
Rossa berusaha untuk menenangkan diri nya, ia merasa terlalu emosi untuk mengatakan hal yang seharus nya tidak ia katakan. Tapi itu memang benar adanya, bahwa ia tidak lagi suci. Garis besarnya adalah, sudah tidak lagi perawan.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang paman sampaikan, aku pamit dulu paman, terima kasih paman telah merawat ibu ku selama ini.." ucap Rossa yang berdiri menundukan kepalanya.
"Itu sudah tugas paman sebagai seorang dokter Rossa, tidak perlu sungkan. Kau sudah ku anggap seperti keponakan ku senderi.." sahut dokter Martin manatap Rossa iba. Ia begitu kasihan pada anak sahabatnya itu, hingga tidak tega mendengar tangisan nya.
"Aku akan menemui ibu sekarang, sekali lagi terima kasih paman."
"Baik lah. , ajak ibumu membicarakan hal yang menyenangkan. Agar kemauan nya untuk sadar lebih meningkat.." ucap paman Martin menyentuh kepala Rossa sambil tersenyum.
Hati Rossa kembali terenyuh, oleh sentuhan tangan dokter Martin yang menyentuh kepalanya. "Andai saja ayah masih hidup, ia juga pasti melakukan hal ini pada ku." batin Rossa kembali menagis.
Rossa dan Silla pun keluar dari ruangan itu, lalu menuju ruangan ibunya dirawat.
Tak lama setelah kepergian Rossa dan sahabatnya Silla, dari ruangan dokter Martin. Gery, Morgan dan asisten Jo pun masuk keruangan Dokter Martin.
"Pa.. kau tidak pulang semalaman ini..?" tanya dokter Gerry yang melihat ayah nya masih berada di ruang kerjanya.
"Hemm.." sahut dokter Martin mangangkat kepalanya.
"Hei.. bukan kah ini pembisnis muda yang berbakat itu..? Apa gerangan mu datang kesini tuan muda Morgan..?" tanya dokter Martin yang bernama asli Martin Gerdiandra itu.
Morgan hanya tersenyum dan duduk di sofa dengan anggun, selayak nya seorang model. "Tak heran banyak orang yang mengagumi nya, ia begitu sangat tenang. Peringai wajah nya tidak bisa di tebak..!" batin dokter Martin yang melihat morgan begitu tenang.
"Kenapa papa masih belum pulang.?" tanya dokter Gerry lagi pada papanya dokter Martin.
__ADS_1
"Aku menginap di rumah sakit karena teman lama ku mengalami gagal jantung, hingga menyebabkan ia tak sadarkan diri dan berakhir koma.." jelas dokter Martin pada anak nya Gerry.
Sontak saja Morgan, asisten Jo dan juga dokter Gerri menatap satu sama lain mendengar hal itu.
Hingga Morgan membicarakan nasip dirinya pada dokter Martin.
"Paman, kedatangan ku kemari ingin memeriksakan diri. Karena aku merasa jantungku terus berdetak laju, dan perasaan yang tidak nyaman.. Singkat nya, tadi malam aku di serang dan dijebak menggunakan obat pembangkit gairah yang sangat besar reaksinya." ungkap Morgan pada dokter Martin
"Baiklah, aku akan memekriksa mu sekarang. Tapi terlebih dahulu kau keluarkan air kencing mu dibotol ini untuk diperiksa.." ucap dokter Martin yang menyerahkan botol panjang kecil pada Morgan.
Tak perlu menunggu lama, Morgan pun sudah berbaring di atas kasur brankar rumah sakit A yang merupakan milik ayah nya itu. Dan tentu nya, akan diwariskan kepada anak satu- satu laki- laki di keluarga Lois ialah dirinya sendiri.
"Kau sangat kuat bisa bertahan nya sampai sekarang, seharusnya kau masih ingin melakukan hubungan intim dangan lawan jenismu sampai sekarang.. Dan lihatlah jonior mu tidak bisa tidur, ia selalu berdiri tegak untuk mencari trobosan.." ucap dokter Martin yang masih sibuk memeriksa denyut jantung Morgan.
"Apakah ini sangat bahaya bagi kesehatan ku paman..? Aku merasa dadaku sangat sakit. Dan daerah itu sangat menyiksa ku." ucap Morgan yang terlihat sedikit menderita, karena beberapa kali jonior nya diSelintik karena pemeriksaan.
"Kalian berdua tidak akan mendapatkan bunos tahunan kalian., keluar!." bentak Morgan pada kedua orang sahabatnya dan juga asisten nya, yang hampir terkencing-kecing dicelananya menahan tawa..
Asisten Jo dan dokter Gerry yang mendengar bentakan menyeramkan itu, sontak saja menghentikan tawanya dan segera keluar dari ruangan dokter Martin.
Disaat kedua nya sudah diluar ruangan, mereka berdua tak mampu lagi menahan tawanya..
"Phuwahahahahaha... kau dengar tuan muda mu itu jo? dengan gayanya yang anggun kala berjalan dan wajah datar nan dingin itu juga sangan takut diperiksa.. hahahaha.. apalagi kalau disuntik" ucap dokter Gerry yang tak bisa berhenti tertawa.
Sementara, Morgan yang berada di dalam ruangan itu masih bisa mendengar ucapan dokter Gerry pada asisten nya Jo. Yang nampak juga, tak dapat menahan tawanya. "Awas saja kalian berdua." batin Morgan geram sambil mengepalkan kedua tangan nya murka.
"Tuan muda Morgan,..! anda jangan mengeraskan diri. Kalau tidak, anda akan sangat menderita lagi dani ini." ucap dokter Martin panik, melihat Morgan yang nampak mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
Setelah diberikan obat penenang, Morgan tampak bisa mengontrol dirinya sendiri yang mulai berbaring di kasur rumah sakit diruangan vip itu.
"Paman Gerdian, bagaimana hasil seluruh nya.." tanya Morgan yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik dirinya.
"Sebelumnya Saya minta maaf tuan muda.. Anda terkena virus yang bisa membuat anda lupa akan diri anda, dan bisa kapan saja tidak bisa mengontrol emosi-." Dokter Mantin terdiam sebentar, lalu meneruskan ucapan nya lagi.
"Sepertinya, anda harus segera mencari wanita yang mau melayani anda melakukan hubungan intim setiap saat yang anda inginkan. Karena kami masih belum bisa menemukan obat untuk anda tuan muda.." ucap dokter Martin.
Morgan yang mendengar itu tampak menarik rambutnya frustasi, "Siapa yang berani mengganggu ku maka tak ada ampunan untuk nya hidup.." batin Morgan tampak lebih murka lagi.
"Berapa lama aku harus menunggu penawarnya selesai kalian buat..?" tanya Morgan menatap wajah dokter Martin/Gerdiandra.
"Kira- kira sekitar 2tahun tuan muda.." ucap dokter martin.
"Apa? 2 tahun.. kenapa sangat lama paman. Apakah kalian dirumah sakit ini kekurangan peracik obat..?" tanya Morgan yang tak terima kalau harus menunggu sampai 2 tahun jonior nya on terus.
"Tuan muda Morgan.. Virus yang ada dalam tubuh anda sudah mendarah daging. Ini adalah virus pertama yang pernah dikeluarkan di dunia, Virus ini berasal dari negara Z. Apakah tuan muda sudah menyinggung tetinggi negara Z..?" tanya dokter Martin.
"Aku belum pernah berhubungan bisnis dengan negara Z, bagaimana bisa virus ini tertuju untuk ku..? Kecuali ini adalah perbuatan orang terdekatku.." pikir Morgan lagi.
Apakah tidak ada cara lain paman, selain berhubungan dengan wanita..? Kau tau aku Fobia dengan wanita, mana mungkin aku melakukan nya. Kecuali.." ucapan Morgan terhenti, kala ia mengingat hubungan panas nya dengan wanita itu tadi malam.
.
Part selanjutnya masih dalam revisi, mungkin akan ada perubahan sedikit dari bab sebelum nya.
***Jangan lupa like, komen dan favorit yaa .. Yuk semangati Author dengan memberi hadiah atau vote.. itu sangat berarti buat author semangat..😍
__ADS_1
Maafkan typo bertebaran 🤧***