Takdir Cinta Alana

Takdir Cinta Alana
Season 2 Kau Milikku Part 5 Kejujuran yang Menyakitkan


__ADS_3

Nick dan Rachel mengajak Berlin bertemu di sebuah Cafe, tak lama gadis itu datang. Berlin menahan rasa sesak dalam dada melihat Nick yang menggenggam tangan Rachel.


"Hai Nick. " sapa Berlin dengan wajah cerianya.


"Hai juga Lin, aku ingin berbicara sesuatu padamu. " ujar Nick dengan ragu ragu. Berlin begitu penasaran, apa yang ingin di sampaikan mantan kekasihnya ini.


"Aku memutuskan hubungan kita bukan tanpa alasan, aku tanpa sengaja melakukan one night stand dengan Rachel, waktu itu kami sama sama mabuk. " Nick menjeda ucapannya, melihat mata Berlin yang menatapnya kecewa.


"Saat ini Rachel tengah hamil anak aku Berlin, aku akan bertanggung jawab padanya. Maafkan aku ya, aku memang pria brengsek, kamu pantas marah sama aku Berlin. " ungkapnya lirih. Air mata Berlin meluncur bebas mendengar pengakuan Nick yang begitu menyakitkan.


"Kau tega Nick. " gumam Berlin sambil menangis terisak. Nick merasa semakin bersalah pada Berlin, Rachel ikut merasakan penyesalan melihat Berlin yang tampak hancur.


"Aku juga minta maaf Berlin, karena aku hubungan kalian kandas. " sesal Rachel disertai permintaan maaf.


"Aku membenci kalian. " Berlin bangkit, berlari ke luar dari Cafe dengan rasa sakit, kecewa, marah bercampur satu dalam hatinya. Nick menghela nafas kasar, melihat kepergian mantan kekasihnya itu.


"Nick kita susul Berlin, aku tidak mau dia kenapa kenapa? " Rachel hendak bangkit namun di tahan calon suaminya. Nick bangkit, menuntun Rachel ke luar dari Cafe, keduanya terpaksa jujur demi kebaikan bersama. Nick merasa tak pantas bersama gadis sebaik Berlin, dia berharap Berlin menemukan pria lain yang jauh lebih baik darinya.


Berlin melajukan roda empatnya dengan kencang, mengabaikan suara umpatan dari pengendara lain.Bagaimana bisa Nick begitu mudahnya mengkhianati cintanya, mengakhiri hubungan mereka dengan cara seperti ini.


Gadis itu menepikan mobilnya, Berlin menangisi kisah cintanya yang tragis. Gadis itu meluapkan emosinya, ucapan Nick terus terngiang di kepalanya saat ini. Berlin terus menyalahkan Nick dan Rachel, gadis itu benar benar patah hati sekaligus hancur sekarang. Dia merasa seperti orang bodoh yang tak mengetahui apa apa tentang Nickolas.

__ADS_1


"Ah kau brengsek Nick. " maki Berlin dengan isakan tertahannya. Gadis itu begitu kecewa akan kenyataan yang dia terima saat ini. Dia terus menangis hingga mengabaikan dering ponselnya.


di sisi lain William begitu mengkhawatirkan Berlin, pria itu mengunakan gps untuk mencari keberadaan gadisnya. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke lokasi Berlin berada. William segera turun dari mobil, mengetuk kaca mobil Berlin. Gadis itu menoleh dan membiarkan William masuk ke dalam.


Dia mengeratkan pelukannya ke tubuh aberlin, terdengar suara isakan tangis. William mengusap punggung gadisnya dengan lembut, dia tahu apa yang menjadi alasan Berlin menangis. "Menangisnya sepuasmu Lin setelah itu aku tak akan membiarkan air mata berhargamu terbuang sia sia lagi. " bisik William.


Setelah beberapa saat Berlin tampak tenang, gadis itu melepaskan pelukannya. Gadis itu menghela nafas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. William menatapnya dalam, memperhatikan gadis yang di jodohkan dengannya itu. "Kau sangat jelek saat menangis Lin!


"Aku tak butuh pendapatmu. " ketus Berlin dengan sorot tajamnya. William terkekeh pelan, sangat suka membuat Berlin kesal.


"Keluarlah, aku akan pulang sekarang. " ucap Berlin dengan sengit.


"Brengsek kau Wil. " maki Berlin kesal yang di sambut kekehan William. Pria itu turun dari mobil Berlin, Berlin berdecak pelan dan melajukan mobilnya kencang di ikuti William.


Tiba di kediaman Luther, Berlin ke luar dari mobilnya dan bergegas ke dalam. William menggelengkan kepalanya, pria itu segera menyusulnya. Gadis itu menemui sang mommy di ruang tengah, Berlin langsung memeluk mommy Alana dengan erat. Mommy Alana terkesiap akan tingkah putri tercintanya itu. "Sayang ada apa hm, kenapa kamu tiba tiba memeluk mommy nak? " tanya mommy Alana dengan lembut.


"Dia patah hati aunty. " balas William yang langsung duduk di sofa. Berlin melepaskan pelukannya, menatap kesal kearah William yang kini tersenyum miring.


"William. " pekik Berlin jengkel akan sikap William yang terus meledeknya. Pelayan datang membawakan camilan untuk mereka, setelah itu pergi dari sana.


"Sayang, katakan apa yang terjadi nak? "

__ADS_1


"Nick mom, dia berselingkuh dariku. Dia telah menghamili wanita lain di belakang aku. " ungkap Berlin lirih mengatakan pertemuannya dengan Nick dan Rachel tadi pada ibunya. Mommy Alana cukup merasakan kesedihan putrinya, meski Berlin bukan anak yang terlahir dari rahimnya.


"Sabar sayang, mungkin Nick di takdirkan buka. tercipta untukmu nak, mommy yakin di balik kesakitanmu saat ini suatu hari kelak akan ada pelangi yang menutup badai. " ucap Mommy Alana dengan bijak.


"Mungkin ini balasan untuk Berlin aunty, dia telah menolak pria tampan sepertiku. " sela William dengan santai mengabaikan pelototan Berlin padanya. Mommy Alana terkikik melihat perdebatan keduanya yang begitu lucu, mengingatkan dirinya bersama suaminya dulu di masa lalu.


Berlin merotasi bola matanya malas mendengar pernyataan William barusan, entah bagaimana bisa dia mengenal pria narsis seperti William. Daddy Edward datang dan bergabung bersama mereka.


"Lin sana kamu duduk di dekat calon suami kamu. " ujar Daddy Edward berupaya mengusir sang anak.


"Daddy ish, William bukan calon suami aku. " protes Berlin tak terima, gadis itu memilih duduk di sofa yang lain. William tersenyum miring mendengar pengakuan calon mertuanya barusan. Berlin menghela nafas berat, memperhatikan kedua orang tuanya dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Di usianya yang tak lagi muda kedua orang tuanya masih tetap romantis dan harmonis, Berlin berharap kelak memiliki suami yang mencintai dirinya dan menerima dia apa adanya. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, hatinya berdenyut nyeri melihat photo kenangannya bersama Nick. Sekuat tenaga dia menahan tangisan nya, Berlin tak ingin sang Daddy marah dan menghajar Nick. William mengerutkan kening melihat Berlin yang terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.


"Mom, Dad aku ke kamar dulu ya. " Berlin bangkit, beranjak dari sana dengan langkah gontainya. William menatap kepergiannya dengan sorot tak bisa di artikan. Berlin buru buru masuk ke dalam kamar, menaruh tasnya. Diapun segera menghapus semua kenangan yang berhubungan dengan Nick.


"Rasanya sakit Nick, kau jahat. Bagaimana bisa kau berpaling begitu mudah pada wanita lain. " gumam Berlin lirih. Berlin menekan dadanya, dia berusaha menghalau rasa sesak dalam dada setiap kali mengingat Nick yang menggenggam tangan Rachel. Kenapa Rachel harus hadir dalam hubungan Nick dan Berlin?


Gadis itu menjatuhkan diri di atas ranjang, menatap langit langit kamarnya. Dia berharap rasa sakit ini segera menghilang, hanya waktu yang mampu menjawab semuanya.


"It hurts!

__ADS_1


__ADS_2