
Dokter Gerry mengikuti arah mata asisten Jo, yang melihat ke arah sprei yang nampak berantakan di sebelah Morgan. Sontak saja dokter Gerry membelalak kan mata nya, melihat bercak darah yang mengering itu. Sampai- sampai dokter Gerry tersedak air liurnya sendiri, karena terlalu grogi akan pemandangan itu.
"Uhuk... uhuk.. uhuuk.. eheemp."
"Anda kenapa tuan Gerry...?" tanya asinten Jo, yang baru menyadari dokter Gerry sangat dekat dengan nya saat ini.
"Memang nya kau tidak lihat aku sedang batuk? uhuk.. uhuk.. ehemp.. Tiba- tiba saja tenggorokan ku kering, karena bergadang tadi malam.." ucap dokter Gerry yang merasa canggung akan suasana sekarang, dan memilih kembali duduk di sofa tempat nya duduk tadi.
Sementara Morgan masih memijit- mijit pelipis nya dengan tangan, sambil mendengar kedua orang dihadapan nya yang sangat berisik menurutnya.
"Eemh.. tu-tuan muda, apa anda perlu sesuatu..?" tanya asisten Jo pada tuannya.
"Kepala ku sangat sakit, tadi malam ada yang ingin menjebaku. Apa kau sudah periksa bartender bar yang kusuruh..? Lalu di mana wanita itu..?" tanya Morgan yang baru sadar, saat melihat bercak darah di sampingnya yang nampak mengering.
"Eem.. a-anu tuan mu-" suara asisten Jo terhenti, karena dokter Gerry menyela ucapan nya.
"Maksudmu wanita yang bersama mu tadi malam..?" tanta dokter Gerry nampak menyeringai. "Dia sudah pulang..! bahkan dia tidak sadar. Kalau yang mengantar nya pulang, adalah pria tertampan di jagat raya ini." ujar nya membanggakan diri.
"hemp.. narsis sekali tuan muda Gerry ini." batin Jo yang merasa geli sendiri, mendengar nya sambil mengangkat bahu.
"Siapa gadis itu sebenarnya? aku akan bertanggung jawap.!" ucap Morgan yang merasa bersalah, telah memperkosa wanita malang itu semalam.
"Anda tidak perlu khawatir tuan, saya sudah tau gadis itu pergi kemana. Dan akan saya selidiki terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya, tadi malam. Dan untuk bartender tadi malam di barr, sepertinya anda sudah di targetkan tuan." ujar asisten Jo menjelaskan.
"Karena anda tidak meminum dari gelas yang di berikan bartender barr, melainkan seseorang di samping anda. Yang memberikanya kepada anda, dan kami masih nencari pelakunya." sambung asisten Jo lagi.
"Baiklah.. aku percaya pada kemampuan mu Jo, ku harap kau tidak mengecewakan ku." balas Morgan pada asistenya.
"Gerry, aku merasa kepala ku sangat sakit. Bisakah kau memeriksanya.? Setelah meminum minuman tadi malam, aku merasa tidak nyaman dan sangat sakit. Bahkan aku melakukan itu-" Ucapan morgan terputus, saat mengingat kembali wanita yang ia sentuh tadi malam.
"Wanita itu hanya menangis, tak bisa berbuat apa- apa. Bahkan untuk bicara saja wanita itu tidak bisa, apakah wanita itu juga dibius..?" batin Morgan menyadari sesuatu yang aneh, pada wanita yang ia perkosa tadi malam. Ia pun menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, dan mengacak rambut nya frustasi.
__ADS_1
Sepintas ujung mata morgan melihat beberapa helai rambut panjang di sebelah nya duduk saat ini, ia pun mengambil helaian rambut itu.
"Jo simpan ini dan ini (menunjuk sprei bekas bercak darah), untuk di jadikan barang bukti." ucap Morgan dengan tegas.
"Jadi,, kau sudah melakukan itu..? bagaimana rasanya..? apakah menyenangkan.. heemm..? bukan kah kita sudah berjanji untuk tidak melakukan ini sebelum menikah...jadi kau melanggar janjimu pada kami..?" ujar dokter Gerry yang terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya.
"Kenapa tuan Gerry sangat bodoh..! bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu..?" batin asisten Jo mengerutuki dokter Gerry, yang menurut nya tak tahu malu dan cabul itu.
"Bodoh!" seru Morgan. "Akan aku potong bonus tahunan mu kalau masih bertanya, cepat kau periksa tubuhku. Aku masih merasa tidak nyaman..!" sambung Morgan. Yang sudah tampak kesal, karena pertanyaan bodoh dari dokter Gerry padanya.
Morgan pun merasa aneh, kenapa ia tidak merasa jijik atau pun mual menyentuh gadis itu. Padahal ia sudah mencoba pada semua wanita yang pernah ia kencani, tapi selalu saja ia merasa jijik dan mual. Saat ingin melakukan kontak fisik.
"Apakah ini hanya karena pengaruh obat bius padaku tadi malam?" gumam Morgan dalam hatinya bertanya- tanya.
"Baiklah- baiklah, kau bosnya." sahut dokter Gerry.
"Hemp.. gynophobia apanya yang masih bisa bercinta dengan wanita semalaman.." gerutu dokter Gerry yang masih bisa di dengar kedua orang di hadapan nya itu.
"Aku masih mendengar nya Gerry! kau tak dapat bonus tahun ini.." ancam Morgan pada dokter, generasi ketiga keluarganya itu.
Cepat aku periksa tubuh mu.." ketus dokter Gerry yang sedang menahan kekesalanya.
☘Beberapa saat kemudian.☘
"Aku rasa kau harus kerumah sakit untuk memeriksakan ini, sepertinya jantung mu melemah!. Kebetulan papaku baru datang dari luar negeri barusan, katanya teman lamanya masuk rumah sakit dan buru- buru pulang kenegara ini." ujar dokter Gerry menjelaskan pada Morgan.
"Baiklah, aku mau membersikan diri dulu. Jo, kau siap kan sarapan. Kita kerumah Sakit setelah sarapan nanti, dan suruh orang untuk memberihkan ruangan ini." Ucap Morgan yang lalu beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.
...☘☘☘...
☘Sementara disisi lain.☘
__ADS_1
"Kita sarapan dulu Ros, aku sudah memesan makanan untuk kita makan pagi ini." ucap Silla. Yang sengaja mengalihkan perhatian Rossa dari kesedihan nya, karena sesuatu yang ingin ia sampaikan jauh lebih menyedihkan lagi dari yang ingin ia tanyakan pada Rossa.
"Asisten rumah kamu pada kemana Sill..?" tanya Rossa yang tampak celingak celinguk, mencari beberapa asisten rumah tangga sahabat nya itu.
"Aku sengaja menyuruh mereka pulang kalau malam, dan jam 7pagi ini baru mareka datang. Jam 5 sore balik lagi kerumahnya, mereka kan juga punya keluarga. Aku enggak tega aja, melihat anak- anak mereka masih kecil." ucap Silla sambil menyendokan makanan kemulutnya.
"Pantas saja sepi sekali, ternyata kamu baik banget Sil seperti malaikat saja." ucap Rossa sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
"Iya- iya, aku inikan malaikat tanpa sayap buat semua orang." ucap Silla sambil mengedipkan matanya, dan meletakan kedua tangan nya di bawah dagu. Bersikap unyu, dan menggemaskan didepan Rossa.
"Pfuufs.. bhahaha.. mana ada malaikat seperti itu?" gelak Rossa yang mulai tertawa melihat tingkah Silla yang menggemaskan.
"Setidaknya kamu tertawa sekarang Ross, karena nanti kamu pasti akan menangis lagi." batin Silla. Ia tersenyum melihat sahabatnya itu tertawa lepas sekarang.
"Sudah- sudah, sekarang kamu makan dulu. Nanti makanan nya keburu dingin." ucap Silla.
"Iya, nih aku makan." sahut Rossa yang mulai menyantap makananya.
"Ooh iya Sill, ponsel ku sama kamu kan semalam..?" tanya Rossa, ketika makanan mereka sudah habis.
Silla hanya diam, karena binggung menjawap pertanyaan Rossa yang sengaja ingin ia hindari.
"Sill.., Silla, kamu dengar aku bicara enggak sih..? Ponsel aku, kamu bawa kan semalam waktu aku pergi ke toilet?" tanya Rossa lagi.
"Ross, kamu harus sabar yaa. Aku akan selalu ada buat kamu bersandar!" ucap Silla menepuk bahu nya sendiri.
.
.
Mungkin bab selanjut nya akan berbeda cara bicaranya, karena novel ini sedang di revisi oleh Author pemula..
__ADS_1
Makasih sudah mampir..🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍 See you😘