
Dan deru napas pun mulai terdengar ditelinga keduanya, ciuman yang mampu merobohkan dinding rindu itu mulai semakin dalam!. Sampai-sampai Rossa mendorong tubuh besar diatasnya itu, yang kini seakan terbakar hasrat cinta.
"Huh.."
"Huh.."
"Huh.."
Suara keduanya saling bersahutan, setelah bibir itu terlepas.
"Maaf sayang, aku khilaf!." Ucap Morgan, yang kini meletakkan dahinya dikening Rossa.
"Hmm, a-aku merasa sesak. Bisakah kau pindah tempat, a-aku tidak bisa bernapas dengan leluasa." Jawab Rossa pada Morgan dengan terbata-bata, yang kini masih mencari udara untuknya hirup.
Morgan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia tahu kalau wanitanya ini sangat pemalu. Malu-malu tapi mau, pikir Morgan dalam benaknya.
Yang membuat ia ingin tertawa saat memikirkannya, istrinya masih polos seperti dulu. Tak pernah berubah, walaupun waktu memisahkan kan mereka beberapa lamanya.
Kini Morgan sadar, bahwa cintanya pada Rossa istrinya sangatlah besar. Bukan hanya sekedar membutuhkan penghangat ranjang saja! melainkan teman hidupnya sepanjang masa dan selamanya.
Sampai masa tua dan akhirnya menutup mata, tetap bersama apapun yang terjadi nantinya. Morgan menarik sedikit kepalanya untuk melihat wajah istrinya, yang ia sangat tahu pasti sudah sangat memerah karena malu.
Dan benar saja! wajah Rossa kini bagaikan buah tomat yang sudah matang. Membuat Morgan semakin gemas pada istrinya itu, yang semakin membuatnya tergila-gila setiap harinya.
"Baiklah, aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu. Kau tidur saja, karena beristirahat dengan cukup anak-anak kita juga akan semakin sehat. Kau juga akan semakin kuat sayang, karena malam ini kita akan melakukan hal itu!. Siapkan dirimu dengan beristirahat yang cukup, dan makan yang banyak." Bisik Morgan ditelinga Rossa, yang dengan sengaja menggoda istrinya itu.
Wajah Rossa semakin memerah karena godaan dari suaminya, yang ia pikir semakin pintar menggombal sekarang. Sampai-sampai Rossa memalingkan wajahnya kesamping, karena tak mampu menatap wajah suaminya saat ini.
Sedangkan Morgan menahan tawanya melihat wajah sang istri, yang semakin memerah akibat ulahnya sendiri. Entah itu karena kepolosan istrinya atau memang istrinya itu membayangkan yang ia ucapkan tadi, Morgan pun tak tahu.
__ADS_1
Tapi yang jelas Morgan sangat menikmati moment saat ini, yang membuat jiwa dan raga yang seakan berada disyurga keindahan dunia.
Sehingga ia tidak mau lagi pergi jauh dari istri dan anak-anaknya, yang merupakan kehidupannya saat ini dan sampai dirinya menutup mata nantinya.
"Kau semakin menggemaskan sayang! baiklah. Aku mandi dulu, kau beristirahat saja dengan baik." Ucap Morgan, yang kini mulai beranjak dari tempat tidurnya.
Morgan pun masuk kebatroom, untuk membersihkan dirinya. Dan suara gemercik air pun terdengar samar-samar ditelinga Rossa, yang kini masih berbaring diatas tempat tidur ternyaman yang pernah ia jumpai dari tempat tidur lainnya.
"Ya tuhan! kenapa dia sekarang sangat pandai menggombal? Bukan kah dulu dia sangat dingin? dan ucapannya selalu saja menyakitkan hati!. Tapi, sekarang dia selalu berkata aneh!. Yang membuatku selalu salah tingkah didekatnya, apa lagi itu tadi sangat!? Aaaarrrg.." Batin Rossa meronta, saat dirinya dan Morgan tadi masih saling bertaut bibir.
Tapi tangan Morgan sudah menjelajahi tubuhnya, yang membuat dirinya mengeluarkan suara-suara aneh sedikit demi sedikit. Hingga dirinya mendorong tubuh suaminya itu, agar mau melepaskan dirinya yang masih sangat cangung saat ini.
Rossa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, perasaan aneh yang dulu ia rasakan kini hadir kembali dalam jiwanya. Entah perasaannya itu karena senang suaminya sadar dari komanya, atau karena disentuh oleh suaminya Rossa pun tidak tahu.
Tapi perasaannya saat ini sangat bahagia, karena doa-doanya terkabul untuk bisa bersama suaminya lagi.
.
.
Disisi lain.
"Alvan! gue mau bicara sama lo!." Ucap Jessica menarik tangan Alvan, yang kini sudah berada dilantai 2 mansion keluarga Lois di negara J.
Alvan menghentikan langkahnya, tanpa memalingkan wajahnya melihat kearah wanita yang tidak lama lagi akan berstatus istrinya itu.
"Gue tau lo masih suka sama Rossa mantan kekasih lo itu, tapi please Al! Saat ini gue mengandung anak lo, dan mulai saat ini lo harus lupain dia!. Karena kita sekarang keluarga besar, dan Rossa itu saat ini sudah jadi istri Om Morgan!. Lo harus sadar Al, lihat gue please!!." Ucap Jessica yang kini masih memegang tangan Alvan, dengan kedua tangannya.
Alvan memejamkan matanya, kata-kata Jessica memang benar adanya. Tapi hati Alvan masih tidak terima, kalau Rossa tidak dapat ia miliki.
__ADS_1
Wanita yang sangat ia cintai malah menjadi istri oleh pamannya sendiri! sungguh konyol takdir cintanya. Yang mempermaikan rasa dan asa yang ia miliki saat ini, disatu sisi dirinya mencintai Rossa.
Tapi disisi lain wanita yang ia cintai itu terlihat sangat bahagia bersama pamannya, yang jelas- jelas seperti orang yang juga mencintai pamannya itu.
Dan sekarang! dirinya telah terjebak dalam permainan yang mana tidak ada pilihan lain. Selain menikahi Jessica, dan bertanggung jawab terhadap kandungan Jessica saat ini.
Hati Alvan seakan hancur tanpa bekas, karena perjalanan hidupnya begitu sangat menyakitkan baginya.
"Al please, look at me!." Ucap Jessica, tunangan Alvan sejak kecil itu.
Alvan pun membalikkan tubuhnya, kearah Jessica berdiri saat ini. Dengan raut wajah yang sama sekali tidak bersahabat, atau pun ingin berbicara hati kehati pada tunangannya itu.
"Al, kau masih memikirkan wanita itu?." Tanya Jessica tanpa ragu, karena dengan hanya melihat wajah Alvan. Jessica sudah tahu, arti dari wajah ketidak sukaan Alvan akan pertanyaannya.
"Jess! sudah berapa kali aku katakan. Jangan membahas hal yang aneh- aneh disini, dan satu lagi!. Lepaskan tanganmu dari tanganku, aku tidak suka kau seperti ini." Ucap Alvan dingin pada Jessica, tanpa melihat kearah orang yang ia ajak bicara saat ini.
"Al, gue.. Gue mau, mau hoek.. hoek.. hoek.. bbhaaaarr..." Jessica berhasil mengeluarkan muntah pelangi dihadapan Alvan dengan banyaknya, sampai-sampai mengenai pakaian Alvan dan seluruh tubuh bagian depannya.
"Astaga! Jessicaaaa.. Sudah berapa kali aku katakan, kalau kau merasakan ingin muntah cepat pergi kekamar mandi!. Bukan sembarang tempat membuangnya, apa lagi dihadapanku!." Bentak Alvan kesal bukan main pada wanita dihadapannya saat ini, karena sudah berulang kali dirinya harus seperti ini karena ulah wanita dihadapannya saat ini.
"Al, hiks.. hiks.. hiks.. Lo tega sama anak yang lo titip dirahim gue ini? lo tega sama gue yang udah sangat letih ini harus menerima semua ini hanya karena ke egoisan lo? Enggak punya perasaan atau apa sih lo Al!? gue kaya gini gara- gara lo banjingan.." Ucap Jessica dengan isak tangisnya, pergi berlari kekamarnya yang tidak jauh dari kamar Alvan di lantai 2 mansion keluarga Lois.
Alvan mengangkat tangannya keudara, ingin dirinya berteriak memanggil wanita yang tadi ia marahi. Tapi lidah ingin menyebut nama Rossa, sehingga membuat dirinya sendiri terdiam tanpa tahu harus berbuat apa lagi.
Karena saat ini dirinya dalam delema hati yang berkepanjangan tanpa batas.
...☘☘☘...
...See you all 🤗...
__ADS_1