
...Sebelum baca, like dulu yaa👍terima kasih😍...
.
.
Hari sudah mulai petang, Rossa dan Silla baru saja mengikuti pelajaran kedua dari dosen bimbingan nya. Dan mereka berdua memilih untuk istirahat ke cafe, dekat kampusnya.
"Huhp.. akhirnya kelar juga, kalau tidak!. Bisa- bisa kita tidak dapat nilai." ucap Silla pada sahabat nya Rossa.
Tapi Rossa hanya memandang keluar kaca cafe itu, seperti mencari sesuatu di luar sana.
"Kamu lagi cari siapa Ros?" tanya Silla. Yang juga ikut melihat keluar cafe, dari kaca tembus pandang itu dari dalam sebuah ruangan.
Rossa baru sadar, kalau ia tidak mendengar perkataan sahabatnya barusan.
"Eh iya, kau bilang apa tadi Sil?" ucap Rossa malah bertanya pada Silla.
Silla mengerutkan keningnya, karena dari mereka pulang dari restoran tadi siang. Rossa selalu melamun, dan tidak konsentrasi dalam pelajaran.
"Rossa.." ucap Silla datar, menatap wajah sahabatnya itu.
Rossa pun tertegun, karena kalau sampai sahabatnya itu menyebut namanya seperti itu. Berarti dia sedang serius, menanyakan sesuatu pada Rossa.
"Dari pesta kampus malam itu, kau belum menjelaskan apapun padaku.! Apa kau masih menganggap ku sebagai sabahabat mu selama ini?" ucap Silla dengan kedataran di wajahnya.
Deg.
Jantung Rossa berdegup, mendengar ucapan sahabatnya itu.
Silla sudah sangat penasaran, dengan sesuatu yang sahabat nya itu sembunyikan darinya. Ia sengaja berbica seperti itu pada Rossa, karena Silla tau itu lah jalan satu- satu agar Rossa mau bercerita padanya.
"Bukan begitu Sil, ta- tapi a-aku..!!" seru Rossa dan tak mampu untuk meneruskan ucapan nya.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang tak ada artinya dimatamu selama ini Ros!" hardik Silla. Ia pun sengaja meraih tasnya, dan ingin beranjak dari tempatnya duduk untuk pergi.
Semua orang yang ada di cafe itu, melihat kearah mereka berdua.
Rossa yang melihat sahabatnya itu ingin pergi, langsung menahan tangan Silla.
"Sill, aku memang ingin menceritakan semuanya pada mu. Hanya saja waktunya tak ada yang tepat, dan kita berdua baru saja bertemu hari ini." ucap Rossa yang masih memegang tangan sahabat satu- satunya itu.
Silla masih mematung ditempat nya berdiri, dan suara orang- orang yang melihat mereka berdua mulai berbisik- bisik tidak jelas karena tidak tau masalah apa yang sedang Silla dan Rossa bahas.
"Sebaiknya kita berdua ketempat lain saja Ross, di sini terlalu berisik.!" ucap Silla, yang melirik orang- orang dengan ujung matanya.
"Baiklah, aku akan mengikutimu." jawap Rossa. Dan meraih tasnya, ia pun meletakan uang diatas meja. Untuk membayar minuman yang baru saja mereka pesan, dan belum sempat diminum sedikitpun.
Rossa pun melupakan Pa Lim yang ia cari- cari tadi didepan pintu gerbang kampusnya, yang ingin menjemputnya di tempat ia turun tadi siang.
Dan sekarang Rossa hanya mengikuti Silla dari belakang, dan masuk kemobil Silla yang ingin membawanya entah kemana untuk bercerita.
Di perjalanan, Rossa dan Silla hanya saling diam. Tidak ada yang memulai untuk berbicara seperti biasanya, hanya hening yang menemani mereka.
Dan setelah beberapa menit, Rossa melihat jalan yang tidak asing baginya. "Jadi kita kerumah mu Sill?" tanya Rossa pada sahabatnya itu.
"Hm." jawap Silla.
Rossa pun mengalihkan pandangan nya dari jalanan ke wajah sahabatnya itu.
"Kau marah padaku Silla?" tanya Rossa lagi, sambil menatap wajah datar sahabatnya itu.
"Menurutmu?" jawap Silla. Yang hanya fokos pada jalan didepan nya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah Sill!, tapi sungguh!. Aku- aku memang ingin menceritakan semua nya padamu, hanya saja-" lirih Rossa tertahan, karena ia tidak mampu meneruskan ucapan nya. Dirinya yang sudah mulai melupakan tentang kejadian malam itu, kini mengingat kembali hal terburuk itu dalam hidupnya. Tubuh Rossa bergetar karena menahan tangisnya, bulir- bulir bening kini mulai menetes dari kedua mata indahnya itu.
"Kamu kenapa menangis Ross?" tanya Silla yang melepaskan sabuk pengaman nya, karena mereka berdua sudah sampai di depan rumah Silla saat ini.
__ADS_1
"Kita berdua bicara didalam, kebetulan malam ini Samuel pergi keacara rekan bisnisnya! jadi tidak ada orang dirumah." sambung Silla. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Rossa yang seperti itu, tapi keingin tahuan nya akan masalah Rossa membuatnya harus sengaja memperlakukan sahabatnya seperti itu. Agar Rossa mau membagi kesedihan dengan Silla, dan sama- sama mencari jalan terbaik bagi Rossa sendiri.
Rossa yang mendengar ucapan Silla hanya mengangguk, ia pun keluar dari mobil dan mengekori Silla masuk kerumah mewah nya.
...☘Sementara di sisi lain.☘...
Seorang pria melonggarkan dasinya kasar di sebuah balkon hotel bintang 5 yang sangat ramai itu, ia baru saja menerima kabar yang membuat suasana hatinya menjadi kacau.
"Bodoh! kenapa orang tua itu baru mengatakan nya sekarang?" bentak Morgan pada asisten nya Jo.
"Pa Lim sudah menunggu nyonya muda hampir 2 jam di depan kampusnya tuan muda, tapi nyonya muda belum juga keluar. Dan Pa Lim masuk kedalam kampus untuk menanyakan nyonya muda pada beberapa dosen disana, dan mereka mengatakan kalau nyonya muda sudah pulang dari dua jam yang lalu." ujar asisten Jo. Yang menyampaikan berita tentang kehilangan nyonya muda nya dari Pa Lim.
Pria itu pun menghubungi ponsel istrinya yang baru saja ia berikan beberapa hari lalu, tapi.. ponsel itu hanya berdering.
"Ck, kemana wanita itu? berani- beraninya dia tak mengangkat telepon ku!" batin Morgan yang sedah sangat geram pada istrinya itu.
"Kau cari dia sampai dapat sekarang juga!, aku akan pulang bersama Pa Lim 30 menit lagi." ucap Morgan yang membenarkan kembali dasi dan pakaian nya.
"Baik tuan muda!" sahut asisten Jo berlalu pergi.
Morgan kembali mengingat seorang pria dan wanita yang bersama Rossa siang tadi, ia memcoba mengingat kedua wajah itu. Tapi.. ia sama sekali tidak memperhatikan kedua wajah itu, karena yang ia perhatikan hanyalah wajah Rossa.
"Sial." umpatnya.
Pria itu pun melihat kearah pergelangan tangan nya, dan menatap benda bulat itu. "Sekarang sudah hampir jam 9 malam, kemana dia pergi selarut ini." gumamnya.
...☘☘☘...
Rossa sudah menceritakan pada Silla semua yang ia alami malam itu, dan juga menerima pernikanhan nya dengan Morgan. Dan segala alasan nya, hanya ingin mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya dan juga status perceraian nya nanti.
"Apa kau masih mau berteman dengan ku? yang seorang kotor ini Sill?. Apa kau jijik sekarang?" tanya Rossa lirih dengan air mata nya.
Silla beranjak untuk memeluk sahabatnya itu, ia juga ikut merasakan perasaan yang begitu hancur saat sahabatnya terpuruk. Silla berpikir, betapa kuatnya hati Rossa saat menerima musibah yang menimpanya saat itu.
__ADS_1
"Tak sedikit pun aku membedakan dirimu yang dulu atau pun yang sekarang Ross, karena kau adalah sahabatku! teman sejatiku." ucap Silla yang memeluk Rossa sambil menagis, betapa ia sangat iba dengan sahabatnya itu sekarang.