Tak Ada Alasan Untuk Bertahan

Tak Ada Alasan Untuk Bertahan
Cerita.


__ADS_3

Hari sudah mulai siang, dan kini Rossa sudah bersiap-siap untuk turun kelantai utama bersama Morgan.


"Suamiku, apa kau tidak apa-apa?." Tanya Rossa pada Morgan, karena Rossa merasa kalau suaminya itu seperti memikirkan sesuatu sejak ia pangun tadi pagi.


"Aku tidak apa-apa sayang, memangnya kenapa? Apa aku terlihat seperti kesakitan atau apa!?." Ucap Morgan, malah sebaliknya bertanya pada istrinya.


"Tidak, kau terlihat sedikit bingung dan melamun. Apa ada sesuatu yang membuatmu sedikit khawatir, atau ada masalah?." Tanya Rossa, karena dari tadi Morgan hanya diam. Dan tanpa sadar, hampir saja membawa Rossa menuruni anak tangga dari lantai 3.


Dan kini mereka berdua sudah ada didepan lift, tapi Morgan diam saja. Tanpa ada pergerakan, untuk masuk kedalam ruangan kecil berukuran persegi kotak itu.


"Suamiku! sayang kau kenapa? Apa ada masalah? sayang!?.." Ucap Rossa berulang kali, dan Morgan baru menyadari setelah Rossa memeluknya.


"Kau kenapa sayang? kita sudah berada didepan lift. Ayo masuk! kenapa malah memelukku seperti ini?.." Tanya Morgan bingung melihat tingkah istrinya, yang sebenarnya dirinyalah yang patut dipertanyakan.


"Mulai sekarang, jangan pernah menutupi apapun dariku. Kau melamun sejak kita makan bersama tadi pagi, apa ada sesuatu yang membuatmu tertekan?.." Tanya Rossa, yang kini masih memeluk Morgan.


"Apa aku sangat terlihat jelas, kalau sedang memikirkan sesuatu?." Ucap Morgan malah sebaliknya bertanya lagi, pada Rossa yang kini masih memeluknya.


"Sayang!, aku bertanya padamu.. Kenapa malah sebaliknya bertanya padaku!?" Ucap Rossa mendongakkan kepalanya keatas, melihat wajah suaminya.


Dan, cup... Satu kecupan hangat mendarat dikening Rossa, dan disusul beberapa kecupan lagi diseluruh wajah istrinya itu.


"Aku ada sedikit masalah sayang, dan ini masih membuatku bingung dengan semuanya. Aku sangat ingin menceritakannya denganmu, tapi hari ini kita harus kerumah sakit bukan?. Untuk melihat perkembangan baby kecil kita, dan aku ingin melihatnya langsung hari ini. " Ucap Morgan, lalu membalas pelukkan hangat istrinya.


"Hm, baiklah.. Kalau begitu kita langsung kebawah saja. Rasanya sangat tidak nyaman, kalau aku terus mengurung diri didalam kamar sampai tengah hari seperti ini pada Papa dan Mama." Ucap Rossa, karena dari tadi pagi dirinya merasa sangat bersalah karena sudah bangun kesiangan.

__ADS_1


Morgan pun melepaskan pelukannya, dan kembali mengecup kening istrinya dengan sayang.


"Kau memang yang terbaik sayang, tetaplah bersamaku sampai maut memisahkan kita. Dan jangan pernah meninggalkanku, apa pun yang terjadi!. Karena aku bisa gila! kalau kau tidak ada disampingku. Dan, kuharap kau tidak apa-apa kalau nanti ada sesuatu yang terjadi. Atau, kuharap kau tetap sama seperti ini saat semuanya terbongkar suatu saat nanti." Batin Morgan berbicara, seakan sesuatu yang ia ucapkan dalam hatinya tadi didengar oleh istrinya.


"Hmm, sayang?. Ayo kita turun, apa kau melamun lagi sambil mencium keningku!?." Tanya Rossa bingung, karena suaminya itu lagi-lagi diam tanpa sebab.


Morgan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia merasa sangat bersalah karena masih menutupi sesuatu dari istrinya.


"Ayo ratuku, peganglah tanganku. Dan jangan pernah lepaskan, apa lagi memegang tangan yang lain." Ucap Morgan sengaja, karena dirinya baru ingat kalau dilantai bawah masih ada Alvan. Mantan kekasih istrinya, yang kini masih ingin mengejar istrinya.


Walau pun Morgan tau, kalau Alvan sudah mempunyai calon istri. Tapi tetap saja, pandangan mata Alvan masih sangat menginginkan istrinya.


Apa lagi saat ini, istrinya semakin cantik saat mengandung. Semakin menggemaskan dimata Morgan, dan dirinya tidak dapat pergi jauh dari istrinya itu.


Setelah sampai dilantai utama mansion keluarga Lois, Rossa dan Morgan pun duduk diruang tamu.


"Apa Papa dan Mama belum keluar bi? untuk makan siang!. Bukankah Mama bilang hari ini dia mau libur dan berdiam diri dirumah, kenapa disini sangat sepi dan di mana Alvan dan Jessica!?." Tanya Morgan seperti tidak suka mengucapkan nama keponakannya itu, yang merupakan saingannya cintanya untuk mempertahankan istrinya.


"Maaf tuan muda, nyonya besar dan tuan besar belum pulang dari rumah sakit." Jawab pelayan itu menundukkan kepalanya, saat berbicara.


"Haah! rumah sakit?. Siapa yang sakit bi? kenapa aku tidak tau?." Tanya Morgan lagi pada pelayan itu merasa kaget, karena dirinya tidak tahu apa-apa.


"Nyonya besar dan tuan besar dari tadi malam dirumah sakit tuan muda, nona muda Jessica masuk rumah sakit. Dan saya tidak tahu apa penyebabnya, tapi tadi malam nona muda Jessica pingsan di kamar mandi tuan muda." Ucap pelayan itu lagi, agar tuan mudanya tau yang ia ucapkan.


"Baiklah, kalian siapkan makan siang seperti yang aku ucapkan tadi pagi. Aku aku menghubungi Mama untuk menanyakan kabar Jessica saat ini, sekarang lanjutkan saja pekerjaanmu." Ucap Morgan pada pelayan itu, agar menyiapkan makanan mereka.

__ADS_1


"Suamiku, apa tidak sebaiknya kita langsung kerumah sakit saja?. Aku merasa sangat bersalah, karena tidak tau apa-apa. Padahal kita berada satu rumah yang sama, tapi tidak tahu apa-apa dirumah ini." Ucap Rossa merasa bersalah, karena tidak mengetahui apa pun dirumah mertuanya yang sangat besar dan luas itu.


"Kita makan siang dulu sayang, setelah ini kita langsung kerumah sakit." Jawab Morgan lembut, sambil meletakan ponsel kedaun telinganya.


Dan suara nada dering ponsel pun terdengar samar-samar didepan pintu, dan ternyata Mamanya sudah pulang yang kini sudah masuk kedalam ruang tamu bersama suaminya Papa Ferino.


"Ada apa sayang? kenapa kau menghubungi Mama?. Apa ada sesuatu yang terjadi, pada menantu dan cucu-cucu Mama!?." Tanya Mama Mardiana, yang sudah duduk disofa ruang tamu mansion keluarga Lois.


"Tidak Ma, aku hanya mau menanyakan keadaan Jessica. Katanya masuk rumah sakit dari tadi malam, memangnya dia kenapa Ma?." Tanya Morgan dengan nada sedikit khawatir, karena bagaimana pun Jessica berada dimansion keluarganya.


Mama Mardiana menatap wajah suaminya, dan suaminya Papa Ferino hanya menganggukan kepalanya saja pada Mama Mardiana. Yang sepertinya meminta izin, untuk menceritakan tentang Alvan dan Jessica saat ini.


...☘☘☘...


"Kenapa kita malah kepantai? bukankah tadi kau bilang ingin kerumah sakit untuk melihat baby-baby kita!?." Tanya Rossa menatap wajah Morgan, yang kini semakin tampan memakai kaca mata hitam santainya.


"Besok saja sayang, hari ini ayo kita nikmati bulan madu kita!." Ucap Morgan dengan senyuman, yang membuat dada Rossa kembali berdebar melihat senyum manis itu.


"Ayo turun, kita akan menginap disini untuk bulan madu. Sambil menikmati pantai dan melihat matahari terbenam, petang ini." Ucap Morgan dengan senyuman kepada Rossa, yang kini memegang tangan istrinya itu agar keluar dari mobil.


Setelah makan bersama tadi siang, dan mendengarkan cerita Alvan dan Jessica yang juga akan segera mendapatkan calon buah hati mereka dari Mamanya.


Morgan langsung berubah pikiran, ia tidak mau kalau istrinya terlalu banyak memikirkan tentang orang lain selain dirinya dan anak-anaknya saja.


Karena itulah, ia membawa Rossa pergi kepantai. Agar bisa beralih dari suasana dimansion, yang menurut Morgan bisa mempengaruhi cinta istrinya kepadanya. Karena harus bertemu Alvan, dalam mansion keluarganya setiap hari.

__ADS_1


...☘☘☘...


...See you geng's ❤...


__ADS_2