
"Sepertinya kau sangat lelah hari ini, sampai- sampai mulut mu terbuka saat tidur." Ucap Morgan tertawa kecil, karena merasa lucu melihat istrinya sedang tidur dengan mulut terbuka.
Morgan menepis anak rambut Rossa, yang jatuh mengenai wajah istrinya itu. Ia kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Rossa di jalan raya beberapa minggu lalu, dan pertemuan mereka di malam pesta perayaan penyambutan nya dikampus.
"Pertama kali kita bertemu, kau sangat bahagia dan sangat riang gembira. Tapi, dipertemuan kita yang kedua. Kau terlihat sedih dan sangat kacau, sampai- sampai aku hampir tidak mengenalmu malam itu. Dan pertemuan kita yang ketiga kalinya, kita resmi menjadi suami istri." gumam Morgan manatap wajah istrinya, yang masih tertidur pulas itu.
Morgan menarik tubuh Rossa kepelukan nya, entah kenapa ia sangat takut untuk kehilangan istrinya itu saat ini.
Bayang- bayang perceraian mereka terlintas dibenak Morgan, ia semakin memeluk istrinya erat dan sesekali mencium kepala istrinya dalam diam.
"Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, entah ini karena kebutuhan penyakitku atau perasaan?. Akupun tidak tau, yang pasti saat ini. Jangan tinggal aku, jangan pergi lagi dariku tetaplah menungguku walaupun aku melukai perasaanmu. Maafkan aku sedikit egois, tapi saat ini hanya kau yang aku inginkan." batin Morgan.
Ia menyadari sikapnya tadi siang direstoran, dan juga skandal dirinya yang jadi berita utama hari ini. Morgan kembali mencium kening istrinya dengan lembut dan kasih sayang.
Betapa ia sangat marah, melihat sikap Rossa yang biasa saja melihatnya dengan wanita lain hari ini. Dan sekarang, malah menunggu dirinya dirumah sakit sampai tertidur dikursi kaku itu.
"Dasar wanita bodoh, aku akan tetap menghukum mu karena berani melarikan diri hari ini." Gumam Morgan dalam hatinya, yang menyunggingkan senyum licik dibibirnya saat ini.
Pelukan Morgan yang begitu erat membuat Rossa merasa sangat sesak, dan sulit bernapas. Ia pun membuka matanya perlahan, tapi yang ia lihat hanyalah leher dengan jakun yang naik turun dihadapan nya. Sontak saja Rossa membelalakan matanya, dan ia kembali mengumpulkan ingatan nya tadi yang sangat mengantuk.
"Mungkin aku tertidur pulas dan tidak sengaja naik keranjangnya, karena aku sangat hafal aroma maskulin ini adalah milik Beruang Kutubku." batin Rossa tersenyum.
Morgan merasakan gerakan kecil didadanya, dan langsung melihat wajah istrinya itu kebawah dagunya.
"Kau sudah bangun?" tanya Morgan pada istrinya.
Rossa pun mendongak kearah wajah suaminya, dan langsung meletakan tangan nya didahi Morgan.
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidak demam, sudah tidak panas lagi." jawap Rossa.
Morgan mengerutkan keningnya, karena jawaban istrinya itu sangat tidak nyambung dengan pentanyaan yang ia lontarkan tadi.
"Tadi tubuh mu sangat panas, dan sempat mengigau juga. Akupun memanggil dokter untuk memeriksamu, dan syukurlah kau sudah sembuh." ucap Rossa lalu memeluk suaminya.
Bibir Morgan terangkat keatas, mendengar ucapan istrinya dan sikapnya pada Morgan saat ini.
"Kau khawatir padaku?" tanya Morgan.
Deg.
Hati Rossa berdenyut kencang, seakan ada sesuatu yang menyentuh hatinya itu.
"Kalau aku mengatakan, bahwa aku sangat khawatir padamu. Apakah, itu berarti bagimu?." batin Rossa. Rossa pun teringat tentang kontrak pernikahan mereka, yang hanya sebatas bisnis saling menguntungkan saja. Dan peraturan kontrak yang Morgan buat secara lisan maupun tertulis, bahwa mereka hanya rekan saja.
"Tentu saja aku khawatir, kalau kau kenapa- napa?. Aku tidak akan punya sumber uang lagi, dan terpaksa mencari suami baru yang super kaya sepertimu." Jawap Rossa mempererat pelukannya, dan tanpa sengaja telinga Rossa berada di dada Morgan mendengar berdebaran jantungnya yang berdegup kencang.
Senyum yang membuat bibir Morgan terangkat tadi hilang seketika, mendengar ucapan yang Rossa lontarkan padanya.
"Jadi dia hanya khawatir dengan sumber uangnya?" pikir Morgan.
Morgan pun membalik tubuhnya, menjadi diatas Rossa. Ditatapnya lagi wajah itu dengan terteliti, sungguh Morgan sangat kesal mendengar ucapan istrinya itu barusan.
"Oh, ternyata kau sangat khawatir dengan sumber uangmu? kalau begitu!. Layani aku sekarang!, dan aku akan memberimu 2kali lipat." ucapnya.
Morgan pun mencium bibir Rossa dengan rakus dan sangat kasar, dan menarik pakaian Rossa sampai robek dari tubuhnya.
__ADS_1
Sungguh Rossa sangat terkejut dengan sikap Morgan yang sangat kasar itu pada, tidak seperti pertama kali mereka lakukan diVilla waktu itu. Morgan seperti pemangsa yang lapar, ingin segera menyantap buruan nya. Rossa hanya pasrah dengan semua yang Morgan lalukan padanya saat ini, ada sedikit luka dihatinya dengan ucapan Morgan yang menilainya hanya dari materi.
Rossa menutup mulutnya, ketika Morgan memaksa masuk kedalamnya. Bulir- bulir bening menetes dari mata Rossa, karena merasakan sakit yang luar biasa pada setiap sentuhan Morgan padanya.
Rossa hanya menutup matanya, entah sudah keberapa kalinya Morgan melakukan penyatuan mereka. Sampai mataharipun mulai keluar dari tempat persembunyian nya, dan Morgan pun tumbang disampingnya.
Rossa pun turun dari ranjang pasien itu, dan memungut baju mereka yang berserakan dilantai. Ia merasa sangat sakit dibagian intinya saat ini, sampai- sampai air matanya menetes lagi karena sakit yang ia rasakan. Rossa membuang pakaian nya ketempat sampah, karena sudah tidak dapat dipakai lagi. Dan segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar seperti ini dari Morgan dan membuat sedikit perasaan Rossa terkikis.
.
.
Morgan yang tadi berbaring diatas tempat tidurnya, melihat semua yang istrinya itu lakukan. Ia merasa sangat menyesal memperlakukan Rossa dengan kasar barusan sampai meneteskan air mata, tapi dirinya tidak mampu menahan rasa kesal yang menutupi mata hatinya. Karena mendengar istrinya itu akan mencari pria kaya lain nya, untuk mencari sumber uang yang baru.
"Aaarg, bodoh! bodoh!. Kenapa kau melakukan itu dengan sangat kasar padanya?, lihatlah betapa dia sangat kesakitan?." batin Morgan. Ia menarik rambutnya frustasi, betapa dirinya sangat menyesal melihat istrinya itu hanya pasrah dan sesekali mengeluarkan air matanya.
Morgan pun beranjak dari tempat tidurnya, menuju sebuah lemari pakaian untuk menutupi tubuh polosnya saat ini. Lagi- lagi bayangan air mata istrinya yang mengalir dari mata indahnya, membuat Morgan memukul lemari itu sampai tangan nya berdarah. Dengan segera Morgan memakai kemeja dan celana panjangnya yang sudah tersedia dilemari itu, dan keluar dari kamar.
Kedua pengawal yang melihat tuan mudanya keluar dari dalam ruangan, langsung menundukan kepalanya.
"Selamat pagi tuan muda." ucap keduanya serempak.
"Hm, kau antar aku kekantor sekarang juga!." jawap Morgan dingin pada salah satu pengawalnya.
"Dan kau, telepon asisten Jo untuk membawakan pakaian nyonya muda kesini." ucapnya lagi menunjuk pengawal satunya dan berlalu pergi meninggalkan Rossa sendiri diruangan itu.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yaa, tekan favorit agar tau up lelanjutnya. Terima kasih sudah mampir..😍