Takdir Cinta Alana

Takdir Cinta Alana
Season 2 Kau Milikku Part 3


__ADS_3

Dua hari berlalu


"Kau jangan kekanakan Lin lin, sebaiknya kau makan. " ujar Willy dengan wajah masamnya, sepertinya pria itu lelah membujuk Berlin untuk makan.



Berlin hanya diam, melirik sekilas makanan yang di bawa Willy kemudian memalingkan wajahnya kearah lain. Willy berdecak pelan, pria itu bangkit, merapat ke tubuh Berlin kemudian memangkunya. "Apa yang kau lakukan Willy? " protes Berlin yang akhirnya membuka suara emasnya.


"Makan!


"Aku enggak lapar Wil. " tolak Berlin.


Cup


Berlin terkejut kala Willy menyergap bibirnya, ciuman itu terhenti dan Willy memasang wajah galaknya. "Makan Lin, atau kau mau aku menciummu seperti tadi atau akan terjadi hal hal yang lebih dari ciuman. " geram Willy kesal.


Berlin merasa gugup, gadis itu segera memakan makanan yang di bawa Willy dengan lahap. Dia tak bisa turun, pria itu tengah mengurungnya hingga tak bisa melarikan diri. Willy tersenyum puas, melihat Berlin yang begitu patuh padanya. Setelah menghabiskan makanannya, Berlin bersandar di dada Willy.


"Kau masih mengingat Nick dan wanita itu? " tanya Willy tanpa basa basi.


"Iya. " jawabnya pelan nyaris tak terdengar. Willy masih mendengarnya, pria itu menatap tajam kearah Berlin membuat gadis itu salah tingkah.


"Jika Tante Alana tahu, beliau pasti akan sedih jika kamu seperti ini Berlin. " ujar Willy dengan nada datarnya. Berlin tertegun, dia merutuki kebodohannya dengan cepat dia menggeleng, Berlin tak ingin mommy dan daddynya bersedih akan dirinya yang tengah patah hati.


Saat ini Berlin berada di Mansion milik Willy, gadis itu bangkit dan bersiap untuk pulang. Willypun merasa lega melihat Berlin yang kembali ceria, pria itu mengantarkan Berlin ke kediaman keluarga Luther.


"Mommy. " Berlin berlari menghampiri mommy nya. Gadis itu memeluk sang mommy dengan erat, mommy Alana mengusap punggung puterinya dengan penuh kehangatan.


"Sayang kamu pulang juga akhirnya, mommy sempat khawatir sama kamu Lin. " ungkap Mommy dengan tatapan sendunya. Berlin melepas pelukannya, merasa bersalah pada wanita yang telah membesarkan dirinya itu.


"Maafin Berlin mom, Lin begitu kekanakan hingga membuat mommy dan daddy cemas. " sesal Berlin pada kedua orang tua angkatnya. mommy Alana menggeleng, dikecupnya kening puteri tercintanya itu. Melihat keadaan puterinua yang baik baik saja, dia bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Nak Mami Alisa dan Papi Reza menghubungi Daddy tadi, mereka menanyakanmu dan daddy sudah menghubungi mereka tadi. " sahut Daddy Edward. Berlin menghela nafas panjang, dia merasa bersalah karena membuat semua orang mencemaskan dirinya.


"Iya Dad, mami dan papi pasti cemas sama keadaan Lin. " gumam Berlin pelan.


Tak lama Nyonya dan Tuan Mahardika datang berkunjung. Berlin langsung memeluk kedua orang tua kandungnya itu, nyonya Alisa menciumi wajah puterinya itu melampiaskan kerinduannya begitu juga Tuan Reza.


"Mami, Papi maafin Lin kalian pasti mencemaskan Lin. " ucap Berlin dengan tatapan sendunya.


"Tidak apa apa sayang, mami lega kamu baik baik saja nak. " ucap Mami Alisa dengan senyuman tipisnya menatap puteri sulungnya itu. Disha datang menyusul ke dua orang tuanya, gadis itu berdecak pelan melihat orang tuanya yang tengah bersama Berlin. Melihat kedatangan Disha, Berlin menyapanya dengan senyuman manis.


"Hai Kak, ayo sini gabung. " tawar Berlin dengan senyum cerianya.



Visual Disha Azalea Mahardika


Dengan wajah masamnya Disha berjalan mendekati Berlin, duduk di sebelah adiknya itu. Disha melirik Berlin kemudian membisikkan sesuatu, Berlin menatap kearah orang tua mereka. "Mom, Dad semuanya aku keluar dulu ya mau berbicara dengan kak Disha. "


Disha berjalan lebih dulu langsung di susul Berlin, keduanya pergi ke taman mansion keluarga Luther. Disha melipat tangannya di dada, memasang wajah datarnya pada Berlin.


"Berhenti bersikap kekanakan Berlin, kau bukan anak kecil lagi dan jangan terus menerus mencari perhatian dari mami dan papi. " tegas Disha.


"Maksud kakak apa berbicara seperti itu, mami dan papi orang tua kandungku juga. Apa salah kalau aku bermanja manja pada mereka. " sela Berlin dengan tenang.


"Kau tahu semenjak kembalinya kamu,kasih sayang mami dan papi berkurang padaku!


Berlin terdiam, menahan rasa sesak yang tiba tiba menghimpit dadanya. Dia berusaha tenang, memperhatikan kakaknya dalam diam. "Seharusnya kau tak kembali lagi sekalian, kau tahu mami dan papi selalu mengatakan tentangmu entah di meja makan atau di manapun dan aku tak suka itu." ceplos Disha dengan nada sinisnya.


Berlin mengepalkan tangannya, mendengar penuturan Disha barusan. Disha berjalan melewatinya, Berlin menatap kepergian Disha dengan tatapan nanarnya. Dengan cepat Berlin menghapus kasar cairan bening yang menetes di pipi mulusnya.


"Seandainya aku bisa memilih, aku juga tak ingin hadir dalam keluarga kita kak. " gumam Berlin lirih. Willy datang menghampirinya, Berlin berlari kearahnya dan memeluk tubuh pria itu.

__ADS_1


"Kenapa Lin? "


Berlin melepas pelukannya,menggeleng singkat dan tersenyum manis di harapan Willy. Willy menatapnya curiga, dia merasa ada yang di sembunyikan oleh Berlin. "Tak apa Wil, yuk masuk mommy pasti sudah menunggu. " elak Berlin.


Willy mengajaknya masuk ke dalam, mereka bergabung bersama dengan lainnya. Berlin memilih duduk di dekat mommy tercintanya, nyonya Alisa yang melihatnya merasa cemburu namun memilih diam. "Elin sayang malam ini kamu menginap di rumah mami dan papi 'kan sayang?


"Maaf mami lain kali saja ya, aku masih merindukan mommy dan daddy. " tolak Berlin secara halus disertai senyuman tipis. Nyonya Alisa nampak kecewa mendengar keputusan puteri bungsunya. Diam diam Disha tersenyum mendengarnya, gadis itu berusaha mengalihkan perhatian maminya.


"Mi, Pi kita pulang yuk. " ajak Disha pada kedua orang tuanya.


"Baiklah. Elin mami dan papi pulang dulu ya nak. " ucap mami pada Berlin, gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Keluarga Mahardika pergi meninggalkan mereka, Berlin menatap sendu kepergian orang tua kandungnya.


"Elin, bagaimana keputusanmu mengenai pernikahan kamu dan Willy? " tanya Daddy mengalihkan perhatian puterinya.


"Kau tahu dad, pria di sebelahku ini sangatlah mesum, memangnya daddy mau memiliki menantu mesum seperti willy. " celetuk Berlin usil yang mendapat pelototan dari William.


"Tentu saja setuju. "


Berlin melototi daddy-nya, pria paruh baya itu terkekeh. Mommy Alana menggeleng kan kepalanya,sudah menduganya. "Nak, daddy kamu dulunya sangat mesum seperti Willy. " ucap mommy dengan jujur.


"Oh pantas saja, ternyata daddy sama saja seperti Willy. " cibir Berlin. Daddy Edward tergelak kencang mendengar cibiran puterinya itu.


"Om, Tante aku pamit pulang dulu. " ucap Willy dengan sopan.


"Berhati hatilah pria mesum. " ledek Berlin. Willy mendengus sebal, meninggalkan kediaman Luther. Berlin terkekeh, gadis itu sangat suka membuat Willy kesal. Mommy mengulum senyumnya, melihat tingkah jahil puterinya itu.


"Mommy tidak menghubungi Vano? " tanya Berlin.


"Kau merindukan si kecil El sayang? " ujar mommy yang di balas anggukan oleh Berlin. Mommy mengambil ponselnya, menghubungi Vano puteranya. Berlin menyimak obrolan mommy dan Vano melalui ponsel.


tbc

__ADS_1


__ADS_2