
"Terima kasih.., terima kasih sudah mau jadi sahabatku Sill.." lirih Rossa yang hampir tidak terdengar oleh Silla.
Silla tau sahabatnya ini pasti akan memendam penderitaannya sendiri, Silla tau kalau Rossa tidak ingin menyusahkan orang lain. Jadi ia memilih untuk tidak memaksa Rossa, menceritakan semua kesedihannya sekarang ini.
"Iya Ross, maaf ya. Tadi aku emosi sama kamu, sekarang lebih baik kita kerumah sakit terlebih dahulu." ucap Silla pada sahabatnya itu.
Silla mengangkat kedua bahu Rossa untuk berdiri, ia ingin menenangkan Rossa agar lebih kuat lagi untuk menghadapi semua cobaan yang menimpanya.
"Sudah.., kamu harus kuat Ross. Jangan menangis lagi, ingat Ibu sama adik kamu. Mereka masih menunggu kamu sekarang, dan aku juga akan menemanimu apapun yang terjadi. Jadi kamu harus kuat, dan semangatkan Ibu kamu yang masih terbaring koma dirumah sakit. Kamu tau, orang koma itu masih bisa mendengarkan?." Tanya Silla sengaja memancing Rossa, untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihan.
Rossa mengangkat kepalanya menatap Silla, air matanya masih tak henti- hentinya membasahi pipi yang sudah memerah kerena menangis.
"Orang yang koma itu masih bisa mendengar suara kita, hanya saja dia tidak dapat terbangun dari alam bawah sadarnya. Jadi.., kamu harus membawa bibi terus berbicara. Agar bibi bisa bangun dan segera sadar dari komanya, kamu ngertikan maksud aku Ross?." tanya Silla menyakinkan Rossa akan kata- katanya barusan.
Rossa hanya menganggukan kepalanya mendengar kata- kata Silla, ia pun menghapus air matanya yang tak bisa berheti mengalir sedari tadi.
...☘☘☘...
Di perjalanan menuju rumah sakit, Rossa kembali memikirkan kehidupannya dan juga adiknya yang masih ada di asrama saat ini.
Bagaimana nasip keuangan mereka untuk biaya rumah sakit Ibunya?, belum lagi untuk membayar semua tagihan setiap bulan.. Dan yang paling jadi beban pikirannya adalah, dirinya yang sudah tidak suci lagi!.
Rossa kembali menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Silla yang sedang menyetir mobil melirik kearah sahabatnya itu sesekali.
"Ross.., kalau kamu butuh sesuatu. Bicara aja sama aku, jangan dipendam sendiri." Ucap Silla, yang kembali melihat kearah jalanan.
Rossa yang mendengar perkataan Silla mengangkat kepalanya yang menunduk tadi, ia menyandarkan kepalanya dikebelakang kursi mobil milik sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana nasipku dan juga Rommi setelah ini Sill, aku enggak bisa bayangin kedepannya bagaimana?.." Bulir- bulir bening pun kembali berjatuhan, yang tak dapat ia tahan lagi.
Mendengar perkataan Rossa, Silla tau apa yang dipikirkan sahabatnya itu saat ini.
"Kalau masalah uang.., aku bisa bantu kamu Ross. Maksud aku.., kamu bisa pinjam dulu. Setelah nanti kamu kerja atau punya uang lebih, kamu bisa balikin lagi uangnya sama aku." Ucap Silla sengaja menjelaskan pada Rossa, karena Silla tau. Rossa pasti menolak, kalau dirinya memberi uang secara cuma- cuma.
"Emm., terima kasih Sill. Aku sekarang memang butuh uang banyak, karena aku enggak tau keuangan Ibu aku selama ini.. Ibu selalu melarangku untuk berkerja paruh waktu membantunya, tapi dia selalu lembur dan pulang malam karena mencari lebih banyak uang untuk biaya kehidupan kami. Aku merasa.., aku- aku enggak mau kehilangan ibu aku Sill.." Ucap Rossa dengan suara yang bergetar, dan tak dapat ia hindari lagi tangisnya pun pecah saat itu juga.
Rossa tidak ingin kehilangan ibunya lagi, setelah kehilangan ayah yang mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu ketika ia masih berumur 11 tahun.
Silla segera menepikan mobilnya, ia tidak tega pada sahabatnya itu dalam kedukaan yang mendalam. Silla mengerti suasana hati Rossa saat ini, yang masih sangat rapuh dan sangat syok.
"Menangislah Ross, habiskan lah rasa sedihmu saat ini.. Karena nanti kamu harus menghapus semua air mata ini saat di hadapan Ibu dan adikmu, kau harus tegar dihadapan mereka." Ucap Silla yang merangkul bahu Rossa, agar memberinya kekuatan.
Silla pun tak mampu menahan air matanya, ia tak tega akan lemalangan yang sahabatnya derita sekarang.
Sesampainya dirumah sakit, Rossa langsung ke ruangan ahli jantung. (Kardialog)
Kardialog dikerucutkan kembali menjadi ahli penyakit jantung dan dokter bedah jantung lebih fokos pada pengobatan penyakit jantung, dada atau seluruh.
"Tok.. tok.. tok.. tok.."
" Masuk.." Suara bariton dibalik ruangan bernuasa putih itu.
"Selamat pagi paman Martin.." Suara lembut Rossa menyapa, yang masih berdiri didepan pintu masuk ruangan itu.
Pria paruh baya itupun mengangkat kepalanya, melihat sosok wanita muda yang mengingatkannya pada seseorang ketika ia masih remaja. Ia kagum, tak dapat berkata apa- apa.
__ADS_1
"Maaf paman, apa paman masih sibuk?. Kalau begitu aku per-" kata-kata Rossa terputus saat pria itu memanggil nama ibunya..
"Mandy Ferdias..?" ucap dokter Martin.
Rossa dan Silla saling menatap satu sama lain, akan sikap dokter Martin yang terlihat membatu saat ini dihadapan mereka berdua.
"A- aku Rossa Ferdias paman,putrinya Mandy Ferdias.." Ucap Rossa membenarkan ucapan pria paruh baya dihadapannya.
"Aah, iya.. Maafkan paman, kau sangat mirip dengan Ibumu. Mengingatkanku pada masa kami berteman dulu, karena kalian sangat sama persis." Ucap dokter Martin kikuk, merasa canggung akan perbuatannya.
"Ayo silakan masuk, dan bawa temanmu untuk duduk." Ucap dokter Martin lagi.
Rossa dan Silla pun duduk dihadapan dokter Martin, yang Rossa ingat dulu dokter Martin adalah teman Ayah dan Ibunya. Saat ia masih memiliki Ayah, mereka sering makan malam bersama dokter Martin dan beberapa orang lainnya yang Rossa tidak terlalu ingat lagi saat ini.
"Bagaimana keadaan Ibuku paman?, apakah masih ada kesempatan besar untuk sembuh total!?." Tanya Rossa yang seakan tak mau mendengar kata tidak, untuk kesembuhan Ibunya.
"Paman akan langsung keintinya saja, kesempatan Ibumu untuk sembuh total hanya 50% atau bisa saja dititik 10%. Kalau hanya menunggunya sadar dari komanya, tapi ada 75% kalau dia transplantasi jantung. Transplantasi jantung adalah usaha pamungkas, jika semua pengobatan penyakit jantung yang dilakukan pasien tidak memberikan hasil. Prosedur ini termasuk langkah yang aman, selama tetap menjalani pemeriksaan secara rutin. Kadidat yang cocok akan ditempatkan pada daftar tunggu untuk donor jantung, sementara yang tidak akan diberi pilihan pengobatan lain yang paling sesuai kondisi masing- masing. Bagaiman menurutmu, Rossa?." Tanya dokter Martin setelah selesai menjelaskan panjang lebar, pada Rossa dan temannya.
Rossa terdiam sejenak, lalu memandang wajah dokter Martin kembali.
"Lakukanlah yang terbaik untuk Ibuku paman, aku akan berusaha untuk membayar segala pengobatannya." Ucap Rossa dengan mata yang memerah,menahan tangis yang tak ingin ia keluarkan.
Rossa tidak mau kehilangan Ibunya, ia tidak kuat. Membayangkannya saja Rossa sudah ingin berteriak histeris, apalagi kalau kehilangan untuk selamanya.
"Kau taukan, berapa biaya yang harus kau bayar tiap bulannya dirumah sakit ini?." Ucap dokter Martin mengingatkan Rossa, karena Ibunya dirawat sekarang ini bukanlah rumah sakit biasa.
"Ya.., aku tau paman. Walau pun, aku harus menjual kehormatanku untuk membayarnya." Suara Rossa bergetar menahan tangisnya, ia mengingat kembali disaat dirinya kehilangan mahkotanya tadi malam.
__ADS_1
Silla dan dokter Martin terkejut, mendengar pernyataan Rossa. Yang rela menjual kehormatannya, demi untuk pengobatan Ibunya yang koma.