakit negara J.

__ADS_1


"Anak- anaknya? apa kakakku memiliki beberapa anak dokter!?" Tanya Rommi yang juga menggunakan bahasa yang sama, meskipun sedikit kaku dalam penyampaiannya pada dokter itu.


"Benar! pasien memiliki anak kembar 3. tapi kemungkinan satu anak akan mengalami cedera karena hal ini, atau kemungkinan ada kekurangan yang akan ia derita saat lahir kedunia ini nantinya." Jelas sang dokter, kepada kedua pria dihadapannya.


"Lalu bagaimana dengan Ibunya dokter, apakah dia baik-baik saja!?" Tanya Jack, yang merasa masih sangat khawatir pada Rossa saat ini.


"Ibunya baik-baik saja tuan, hanya perlu beristirahat yang banyak agar kondisinya kembali membaik. Dan kami terpaksa harus memberikan pasien obat tidur dan beberapa suplemen lainnya, agar Ibu dan anak tetap sehat dan beristirahat dengan cukup." Sahut sang dokter, agar kedua orang pria dihadapannya bisa sedikit tenang.


.


Setelah selesai berbicara pada dokter itu, kini Jack dan Rommi ingin memasuki ruangan yang Rossa tempati saat ini. Tapi tiba-tiba, Rommi menghalangi jalan Jack dari depan dengan sebelah tangannya.


"Kita perlu bicara sebentar, ikuti aku!" Ucap Rommi datar dengan mata yang menatap tajam kepada Jack.


Jack menunggu Rommi disebuah kursi santai taman rumah sakit itu, karena Rommi terlihat sedang membeli minuman tidak jauh darinya duduk saat ini.


Rommi berjalan kearah Jack sambil menyodorkan minuman kaleng ditangannya, dan duduk dikursi yang sama dengan santai.


"Kau bisa berbahasa Jerman dengan sangat pasih, apa kau sekolah dibagian bahasa?." Tanya Jack pada Rommi, yang hanya dijawab dengan mengangkat kedua alisnya oleh Rommi.


"Aku belajar dari kakakku, dia bisa berbicara bahasa asing lainnya selain ini." Jawab Rommi sambil meneguk minumannya.


"Oh, dari Rossa ya? Dia begitu cerdas ya, bahkan diusianya yang masih muda seperti ini sudah menguasai beberapa bahasa." Tanya Jack lagi, dengan tersenyum membanyangkan wajah wanita yang saat ini mereka bicarakan.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, karena kau tahu aku akan bertanyakan. Aku yakin kau pasti tahu hal ini dari sejak lama? kau tahu kalau kakakku sedang mengandung saat ini. Itulah sebabnya kau menawarkan diri untuk membawa kami bersamamu, apa kau disuruh oleh orang itu?" Tanya Rommi menatap Jack, yang kini Jack hanya tersenyum mendengar ucapan orang disampingnya.

__ADS_1


"Aku memang tahu hal ini lebih dahulu darimu, saat Ibumu meninggal Rossa juga pingsan karena hal seperti ini.. Dan, apa maksudmu disuruh oleh orang itu? Orang itu siapa maksudmu? apa yang kau maksud Mo-" Ucapan Jack terhenti, saat ada seorang wanita memanggilnya.


"Jack!.." Seru wanita itu dengan manjanya.


Jack dan Rommi serempak mengalihkan pandangan mereka kearah wanita itu, yang tadi memanggil nama Jack dengan manjanya.


"Bella! kenapa kau ada disini?" Tanya Jack, yang sedikit terkejut melihat temannya yang bernama lengkap Vania Bella itu.


"Aku sedang memeriksa kandunganku, oh ya. Siapa orang yang ada disampingmu ini? kenapa wajahnya sedikit mirip dengan Morgan!." Tanya Vania Bella masih memandang Rommi dengan intens.


"Oh, dia adik temanku." Ucap Jack pada Vania Bella, yang kini masih melihat kearah Rommi.


"Aku pamit dulu, kalian berdua lanjutkan saja ngobrolnya." Ucap Rommi, lalu beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ruangan kakaknya Rossa.


Setelah sudah jauh dari kedua orang yang ia tinggalkan tadi ditaman, Rommi mengepalkan kedua tangannya. Lalu meninju dinding yang sangat keras dihadapannya, untuk melampiaskan rasa kesalnya saat ini.


Rommi menarik rambutnya frustasi, mengingat ucapan wanita yang baru saja ia temui tadi. Kalau wanita itu juga sedang mengandung, dan dugaan Rommi itu adalah anak wanita itu bersama Morgan.


"Sialan, pantas saja kalau kau ditinggalkan oleh kakakku!. Ternyata kau juga memiliki wanita yang siap melahirkan anakmu, dan kau bilang ingin memulai semuanya dari awal dengan kakakku? Mimpi saja kau tuan muda Morgan Lois!." Oceh Rommi, yang kini masih memukul dinding dihadapannya.


........


.......


...See you all 😌...

__ADS_1


__ADS_2