Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Suamiku.


__ADS_3

"Aku kekamar mandi dulu Vi!." ucap Rossa pada teman nya itu sendu.


Rossa berjalan kekamar mandi, ia ingin menenangkan perasaan nya yang begitu sakit saat ini.


Entah kenapa ia merasa lukanya kembali terbuka, setelah semua yang ia lewati sudah berlalu. Kini ia kembali kemasa, dimana perasaan dihatinya begitu sakit lagi.


Kini Rossa sudah memasuki kamar mandi kantornya, dan duduk diatas toilet. Rossa memukul dadanya dengan tangan, agar sesuatu yang mengganjal disana bisa kembali normal dan tidak sakit lagi. Ia merasa sangat tidak berarti dimata Morgan, sampai- sampai tidak pernah lagi menghubunginya walau hanya mengirim pesan singkat saja.


Rossa menyadarkan kepalanya kedinding, dan tanpa sengaja air matanya jatuh perlahan di kedua pipinya. Ia ingat beberapa waktu lalu saat dirinya berjalan- jalan diVilla besar itu.


Tanpa sengaja dirinya memasuki ruang baca Morgan, dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi ruangan itu. Yang dipenuhi foto model kelas dunia yang bernama Vania Bella, yang sangat banyak di ruang baca suaminya. Dan ada juga beberapa foto mereka waktu kecil sampai dewasa, menghiasi ruangan itu.


Bagaikan disambar petir!, itu sangat sakit dari pada putus dari Alvan kekasihnya dulu. Tapi Rossa mencoba tetap tersenyum melihat semua isi ruangan indah itu dan mengelilinginya, tanpa sengaja ia melihat foto desain bangunan villa yang ia tinggali saat ini. Ada beberapa kata difoto itu, dan sebuah keinginan bahwa itu adalah tempat tinggal orang itu ketika mereka menikah nanti. Yang tidak lain adalah permintaan Vania Bella ketika mereka masih remaja, disaat sekolah menengah pertama.


"Kenapa aku jadi seperti ini?, bukankan hubungan kami hanya sebatas kontrak!?. Kenapa aku jadi sakit hati, gara- gara melihatnya bersama wanita lain. Aku pernah melihat foto kekasihnya itu diruang bacanya, ternyata benar yang dikatakan orang- orang. Morgan sangat mencintai kekasihnya itu, dan Villa yang aku tinggali saat ini. Ternyata juga untuk kekasihnya itu, betapa beruntungnya wanita itu. Sudah cantik, seorang model kelas dunia. Bahkan mereka juga dari kalangan yang sama, tidak seperti diriku. Aku hanya seorang yang kotor dan tidak sengaja bertemu Morgan untuk jadi istri kontraknya, dan menjual harga diriku padanya demi uang. Kalau Morgan ingin menceraikanku setelah dia sembuh nanti, aku harus siap dan berterima kasih padanya. Bukankah itu bagus?, kalau dia sudah sembuh berarti aku bisa bebas. Dan juga biaya pengobatan ibu sudah bisa aku bayar sendiri dari gajihku, begitu juga uang sekolah Rommi. Untung saja aku sudah mencicil sebuah apartemen untuk kami tinggal atas nama Rommi, kalau tidak. Mungkin aku harus tinggal dirumah kontrakan lagi, yang sangat kumuh itu setelah bercerai nanti." batin Rossa.


Rossa pun berdiri, ia ingin dirinya tidak memikirkan tentang Morgan lagi. Yang kini mungkin saja sedang memadu kasih bersama kekasih masa kecilnya itu. Ia menyapu air mata yang tadi membasahi pipinya, dan mengepalkan tangan nya kuat.


"Rossa!!!, aku harap ini adalah air mata terakhir yang kau leluarkan untuk suamimu, dan selanjutnya. Kau harus memikirkan masa depanmu sendiri!, karena cepat atau lambat pernikahan kontrak ini akan berakhir." seru Rossa berbicara dalam hatinya untuk tegar.


"Semangat Rossa, jadilah dirimu sendiri. Dan jangan memperdulikan yang bukan urusanmu." batin Rossa menyemangati dirinya sendiri.


Rossa pun keluar dari kamar mandi toilet, lalu mencuci wajah nya di wastafel kamar mandi itu. Ia sengaja melakukan itu, agar mata sembabnya tidak kelihatan habis menangis tadi. Rossa menatap lagi wajahnya dicermin, yang kini ditumbuhi jerawat di dahinya.


"Ih, kenapa jerawat ini tumbuh disini?." Tidak biasanya aku ditumbuhi jerawat seperti ini, aku harus mencari salep kulit nanti agar cepat kempes." batin Rossa ngeri melihat jerawatnya begitu besar yang ditutupnya dengan rambut.


Rossa pun keluar dari kamar mandi dan kembali kedapur kantor mereka, karena tadi ia lupa membawa tasnya untuk memoles sedikit wajahnya yang agak pucat.


"Kamu masih disini Vi?." tanya Rossa pada teman nya itu.

__ADS_1


"Hemm, aku belum menghabiskan makananku." jawabnya.


Rossa meraih tasnya lalu duduk disebelah Vivi untuk memoles wajahnya, dan menambahkan sedikit pewarna bibir agar tidak terlalu terlihat pucat.


Vivi yang masih makan senyum- senyum sendiri, melihat Rossa yang ada di sebelahnya. Rossa menyadari, tingkah teman nya itu yang sedikit aneh menurutnya.


"Tadi suamimu menghubungimu berulang kali, jadi kamu sudah punya seorang kekasih hump?." Tanya Vivi pada Rossa, sambil mengangkat kedua alisnya.


Deg.


Jantung Rossa kembali berdetak kencang, mendengar ucapan Vivi padanya.


"Apa maksudmu..?" ucap Rossa malah kembali bertanya.


Vivi terkekeh mendengar pertanyaan Rossa padanya, karena tadi ia tidak sengaja melihat ponsel Rossa berdering di sebelahnya.


Rossa tersipu malu mendengar ucapan Vivi padanya, ia langsung meraih ponselnya di atas meja yang ia letakan sewaktu mereka baru datang tadi. Dan ada tiga panggilan takterjawab, dari nama kontak Suamiku!.


"Setelah sekian lama tidak pernah menghubungi ku, baru sekarang dia ingat?. Aihss.., rasanya aku ingin marah saja dan mengabaikannya. Tapi.., biar bagaimana pun dia suamiku. Aku akan tetap memberikan yang terbaik untuknya, dan menjadi istri terbaik yang pernah dia temui." batin Rossa mengomel sendiri.


Rossa pun menekan kontak suaminya, dan meletakan ponselnya ketelinga. Tapi.., nomor yang ia tuju saat ini sedang sibuk!. Dan dalam panggilan lain, Rossa pun menarik napasnya lalu membuangnya kembali. Karena hatinya kembali terasa sesak, dan berdenyut seakan sesuatu tengah menariknya ingin keluar.


"Kenapa kamu terlihat kecewa, apa suamimu tidak mengangkatnya?." tanya Vivi ingin tahu.


"Hm, sepertinya dia sibuk." jawab Rossa kecewa.


"Jadi benar!, kamu sudah bersuami?" pekik Vivi.


Semua orang yang berada diluar ruangan kaca itu menoleh pada mereka berdua, termasuk Limo yang baru saja kembali dari restoran depan kantor mereka.

__ADS_1


"Hm, benar." jawab Rossa menganggukan kepalanya.


Limo tercekat di depan pintu ruang kerjanya, mendengar pengakuan Rossa. Kenop pintu yang sudah ia pengang tadi, ia remas dengan sangat kuat.


"Tentu saja dia sudah menikah, karena suaminya itu adalah kakek- kakek yang sangat kaya. Beberapa bulan lalu dia baru putus dari Alvan Alexsander, yang terkenal sangat kaya dikota ini. Dan beberapa hari setelah ia putus, tiba- tiba dia diantar oleh kakek- kakek tua memakai limosin ke kampus. Siapa tau, dia simpanan pria kaya yang sudah beristri!." sahut Linda dari luar ruangan kaca itu.


Kini bisik- bisik mulai terdengar ramai, karena waktu makan siang sudah berakhir dan memasuki jam kerja.


Vivi yang ingin membalas perkataan Linda ditahan oleh Rossa, karena ia tau. Itu hanya membuat keadaan semakin buruk, dan membuat masalah baru untuknya.


"Linda, bisakah kau tidak membuat masalah dalam sehari saja?. Kalau kau masih ingin bekerja disini!, maka jangan ikut campur dalam urusan orang lain." bentak Limo pada adikanya itu. Ia pun masuk kedalam ruangan nya, lalu menutup pintu dengan sangat keras!.


Braaak...


Semua orang kaget mendengar bentakan dari manajer mereka itu pada adiknya, karena selama ini Limo selalu bersikap ramah dan selalu berbicara lembut pada semua orang.


"Maaf ya Rossa, gara- gara aku. Kamu harus seperti ini, dan menanggung malu." ucap Vivi pada teman nya itu merasa bersalah.


Rossa hanya menganggukan kepalanya tersenyum, lalu membereskan semua barang- barang nya diatas meja makan itu.


"Cih, sangat memuakkan." ucap Linda menatap tajam Rossa dan Vivi.


.......


.......


...Perjalanan cinta, baru dimulai.❤🔥...


Selamat membaca..😍 Jangan lupa tinggalkan jejak di 4 kolom terakhir yaa. Terima kasih.😘

__ADS_1


__ADS_2