
Rossa yang mendengar namanya disebut- sebut dari dalam kamar, membenarkan pendengaran nya.
"Ada apa ya? kenapa pelayan Silla nyebut- nyebut nama ku barusan?" batin Rossa. Ia meneruskan makan nya yang tadi terjeda, karena bicara pada sahabat nya Silla.
Setelah selesai mengatakan sesuatu pada maid nya, Silla pun masuk dan menutup pintu kamar nya. Ia pun melihat Rossa yang kembali makan dengan tenang, Silla tersenyum melihat itu dan kembali duduk bersama Rossa melanjutkan makan nya.
"Kamu makan yang banyak, supaya suami kamu makin suka peluk kamu!." ucap Silla tanpa menoleh pada sahabatnya itu.
"Uhuk uhuk uhuk"
Rossa yang mendengar ucapan Silla tersedak makanan nya sendiri, ucapan sahabat nya itu sama persis dengan yang dikatakan suaminya.
" Kamu kenapa sih Ross? nih.. minum dulu!" ucap Silla dengan mulut nya yang penuh makanan.
Rossa meraih gelas yang Silla sodorkan padanya, dan meminum nya sampai kandas.
"Makan tuh yang benar Ross! jangan banyak ngelamun!." sambung Silla lagi.
"Cerewet!, dari tadi itu kamu yang terus bicara lagi makan." bentak Rossa.
"Ciee.. yang engga bisa pulang ketemu Beruang Kutub nya..!" goda Silla pada Rossa.
Sontak saja godaan Silla itu membuat pipi Rossa terasa panas, dan menjadi memerah karena malu pada sahabatnya itu.
"Tuh kan, pipinya merah.." ucap Silla sambil menahan tawanya, karena melihat sahabatnya itu salah tingkah.
Rossa hanya menarik nafasnya panjang, dan membuang nya kembali sambil menggelengkan kepalanya. Ia menghentikan makan nya, karena takut tersedak lagi kalau Silla menggodanya.
"Tadi kau bilang Beruang Kutub itu akan marah padamu? aku tebak saja itu adalah tuan muda Morgan, benarkan.?" Tanya Silla, yang juga menghentikan makan nya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa, sampai kamu bilang dia Beruang Kutub? hum.." lagi- lagi Silla kepo akan rumah tangga sahabatnya itu.
"Kau itu, selalu bertanya! tidak bisakah kita bahas yang lain saja?." ucap Rossa sambil membereskan bekas makanan nya dan Silla.
Lagi- lagi Rossa teringat perkataan Morgan pada nya malam itu, yang melarang Rossa untuk membereskan bekas makan mereka.
"Astaga.., lama- lama aku bisa gila kalau terus teringat pada Beruang Kutub itu!" batin Rossa.
Praangk...
Suara gelas pecah, karena tersenggol tangan Rossa. Ia pun terkejut, dan langsung memungut pecahan gelas itu.
"Jangan sentuh i-"
"Aw" pekik Rossa. Karena tangan nya terkena pecahan gelas.
"Baru saja aku mau peringatkan jangan sentuh, kau sudah memungutnya!" ucap Silla kesal.
Tak sengaja mata Silla melihat cincin berlian dijari tengah Rossa, yang begitu berkilauan.
"Sepertinya Rossa mulai memikirkan suaminya itu, dia bilang hanya ikatan pernikahan kontrak. Tapi yang aku lihat, Rossa mulai menyukai suaminya itu."
Silla bergumam dalam hatinya, karena kenyataan yang ia lihat. Bukan hanya karena alasan penyakit yang Morgan miliki terhadap Rossa, tapi mereka membutuhkan satu sama lain.
Buktinya Morgan menyuruh seseorang untuk menjemput Rossa saat ini, berarti ia sangat khawatir pada Rossa. Dan selalu mengawasi keberadaan Rossa, dimana pun ia berada.
Rossa yang baru saja patah hati, dan mendapat musibah yang sangat besar mampu menahan itu. Karena kehadiran Morgan dalam hidupnya saat ini, entah Silla harus bersyukur atau malah sebaliknya. Karena romornya, Morgan masih menjalin hubungan dengan kekasih masa kecil nya dulu.
"Bagaimana kalau Rossa benar- benar jatuh cinta pada Morgan?, apa aku harus memperingatkan Rossa lagi akan hal ini?." batin Silla.
__ADS_1
"Kau itu dari tadi banyak melamun, memang nya penting banget ya suami mu itu?" tanya Silla lagi.
"Kamu itu bagaimana sih Sill, harus aku jelaskan bagaimana lagi supaya jelas?" jawap Rossa malah kembali bertanya.
"Aku menikah dengan nya itu karena dia membutuhkan seorang istri, dan aku membutuhkan uang. Aku hanya memenuhi kewajiban ku sebagai istri, kalau aku tidak pulang bagaimana aku bisa jadi istrinya yang baik?. Bisa- bisa aku diceraikan, dan tidak mendapatkan uang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan juga pengobatan ibuku." Ucap Rossa menjelaskan pada sahabatnya itu.
"Tapi Ross, kalau hanya untuk mu bertahan hidup dan juga pengobatan ibumu. Aku juga sanggup mengeluarkan uang untukmu, orang tuaku sangat mengenalmu mereka pasti mau membantu mu akan masalah ini!." Sahut Silla, ia benar- benar tidak ingin sahabatnya terluka kedua kalinya karena Cinta. Sebab ia tau, kalau Morgan adalah Paman nya Alvan. Mantan kekasih Rossa, yang baru beberapa hari lalu membuat Rossa menangis.
"Silla.., aku tau kamu dan keluargamu sangat baik. Tapi aku tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada kalian, aku hanya ingin mengandalkan diriku sendiri untuk keluargaku. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertimu, kuharap dikehidupan kita selanjutnya. Kita ditakdirkan menjadi saudari saja, kamu yang jadi kakak ku karena usia mu lebih tua dari ku 2 tahun." Ucap Rossa dengan senyum nya.
Silla membalas senyum Rossa, ia tau. Sahabatnya itu pasti akan menolak bantuan nya, tapi ia hanya ingin mencoba agar Rossa berubah pikiran.
"Baiklah, kalau itu mau mu. Aku hanya bisa mendukung mu Ross, tapi ingatlah. Jangan sampai kau jatuh cinta pada nya, kau ingatkan cerita beberapa wanita dikampus waktu itu. Dan beberapa media selalu meliput skandalnya setiap hari, seperti makan siang di restoran siang tadi dan baru saja di media dia menghadiri acara pesta perayaan bersama seorang artis yang baru naik daun sekarang ini."
Silla selalu memperingati sahabatnya itu, yang ia anggap seperti adiknya sendiri. Karena memang benar, di media sosial skandal Morgan sedang panas- panasnya bersama seorang artis naik daun yang sedang terkenal itu.
Silla sengaja menyuruh pembantunya mengatakan, kalau Rossa tidak ada dirumah nya. Karena ia sangat geram melihat skandal Morgan yang menjadi nomor satu di semua berita hari ini.
"Kalau kau sampai jatuh cinta padanya, maka kau tak dapat lagi bertahan." batin Silla. Ia memeluk sahabatnya itu, dengan rasa sayang.
"Malam ini menginaplah disini, aku akan menyuruh seseorang besok untuk mencari tau alamat tempat tinggalmu saat ini." Ucap Silla melepaskan pelukan nya pada Rossa, padahal ia menyuruh pembantu nya meminta alamat tempat tinggal Rossa saat ini pada asisten Jo.
...βDisisi lain.β...
Morgan terus mencari dokumen tentang informasi Rossa, tapi nihil. Ia tidak mendapatkan apapun diruang bacanya, bahkan semua yang ada di tempat itu sudah seperti lautan sampah yang berserakan.
Pa Lim yang ikut mencari sesuatu untuk tuan mudanya tidak berani berkomentar, karena ia takut tuan mudanya akan mengamuk kalau ia salah bicara saat ini.
"Sial!, dimana Jo meletakan dokumen itu?. Aku sudah mencarinya disemua tempat, tapi tidak ada dimanapun." Bentak Morgan dengan napas yang memburu, karena sangat kesal.
__ADS_1
...πππ...