
Note : Willy dan Qiana, anaknya Xander dan Selena
Berliana dan Vano,anaknya Alana dan Edward
Like, vote dan komen oke ❤
William Grayson River, tumbuh menjadi pria tampan dengan sejuta pesonanya. Tak ada wanita manapun yang akan menolak pesona pria itu, tapi tidak dengan seorang gadis bernama Berliana Clairine Luther. Gadis cantik dengan warna mata biru itu selalu mengejeknya sejak kecil. Kini mereka tengah berkumpul bersama keluarga di kediaman Luther.
"Mom, please Berlin masing ingin sendiri dan apa kalian tidak salah menjodohkanku dengan Willy,umur kami tertaut tiga tahun lebih tua dia daripada aku, masa iya aku menikahi perjaka tua. " protes Berlin pada kedua orang tuanya.
Nyonya Alana dan Tuan Edward hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan puteri mereka yang ceplas ceplos. William menatap kesal kearah Berlin,namun tampaknya gadis itu hanya cuek.
"Umur tak masalah bagiku nona, aku yakin kau akan puas saat tahu bagaimana perkasa nya aku di atas ranjang. " balas William dengan vulgarnya. Mendengar pernyataan puteranya, Nyonya Selena langsung memukul kepala Willy.
Pfft
Berlin berusaha menutup dapat bibirnya, berusaha menahan tawa melihat Willy yang kesakitan. Lagi lagi kedua orang tua mereka harus melihat perdebatan mereka untuk kesekian kalinya.
"Berlin, apa kau lupa adikmu Vano sudah menikah? " ucap sang mommy setengah menyindir puterinya. Berlin hanya bisa menghela nafas pelan, duduk di samping sang mommy kemudian bergelayut manja.
"Beri aku waktu mom, lagian aku sudah memiliki kekasih. " rayu Berlin pada mommynya. Daddy Edward tersenyum geli melihat tingkah puterinya itu.
"Baiklah sayang, mommy akan beri waktu kamu, selesaikan urusanmu dengan kekasihku itu okey!
Berlin mengangguk tersenyum kecil pada ibunya, dia begitu menyayangi kedua orang tua nya tersebut. Berlin juga sudah tahu siapa jati dirinya, namun dia memilih tinggal dengan mommy Alana dan Daddy Edward. Setelah itu Berlin membiarkan orang tuanya mengobrol dengan orang tua Willy.
drt
drt
"Ya Halo, ada apa honey? " tanya Berlin dengan senyum mengembang di bibirnya. Gadis itu beranjak dari sana, Willy menajamkan matanya dan berusaha mencuri dengan obrolan Berlin dengan kekasihnya. Setelah selesai Berlin berbalik, melototi Willy dengan tatapan curiganya.
"Kau menguping? "
"Cih mana ada. " elak Willy dengan ketus. Berlin tak percaya begitu saja, gadis itu masih mencurigai Willy namun setelah itu menemui orang tuanya dan berpamitan.
Berlin melajukan mobilnya kencang, meninggalkan kediaman Luther. Dengan senyum mengembang, dia tak sabar menemui kekasihnya yang telah dia pacari selama lima tahun.
"Honey. " panggil Berlin pada sang kekasih, keduanya saling melepas rindu kemudian duduk di kursi. Berlin menatap wajah tampan kekasihnya dengan lekat. Nickolas Stefano Ziel, pria tampan yang telah mencuri hatinya lima tahun lalu. Mereka bertemu di Paris, saat mengikuti sebuah fashion show.
__ADS_1
"Ada hal yang perlu kita bicarakan sayang? " ujar Nick.
"Katakan saja honey, aku begitu penasaran. " desaknya tak sabaran. Entah kenapa jantung Berlin berdebar kencang, berharap apa yang ingin dikatakan Nick bukan hal yang buruk. Nick terlihat mengusap wajahnya kasar, meraih tangan Berlin kemudian memgenggamnya erat.
"Aku harus pergi ke Amerika sayang, aku tak tahu kapan akan kembali lagi!
"Apa, kenapa kau baru memberitahu aku sayang? "protes Berlin dengan nada kesalnya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kita Nick, hampir 95 persen terlaksana. " cecar Berlin dengan nada paniknya. Nick terdiam sejenak, setelah itu kembali melihat wajah Berlin.
"Maaf honey, pernikahan kita lebih baik dibatalkan saja. " pungkas Nick. Berlin sangat terkejut, menatap tak percaya kearah kekasihnya.
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu
Nick. " pekik Berlin dengan nada keras.
"Sst sayang pelan pelan, semua orang melihat kearah kita. " bisik Nick yang tak dipedulikan oleh Berlin. Nafas gadis itu memburu, terlihat jelas jika Berlin menahan amarahnya yang hampir meledak.
Plak
Berlin menamparnya dengan keras, bagaimana mungkin Nick membatalkan rencana pernikahan mereka tanpa alasan yang jelas. Nick terdiam, mengusap pipinya yang terasa perih. Dia bangkit, meraih kerah Nick kemudian mencengkeramnya kuat. "Sebenarnya apa alasan kamu pergi ke Amerika Nick, ayo
jelaskan? " bentak Berlin.
"Kenapa tidak bisa Nick, kenapa. " desaknya lagi sambil menggoyangkan tubuh sang kekasih hati.
Nick hanya diam tak menjawabnya, pria itu membiarkan Berlin melampiaskan emosinya. "Apa kau sebenarnya memang tidak pernah mencintaiku Nick, kau hanya menjadikan aku taruhan. " cecar Berlin dengan nada lirihnya.
Deg
Nick terkejut, dia tak menyangka akan penuturan Berlin. Melihat sikap diam kekasihnya, hati Berlin semakin hancur dibuatnya. Berlin menahan nafas dalam dalam, menghabiskan nya secara perlahan kemudian menatap datar kearah Nick. "Baiklah, kau boleh pergi Nick dan hubungan kita hanya sampai di sini. " ujar Berlin. Gadis itu berlalu, melewati mantan kekasihnya itu dengan hati yang terkoyak.
Nick menatap kepergian Berlin dengan raut tak terbaca, pria itu langsung pergi tanpa berkata apapun. Berlin melajukan mobilnya kencang, tangis wanita itu pecah mengingat hubungannya dengan Nick, berakhir begitu saja.
"Ah sialan. " maki Berlin dengan tangis sesegukan.
Berlin memutuskan ke penthousenya, dia tak ingin kedua orang tuanya melihat dirinya dalam keadaan kacau seperti ini. Di sana dia menenangkan dirinya dengan meneguk wine di tangannya.
__ADS_1
Visual Berliana Clairine Luther / Berlin
Visual Nickolas Stefano Ziel
"Kau jahat Nick, kau jahat. " racau Berlin sambil meneguk segelas wine.
drt
drt
Berlin mengabaikan ponselnya yang berdering, hatinya saat ini hancur saat Nick memutuskan hubungan mereka serta membatalkan rencana pernikahan mereka. Bagaimana mungkin pria yang sangat dia cintai begitu kejam dan jahat padanya.
"Mommy dan Daddy pasti akan sangat kecewa dan marah jika mendengar ini. " batin Berlin.
Setelah dua jam, Berlin segera mengganti pakaiannya. Dia menghubungi salah satu temannya, memintanya untuk mengikuti Nick kemanapun. Berlin masih penasaran, alasan sebenarnya dari Nick yang tiba tiba membatalkan rencana pernikahan mereka.
"Pasti Daddy akan mempercepat pernikahanku dengan Willy jika tahu aku telah putus dari Nick. " gumam Berlin yang mendadak kesal jika mengingatnya. Dia benar benar tidak ingin menikah dengan Willy, pria yang bukan tipenya. Berlin memikirkan ide untuk mengatasi masalahnya, dia menyambar ponselnya dan mengabaikan panggilan tak terjawab dari Willy. Dia mencoba menghubungi mantan kekasihnya, namun hanya terdengar suara operator.
"Nick pasti sengaja mematikan ponselnya. " ucap Berlin kesal. Berlin benar benar kesal saat ini, otak cerdiknya tiba tiba buntu dan tidak memiliki ide untuk saat ini.
"Apa aku hubungi Willy saja ya? " tanya Berlin pada diri sendiri. Dengan cepat Berlin menghubungi Willy, dia tak peduli dengan egonya untuk saat ini.
beberapa saat berlalu
"Untuk apa kau menghubungi ku nona bawel. " ketus Willy yang datang dan menjatuhkan dirinya di sofa. Berlin menoleh,menatap datar kearah Willy tanpa berkata apapun.
"Aku perlu bantuanmu. " Berlin menjelaskan rencananya pada Willy,gadis itu berusaha keras agar Willy mau membantunya.
"Jika aku membantumu, apa jaminannya
hah? "
"Aku akan membantumu mendapatkan gadis incaranmu willy bodoh. " pungkas Berlin disertai makiannya. Seringai terbit di sudut bibirnya,keduanya saling berjabat tangan pertanda kesepakatan mereka telah deal.
"Aku harap ini berhasil. " batin Berlin dengan girang.
__ADS_1
Visual si songong William Grayson River
tbc