Takdir Cinta Alana

Takdir Cinta Alana
Season 2 Kau Milikku Part 4


__ADS_3

"Kau tidak melakukan sesuatu pada Berlin 'kan nak seperti menjahilinya? " tanya Mom Selena pada puteranya dengan tatapan curiganya.


"Tentu saja tidak mom, dasar mommy tak percaya sama putera sendiri. " rengut Willy dengan wajah masamnya. Qiana tertawa pelan melihat tingkah merajuk kakaknya. Pria itu bangkit, meninggalkan orang tuanya di sana, menuju ke kamarnya. Nyonya Selena tertawa pelan, melihat kepergian puteranya, wanita itu kembali membolak balik majalahnya.


Tap tap


Qiana tersenyum cerah melihat kehadiran kekasihnya, Reymond. Pria itu duduk di sebelah Qiana, memperhatikan sepasang kasih baya yang bermesraan. "Qia sayang, mommy ke kamar ya mau urus bayi besar mommy. "


Qiana mengangguk, gadis itu tergelak mendengar ucapan mommynya. Mom Selena mengajak Daddy Xander ke kamar mereka, pria paruh baya itu memeluknya posesif. Qiana tersenyum geli melihat tingkah Daddynya yang posesif.


"Ayo kita jalan? " ujar Rey sambil tersenyum.


Qiana mengangguk, gadis itu segera bersiap siap. Mereka meninggalkan mansion, Qiana sempat mengirim pesan pada Willy kakaknya. Keduanya turun dari mobil, mereka kini berada di taman bunga yang letaknya cukup jauh. Sambil bergandengan tangan, mereka berdua berjalan mengelilingi taman. "Kita duduk di kursi itu ya sweety. " tunjuk Rey yang dibalas anggukan oleh Qiana.


Reymond merapatkan tubuh mereka, menatap lekat wajah kekasihnya membuat Qiana salah tingkah dibuatnya. "Kak Rey. " panggil Qiana lembut.


"Sweety apa kau belum siap menikah denganku? " tanya Rey dengan penuh kelembutan.


"Jangan bilang kak Rey sudah tak tahan untuk mencoblosku. " tebak Qiana asal. Rey tersenyum lalu mengangguk, Qiana melongo di buatnya kemudian memukul dada kekasihnya. Reymond terkekeh, dia sangat suka menggoda kekasih imutnya ini.


cup


Rey terkejut melihat sikap agresif gadis imutnya, setelah berciuman mereka pergi dari sana.


Sementara itu Berlin meminta izin pada orang tuanya untuk menginap di apartemen Willy, gadis itu menghubungi William untuk bertemu, keduanya kini berada di salah satu apartemen pribadi milik William.


Saat ini Berlin tengah meminum wine sambil menikmati pemandangan kota dari atas balkon. William datang dengan penampilannya yang bertelanjang dada, memperhatikan Berlin dengan lekat.


Cup William mencium bahu terbuka milik Berlin, gadis itu kini hanya mengenakan lingerie di depan Willy. Pria itu berkali kali menelan salivanya kasar,teringat beberapa bulan lalu di mana mereka melakukannya one night stand karena di jebak. "Willy aku sudah memutuskan, aku setuju dengan pernikahan kita, besok kita bicarakan pada orang tua kita, bagaimana? tanya Berlin tanpa menoleh.


"Baiklah aku sangat setuju malah, bukankah selama ini aku terus membujukmu tapi kamu menolaknya hemm!

__ADS_1


"Saat itu aku masih menjalin hubungan dengan Nick, tapi sekarang tidak. " kilah Berlin. Willy merebut gelas yang di pegang Berlin, di taruh nya di atas meja. Willy membalik tubuh gadisnya itu, menatap lekat wajah cantik Berlin.



Mereka kembali berciuman, tangan nakal Willy merobek lingerie yang di kenakan oleh Berlin. Pria itu menindih tubuh Berlin, menjamah lekuk tubuh Berlin yang begitu seksi di matanya. Berlin begitu menikmati sentuhan Willy di tubuhnya. Dia tak tinggal diam, mengusap dada bidang Willy lalu turun ke bawah. Willy menahan tangannya, pria itu langsung menyatukan tubuh mereka, lalu bergerak erotis di atasnya.


"Aah um Willy. " suara merdu Berlin menambah semangat Willy dalam menggempurnya. Dia semakin menghujamnya sangat dalam dan kuat, membuat Berlin terus mendesahkan namanya.


Berlin tersenyum di kala kegiatan mereka, dia mengusap peluh di dahi Willy kemudian memeluknya erat. Mereka terus saling berbagi kenikmatan bersama,berbagai gaya mereka lakukan hingga dua jam lamanya.



Keduanya duduk, Willy kembali menciumnya dengan liar, Berlin hanya bisa mengikuti permainan Willy. Dia hanya pasrah kala tubuhnya kembali di rebahkan, Willy memeluknya dari samping. Lagi lagi pria itu terus menyentuh setiap titik sensitifnya, membuat Berlin mendesah. Berlin memeluk kepala Willy yang berada di bawah dagunya, pria itu tengah melahap dua coco chipsnya.


Willy melepaskan hisapannya, menatap lekat wajah Berlin. "Besok kita temui orang tua kamu, lalu bicarakan pernikahan kita sayang dan sekali lagi maafkan aku yang merebut hal berhargaku waktu itu. " ucap Willy kesekian kali.


"Sejujurnya aku hancur Willy, tapi setelah tahu itu kamu yang bersamaku malam itu, aku sedikit lega. "


"Kenapa kamu tersenyum Willy? "


"Aku harap secepatnya kamu hamil sayang, semakin memperkuat hubungan kita berdua, selain itu aku menginginkan kamu hamil calon anak kita. "


"Memangnya kamu sudah siap jadi Daddy? " tanya Berlin pada Willy. Willy menjawabnya dengan mantap, hati Berlin berdesir melihat kesungguhan dari William. Berlin hanya menanggapinya dengan senyuman, dia setuju akan pernyataan Willy barusan.


"Wil, seandainya aku hanya menjadikanmu pelarianku bagaimana? " tanya Berlin pelan.


"Tak masalah bagiku. " jawab Willy santai. Berlin melongo mendengarnya, dia tak menyangka jika Willy tak mempermasalahkan hal itu.



Berlin bangkit sambil memegangi selimutnya duduk di pangkuan Willy dan membelakangi prianya. Willy justru mencumbu punggung polos milik wanitanya itu dengan intens dan liar. "Sentuhlah aku sesukamu sayang!

__ADS_1


Berlin begitu menikmati setiap sentuhan Willy di tubuhnya,wanita itu menjerit menyebut nama Willy dalam desahannya. Dia membalik tubuh Berlin lalu menyingkirkan selimutnya, langsung melahap kembali dua chocochips favoritnya itu dengan rakus.


Berlin mengusap kepala Willy dengan lembut, dia tersenyum kecil melihat apa yang di lakukan calon suaminya saat ini. Keduanya kembali bercinta di atas ranjang, suara ******* dan rintihan kembali terdengar hingga satu jam.


"Aah um.. " teriaknya bersamaan setelah mereka berdua sama sama mencapai pelepasan bersama. Willy mengusap peluh di dahi sang kekasih, pria itu menatapnya penuh cinta.


"Kau membuatku candu sayang, kau hanya milikku seorang!


"Aku lelah sayang. " rengek Berlin pada kekasihnya itu. Willy terkekeh, bangkit dan membawanya ke kamar mandi. Setelah bersih bersih dan beberes, keduanya ke luar dari kamar dan hari sudah gelap. Willy terus memperhatikan Berlin yang tengah makan dengan lahap.


drt


drt


"Untuk apa kak Disha menelponku? " gumam Berlin pelan.


"Siapa sayang? " Willy begitu penasaran, Berlin menoleh dan mengatakan jika Disha yang menghubungi dirinya.


"Halo ada apa kak Disha? " tanya Berlin dengan tenang.


"Ke mana kau, kau tahu mami dan papi mencari kamu terus dan bisakah kau tidak mencari perhatian mami dan papi terus terusan. " ujar Disha sambil marah marah dalam telepon. Berlinpun langsung memutus sambungannya, dia terlalu malas mendengar omelan kakaknya itu. Dia tak habis fikir dengan pemikiran Disha, Berlin tak pernah mencari perhatian dari siapapun tetapi jika soal mami dan papi bukankah wajar tapi Disha selalu marah marah padanya.


"Dasar aneh! "


"Sayang kau tahu, aku selalu malas jika menginap di rumah mami dan papi, kak Disha selalu menatapku penuh kebencian dan menganggapku sebagai musuh. " keluh Berlin. Willy menggenggam erat tangannya, dia paham akan perasaan Berlin saat ini. Willy membawa Berlin ke dalam dekapannya, Berlin kini tengah bersandar di dadanya.


"Aku akan selalu di sisimu honey, tenanglah!


"Terimakasih sayang. " Berlin merasa cukup tenang berada dalam pelukan Willy.


tbc

__ADS_1


__ADS_2