Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Malam Malapetaka!


__ADS_3

Setelah Alvan beranjak dari tempatnya duduk, dan berjalan kearah ruang makan. Mama Mardiana dan Papa Ferino saling bertatapan, mereka berdua hanya tersenyum dan saling menggelengkan kepalanya saja.


Melihat cucunya yang kini terlihat penurut, pada orang yang tadi memanggilnya.


"Ayo Pa, kita istirahat!. Mumpung masih hari libur, kalau besok tidak ada waktu lagi untuk bersantai." Ucap mama Mardiana yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya, pada papa Ferino yang masih terlihat terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Paa.." Ulang mama Mardiana, memanggil suaminya.


"Iya Maa, ayo.." Jawab papa Ferino, yang kini juga beranjak dari tempat duduknya menuju lift yang tadi Morgan gunakan.


.


Sesampainya Alvan diruang makan, seorang wanita cantik yang tadi memanggilnya sudah melambaikan tangannya pada Alvan. Dan meminta nya untuk duduk disamping wanita itu, agar saling berdekatan.


Tidak ketinggalan juga, dokter Gerry sudah berada dimeja makan itu. Yang kini sudah menyantap makanan dihadapannya dengan lahap, karena dirumah sakit tadi dirinya belum makan sama sekali.


"Kau mau makan yang mana dulu? yang ini atau yang itu!?." Tanya seorang wanita cantik, yang kini berada disebelah Alvan tersenyum dengan begitu manisnya.


"Uhuk uhuk.." Suara dokter Gerry terbatuk- batuk, mendengar 2 insan dihadapannya saat ini.


Karena jiwa jomblonya terasa sedikit teraniyaya, oleh pasangan baru ini dihadapannya.


Namun Alvan hanya terdiam, dirinya teringat lagi kejadian beberapa minggu yang lalu di apartemennya.


Lebih tepatnya sekitar 7 minggu yang lalu, saat itu dirinya mabuk berat.


Karena ia sangat merindukan wanita pujaan hatinya, yaitu Rossa. Tapi kerinduannya itu hanyalah sepihak!, yang membuatnya semakin tersiksa. Sampai- sampai dirinya menghabiskan beberapa botol minuman keras, agar bisa meluapkan semua perasaannya.


Rasa rindu yang ia tumpahkan keminuman, membuatnya lupa diri. Sehingga terjadilah hal yang membuatnya, menyesal!.


Tapi penyesalan itu tidak ada artinya, karena hal yang ia lakukan sudah terjadi!.


Ibarat kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Itulah kata yang tepat untuk hal yang telah ia lakukan malam itu, malam yang indah.. Tapi hanya untuk orang yang menikmatinya saja, malam itu adalah malam yang indah!.

__ADS_1


Karena bagi Alvan, malam itu adalah malam malapetaka baginya. Karena dalam keadaan ketidak sadarannya, ia telah meniduri tunangannya sendiri yaitu Jessica.


Wanita yang Alvan hindari itu telah ia renggut kesuciannya, dan sekarang.. Wanita itu juga telah mengandung anaknya, dan dengan sangat terpaksa. Alvan akan menikahi Jessica, tunangannya sejak kecil itu.


Tapi dalam hati Alvan tidak ada lagi rasa cinta untuk Jessica, karena dalam hatinya hanya ada Rossa!. Rossa Ferdias, yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besarnya.


"Alvan! Alvan?. Kau mendengarku? Al.." Ucap Jessica berulang kali, namun Alvan masih asyik dalam lamunannya sendiri.


"Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja makannya.. Apa jangan- jangan, Alvan minta disuapi?." Tanya dokter Gerry pada Jessica, yang kini juga menatap dokter Gerry.


Wanita itu tersipu malu mendengar ucapan dokter Gerry, karena selama ini dia sama sekali juga tidak pernah ada rasa dengan Alvan.


Tapi, setelah malam itu terjadi.. Dirinya selalu mengikuti Alvan, kemana pun Alvan pergi. Dirinya akan menemani Alvan, entah itu rasa apa yang tumbuh dalam hatinya..


Tapi yang jelas dirinya tidak akan melepaskan Alvan lagi, apalagi saat ini ada ikatan yang akan menyatukan mereka berdua seutuhnya.


Yaitu kandungannya, walaupun kenyataannya Alvan belum seutuhnya mengakui dirinya. Jessica tetap sabar, karena ia sangat mengenali Alvan dari dulu.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk.." Lagi-lagi dokter Gerry tersedak, saat mendengar Jessica mengucapkan kata itu pada Alvan.


"Astaga, aku kira nona muda ini seorang yang pintar. Ternyata masih pintar diriku dari pada dirinya, bukankah mereka sama-sama tidak saling menyukai? Tapi kenapa nona Jessica ini begitu lengket dengan Alvan? apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui!?." Batin dokter Gerry, otaknya berkerja keras agar bisa memikirkan sesuatu yang menjadi jawaban atas pertanyaannya sendiri.


.


.


Sementara dilantai 3, Morgan dan Rossa kini masih merasa cangung. Sebab sudah sangat lama, pasangan suami istri itu tidak berduaan secara sadar seperti ini.


"Sayang! kau kenapa duduk disitu? Cepat kesini, bantu aku melepaskan pakaianku untuk mandi!." Ucap Morgan memanggil istrinya, yang kini hanya duduk disofa jauh dari Morgan yang duduk diatas tempat tidur.


Deg..


Jantung Rossa kembali berdebar, saat mendengar ucapan suaminya itu. Yang mengatakan 'melepaskan pakaian untuk mandi', sehingga membuat otak Rossa bertravelling kembali.

__ADS_1


"A-ak-aku merasa sedikit lelah, bi- bisakah kau meminta kak Gerry saja yang membantumu.?" Ucap Rossa terbata-bata, karena hatinya terasa ingin melompat dari tempatnya mendengar ucapan Morgan tadi.


Padahal Rossa sudah setiap hari membersihkan tubuh suaminya itu, saat masih terbaring lemah tidak berdaya dirumah sakit.


Tapi saat ini Rossa benar-benar merasa gugup, saat Morgan sudah sadar sepenuhnya dan berdekatan kembali.


Jantung Rossa tidak henti- hentinya berdetak dengan cepatnya, apa lagi saat Morgan selalu memanggilnya sayang dengan lembutnya.


"Benarkah, apa lelahnya sangat lelah? Atau lelah sekali, kalau begitu kau harus istirahat sayang. Aku akan memanggil pelayan kemari untuk menemanimu, tapi aku juga ingin melayanimu sayang..." Ucap Morgan, yang kini mendekati istrinya dengan kancing pakaian sudah terbuka semua.


Menampilkan dada dan perut yang masih terlihat **** dan mengoda, membuat pipi Rossa kembali memerah.


Karena teringat masa- masa, disaat dirinya tidur dengan nyenyaknya didada itu dulunya.


"Apa kakimu sakit? atau mereka menendang lagi?." Tanya Morgan, yang kini sudah duduk didekat istrinya.


Morgan meraih kaki Rossa, dan meletakkan diatas pahanya. Ditekannya sedikit kaki Rossa, dengan gerakan mencengkram perlahan.


Karena ia selalu mendengar saat masih dirumah sakit, Rossa selalu meminta Rommi memijat kakinya agar tidak kebas dan disaat sedang lelah.


"Apa begini cukup, atau terlalu bertenaga?." Tanya Morgan pada Rossa,


Karena saat ini tangannya masih memijat kaki Rossa dengan perlahan, agar istrinya itu selalu baik-baik saja. Beserta anak-anaknya dalam kandungan istrinya, yang tidak lama lagi akan hadir diantara mereka.


"Sayang, aku ingin mendengarmu memanggilku seperti dulu lagi. Dan jangan lupa juga, selalu mengucapkannya setiap pagi. Seperti yang kau lakukan dirumah sakit padaku, aku tidak ingin kurang sedikit pun!." Ucap Morgan pada Rossa, sambil melihat kaki jenjang istrinya yang putih mulus, tanpa ada noda sedikitpun itu.


Lagi-lagi pipi chubby Rossa memerah, karena setiap pagi dirinya selalu mengucapkan kata-kata aneh. Yang membuatnya juga merasa geli sendiri, saat mengucapkannya pada suaminya yang masih tidak sadarkan diri saat itu.


"Hmm.." Ucap Morgan kembali mendengungkan mulutnya, dan mengangkat kepalanya menatap wajah wanitanya saat ini yang hanya diam belum menjawab perkataannya.


...☘☘☘...


...See you all.🤗...

__ADS_1


__ADS_2