Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Sangat Rindu.


__ADS_3

Sudah 1 minggu berlalu setelah Ibunya Rossa sadar dari komanya, dan dalam 1 minggu itu pula Rossa selalu bermalam dirumah sakit menemani Ibu dan Adiknya disana.


Rossa hanya sesekali pulang keapartemennya untuk berganti pakaian setelah pulang bekerja, setelah itu ia pergi kerumah sakit untuk menginap.


Entah mengapa ia merasa hatinya sangat kosong dalam 1 minggu terakhir ini, padahal ia seharunya sangat senang. Karena keadaan Ibunya semakin membaik, dan sudah bisa menggerakan tangannya untuk memegang sesuatu.


Rossa merasa ada yang hilang dalam hatinya, padahal tidak ada apapun yang terjadi dalam 1 minggu itu dirumah sakit saat ia menginap.


Tapi setiap malam ia merasa sangat merindukan seseorang, dan aroma yang sesalu hadir dalam mimpinya setiap ia sudah terlelap diapartemennya.


Malam ini Rossa tidak bisa tidur, matanya masih segar dan enggan untuk terpejam. Ia melihat kearah Ibu dan Adiknya yang sudah terlelap, saat jam sudah menunjukan pukul 23:23.


Rossa keluar dari ruangan Ibunya untuk jalan- jalan mencari udara segar, saat ingin menutup pintu ruangan Ibunya dari luar. Mata Rossa tidak sengaja bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan saat ini.


Yang membuat hari- harinya kosong sampai- sampai napsu makannya meningkat, karena selalu merindukan orang itu.


Dan orang itu juga sama halnya sepeti Rossa, tidak dapat tidur dengan nyaman setelah Rossa memutuskan untuk tidur dirumah sakit menemani Ibunya.


Orang itu juga memutuskan untuk tidur dirumah sakit disebelah kamar mertuanya dirawat, karena ia juga harus memberikan obat penenang untuk penyakitnya yang masih bereaksi saat malam hari tiba.


Rossa tersenyum sesaat pada orang itu, lalu menundukan pandangannya kelain arah. Karena ia sadar, orang itu tidak ada hubungan lagi dengannya.


Terlebih lagi setelah ia tahu tentang kehamilan Vania Bella satu minggu yang lalu, saat dirinya ingin keruangan dokter Jane untuk meminta vitamin kandungannya.


Rossa langsung membalikan tubuhnya kearah lain, setelah mata keduanya saling menatap dengan penuh kerinduan. Ia mempercepat langkahnya menuju taman rumah sakit, dan duduk disebuah kursi ditaman yang sudah mulai sepi itu. Rossa menyentuh dadanya yang berdebar, ia merasa jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat mantan suaminya itu.


Yang tidak lain adalah, tuan muda Morgan Lois. Pewaris satu- satunya keluarga Lois, saat ini dan seterusnya.


Disaat Rossa sedang berdamai dengan perasaannya yang sangat menyiksa, tiba- tiba ia merasa perutnya lapar kembali. Karena setiap kali ia merasa sedih, maka napsu makannya akan meningkat.

__ADS_1


Entah itu karena anak- anaknya atau memang hanya pelarian untuk tidak bersedih lagi, Rossa pun tidak tahu.


Karena setiap jam makan siang, Jack selalu membawanya ketempat makan yang berbeda- beda setiap harinya.


Dan itu malah membuatnya semakin bernapsu untuk makan banyak, dan badannya saat ini sudah nampak berisi. Pipinya sudah terlihat chubby, membuat Jack semakin gemas dan selalu mencubit pipi Rossa geregetan.


Rossa memegang perutnya, dan mengelusnya perlahan sambil berbicara dalam hatinya.


"Apa kalian lapar lagi? tadi Mommy sudah sangat banyak makan malam. Kenapa masih lapar, membuat berat badan Mommy bertambah saja, apalagi ini sudah larut malam." Batin Rossa. Yang kini mendongakkan kepalanya keatas, melihat bintang- bintang malam yang bertaburan digelapnya malam.


Tiba- tiba ada sebuah tangan, memasangkan jaket dari belakang Rossa. Yang membuatnya sedikit terkejut dan menoleh kebelakang, untuk melihat orang yang telah mengenakan jaket padanya.


"Kau?" Ucap Rossa tercekat, melihat orang itu kembali mendekatinya.


Morgan sungguh tidak tahan melihat istrinya saat ini, betapa ia sangat merindukannya sampai ketulang.


Bahkan ia ingin cepat- cepat menyelesaikan semua persoalan yang kini telah ricuh dikantornya.


Morgan menangkup kedua pipi Rossa dengan tangannya, dan menatap bibir merah sang istri dengan penuh minat. Tapi ia sadar, kalau ia melakukan itu. Mungkin saja Rossa akan membencinya saat ini, karena bagi Rossa mereka berdua sudah bercerai dan tidak ada hubungan sama sekali.


Mata keduanya kembali bertemu, bahkan mata Rossa sudah sedikit tergenang air yang siap menetes kepipinya. Karena aroma yang sangat ia rindukan itu menusuk ke indera penciumannya yang kini sangat tajam.


Aroma maskulin yang selalu menemani tidur lelapnya, saat diapartemennya minggu lalu.


Dengan rasa ketidak tahanannya, akhirnya Morgan mengecup kening wanita dihadapannya itu dengan sangat lama.


Dan air mata Rossa pun berhasil lolos dari genangan yang siap tumpah tadi, karena ia memejamkan matanya saat sang mantan suaminya mengecup keningnya saat ini.


"Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? bukankah minggu depan kau akan menikah. Dan,.. calon istrimu sudah mengandung 6 minggu, yang artinya itu adalah hasil buah cinta kalian?." Batin Rossa merasa pedih saat ini.

__ADS_1


Karena disetiap berita maupun media sosial, seorang model terkenal diseluruh dunia itu akan menikah minggu depan. Yang tidak lain adalah Vania Bella, kekasih masa kecil mantan suaminya saat ini.


Tapi diberita maupun media sosial, tidak satupun yang tahu siapa calon suami dari model terkenal itu. Dan tidak pernah dibahas oleh orang yang bersangkutan sendiri, yaitu Vania Bella.


Bahkan pernikahannya juga sangat tertutup untuk semua media, hanya orang- orang kelas atas atau pembisnis yang kaya raya saja dapat hadir dihari pernikahan model terkenal itu.


Tapi bukan nitizen namanya, kalau tidak bisa membuat romor yang bisa menghasilkan banyak pemikiran positip akan Morgan sebagai calon suami model itu.


Karena cerita cinta 2 sejoli itu sudah dipublikasikan semenjak mereka masih sekolah taman kanak- kanak, oleh orang tua Vania Bella sendiri diakun media sosialnya.


Yang selalu di ikuti para pengejar berita orang- orang kaya, untuk dikabarkan kepada dunia.


.


Setelah sudah merasa sangat lama, dan rindunya pada sang istri sedikit terobati. Morgan pun melepaskan bibirnya dari kening Rossa, yang Rossa sendiri pun juga sangat menikmati momen itu saat ini.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Morgan pada sang Istri.


Rossa hanya menggelengkan kepalanya, sambil menghapus sisa air bening yang keluar dari kedua netranya.


"Kau terlihat semakin berisi akhir- akhir ini, dan pipimu semakin chubby. Membuatku ingin sekali menggigit, dan mencubitnya." Ucap Morgan masih membelai pipi Rossa dengan jarinya.


Rossa mendorong tangan Morgan menjauh dari wajahnya, dan membenarkan duduknya kembali menghadap kedepan secara normal.


"Maaf tuan, apa yang kamu lakukan tadi sungguh sangat tidak sopan. Karena kita bukan lagi siapa- siapa, dan ini masih diluar." Ucap Rossa menormalkan perasaan hatinya yang sangat senang saat ini.


Karena Rossa juga tidak dapat membohongi perasaannya, ia juga sangat merindukan pria ini. Yang selalu ia rindukan setiap harinya, bahkan sampai malam tiba pun masih memikirkan pria ini.


........

__ADS_1


.......


...See you allšŸ˜¢ā¤...


__ADS_2