
Edward dan Alana sudah berada di Mansion mereka dan sekarang keduanya berada di dalam kamar mereka.Alana duduk diatas ranjang sambil termenung.
Dia menghampiri istrinya lalu duduk di sebelahnya.Edward menghela nafas panjang melihat Alana tengah melamun saat ini.
"Sayang ada apa kenapa kamu melamun? " tanya Edward sambil mengenggam tangan kanan Alana.
"Enggak papa kok Sayang, " jawab Alana sambil tersenyum tipis.
"Apa kamu teringat dengan janin kamu yang sudah tiada sayang, " tebak Edward.
Alana langsung bungkam mendengar tebakan suamimya yang tepat sasaran lalu dia melepaskan tautan tangan suaminya pada tangannya dengan pelan.
"Edward, Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri dulu, " pinta Alana pada sang suami.
Edward mengangguk lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamar.Setelah kepergian suaminya, Alana memilih beranjak dari duduknya kemudian pergi ke balkon.
Alana memilih di kursi yang ada di balkon sambil memikirkan sesuatu.Dia juga sempat menyetuh perut ratanya yang sempat tumbuh janin calon anaknya bersama Edward namun Janin itu sudah tiada.
"Maafkan Mommy yang lalai menjagamu sayang hingga kamu harus tiada sebelum tumbuh besar di perut Mommy, " ucap Alana dengan lirih.
Alana mengusap wajahnya menahan kesedihannya mengingat janin dalam perutnya sudah tiada.Dia kembali berdiri dan langsung menyambar tasnya setelah itu keluar dari kamar dan menuruni tangga.
tap.. tap.. tap suara langkah kaki mendekat ke ruang tamu. Sampai disana Alana langsung duduk di sebelah sang suami.
Alana mengenggam tangan suaminya dengan erat dan dibalas oleh Edward.Edward merasa penasaran melihat istrinya yang ingin mengatakan sesuatu.
"Edward, Bagaimana kalau kita mengadopsi anak dari panti asuhan? " tanya Alana dengan tiba tiba.
Semua orang disana terkejut mendengar permintaan Alana terutama Edward.Edward menghela nafas pelan lalu kembali memandang istrinya.
__ADS_1
"Kenapa sayang kamu ingin mengadopsi anak? " tanya Edward.
"Aku ingin mengadopsinya sekaligus menghilangkan kesedihanku soal masalah kemarin.Alasan aku ini lebih baik dari psda aku menyuruhmu mencari rahim pengganti atau menikahi wanita lain, " ujar Alana menyakinkan suaminya.
"Baiklah aku setuju dengan idemu kapan kita akan ke pantinya? " tanya Edward.
"Sekarang saja bagaimana? " tanya Alana sambil tersenyum lebar.
Edward mengangguk menyetujui ucapan sang istri.Mereka berdua langsung pamit pada orang tua mereka setelah itu keluar dari Mansion.
Edward langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke Panti Asuhan.Selama di dalam mobil, Edward sesekali melirik kearah istrinya yang menatap pemandangan luar dari balik kaca.
Sementara di ruang tamu, orang tua Alana dan Edward saling berpandangan satu sama lain. Mommy Keyla merasa kasihan dengan puteri sulungnya yang terlihat masih bersedih tadi membuat hatinya ikut sedih.
"Aku harap dengan adanya anak yang diadopsinya, Alana mampu menghilangkan kesedihannya begitu juga dengan Edward. " ungkap Momky Keyla dengan mimik wajah sedihnya.
"Kamu benar Keyla, Aku juga tidak sanggup melihat menantuku tersayang itu berlarut larut dalam kesedihannya.Lebih baik kita sebagai orang tua harus tetap mendukung dan menyemangati Alana, " tutur Mommy Raisa dengan bijak.
🍁...🍁
.
.
Di Panti Asuhan Mutiara Kasih.
Alana dan Edward langsung menemui pemilik panti.Mereka berdua langsung masuk kedalam setelah mendapat izin dari sang pemilik Panti.
Seorang wanita paruh baya tersenyum melihat kehadiran Alana dan Edward.
"Perkenalkan saya Alana dan ini suami syaya Edward, " sapa Alana sambil tersenyum ramah
__ADS_1
"Ada perlu apa Nyonya,Tuan?" tanya Bu Asih.
"Kami berdua ingin mengadopsi salah satu anak yang berada di sini Bu, " jawab Alana sambil tersenyum.
"Mari ikut saya Nyonya, Tuan, " ucap Bu Asih selaku pemilik panti.
Bu Asih berjalan keluar dari panti di ikuti Alana dan Edward.Mereka bertiga menuju ke taman samping Panti.Sampai disana Alana dan Edward tersenyum melihat banyak anak anak yang tengah bermain disana.
"Mutiara sayang ke sini dulu, " Panggil bu Asih dengan lembut.
Seorang gadis berusia 5 tahun berhenti bermain lalu berlari menghampiri Bu Asih yang memanggilnya.Alana tersenyum sekaligus jatuh cinta melihat gadis kecil didepannya yang sangat cantik.
Bu Asih mensejajarkan tingginya dengan anak asuhnya tersebut lalu mengelus kepala Mutiara.
"Sayang, Tante dan Om itu datang ingin menjadikan kamu puteri mereka nak, " ujar Bu Asih dengan lembut.
Senyum selalu menghiasi bibir Alana dan kini dia tengah berjongkok di depan Mutiara sambil memegang bahunya.
"Sayang mau tidak jadi puteri tante dan Om? " tanya Alana sambil tersenyum manis.
Mutiara memandang Alana dan Edward secara bergantian setelah itu diapun menganggukkan kepalanya.
"Iya Aku mau tante, " jawab Mutiara tersenyum manis.
"Mulai sekarang panggil Mommy dan Daddy ya sayang, " ucap Alana dengan lembut.
"Iya Mommy, Daddy, " jawab Tiara dengan cepat.
Mata Alana berkaca kaca mendengar panggilan Tiara pada dirinya.Tanpa babibu Alana langsung memeluknya sesekali memdaratkan ke kening putrinya dengan lembut.Bu Asih ikut terharu melihat kedekatan keduanya begitu juga dengan Edward.
Edward segera menggendong Mutiara lalu mereka segera mengambil berkas kelahiran dari Mutiara.Satu jam kemudian mereka berpamitan pada Bu Asih dan segera masuk ke mobil.Edward melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke Mansionnya.
__ADS_1
TBC